
Penampilan Serena sudah jauh berbeda dengan saat ia datang. Setelah diperiksa oleh dokter, Nara meminta Mak Jum dan Mak Marni untuk menyeka tubuh Serena dan menggantikan bajunya. Jadi, saat ini penampilan lusuhnya telah berganti menjadi wanita tua yang cantik.
Mak Marni dan Mak Jum sebelumnya juga tidak memiliki masalah dengan Serena. Pada dasarnya Serena adalah wanita yang baik dan lemah lembut. Awalnya mereka juga tidak menyangka jika Serena akan tega melakukan semua itu pada suami dan anaknya.
“Nyonya Serena sudah selesai kami ganti bajunya.” Ucap Mak Marni yang baru keluar dari kamar tamu tempat Serena dibaringkan.
“Ayo kita tengok sayang.” Nara mengelus lengan Alex. Namun laki-laki itu melengos dengan wajah yang masih terlihat kesal. Istri tercintanya malah membela wanita yang paling dibencinya. “Sayang ayo.” Nara menggoyangkan lengan Alex.
“Tidak.” Tolak Alex tegas. “Aku sudah memberinya izin untuk tinggal. Jangan memaksaku melakukan hal lain untuknya.” Alex berdiri dan meninggalkan Nara.
Nara memandang punggung Alex yang semakin menjauh darinya. Kemudian menghilang di balik pintu kamar mereka. Nara menghela napasnya.
“Aku tahu kamu terluka Lex. Tapi aku berharap kamu bisa memaafkan mamamu sendiri.” Gumam Nara sebelum masuk ke dalam kamar Serena.
Nara menatap Serena dalam waktu yang cukup lama. Kini wajah tua itu masih terlihat cantik meskipun ada kerutan di beberapa tempat di wajahnya. Bibirnya pucat. Nara tersenyum saat melihat bentuk alisnya yang tebal dan melengkung indah. Kini ia tahu dari mana Alex mendapatkan alis yang membuatnya iri.
Dalam balutan baju rumahan milik Nara yang ternyata pas di tubuh Serena. Hanya saja tubuh itu terlihat sangat kurus.
Mata Serena mengerjap beberapa kali sebelum terbuka dengan sempurna. Nara segera menghampiri nya.
“Kamu...”
“Nama saya Nara. Saya istri Alex.” Nara duduk di samping Serena. Memegang punggung tangan Serena.
“Kamu cantik dan baik. Sangat serasi dengan Alex.” Serena tersenyum tulus. Ia sangat senang mengetahui jika anaknya kini telah memiliki istri. Dan istrinya itu tidak hanya cantik, tapi juga baik.
“Terima kasih ma. Mmm... Maafkan soal Alex. Biasanya dia tidak seperti itu.” Nara merasa bersalah atas sikap Alex yang kurang ajar.
“Bukan Alex yang salah. Akulah yang salah. Aku tahu aku tidak seharusnya datang kesini. Tapi aku tidak punya pilihan lain.” Wajah Serena sendu. Sudah dua tahun ia luntang lantung di jalan tanpa tujuan yang jelas. Apalagi ia terus menerus dikejar oleh para penagih hutang. Dia dan Hans juga tidak memiliki anak dari pernikahan mereka. Jadi semua beban ditanggungnya sendiri.
Hanya setelah hutang itu terbayar lunas dengan kerja kerasnya, ia merasa bebas. Namun usianya tidak bisa menutupi kemampuan nya. Dia semakin tua, penyakit datang silih berganti menyerangnya. Dan itulah kenapa akhirnya ia memberanikan diri untuk mendatangi Alex. Berharap anaknya itu mau memaafkannya.
__ADS_1
“Mama bicara apa? Alex adalah anak mama. Sudah seharusnya mama datang mencari nya saat mama dalam masalah.”
“Aku mama yang buruk. Aku mama terjahat di dunia ini.”
“Mama sudah menyadari kesalahan. Juga sudah meminta maaf. Alex adalah pria yang baik. Aku yakin cepat atau lambat dia akan memaafkan mama.”
“Permisi nyonya, saya membawakan bubur.” Mak Marni masuk setelah mengetuk pintu yang sebenarnya tidak tertutup.
“Apa kabar Marni?” Serena menatap pembantunya itu.
“Saya baik-baik saja nyonya. Saya bawakan bubur tanpa daun bawang untuk nyonya.” Mak Marni mendekat. Dari dulu Serena tidak menyukai daun bawang. Sama seperti Alex.
