
Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Nadia segera pamit untuk kembali ke kamarnya. Bisa gawat jika sampai juragan tidak mendapatnya di dalam kamar. Bisa jadi Sinta yang akan mendapat murkanya.
Sesampainya di kamar. Nadia segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Tak lama berselang, juragan Bondan masuk ke dalam kamar Nadia. Mendengar suara gemericik air di dalam, ia hanya bisa menunggunya dengan tenang di tepi ranjang. Menunggu istri mudanya kuar dari kamar mandi setelah melakukan berbagai ritual di dalam sana.
Dengan piama yang sudah melekat di badan juga handuk putih yang menggelung rambutnya Nadia keluar dari kamar mandi. Aroma sabun cair dan sampo yang saat ini menjadi favorit Nadia menguarkan aroma strawberry di dalam kamar seketika.
Nadia duduk di meja rias. Melepas handuknya dan menggosoknya ringan di rambutnya. Membuat arima strawberry semakin kuat mengudara.
“Segar sekali sayang.” Juragan Bondan yang sudah semenjak awal terpancing tidak bisa tidak segera menghampiri istri cantiknya. Memeluknya dari belakang. Memberinya ciuman maut di bagian tubuh belakang Nadia.
Nadia hanya membiarkannya saja. Lagipula memang hampir setiap hari suaminya itu menyentuhnya seperti itu. Semua terlalu biasa.
Nadia masih melanjutkan aktifitasnya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia tidak bisa memakai hair dryer karena ada suaminya yang berada sangat dekat dengan kepalanya.
“Aku sudah tidak tahan Nadia.” Bisik Juragan Bondan sebelum mendaratkan bibirnya disana. Menggelitik indra pendengar Nadia. Membuat sang pemilik mendesah. Namun Nadia segera mendapatkan kesadarannya. Sebelum suanya terlambat.
Nadia segera berbalik dan memegang tangan Juragan Bondan yang besar. Meletakkan tangan besar yang hitam itu di atas permukaan perutnya yang masih datar. Juragan Bondan memperhatikan tangannya yang mendarat di sana. Kemudian berganti memandang lekat wajah Nadia yang malam ini terlihat semakin mempesona. Senyum Nadia malam ini terlihat lain. Seperti memancarkan aura kegembiraan yang tiada tara.
“Apa maksudnya ini Nadia?” juragan Bondan akhirnya bertanya. Dia ingin memastikan apa yang ada di fikirannya memang benar.
“Saya sedang hamil bapak. Jadi jika bapak melakukannya, saya harap bapak hati-hati. Jangan sampai menyakiti anak kita.” Kata Nadia hati-hati. Dia memperhatikan ekspresi juragan Bondan saat menerima kabar ini.
Tak dipungkiri jika Nadia menyembunyikan ketakutanya andai suaminya tidak menginginkan anak yang ia kandung. Entah apa yang akan terjadi jika ketakutannya itu terjadi.
Tetapi, dari ekspresi yang dia lihat dari wajah Juragan Bondan, sepertinya suaminya itu juga senang. Senyum itu terbit juga di bibir tebal hitam milik juragan Bondan.
“Apakah bapak tidak suka?” Nadia menggigit bibir bawahnya. Ia bertanya hati-hati.
__ADS_1
“Apa yang kamu katakan Nadia. Tentu saja aku sangat senang. Aku sudah sejak lama menantimu siap mengandung anakku.” Wajah Juragan Bondan bersemangat. Sejak lama dia menanti kabar ini. Bagaimanapun, Nadia adalah istri sahnya. Dengan anak darinya, masa depannya nanti akan terjamin. Anak itu berhak mendapatkan warisannya jika ia sudah tiada nantinya.
Nadia diam-diam mengamati setiap kata yang diucapkan suaminya. Sepertinya ada yang tidak beres. Kemudian, saat dia mengetahui ada yang salah, ia segera bertanya, “Apakah bapak...?” suaranya tercekat. Diapun tidak berani berspekulasi lebih jauh.
“Hahahaha. Tentu saja aku tahu sayang. Sejak awal aku tahu tentang pil penunda kehamilan itu. Tapi aku hanya diam. Aku mencoba mengerti jika kamu belum siap mengandung anakku. Dan sekarang saat kamu sudah siap aku tentu saja sangat bahagia.” Setelah menyelesaikan ucapannya, juragan Bondan segera memeluk Nadia. Mendaratkan ciumannya ke pucuk kepala Istrinya.
“Sudah berapa bulan?” juragan Bondan mengelus lembut perut rata Nadia.
“Sudah tiga bulan.”
“Kenapa kamu baru bilang?”
“Saya takut bapak. Nadia tahu apa yang terjadi pada wanita yang hamil anak bapak. Bu Debi tidak akan membiarkannya. Saya hanya takut Bu Devi membahayakan anak ini.” Nadia tidak menyembunyikan alasan sebenarnya. Juragan Bondan juga pasti akan mengerti alasannya.
