Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
84. Detektif Gadungan


__ADS_3

Hari ini Bisma pulang sekolah dengan wajah yang masam. Nara yang melihatnya ikut bergidik ngeri. Satria yang melihat adiknya berwajah masam segera menanyakan yang terjadi pada Nara.


Namun sayangnya, gadis kecil itupun tak tahu menahu.


“Nara juga tidak tahu kak. Tadi pulang sekolah wajahnya udah kayak singa mau telan mangsa.” Jawab Nara tidak membantu sama sekali. Bisma yang mendengar dengan jelas pembicaraan keduanya tentang dirinya hanya melirik tanpa peduli.


“Jadi Kak Bisma sudah seperti itu saat pulang sekolah tadi siang?”


“Hu uh. Nara sampai takut mau ngajak main.” Nara mengerucutkan bibirnya. Kakaknya itu memang terbiasa dingin. Namun biasanya ia akan tetap menemaninya bermain. Tapi melihat wajah sang kakak yang masam membuatnya takut.


Nadia yang mendapatkan laporan dari Nara ketika pulang dari kafe segera menghampiri putranya yang sedang mengerjakan PR di kamarnya.


“Ada apa hem? Apa sesuatu terjadi di sekolah?” tanya Nadia sambil mengelus rambut keriting Bisma.


Bisma ragu-ragu ingin mengungkapkan apa yang terjadi.


“Bisma bisa bicara pada Mama. Siapa tahu mama bisa membantu.”


“Ma, mama bisa silat?” pertanyaan Bisma membuat mulut Nadia menganga.


“Sebenarnya, di sekolah akan diadakan lomba seni berpasangan ma. Jadi Bisma pikir mama dan Bisma bisa bermain silat nantinya.”


Nadia mengelus rambut Bisma sambil berfikir. Setelah ia mendapatkan jawaban yang ia kira terbaik ia segera bicara.


“Memangnya Bisma bisa silat?”


“Tidak. Bagaimana kalau kita minta om Joni kesini buat Ngajarin kita?”


“Om Joni sibuk sayang. Begini saja, mama akan minta kak Satria mencarikan guru untuk kita. Bagaimana?” mendengarnya Bisma segera tersenyum. Ia merasa tak sia-sia berbicara pada mamanya. Mamanya selalu mempunyai penyelesaian yang bagus.


Ketika melihat senyum Bisma muncul, Nadia segera memikirkan guru yang cocok.


Setelah berhasil mengetahui masalah Bisma, Nadia keluar dari kamar putranya. Ia harus menemui Satria untuk meminta saran anak tirinya itu. Sebenarnya Nadia sudah mengajak Bisma keluar, tapi anak itu lebih memilih belajar.


Nadia segera menghampiri Satria yang sedang menonton televisi bersama Nara. Mendudukkan dirinya di samping Nara.


“Ada apa dengan Bisma?.”


“Mas Satria punya kenalan yang bisa silat?” pertanyaan Nadia membuat Satria mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu. Apakah ada sesuatu yang membahayakan keluarganya?


“Kenapa tiba-tiba mencari orang yang bisa silat? Apakah ada yang mengganggu Bisma?”


“Tidak. Bisma dan aku ingin berlatih silat.”


Jawaban Nadia membuat Satria lagi-lagi gagal faham.

__ADS_1


Melihat wajah Satria yang terlihat bingung, Nadia segera menjelaskan.


“Di sekolah Bisma akan diadakan pentas seni. Dan para siswa diminta berpartisipasi bersama orang tuanya untuk menampilkan seni. Dan Bisma ingin kami menampilkan silat.”


Satria mendengarkan dengan seksama perkataan Nadia. Di kepalanya juga ikut memikirkan solusi untuk menyelesaikan masalah ini.


“Bagaimana? Mas Satria punya kenalan yang cocok tidak?”


Satria menggaruk hidungnya yang tak gatal. Berharap ia mengingat kemampuan yang dibutuhkan Nadia pada salah satu temannya.


“Aha aku tahu.”


“Siapa?”


“Neil. Dulu sewaktu SMK dia mengikuti ekskul silat. Jadi aku yakin dia pasti bisa.”


“Ah kamu benar. Aku juga baru ingat dulu waktu di desa mas Nathan pernah menyelamatkanku.”


Nadia segera menghubungi Nathan untuk mengungkapkan maksudnya.


Di tempat lain, di kediaman Nathan.


“Nadia menelfonku.” Ucap Nathan. Kedua orang tuanya sedang duduk bersantai di ruang televisi.


“Itu yang namanya wanita baik-baik? Menelfon laki-laki seenaknya.”


Rita berdecak. Meskipun mulutnya pernah mengatakan bahwa ia merestui hubungan putranya dengan janda muda itu, namun di dalam hatinya tentu saja ia masih belum rela. Sehingga setiap ia menemukan sedikit saja kesalahan yang dibuat Nadia, ia akan mencoba membesarkan masalah itu.


“Nadia memintaku untuk mengajari putranya berlatih silat. Dia dan putranya akan tampil di acara sekolah.”


“Bahkan dia mulai memanfaatkan anaknya. Bukankah bisa menyewa pelatih saja. Tidak harus kamu kan?”


“Bisma, putra Nadia tidak begitu mempercayai laki-laki yang baru di kenalnya. Bahkan denganku saja ia mengibarkan bendera perang.”