“Terima kasih Marni. Kamu masih ingat aku tisk suka Daun bawang. Aku tenang sekarang. Dengan kamu disini dengan Jumini, aku yakin Alex tumbuh dengan baik.”
“Nyonya sama dengan tuan Alex dalam hal itu. Tuan Alex tumbuh menjadi pria yang kuat. Permisi nyonya, saya masih banyak pekerjaan di dapur.” Mak Marni pergi setelah berpamitan.
Nara akhirnya menyuapi Serena makan. Awalnya Serena menolak disuapi Nara karena merasa tidak enak. Tapi Nara bersikeras melakukannya. Wanita tua itu masih belum memiliki cukup tenaga.
“Mama istirahat dulu di sini. Tubuh mama masih lemah.” Nara membantu Serena merebahkan dirinya. Kemudian membenarkan selimutnya. Baru setelah itu Nara keluar dari dalam kamar Serena.
Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada orang yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Manusia bisa melakukan kesalahan di satu kesempatan dan akan menyesalinya di saat yang lain. Ini wajar.
Didiamkan Alex meskipun hanya sebentar membuat Nara tidak tenang. Ia harus segera memperbaiki hubungan diantara mereka. Mereka baru saja menikah. Tentu saja akan ada banyak hal yang berbeda.
Saat Nara kembali ke kamar. Dia melihat Alex berdiri menghadap ke jendela.
“Sayang apa kamu marah?” Nara mendekat dan memeluk Alex dari belakang. Alex hanya diam. Hatinya masih belum bisa menerima kehadiran Serena setelah sekian lama wanita itu pergi.
Dua puluh tahun dilalui Alex dengan tanpa kehadiran sosok ibunya. Dia hanya hidup dengan papanya yang tegas dan membesarkannya dengan keras. Beberapa tahun di awal Alex selalu berharap Serena akan datang dan menjemputnya pergi dari rumah megah yang merupakan neraka baginya.
Namun harapan itu berubah menjadi keputus asaan akan sebuah penantian. Dan kerinduan juga telah berubah menjadi kekecewaan dan juga kebencian. Hanya dengan itu, Alex bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayangan masa lalu.
__ADS_1
“Aku hanya ingin menolong sayang. Kamu lihat sendiri kan kondisi mama kamu seperti itu. Kata dokter daya tahan tubuhnya lemah. Dia perlu banyak istirahat. Kita sebagai anak tidak bisa membiarkannya hidup tidak jelas di luar sana.”
“Tapi dia sudah berbuat kesalahan. Dia sudah pergi selama dua puluh tahun. Lalu kenapa dia harus kembali saat aku sudah hidup bahagia?”
“Manusia hidup selalu diselimuti masalah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Manusia melakukan kesalahan itu hal yang wajar. Yang terpenting adalah dia mau berubah di saat ia menyadari kesalahannya. Dan mama sudah menyadari kesalahannya. Kita sebagai sesama manusia harusnya saling memaafkan.”
“Kamu terlalu baik. Tapi aku tidak sebaik kamu.” Alex membalik tubuhnya. Memegang bahu Nara dengan lembut.
“Butuh waktu untuk mengobati penyakit. Bagiku pun sakit hati yang aku rasakan.” lanjut Alex.
“Aku tahu. Tapi aku yakin kamu bisa.”
“Tapi kamu tetap harus dihukum karena berani melawanku di depan orang lain tadi.”
Alex berbisik di telinga Nara. Menggigit daun telinga Nara dengan gemas.
“Tapi mama bukan orang lain.”
ucap Nara panik.
“Bagiku dia orang lain. Sekarang kamu sudah tidak bisa mengelak lagi. Lakukan hukumanmu dengan baik.” Alex memagut bibir Nara dengan lembut.
“Lex ada mama. Bagaimana kalau...”
“Jangan mulai menggunakan wanita itu untuk mengelak. Atau akan aku usir dia saat ini juga. Kamu paham?” dengan gemas Alex meremas buah Persik Nara. Dia masih kesal dengan kehadiran Serena di tengah kehidupannya yang baru saja merasa bahagia. Dan sekarang satu-satunya alasan mengapa ia mengizinkan wanita itu tinggal sudah akan menjadi alasan yang digunakan Nara untuk menghindarinya.
“Baiklah. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau asalkan tidak mengusir mama dari sini.” Apapun alasan Nara berkata demikian, Alex hanya akan menangkap inti yang ia suka. Bahwa ia bebas melakukan apapun pada Nara malam ini. Dan Nara tidak akan mengelak lagi.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih masih setia 🥰