Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_39. Nara Galau


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Kondisi Mahardika Grup masih belum membaik. Kerjasama dengan Lunar Ind juga batal. Rafael mengajukan syarat menikah dengan Nara jika ia membantu. Dan hal ini jelas-jelas ditentang oleh Bisma. Kakak posesif itu jelas tidak akan membiarkan adiknya menikah dengan orang yang berbuat licik.


Oleh Bisma, Nara juga dilarang untuk pergi ke perusahaan. Ia meminta adiknya itu untuk fokus pada skripsi nya. Lagi pula sudah ada Alex yang membantunya saat ini. Meskipun denagn keduanya bergabung tetap tidak bisa membalik keadaan, setidaknya posisi Mahardika menjadi stabil.


“Pagi-pagi udah ngelamun aja neng!” tepukan ringan di pundak Nara mengagetkan gadis yang sedang duduk di kantin sambil mengaduk bakso yang sudah menjadi dingin di depannya.


Nara menoleh. Mendapati Vera sudah duduk di sebelahnya dengan nampan berisi bakso dan es teh di depannya.


“Ngagetin aja sih.” Dengus Nara.


“Lagian duduk sendirian disini kayak orang ilang. Ngelamun lagi! Ada apa? Bukannya tadi kayaknya skripsimu Cuma dikit revisinya?” Vera mengetuk dagunya. Hari ini mereka datang ke kampus untuk konsultasi skripsi mereka pada dosen pembimbing. Dan Nara keluar paling awal karena skripsinya yang paling sedikit perlu direvisi. Bahkan Gita dan Syifa sampai saat ini masih berada di ruangan dosen.


“Iya sih. Tapi bukan itu yang penting untuk saat ini.” Jawabnya sebelum memasukkan sesendok bakso ke mulutnya. Vera menganggukkan kepalanya.


“Kok dingin sih!” keluhnya sambil mendorong mangkuk baksonya ke tengah meja.


“Ditinggal ngelamun dari tadi. Mana mungkin nggak dingin.” Vera menoleh ke belakang sebelum berteriak keras. “Tian pesankan bakso biasa satu!” seseorang bernama Tian yang mengantri di belakang sana menyanggupi dengan mengatakan oke dan mengangkat jempolnya.


“Apa Mahardika belum pulih? Aku dengar Alex juga membantu.” Kata Vera.


Nara menghela napas panjang. “Hem. Tapi tidak cukup efektif. Hanya bisa menstabilkan keadaan. Aku dengar Amerta juga terkena imbasnya saat ini.” Nara meletakkan dagunya di atas meja. Ia terlihat sangat lesu saat membahas kondisi perusahaan Alex.


Vera memandangi sahabatnya yang terlihat sedih. “Jadi ini yang membuatmu banyak pikiran?”


“Hem. Gara-gara aku perusahaan Alex ikut terseret.” Ia tentu saja merasa bersalah. Jika mengingat nasib semua orang yang ia sayangi rasanya ia ingin pergi menemui Rafael dan menyetujui permintaan laki-laki itu. Tetapi setelah dipikirkan lagi, ia tidak bisa melakukan itu. Semua orang pasti tidak akan setuju. Betul nggak reader?


“Aku jadi penasaran hubunganmu dengan Alex. Sudah sampai tahap pacaran? Atau jangan-jangan kalian sudah bertunangan?” tanya Vera antusias.


“Ish apa sih. Ya bukan lah. Pacaran aja belum.” Decak Nara.


Pembicaraan mereka terhenti karena Tian datang dengan semangkuk bakso di tangannya dan menyerahkan nya pada Vera yang di geser ke depan Nara. Selanjutnya Vera dan laki-laki itu terlibat percakapan kecil yang tidak begitu terdengar. Lebih tepatnya tidak ingin didengar. Ia lebih memilih mengetuk meja dengan kelima ujung jarinya.


“Kenapa Nara?” tanya Tian pada Vera yang melihat gadis itu terlihat tidak seceria biasanya. Nara yang ia kenal adalah Nara yang penuh semangat dan ceria.


“Suh suh! Bukan urusanmu. Pergi sana. Nanti aku ke tempatmu.” Vera mengibaskan tangannya untuk mengusir Tian pergi. Tian pergi setelah itu.

__ADS_1


“Cepat dimakan. Keburu dingin lagi.” Ketus Vera saat melihat Nara hanya mengaduk bakso yang dipesankan ya lewat Tian tadi. Nara berdecak. Tapi ia menurut dan segera memulai mengeksekusi semangkuk bakso panas yang nikmat.


