Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_84. Janji Seorang Alex


__ADS_3

Sore harinya Alex baru kembali setelah menyelesaikan semua urusannya. Seharian ini, ia membuat pengaturan untuk pengobatan Nara. Mulai dari dokter spesialis terbaik dan juga rumah sakit tempat Nara akan dirawat. Alex juga sudah terhubung dengan dokter dan rumah sakit di Singapura mengenai kondisi Nara.


Saat Alex hampir sampai di ruangan Nara, ia melihat Nathan duduk di kursi tunggu di luar ruangan. Laki-laki itu sudah tidak tahan melihat putrinya yang terlihat sedih sejak pagi.


“Sudah selesai Lex?” Nathan menoleh pada Alex yang duduk di sampingnya.


“Sudah pa. Setelah kondisi Nara membaik, kita bisa langsung membawanya ke rumah sakit. Aku sudah menghubungi dokter spesialis terbaik untuk merawat Nara.” Nathan mengangguk.


“Bagaimana keadaan Nara?” Alex bertanya dengan khawatir. Meskipun ia sudah bisa menebak jika istrinya pasti sangat sedih saat ini. Tapi ia masih ingin memastikan dari Nathan.


“Bagaimana lagi? Dia hancur. Sejak pagi mamamu dan Nadia sudah berusaha menghiburnya. Namun Nara masih saja bersedih. Kalian sudah lama menunggu kehadiran anak ini. Tapi saat sudah ada malah harus dihilangkan. Tentu saja ini menjadi pukulan berat untuk Nara.”


“Papa benar. Aku tahu betul perasaan Nara. Tapi aku yakin lama kelamaan Nara akan melupakan masalah ini. Setelah Nara sembuh nanti, aku akan mengajaknya untuk mengikuti program kehamilan.”


“Papa setuju. Masuklah dulu temui Nara. Meskipun tadi pagi Nara mengucapkan banyak kata-kata buruk padamu, tapi sebenarnya Dia paling membutuhkan mu saat ini.” Alex mengangguk dan berdiri. Ia masuk ke ruang Nara setelah menghirup udara dalam-dalam.


Nadia dan Serena yang duduk di sofa menoleh pada Alex. Nara baru saja tidur setelah minum obatnya. Serena berdiri dan menghampiri Alex.


Alex memandangi yang tertidur.


“Nara baru saja tidur setelah minum obat. Duduklah dulu, kamu pasti sangat lelah.” Serena meraih tangan Alex dan menggandengnya duduk di sofa.


“Sudah makan nak?” Nadia bertanya.


Alex menggeleng. “Aku tidak lapar.”


Nadia menghela napas. “Meskipun kamu sedang tidak ingin makan, kamu tetap harus makan. Jika kamu sakit nanti bagaimana kamu bisa menemani Nara?”


“Bu Nadia benar. Makanlah dulu.” Serena mengangsurkan kotak makan yang baru dibawakan Nathan.


Dengan enggan Alex menerimanya. Meskipun ia tidak berselera saat ini, tapi Nadia dan Serena benar. Ia harus makan.


Makanan di kotak pun akhirnya tandas meskipun Alex tidak menikmatinya sama sekali.


“Apa rencanamu selanjutnya?” Serena bertanya setelah Alex selesai makan. Nathan juga ikut masuk tak lama setelah Alex masuk.


“Aku sudah mengatur dokter dan rumah sakit terbaik di Jakarta. Setelah kondisi Nara stabil, aku akan meminta pihak rumah sakit mengatur kepindahannya.”


“Terima kasih Alex. Kamu masih mau menerima Nara dengan segala kekurangannya.”

__ADS_1


“Mama bilang apa? Aku menerima Nara menjadi istriku bukan karena kesempurnaan. Aku mencintai Nara sepenuh hatiku. Apapun dan bagaimanapun keadaan Nara, cintaku tidak akan pernah berkurang. Mama bisa pegang kata-kata ku ini.” Ucap Alex dengan tegas.


“Bagaimanapun terima kasih telah memberi begitu banyak cinta pada putri kami. Sejak kecil Nara selalu hidup dengan penuh cinta. Bahkan Bisma menjaganya dengan begitu ketat agar dia tidak sampai menderita.” Nathan berkata dengan serius.


“Aku juga tahu bagaimana Bisma menjaga Nara selama ini. Hari ini, aku Alexander Briano Juantama berjanji bahwa aku tidak akan mencintai wanita manapun selain Nara. Dan hanya Nara lah yang akan menjadi istriku.” Ujar Alex yakin.


Serena yang merupakan ibu dari Alex terkejut mendengar janji putranya itu. Terlebih ia melihat wajah Alex yang penuh tekad. Sebagai seorang ibu tentu saja ada kekhawatiran di dalam lubuk hatinya terhadap kebahagiaan putra satu-satunya.


Bukan karena ia tidak menyukai Nara, hanya saja dibandingkan apapun di dunia ini, baginya kebahagiaan Alex lah yang paling penting.


Pada saat ini Serena khawatir masa depan Alex nantinya. Nara memiliki penyakit serius yang bisa saja merenggut jiwanya. Dan jika sampai menantunya itu telah meninggal sebelum ia berhasil melahirkan keturunan untuk Alex, bukankah garis keturunan nya akan terputus?


