
Alex menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanan. Pandangan matanya tajam menatap seorang laki-laki paruh baya yang duduk di kursi kebesarannya yang kini tengah dibanjiri keringat di sekujur tubuhnya.
Beberapa kali laki-laki dengan perut buncit itu menyeka keringat yang mengalir di sekitar pelipisnya dengan menggunakan sapu tangan yang sudah basah dengan keringatnya.
“Saya yakin anda cukup pintar untuk mengambil tindakan.” Ucap Alex singkat. Namun laki-laki itu mengangguk paham.
“Iya tuan. Saya mengerti. Saya akan melakukan apapun yang tuan Alex katakan.” Ucapnya patuh. Wajahnya jelas terlihat takut pada sosok laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari pada dirinya sendiri. Namun tidak dipungkiri jika aura yang keluar dari tubuh Alex memanglah sulit untuk dia terima sehingga membuat tubuhnya terasa lemah di depan laki-laki muda itu.
“Bagus. Aku beri waktu dua hari untuk menyelesaikan semua prosedurnya.” Kata Alex seraya berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Alex berjalan dengan angkuh di sepanjang koridor. Di belakangnya, Gibran berjalan cepat mengimbangi kecepatan Alex. Beberapa karyawan yang tidak sengaja berpasangan dengan mereka segera menundukkan kepala mereka.
Tangan Alex terulur meraih ponsel di saku jasnya. Dan dengan gerakan elegan ia memposisikan ponsel ke dekat telinganya setelah menekan nomor kontak yang akan dia hubungi. “Sentosa Jaya sudah berada di tangan kita.” Ucapnya setelah panggilannya tersambung. Dan hanya kalimat itu yang keluar sebelum ia mematikan kembali teleponnya.
Memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya, itulah yang sedang Alex dan Bisma lakukan saat ini. Dengan bantuan dari Nathan dan Bima, kedua pemuda itu bekerja keras untuk menstabilkan kondisi perusahaan.
Keduanya sibuk mencari cara untuk dapat mengikis kekuatan Rafael sedikit demi sedikit. Namun, merek masih harus bergerak perlahan dan tidak mencolok. Mereka khawatir jika Rafael menyadari pergerakan mereka, laki-laki yang saat ini bergelar calon suami Nara akan menekan Nara dan mengajukan waktu pernikahan. Jika itu sampai terjadi, dengan kekuatan yang sekarang, mereka tidak akan mampu mengatasi Rafael.
Di saat Alex dan Bisma sedang sibuk bergerak, lawan mereka sedang bahagia menikmati waktunya bersama Nara.
Hari ini, tanpa terasa, tepat satu Minggu lagi acara pernikahan itu akan diadakan. Dan saat ini keduanya sedang melakukan fitting gaun yang terakhir.
Nara sudah memakai gaun berwarna putih khas pernikahan. Gaun yang akan ia gunakan untuk acara resepsi malam harinya.
Beberapa saat yang lalu, ia juga sudah mencoba kebaya yang akan digunakan untuk acara ijab qobul.
“Pasti nona kebanyakan pikiran ini. Berat badannya turun jauh. Gaunnya jadi kebesaran.” Kata Hera, pemilik butik yang membuatkan gaun untuk Nara. Kedua baju yang dicoba Nara semuanya kebesaran. Padahal beberapa waktu yang lalu sudah pas.
"Tidak perlu banyak pikiran nona Nara. Semua akan berjalan baik-baik saja. Calon suami anda juga sangat mencintai anda." ucap Weni yang ikut dalam sesi.
Sebagai pemilik WO yang sudah sering mendapati calon pengantin seperti Nara, ia tentu saja memahami beberapa hal yang bisa menyebabkan berat badan seorang calon pengantin wanita turun drastis. Salah satunya adalah kebanyakan pikiran karena khawatir. Dan ia mengira jika Nara sedang mengalami hal itu. Padahal kenyataannya sangat berbeda.
Yang sebenarnya adalah Nara akhir-akhir ini tidak berselera makan. Memang dia percaya pada kemampuan semua orang yang menurutnya bisa menyelamatkan nya dari pernikahan yang sangat tidak ia inginkan ini. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun merasa was-was.
__ADS_1
Di depan semua orang Nara berusaha tegar dan baik-baik saja. Tapi dalam hatinya sebenarnya sudah sangat tersiksa harus memperlakukan Rafael dengan baik. Hal ini menyebabkan dia secara bertahap memupuk rasa tidak sukanya pada Rafael.
“Jangan diteruskan dietnya ya.” Kata Hera menyadarkan Nara dari lamunannya. Gadis itu hanya mengangguk pelan. “Setelah ini saya akan ambil lagi ukurannya dan akan memperbaiki gaun sesuai ukuran.” Lanjutnya.
“Kamu dengar itu Nara. Kamu tidak perlu diet. Bentuk tubuhmu itu sudah ideal. Benar kan Bu Weni?” tanya Rafael pada Weni.
“Iya benar. Nona Nara sudah sempurna.” Puji Weni.