“Eh aku masih penasaran dengan hubunganmu dengan Alex. Kalian kayaknya udah dekat. Padahal kan dulu kamu benci banget sama dia.” Tanya Vera saat keduanya telah menghabiskan isi mangkuk mereka. Vera masih ingat betul bagaimana Nara yang begitu gencar bilang jika ia tidak akan menyukai Alex yang dingin.


“Aku tidak tahu. Aku bahkan sudah dua Minggu ini tidak bertemu dengannya. Ya, semenjak Amerta juga mulai diserang. Aku jadi merasa bersalah.”


“Ada apa sih sebenarnya? Tidak mungkin kan jika perusahaan besar seperti Mahardika dan Amerta bisa kacau begitu saja.” Sudah lama Vera merasa ada yang aneh. Pasalnya hanya dua perusahaan itu yang mengalami kondisi yang memburuk. Pasti ada seseorang dibalik semua ini yang menargetkan dua perusahaan itu.


Nara akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Rafael dan juga ancaman nya.


“Kurang ajar baget jadi cowok! Nggak gentle sama sekali. Pengecut!” Umpat Vera sambil mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


“ Aku harus bagaimana sekarang?”


“Kamu tentu saja harus bertahan.” Ucap Vera semangat. Ini pertama kalinya Nara dekat dengan seorang pria dan direstui oleh Bisma. Laki-laki itu pasti yang terbaik untuk sahabat nya itu.


Beep beep beep


Suara notifikasi pesan dari ponsel Nara menghentikan percakapan keduanya. Nara segera membuka ponselnya dan membaca pesan di dalamnya. Ia tersenyum sebelum memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya.


“Dari Alex. Dia ngajak makan malam.” Jawab Nara dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


“Cieee... Kayaknya ini yang disebut gayung bersambut nih. Kalian udah saling cinta kan?” Vera semakin gencar menggoda Nara.


“Ada apa sih ramai sekali kalian ini.” Syifa dan Gita bergabung duduk dengan keduanya.


“Bentar lagi kita bakalan dapat PJ. Pajak jadian.” Vera mengedipkan matanya.


“Nara? Jadian sama siapa?” Syifa segera menopang dagunya dengan kedua tangannya. Matanya berbinar karena antusias.


“Alexander Briano Juantama.” Jawab Vera pasti. Nara langsung tersipu malu. Sedangkan dua temannya yang lain membuka mulut mereka.


***


Nara sudah bersiap sejak sore. Ia langsung pergi berendam sesampainya di rumah. Ia ingin merilexkan tubuhnya untuk makan malam nanti. Ia sudah mamantapkan hatinya jika tiba-tiba Alex kembali mengajaknya pacaran. Ia akan dengan bahagia menyatakan bahwa ia bersedia.

__ADS_1


Dan tepat pukul tujuh malam, Alex datang ke mansion Mahardika untuk menjemput Nara.


“Hati-hati di jalan. Nikmati makan malamnya dan jangan kemalaman membawa princess Nara pulang ya nak Alex.” Nathan menepuk pundak Alex ketika keduanya hendak berangkat.


“Om bisa percaya padaku. Aku akan menjaga putri on dengan segenap jiwa dan ragaku.” Ucap Alex yakin. Membuat Nathan tertawa bahagia.


“Om suka semangatmu anak muda. Maka pegang janjimu. Kamu memang calon menantu yang bisa diandalkan.” Nathan mengangguk.


“Apa sih pa.” Nara menghentakkan kakinya. Wajahnya kini sudah memerah.


“Sudah pa. Jangan digoda terus mereka. Nanti malah gagal acaranya.” Ucap Nadia. Wanita itu sedari tadi tersenyum melihat pasangan muda di depannya yang terlihat amat serasi.


Setelah berpamitan, Alex membawa Nara berangkat menggunakan mobilnya. Nadia dan Nathan mengantar kepergian keduanya dengan senyuman.


"Mereka pasangan yang serasi ya pa." Nadia menyenderkan kepalanya di pundak Nathan.


"Ya. Sama seperti kita. Mari mengingat masa lalu kita." Nathan merangkul pinggang Nadia sebelum mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah.


Dari dalam mobilnya Bisma mengamati semua kejadian itu. Laki-laki itu baru saja pulang dari kantor.


“Perjalanan cinta kalian baru saja dimulai. Tapi sudah mendapatkan rintangan yang begitu berat. Semoga ya g diputuskan Alex ini adalah langkah yang terbaik.” Bisma menghela napasnya. “Semoga Alex mampu meyakinkan Nara. Maaf aku tidak bisa berbuat banyak untuk kalian. Aku hanya bisa mendoakan agar cinta kalian menguatkan hubungan kalian.”


*


*


*


Maaf telat 🙏


Like👍


Vote🤩


Komentarnya selalu ditunggu Kaka....❤️

__ADS_1


__ADS_2