Namun pada saat ini, Serena tidak bisa mengekspos kekhawatiran nya. Jadi ia akan mengikuti bagaimana keadaan ini akan berlanjut. Tapi jika ia menemukan kebahagiaan Alex yang terancam, ia akan memikirkan cara untuk membalik keadaan.


“Papa...” suara lemah dari Nara membuat keempat orang yang sedang berbicara serius menoleh seketika.


Alex segera menghampiri istrinya. Meraih tangannya dan menciumnya dengan mesra.


Sadar akan apa yang dilakukan Alex padanya, Nara menarik tangannya dengan lemas.


“Lepaskan tanganku. Buat apa kamu peduli padaku?” Nara masih marah. Wanita itu memalingkan wajahnya.


“Bagaimana keadaanmu sayang?” Nathan mengelus punggung tangan Nara.


“Mana mungkin aku baik-baik saja jika anakku dilenyapkan oleh seseorang.” Ucap Nara sinis sambil melirik Alex dengan tajam.


“Tidak ada yang melenyapkan anakmu sayang.” Mulut Nathan berkedut. Ia sadar jika ia hanya dimanfaatkan oleh putrinya sebagai alat komunikasinya. Ah! Cara ngambek putrinya ini sungguh istimewa.


“Kalau seseorang tidak melenyapkan anakku. Dimana dia sekarang?” Nara mengepalkan tangannya. Nathan yang sadar jika emosi Nara sedang tinggi segera menepuknya pelan.


“Jangan marah-marah seperti ini. Kamu tahu kan kalau kamu akan kehilangan dua puluh persen kadar cantikmu jika kamu marah?” Nara terperangah mendengar ucapan Nathan. Bisa-bisanya papanya ini menyerang titik kelemahannya di depan Alex!


“Sejak bangun pagi tadi kamu sudah marah beberapa kali. Papa sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kadar cantik yang tersisa setelah marah seharian?” Nathan terkekeh.


“Papa... Kenapa bicara begitu? Aku ini putri papa yang cantik nomor satu.” Nara menggoyangkan lengan Nathan.


“Iya. Sejauh ini memang nomor satu. Tapi kalau kamu marah-marah sekali lagi, kamu akan segera bergeser menjadi cantik nomor dua.” Sindir Nathan. Nara hanya bisa mencebikkan bibirnya.


“Sudahlah. Lex aku serahkan putriku yang mudah marah ini. Kalian bicaralah sendiri. Papa sudah lelah. Ayo ma. Bu Serena. Kita kembali ke hotel. Biarkan anak-anak muda ini menyelesaikan masalah mereka.” Nathan mengintruksi Nadia dan Serena. Kedua wanita itu juga setuju dengan Nathan.

__ADS_1


Nara dan Alex sudah menikah. Mereka harus bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Setelah ketiga orang itu keluar dari ruangan itu, suasana hening selama beberapa saat. Hanya terdengar dengusan lembut dari Nara yang terus memalingkan wajahnya dari Alex. Juga suara hembusan napas Alex yang terdengar berat.


“Maafkan aku sayang, jujur memang akulah yang bersalah dalam hal ini. Aku yang telah menyetujui prosedur pengangkatan bayi kita.”


“Aku tahu.” Jawab Nara sinis. Alex hanya menghela napas pasrah.


“Tapi itu tidak berarti aku tidak menyayangi kalian. Bukan juga aku tidak mencintai bayi kita. Justru karena aku sangat menyayangi kalian aku terpaksa melakukan semua ini.” Nara diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Alex.


“Kamu adalah seorang yang paling berharga untukku. Begitu juga anak yang ada di dalam kandungan mu. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain sayang.” Alex menjeda. Ia meraih tangan Nara. Kali ini Nara membiarkannya.


“Dokter berkata bahwa di dalam kandunganmu ada sel kanker yang terus tumbuh. Jika tidak segera diobati, ini akan sangat membahayakan mu.”


“Tapi aku juga punya hak untuk memutuskannya. Kamu bahkan tidak berbicara padaku sebelumnya.”


“Nara sayang, kamu harus memahami keadaan ini. Meskipun kita bersikukuh untuk mempertahankan bayi kita, tidak ada yang bisa menjamin ia kan lahir dengan selamat. Resiko yang diambil terlalu tinggi.”


“Tapi aku rela menerima resiko terburuk sekalipun. Kenapa kamu tidak mengerti?” Nara menangis. Alex segera mendekap tubuh Nara.


“Aku memang egois. Aku tidak ingin melihatmu menderita. Aku memang egois karena lebih memilihmu dari pada bayi kita. Tapi aku tidak mengabaikan bayi kita sayang.”


“Apa maksudmu? Apa jangan-jangan kamu menyewa rahim wanita lain untuk menampung bayi kita?” tiba-tiba saja cerita dari novel online yang pernah Nara baca terlintas di pikiran nya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir (◕ᴗ◕✿)


Sebenarnya apa yang dilakukan Alex pada calon bayinya?


Apakah sama dengan yang dipikirkan Nara?


Oh no!


Oh no!

__ADS_1


Oh no! No! No! No! No!


__ADS_2