“Kamu tenang saja. Aku pasti akan melindungi kalian.” Kata juragan Bondan yakin. Nadia hanya bisa mengangguk. Dalam hatinya ia berharap dengan sungguh-sungguh bahwa juragan Bondan akan mampu melindungi anak mereka dari bu Devi.
“Aku akan berhati-hati malam ini.” Kata Juragan Bondan sebelum melancarkan aksinya menikmati tubuh istrinya yang sedang hamil muda itu.
Nadia patut bersyukur kali untuk ini. Meskipun suaminya itu kejam, namun mempunyai niat yang baik dan juga kasih sayang terhadap anak yang ia kandung. Nadia bisa bernafas lega sekarang. Suaminya menerima anaknya dan juga akan membantunya melindungi anak mereka. Nadia yakin semua akan berjalan dengan baik.
Setelah pergumulan panas yang memuaskan, juragan Bondan masih mempunyai tenaga untuk bangun. Dia mengajak Nadia berbincang-bincang di atas ranjang sebelum mereka tidur. Banyak hal yang perlu mereka bicarakan.
Tentu saja pembicaraan itu tidak jauh dari kehamilan Nadia dan langkah yang akan mereka ambil kedepannya. Juragan Bondan juga tahu musuhnya saat ini. Jika biasanya dia akan diam saja atas tindakan Bu Devi, kali ini dia tidak akan membiarkan wanita itu melukai Nadia dan anaknya.
“Menurut saya sebaiknya kita tutupi dulu.” Kata Nadia.
“Kenapa?”
“Saya tahu betul bagaimana Bu Devi. Dia akan menggunakan berbagai cara agar usahanya berhasil. Saya tidak mau kehilangan bayi ini.”
__ADS_1
“Mau ditutupi sampai kapan? Suatu saat pasti juga akan ketahuan.”
“Saya tahu. Tapi setidaknya sampai bayi ini kuat di dalam sana. Sampai benar-benar perut saya membuncit dan tak bisa ditutupi lagi.”
“Baiklah jika itu kemauanmu. Tapi bagaimana dengan keperluannya? Apa kamu juga rutin minum susu hamil?”
“Nita, istri Joni yang selalu menyiapkannya untukku. Dia jugalah yang memasakkanku berbagai makanan sehat selama ini.”
“Hahahaha. Bahkan anak buahku lebih dulu mengetahuinya.” Juragan Bondan tersenyum kecut. Bahkan dengan anak buahnya saja ia kalah cepat mengetahui informasi sepenting ini.
“Joni dan Nita adalah sahabat masa kecil saya. Mereka dapat dipercaya. Joni lebih dari sekedar bodyguad. Dia sahabat saya.” Nadia merasa perlu menjelaskan hubungannya dengan Joni dan Nita agar tidak ada kesalah pahaman antara mereka.
“Aku senang mempunyai Joni yang bisa diandalkan.” Diam-diam Juragan Bondan menyayangkan bahwa dia tidak bisa diandalkan. Devi juga istrinya. Ia tidak bisa mengambil langkah yang bisa merusak keluarganya.
“Baiklah. Sudah larut malam. Tidurlah. Kurang tidur tidak baik untukmu.” Juragan Bondan keluar dari selimut. Memakai kembali pakaiannya yang tadi ia lempar sembarangan. “Aku masih ada sedikit kerjaan. Dua hari aku akan berada di luar kota. Ada pasar baru yang akan menjadi langganan beras kita. Jadi aku harus bertemu dengan pemiliknya.”
“Iya bapak”
“Selama aku pergi, pastikan tidak terjadi apa-apa dengan calon anak kita.” Juragan Bondan mengelus perut Nadia yang berbalut selimut sebelum dia pergi meninggalkan kamar.
Nadia bernafas lega. Juragan Bondan mendukungnya. Ini baik untuk keselamatan anaknya.
Dengan perlahan Nadia bangkit dari tidurnya dan membelit tubuh polosnya dengan selimut. Dengan masih berbalut selimut, ia memunguti pakaianya yang tersebar di lantai. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk dia gunakan kembali setelah ia selesai membersihkan diri.
Selesai dengan urusannya di kamar mandi, Nadia keluar dengan membawa selimutnya. Kemudian memasukkan selimut itu ke keranjang baju kotor. Nadia beralih pada seprai yang menjadi saksi bagaimana olahraga malam juragan Bondan. Seprai berwarna biru muda itu sudah tidak bersih lagi. Selimut itu segera ditarik dan dimasukkan ke dalam keranjang.
“Huft.” Nadia menghembus nafas kasar setelah mengganti seprai. Biasanya tugas itu dilakukan pembantu ketika dia sedang mandi. Biasanya setelah olahraga suaminya akan langsung tidur. Tapi malam ini berbeda. Nadia tidak akan bisa tidur setelah melihat sisa-sisa pergumulan panasnya.
“Akhirnya bapak tahu. Semoga saja bapak bisa membantuku melindungimu nak.” Nadia mengelus perutnya sebelum ia masuk ke dalam mimpi.
__ADS_1
^^^~*{Aku Istri Muda}*~^^^
Jangan Lupa Jempolnya 👍 di tekan ya biar Akoh semangat nulisnya... 😉