Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
70. Awal Yang Sulit


__ADS_3

...AKOH SEKELUARGA MENGUCAPKAN...


...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI...


...MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN...


Update spesial hari raya...


Akoh up 3 episode hari ini.


Happy Reading😊


Satunya lagi tengah malam nanti.


Kata orang, memulai sesuatu yang baru akan terasa sulit. Dan itu memang benar. Nadia pun merasakannya, apalagi dengan keadaannya sekarang, hidup kedepannya tidak mudah untuk dia jalani.


Nadia sengaja memilih kawasan perumahan yang lumayan elit sebagai huniannya karena dalam kawasan ini biasanya gosip seperti itu tidak akan tersebar mengingat penghuninya yang biasanya hidup menyendiri. Siapa sangka jika hal seperti itu tidak terjadi disini.


Keluarga yang tinggal di kawasan rumah Nadia merupakan orang-orang kaya. Dan, ternyata kebanyakan dari para nyonya di wilayah ini adalah pengacara alias Pengangguran Banyak Acara. Alih-alih mereka sibuk dengan dunia sosialita di luar rumah, mereka lebih senang berkumpul dengan para nyonya lain di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka menyebut diri mereka Geng Penyu (Persatuan Nyonya Unyu)


Mereka membuat banyak acara di lingkungan mereka. Mulai dari arisan, bakti sosial, pengajian, sampai dangdutan, terkadang mereka juga akan liburan bersama, dan setiap harinya mereka tidak akan terlewatkan dengan berkumpul di taman. Bukan untuk olah raga seperti baju yang melekat pada tubuh mereka, tapi kebanyakan dari kegiatan itu adalah olahraga mulut yang melatih mereka berbicara banyak hal dalam waktu yang singkat. Menggosip sana sini dan membahas apa saja yang menarik perhatian mereka.


Dan yang sedang hangat-hangatnya menjadi topik pembicaraan selama hampir satu minggu ini adalah Nadia. Kebanyakan dari mereka mendapatkan kabar dari para pembantu yang bertugas menjadi wartawan pribadi mereka.


Menjadi janda di umurnya yang masih muda, terlebih dalam keadaan hamil dan datang secara tiba-tiba di tempat yang baru tentu saja membuat guncangan di masyarakat. Ditambah dengan adanya Bisma yang diperkenalkan Nadia sebagai putra angkatnya. Itu semakin membuat pemikiran-pemikiran yang berakhir menjadi gosip murahan yang simpang siur.


Banyaknya gosip yang beredar menjadi momok tersendiri bagi Nadia. Dengan wajah yang cantik dan body yang sexi tentu saja menimbulkan kecurigaan masyarakat sekitar jika Nadia telah hamil di luar nikah. Ada lagi anggapan Nadia sebagai pelakor. Huh! Dasar gosip!


“Eh ati-ati lho jeng sama tetangga baru kita. Dia kan janda. Jangan sampai suami-suami kita salah masuk rumah.” Kata Bu Endang, ketua kelompok ibu-ibu itu.


“Aku nggak yakin deh kalau dia janda. Umurnya aja masih muda gitu. Pasti pelakor.” Cibir Susi.


“Iya ya. Jangan-jangan dia hamil di luar nikah. Aduh... amit-amit deh.”


“Tapi waktu pindah kesini, dia menunjukkan surat kk dan juga ktp. Malahan dia bawa buku nikah segala.” Kata bu Jani yang merupakan ketua RT.


“Jangan-jangan dia selingkuh terus kabur kesini. Kita kan nggak pernah lihat suaminya.” Kata Bu Seli.

__ADS_1


“Katanya suaminya meninggal satu bulan lalu. Dia dari desa, katanya mau mencari peruntungan dengan datang ke kota.” Kata bu Jani. Itu memang alasan yang diberikan Nadia waktu itu. Ia bilang bahwa ia pergi dari desa untuk mencari peruntungan dengan membuka usaha dari modal ia menjual asetnya di desa.


“Ealah! Gadis desa ternyata. Dia pikir hidup di kota ini mudah apa?”


Pada saat para ibu-ibu geng Penyu sedang asik berdiskusi, orang yang menjadi objek pembicaraan mereka baru saja melewati mereka dengan membunyikan klakson mobilnya dengan kaca yang sedikit terbuka untuk menyapa para tetangga baru yang sedang menggosipkannya. Mobil itu melaju pelan saat melewati taman tempat berkumpulnya geng penyu.


“Tuh tuh lihat gayanya.”


“Iya. Udah kayak orang sibuk aja dia.”


“Dia kan memang sibuk. Pasti bingung dia mau memulai usaha apa.”


Nadia memang sudah mempunyai rencana untuk membuka cafe, tapi dia masih belum mempunyai tempat untuk memulai usahanya. Selama hampir satu Nadia pergi untuk mencari tempat yang cocok untuk usahanya.


Usaha tidak akan mengecewakan hasil, berkat usahanya, Nadia akhirnya menemukan tempat yang sesuai untuk memulai usahanya. Sebuah bangunan lantai dua yang juga merupakan cafe dia temukan. Cafe itu dijual karena pemiliknya meninggal dan anak-anaknya tidak ada yang berniat meneruskan usaha orang tuanya karena sudah memiliki usaha sendiri.


