Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_114. Rencana Virly Mulai Berjalan


__ADS_3

Serena datang bersama dengan Virly. Keduanya langsung menyapa beberapa orang kenalan mereka.


“Loh jeng Serena ini siapa? Sepertinya menantumu bukan yang ini deh.” Tanya seorang wanita yang ditemui Serena.


“Memang bukan. Dia putrinya temanku.”


“Oh begitu. Dia cantik. Cocok lho jadi istrinya tuan Alex. Lagipula laki-laki kan bisa menikahi dua wanita sekaligus. Menantumu itu kan juga sudah lama belum bisa kasih keturunan.”


“Pengennya juga begitu. Tapi Alex itu! Entah dikasih apa sama Nara jadi cinta mati sama dia.”


“Tante jangan bicara seperti itu. Bukankah baik jika suami dan istri itu saling mencintai.”


“Aduh.. mana anaknya baik gini. Kalau aku punya anak laki-laki yang belum menikah aku juga ingin punya menantu yang kayak gini.” Wanita bernama Tami menepuk pundak Virly senang.


“Iya tuh. Aku ini sebagai ibunya Alex kan ya pengen cepet nimang cucu. Aku juga pengen lihat Alex bahagia. Ya sudah deh jeng aku nemuin yang lain dulu.” Serena mengajak Virly pergi.


Setelah Serena dan Virly pergi, kelompok nyonya-nyonya itu menggunjing Serena. Begitulah. Di depan orangnya akan memuji dan meninggikan. Tapi setelah orangnya pergi mereka akan menggunjingkan kejelekannya.


Pertemanan seperti itulah yang Nara hindari. Maka dari itu Nara tidak memiliki banyak teman. Ia hanya akan mau berteman dengan orang-orang yang berteman dengan tulus.


Cara Nara yang seperti itu jugalah yang membuat Nara terkenal dengan sifatnya yang sombong dan pemilih teman.


Serena juga menghampiri Nadia dan Nathan sebagai tuan rumah. Tetapi saat ini mereka bertemu seperti orang asing yang hanya sekedar saling menyapa.


Pada waktu yang ditentukan acara pun dimulai. Acara demi acara dilaksanakan sesuai agenda. Malam ini, Alex duduk bersama dengan Angga yang datang secara khusus sebagai tamu undangannya.


“Sayang aku ngantuk.” Bisik Nara di telinga Alex setelah menarik lengan Alex supaya mendekat ke arahnya.


Alex melihat jam tangannya. Masih pukul sembilan malam. Nara tidak biasanya tidur di jam itu.


“Ini masih sore.”


“Tapi aku sangat ngantuk. Mataku rasanya berat sekali.” Nara mengedipkan matanya beberapa kali. Mulutnya juga menguap.


“Nona Nara memang terlihat mengantuk tuan Alex. Sebaiknya diantar ke kamar saja dulu.”


“Terima kasih atas perhatiannya tuan Angga. Aku bukakan kamar saja ya di hotel ini. Kalau kita pulang tidak enak dengan papa.”


“Iya deh. Ayo.” Nara mengangguk dan berdiri.


Alex pamit pada Nathan dan Nadia yang ada di meja tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


Di meja lain, Virly tersenyum dengan licik.


**


Beberapa saat sebelum acara dimulai, Virly meminta izin pada Serena pergi ke toilet. Tanpa curiga sedikitpun, Serena memberi izin.


Setelah lepas dari pengawasan Serena, Virly mengendap-endap mengawasi situasi. Matanya memperhatikan setiap pelayan yang berlalu lalang di sekitarnya. Dengan jeli Virly memperhatikan setiap orang.


Seorang pelayan yang sedang menerima telfon di satu sudut menjadi titik perhatiannya. Dia mendekat dengan hati-hati. Mencoba menguping pembicaraan pelayan itu.


“Iya aku tahu. Tapi uang sebanyak itu aku dapat dari mana?” pelayan bernama Rini itu berkata.


“...”


“Dua puluh juta bukan uang yang sedikit. Aku hanya pelayan hotel bu. Uang sebanyak itu juga gajiku beberapa bulan.”


“...”


“Beri aku waktu. Aku akan segera mengirimkan uangnya pada ibu. Aku akan mencoba mencari pinjaman pada teman-teman ku.”