“Terima kasih.” Ujar Nara sambil tersenyum. “Sudah selesai kan? Saya ganti baju dulu kalau sudah.”
“Iya sudah. Silahkan ganti.” Hera mempersilahkan. Nara segera masuk ke dalam ruang pas. Sedangkan Hera memgajak Rafael dan Weni menunggu di ruangan yang ada di samping ruangan itu.
Nara baru meletakkan ekor gaunnya yang lumayan panjang ketika ia mendesah pelan. “Kapan semua ini berakhir. Aku sungguh tidak tahan dengan kelakuan laki-laki pengecut itu.” Gumamnya.
Masih dalam posisi berdiri, Nara mengulurkan tangannya untuk meraih resleting gaun yang ada di punggungnya. Ia mengeluh beberapa kali karena ia merasa kesulitan.
“Ayolah siapa saja tolong aku.” Desisnya pelan. Namun tubuhnya menegang saat ia merasa sentuhan di tangan di punggungnya. Juga nafas hangat yang berhembus di telinganya sebelum suara maskulin yang sangat familiar untuknya.
“Karena sang putri matahari mengharapkan sang pangeran es datang menolong, maka sang pangeran es ini dengan senang hati akan menjadi pahlawan di sini.”
“Apa yang kamu lakukan disini Lex?”
tanyanya masih dalam pelukan.
“Bukankah kamu yang meminta bantuan melepaskan gaunmu? Aku disini untuk membantumu melepasnya. Sini biarkan aku bantu.” senyum mesum Alex membuat Nara bergidik. Gadis itu reflek memegangi gaunnya dengan erat. Melihat reaksi Nara, Alex terkekeh pelan.
“Jangan macam-macam deh. Kenapa kamu di sini? Kalau Rafael melihatmu akan jadi masalah.” Ucap Nara dengan suara pelan.
“Tenang saja. Aku sudah meminta Tante Hera untuk menahan calon suamimu itu. Jadi aku bebas melakukan apapun padamu saat ini.” Alex mendekatkan wajahnya dan dengan lembut menikmati bibir Nara yang sudah sangat ia rindukan.
“Jadi Bu Hera?” tanya Nara saat Alex sudah melepaskan bibirnya. Saat ini Nara sudah mulai terbiasa menghadapi serangan memabukkan Alex.
“Iya. Dan Tante Hera benar. Kamu kurusan. Kamu harus menambah sedikit lagi berat badanmu. Atau akan terasa keras saat aku memelukmu.” Goda Alex.
__ADS_1
“Jangan bicara mesum.” Nara melepas tangan Alex yang melingkar di pinggangnya. “Aku harus segera keluar. Kalau tidak Rafael akan curiga.”
“Sebentar lagi. Aku masih sangat merindukanmu sayang. Apa kamu lebih merindukan Rafael?” Alex kembali melingkarkan tangannya dan menarik gadis itu bersandar di dadanya. Nara menggeleng cepat. Siapapun tahu betapa bencinya Nara pada Rafael. Lalu dengan sepenuh hati Alex menciumi puncak kepala Nara dengan penuh kasih.
“Aku sudah menemukan kelemahan Rafael. Tinggal satu langkah lagi maka Rafael akan dapat kita lawan.” Ucap Alex sembari mengelus Surai hitam bergelombang milik Nara.
“Syukurlah kalau begitu.” Nara mengangguk pelan. “Lex, jangan biarkan pernikahan ini terjadi ya.” Nara mendongakkan kepalanya. Melihat Alex ya g tersenyum lembut kearahnya.
“Kamu tenang saja. Sejak awal kamu adalah milik ku. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Kamu cukup percaya saja padaku oke?”
“Aku percaya.”
“Baiklah. Beri aku suntikan vitamin C lagi. Aku membutuhkan energi ekstra untuk membebaskan sang putri matahari dari penculikan pengeran kegelapan.” Nara terkekeh melihat wajah penuh harap Alex yang menurutnya sangat konyol. Apalagi perumpaan yang Alex gunakan ini sedikit jadul.
Melihat wajah Alex yang penuh harap, Nara tidak bisa tinggal diam. Dia pun berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher Alex sebelum menempelkan bibirnya pada kedua pipi laki-laki itu bergantian. Kemudian beralih pada bibirnya dan setelah itu menempelkan kening mereka sambil saling melempar senyum.
Nara keluar dari ruangan ganti dengan senyum cerah. Sangat berbeda saat ia masuk tadi yang seperti tenggelam di dalam awan hitam. Hera yang paham alasannya hanya bisa bergumam dalam hatinya. “Dasar anak muda. Entah permainan apa yang kalian mainkan ini. Permainan anak muda jaman sekarang ini semakin aneh saja."
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Baper nggak?
Baper nggak?
Baper lah.... masak enggak....
Nara aja percaya pada Alex. Masak kalian nggak?
__ADS_1
Ayo kasih dukungan pada Alex sang pangeran es untuk menyelamatkan putri mataharinya.