
“Bagaimana kabar para orang tua itu?” Bisma dengan malas melirik Andi yang berdiri di depannya. Tangannya masih bekerja dengan bolpoin di atas lembaran-lembaran berkas. Namun Bisma menajamkan pendengarannya.
Hari ini adalah H -2 sebelum acara. Persiapan sudah hampir selesai. Secara keseluruhan, delapan puluh persen sudah sempurna.
Beberapa hari sebelumnya, dewan direksi yang disebut orang tua oleh Bisma datang silih berganti dengan mengusulkan kandidat Presdir baru.
Semua kandidat yang telah diajukan segera diselidiki dan di ilai oleh badan yang mereka bentuk secara khusus. Orang-orang yang dibentuk dari para ahli dan dipastikan tidak memihak. Pembentukan badan ini juga sudah disepakati bersama.
Hasilnya, semua kandidat sebelumnya dinyatakan tidak layak. Faktanya, Bisma masih terhebat dalam hal ini.
Kandidat yang dibawa diketahui mempunyai beberapa masalah yang tidak sepele setelah diselidiki. Kasus dengan karyawan, ketidak akuratan data dan juga beberapa dari mereka ada yang bermasalah dengan kemampuan menganalisa.
Karena ini adalah sebuah kompetisi, maka hanya yang terbaik yang akan menjadi pemenangnya. Lupakan yang bermasalah, bahkan yang memiliki sedikit skandal saja tidak masuk ke dalam kategori. Kandidat harus bersih dan mumpuni.
“Kemarin mereka membawa Roberto, putra tuan Diaz yang baru pulang dari Swiss. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sana, Roberto juga bekerja di salah satu perusahaan besar. Dengan kemampuannya sendiri sudah sampai di posisi GM.”
Bisma sedikit tertarik. Dibandingkan kandidat yang dibawa sebelumnya, sepertinya pria bernama Roberto ini yang paling layak. “Lalu?”
“Setelah diselidiki, badan pengawas menemukan bahwa Roberto ini tidak sepenuhnya menggunakan kemampuannya untuk mendapatkan posisinya, melainkan memainkan trik kotor dengan mengumpankan rekan kerjanya. Jika hal ini tidak diselidiki dengan teliti takutnya tidak akan yang melihat faktanya. Jadi hari ini Roberto sudah dieliminasi.”
“Yah. Badan yang dibentuk ini benar-benar relevan.”
“Tuan benar. Jika badan ini bisa dipertahankan berada di Mahardika, bisa dipastikan tidak akan ada pengkhianatan yang terjadi di sini.” Andi memuji dengan tulus. Pria muda itu begitu mengagumi cara kerja badan pengawas yang cepat dan tegas.
“Ide yang bagus. Setelah itu pikirkan cara untuk mengikat mereka.”
Andi seperti tertimpa beban berat di pundaknya. Bukankah ini sebuah tanggung jawab yang terlalu besar untuknya?
Meskipun tim ahli itu ada di bawah perintah Mahardika saat ini, masing-masing dari mereka memiliki temperamen yang arogan. Bahkan ada beberapa yang nyentrik dan sedikit aneh. Berusaha mengikat orang-orang seperti itu dengan tali yang terhubung di tangan harus memiliki tali yang cukup kuat. Dan Andi, tidak mempunyai kualifikasi kekuatan yang seperti itu.
“Tuan ini...”
“Memegang orang seperti mereka di tangan kita hanya akan membuat kita memegang kentang panas setiap waktu. Jadi lupakan gagasan itu.” Bisma berkata dengan acuh. Orang-orang dengan pikiran mereka sangat tidak mudah ditebak.
“Baik tuan. Saya mengerti.”
“Keluarlah. Lanjutkan pekerjaan mu. Oh ya. Dimana Nara?”
__ADS_1
“Nona pergi ke butik untuk memilih gaun.”
“Huft. Wanita dengan segala urusannya memang sangat merepotkan.” Bisma memutar matanya malas. Andi menghela napasnya. Bosnya yang satu itu benar-benar tidak mengerti masalah perempuan.