“Mama kenapa jadi seperti ini?” suara Panji rendah. Ia tidak habis pikir seperti apa pikiran istrinya. Padahal dulu istrinya tidaklah seperti itu. Dia tipe orang yang tidak memandang status. Namun setelah mengenal Miranda sepertinya istrinya ini terlalu terobsesi.


“Mama masih belum rela jika Nathan mendekati janda muda itu. Padahal ada Miranda yang begitu sempurna.”


“Mama belum mengenal Nadia. Aku yakin jika mama mengenalnya lebih dekat, mama akan menyukainya.”


“Papa punya ide, ajaklah mereka latihan di taman. Nanti papa dan mama akan melihat latihan kalian dari jauh. Papa rasa dengan itu kita dapat melihat bagaimana Nadia. Dia benar-benar wanita baik-baik atau seperti yang dituduhkan mama.”


“Aku setuju. Dan jika mama dan papa tidak dapat membuktikan sisi buruk Nadia, mama tidak punya alasan lagi untuk tidak merestui hubungan kami.”


“Baiklah. Tapi jika mama melihat sedikit saja kesalahannya, kamu harus menjauh sejauh-jauhnya dari janda gatal itu.”

__ADS_1


.


Dan di sinilah mereka sekarang, di bawah pohon rindang di sudut taman, tiga orang berbeda usia dan gender memakai pakaian olahraga. Peluh membanjiri tubuh ketiganya.


Nathan, Nadia dan Bisma baru saja berlatih gerakan-gerakan yang diajarkan Nathan pada keduanya.


Nadia mengulurkan handuk dan sebotol air mineral pada Nathan saat ketiganya beranjak duduk. Nadia sendiri duduk di sebelah Bisma dengan pria kecil itu berada di tengah-tengah. Nadia dengan lembut mengusap peluh yang mengalir di dahi Bisma yang sedang meminum minumannya dengan handuk kecil yang dipegangnya.


“Ma, biar Bisma gantian mengelap keringat Mama.” Bisma merebut handuk kecil dari tangan Nadia dan mengusap ke dahi Nadia. Nadia segera menangkap tangan kecil itu.


“Bisma tidak perlu melakukan itu untuk mama. Mama senang melakukannya untuk putra mama ini.” Nadia berusaha merebut kembali handuk itu. Namun si kecil dengan susah payah mempertahankannya. Akhirnya Nadia membiarkan tangan kecil itu melanjutkan kegiatannya dengan penuh kelembutan.


“Mama sudah melakukan banyak hal besar untuk Bisma. Mama rela melakukan apapun. Bahkan mama mau berlatih silat demi Bisma. Jadi, biarkan putramu ini melakukan hal kecil ini untukmu ma.”


Nadia tertegun mendapati Bisma mengucapkan kata-kata yang menyentuh hatinya. Ditatapnya lekat mata kecil yang polos itu. Kasih sayang tulus jelas terlihat di dalam sana. Segera diraihnya tubuh Bisma dalam pelukannya. Mencium pucuk kepala pria kecil itu berkali-kali sambil mengelus rambut Bisma yang basah akibat keringat.


“Bisma, om Neil tidak dapat hadiah?”


Bisma segera menoleh guru silatnya. Memandangnya dengan tatapan mengejek.


“Apa om Neil tidak ikhlas melatih kami?”


“Bukan begitu.” Nathan menjadi kikuk. Skak mat untuknya dari Bisma.


Di tempat persembunyiannya, kedua orang tua yang beralih profesi menjadi detektif gadungan itu melihat interaksi ketiganya dari awal hingga akhir. Mereka berdua jelas melihat jika putranya terlihat bahagia berada di antara pasangan ibu dan anak itu.


“Lihatlah Ma, Nadia seorang orang tua tunggal yang hebat kan. Belum tentu orang lain bisa memerankan peran Nadia dengan baik sepertinya.”


Ucapan sang suami terus terngiang di telinganya. Apalagi Rita melihat sendiri bagaimana sikap Nadia yang terlihat sopan dan tidak berniat menggoda Nathan sama sekali. Bahkan ia melihat sendiri beberapa kali Nathan mencoba menggoda Nadia dan Nadia sendirilah yang mengingatkan Nathan untuk menjaga jarak dengannya. Apalagi ucapan Nadia membuatnya sadar betapa baiknya ibu muda yang berulang kali ia jelekan itu.


“Mas, selama kita belum mendapatkan restu dari orang tua mas dan juga Bisma, bisakah mas sedikit menjaga jarak denganku? Ini sebenarnya tidak baik untuk kita.”


Ucapan Nadia saat ia menolak godaan Nathan masih jelas di ingatan Rita.


Rita jelas melihat Nadia dan Nathan memang saling mencintai. Nadia juga sopan dan baik hati. Jika sebelumnya ia tidak tahu bahwa wanita itu sebenarnya seorang janda dua anak, ia akan menyukai wanita itu sejak pertama Nathan mengenalkannya padanya.


Tapi kenyataan bahwa wanita cantik itu sebenarnya adalah seorang janda, lagi-lagi sisi lain hatinya kembali tidak rela dan mengingkari semua kebaikan yang ia dapati.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍

__ADS_1


Ritualnya jangan lupa ea, klik like dan komen-komen bebas. Tapi maaf jika akoh kadang nggak bales. Kadang akoh bingung mau balesnya gimana. Tapi semuanya akoh baca kok.


Sekali lagi terima kasih dukungan kalian semua...🙏


__ADS_2