“...”


Tuut...


Rini menghela napas. Di kampung halamannya, ibunya terus saja meminta kiriman uang darinya untuk pengobatan adiknya. Kali ini untuk biaya operasi adiknya.


“Saya bisa bantu kamu.” Virly menghampiri Rini. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Berjalan dengan angkuh di depan Rini. Menatap Rini dengan tatapan meremehkan.


“Maaf, nona siapa ya?”


“Tidak perlu mengetahui siapa aku. Yang perlu kamu tahu adalah aku bisa membantumu.” Virly memainkan rambutnya. Menggulungnya dengan anggun.


“Maksud nona apa?”


“Saya tahu kamu sedang butuh uang. Aku bisa membantumu mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat. Kamu hanya perlu melakukan sedikit hal untukku.”


“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Rini ragu. Pekerjaan seperti ini pasti pekerjaan yang tidak benar. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Adiknya sedang sakit dan menunggu uang untuk biaya operasi.


“Kamu masukkan ini ke dalam minuman orang ini.” Virly memberikan bungkusan berisi serbuk pada Rini kemudian menunjukkan foto Nara pada Rini. Rini sedikit terkejut karena ia mengenali Nara. Hotel tempatnya bekerja adalah milik keluarga Nara. Jadi tentu saja ia tahu siapa orang di foto itu.


“Bukankah ini nona Nara? Saya tidak berani.” Rini segera menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Kamu tenang saja. Ini bukan racun atau sesuatu yang berbahaya. Ini hanya obat tidur. Dan ketika acara hampir selesai, kamu berikan bungkusan yang ini pada suaminya. Alex. Kamu tahu kan?” Rini mengangguk.


“Ingat jangan sampai tertukar.”


“Tapi...”


“Tidak ada tapi-tapian. Kamu mau uangnya apa tidak? Tidak hanya dua puluh juta yang kamu butuhkan itu. Aku juga akan menambahkan sepuluh juta sebagai imbalannya.”


“Tapi bagaimana kalau saya ketahuan?”


“Ck. Baiklah. Aku akan memberimu lima puluh juta. Setelah ini kembalilah ke kampungmu. Kamu bisa hidup mewah dengan uang itu. Kamu puas?”


Rini mengangguk senang. Dengan uang sebanyak itu ia bisa membuka usaha di kampung.


“Berapa nomer rekening mu? Akan aku kirim lima juta sebagai DP. Kalau kamu sudah selesaikan tugasmu, akan aku berikan sisanya nanti.”


Setelah menerima uangnya, Rini segera pergi. Memasukkan bungkusan yang diberikan Virly ke dalam saku seragamnya.


“Huh dasar pelayan tidak mau diuntung. Uang lima puluh juta ini juga bukan uang yang sedikit. Belum lagi aku harus memberi sepuluh juta pada si Denis itu. Seenaknya saja mereka meminta begitu banyak. Tapi demi lebih dekat dengan Alex, aku tidak akan perhitungan. Lagipula jika aku menjadi istri Alex nanti, yang segitu juga tidak ada artinya.”


Virly juga tidak berdiam lama di tempat itu. Ia harus segera kembali kepada Serena atau wanita itu akan curiga.


“Lakukan seperti yang aku perintahkan.” Ucap Virly di telepon sambil berjalan.


Sepanjang acara, Virly mengawasi setiap pergerakan Nara. Siapa aja yang menemui Nara. Dirinya sangat puas saat melihat Rini datang dengan membawa minuman untuk Nara. Apalagi saat gadis pelayan itu tersenyum padanya. Virly membalas senyuman Rini dengan senyum puas pula.


Detik-detik setelah itu begitu menegangkan untuk Virly. Ia menunggu obat tidur yang ia berikan pada Nara bereaksi.


Untuk menghindari kecurigaan, Virly memang sengaja memakai obat tidur dengan dosis rendah sehingga efeknya baru terlihat setelah beberapa waktu berlalu.


Dari waktu ke waktu, Nara menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Beberapa kali mulutnya menguap. Matanya juga mengerjap-ngerjap hingga membuatnya tampak berkaca-kaca. Terlihat sangat mengantuk.


Virly sangat puas melihat hasil kerja Rini. Ia pun segera mengirim sisa uang pada Rini dan memintanya cepat pergi.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2