Selama dua minggu ini, Nadia merombak total isi Cafe mulai dari penataan tempat dan juga desain. Cafe yang dulunya bernuansa glamaour diubah menjadi elegan dengan sentuhan cinta di dalamnya.


Namun barang-barang yang masih bisa digunakan juga dipertahankan tetapi dengan pengaturan dan penempatan yang berbeda. Ini memberikan tampilan yang jelas berbeda dengan tampilan kafe dua minggu yang lalu ketika baru resmi berpindah pemilik.


Cat yang awalnya berwarna coklat dan gold diubah menjadi perpaduan warna nude dan pink. Menu yang disediakan juga ditambah dengan menu sederhana yang relatif murah untuk para remaja mengingat kafe itu terletak di dekat sekolah dan bengkel yang kebanyakan pengunjungnya adalah remaja dengan kantong terbatas.


Persiapan pembukaan cafe akan dilakukan dua hari mendatang setelah Nadia mengadakan jamuan perkenalan dengan masyarakat di lingkungannya. Nadia memang belum sempat menyapa warga sekitar secara resmi akibat kesibukannya, jadi ia memutuskan untuk mengadakan jamuan dengan mengundang tetangganya untuk memperkenalkan diri.


“Bu, persiapan sudah hampir selesai. Dua hari lagi kita bisa melakukan pembukaan.” Kata Mita, manager dari cafe ini sebelumnya. Hari sudah menjelang sore. Sudah hampir waktunya pulang.


“Iya mbak Mita. Alhamdulillah semuanya lancar. Oh ya besok tolong beritahu yang lain untuk datang ke rumah saya. Saya mengadakan syukuran rumah baru sekaligus kenalan dengan tetangga. Juga selamatan satu bulanan anak angkat saya, Bisma. Acaranya dimulai jam sembilan pagi.”


“Siap bu! Anak-anak pasti senang bisa membantu.”


“Tidak-tidak. Saya tidak mengundang mereka untuk membantu, tapi menjadi tamu. Untuk besok saya sudah meminta bantuan orang lain. Jadi kalian akan punya tenaga buat pembukaan lusa.”


“Siap-siap! Anda memang yang terbaik Bu Nadia.” Ucap Mita semangat. Gadis cantik yang awalnya cuek ini berubah menjadi ceria setelah berinteraksi dengan Nadia hampir dua minggu ini.


...***...


Tepat pukul empat, Nadia sampai di rumah. Semua sudah selesai dan siap untuk pembukaan lusa. Jadi Nadia bisa pulang lebih awal hari ini.

__ADS_1


Nadia mendudukkan dirinya di sofa setelah mengecup pipi tembem Bisma yang sedang digendong Minah yang berdiri tak jauh darinya.


“Maaf ya Bi, padahal Dian mengamanahkan Bisma padaku. Tapi malah bi Minah yang repot.” Kata Nadia melihat wajah lelah Minah. Sebenarnya Nadia sudah menganjurkan untuk menyewa baby sitter untuk membantu, tapi Minah menolak dengan alasan masih bisa melakukannya sendiri.


“Kami yang seharusnya berterima kasih Nak Nadia. Jika tidak ada nak Nadia, entah bagaimana nasib kami berdua.” Kata Minah sendu sambil mendudukkan dirinya.


“Aku juga senang karena ada temannya. Aku tidak bisa membayangkan jika harus kabur seorang diri. Pasti rasanya sangat kesepian.”


“Apapun yang terjadi Jangan terlalu lelah nak Nadia. Ingat yang di dalam juga.” Kata Minah ketika melihat Nadia menutup matanya sambil bersandar di sofa.


“Iya Bi. Untung saja yang ini bandel dan nggak rewel, tahu kalau mamanya sedang dalam masa sulit.”


“Anak pasti mengerti apa yang sedang dirasakan orang tuanya nak. Jadi jangan terlalu stres. Nggak baik.”


“Iya bi. Terima kasih nasihatnya. Ya sudah, aku ke atas dulu mau bersih-bersih.”


“Bagus. Tadi aku sudah minta bi Tinah memasakkan cah kangkung dan ayam goreng. Apa kamu mau yang lain untuk makan malam?”


“Tidak bi. Itu cukup. Oh ya, untuk acara besok tolong minta bi Tinah dan pak Udin bantu-bantu besok.”


“Hem.” Minah mengangguk dan pergi ke dapur untuk menemui Tinah dan suaminya Udin yang bekerja sebagai penjaga sekaligus tukang kebun.


Nadia sendiri masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Nadia meraba perutnya dengan lembut saat ia berendam di dalam buthup.


“Maafin mama sayang, kamu harus ikut capek gara-gara mama.” Lirih Nadia. “Tapi ini semua demi kita semua. Jalan di depan kita masih panjang dan mungkin terjal. Jadilah anak mama yang kuat.” Lanjutnya.


“Maafkan Nadia yang pergi dari rumah, bapak. Nadia hamil lagi. Nadia harap bapak tidak marah disana, Anak ini harus selamat. Anak ini akan menjadi kenangan manis dari bapak.” Kata Nadia sebelum memejamkan mata menikmati aroma esensial yang ia campurkan pada bak mandinya yang hangat.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2