Meskipun Bisma menyayangi mama dan adik-adiknya. Terutama Nara dan Dini, masalah kecil yang berhubungan dengan mereka Bisma benar-benar acuh. Bisa dikatakan, Bisma memiliki nilai nol besar untuk kemampuan memahami perempuan.
Pernah sekali waktu di ulang tahun Dini, kakak laki-lakinya itu malah memberikan paket kursus sebagai hadiah. Benar-benar tidak menyenangkan.
Nara malah mendapat hadiah yang lebih menyebalkan lagi. Di saat Alex memberinya hadiah sebuah jam tangan mewah, Bisma malah memberinya dosen pembimbing skripsi terkiller yang seharusnya ia hindari.
Jadi mengenai penampilan seorang wanita adalah yang paling penting tidak masuk ke dalam matanya. Semua ini seperti tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Berbicara mengenai penampilan, di salah satu butik langganan Nara, Nara sedang sibuk memilihkan gaun pesta untuk Karina.
Wanita itu membolak balikkan beberapa gaun yang sebelumnya ia bandingkan. Semua gaun itu bagus, tapi sepertinya tidak ada yang cocok dengan karakter Karina yang terlihat kalem, tetapi menyembunyikan sisi liar di dalamnya.
“Bagaimana nona, apa ada yang sesuai? Kalau tidak ada kami masih memiliki beberapa koleksi khusus di lantai atas.” Pegawai wanita yang bekerja sebagai manager di butik itu menyampaikan dengan hormat. Nara adalah salah satu langganan mereka. Meskipun Nara jarang datang, namun sekali datang ia akan membeli beberapa gaun dari butik mereka. Jadi tentu saja Nara akan mendapatkan perlakuan khusus.
“Baiklah. Antar aku ke sana.” Nara mengikuti wanita itu. Sebuah katalog diterimanya. Nara melihat-lihat katalog itu dengan serius. Ia sedang membayangkan Karina memakai berbagai gaun di dalam katalog tersebut.
Nara melihat-lihat gaun yang dipajang. Pandangannya jatuh pada satu gaun berwarna biru yang sama dengan yang menarik perhatiannya di dalam katalog.
Gaun terusan panjang tanpa lengan dengan model jatuh di bagian bawah. Bagian depan Sedikit terbuka karena bagian atas merupakan kain tipis yang sedikit tembus pandang. Terlihat simpel, tetapi sangat elegan dan mewah.
“Ini bagus.” Nara berjalan mendekati gaun itu. Melihat dari dekat. Memindai Kecocokan antara gaun dan Karina sebagai pemakainya.
“Nona Nara memiliki pandangan yang bagus. Gaun ini dirancang khusus oleh Tuan Jeremy Renney.” Jelas manager itu.
“Hem. Bagus-bagus. Tolong bungkus itu. Aku akan kirim alamatnya nanti.” Nara tersenyum puas.
“Alamatnya ganti?”
“Oh. Itu bukan buatku. Tapi untuk temanku. Aku sudah kirim alamatnya.”
“Maaf nona Nara, apakah alamatnya tidak salah? Bukankah ini di lingkungan gang Kamboja?” tanya manager itu heran.
“Tidak. Alamatnya sudah betul. Salah satu kenalanku ada di sana. Apakah ada masalah?”
__ADS_1
“Tidak-tidak. Tidak apa-apa. Baiklah kami akan segera mengirim ke alamat ini. Ini nona Karina apakah salah satu..”
“Bukan. Sembarangan. Memang semua yang tinggal di sana harus seperti itu?”
“Maaf. Bukan maksud seperti itu.”
“Ah sudahlah. Jangan lupa kirim gaun yang aku pesan Sebelumnya ke mansion Mahardika saja. Jangan sampai ketukar dengan yang ini.” Nara segera mengambil tas tangannya.
“Tenang saja, kami akan mengantarnya segera.”
“Bagus. Aku kembali dulu.” Nara segera melenggang pergi.
Saat Nara hendak keluar, ia melihat dua sosok yang tidak asing untuknya. Mereka adalah Serena dan Virly.
Mulai hari ini Virly memang dipecat oleh Alex. Sedikit ada perdebatan di kantor akibat hal ini. Banyak gosip yang tersebar. Ada yang mengatakan bahwa Virly dipecat gara-gara Nara yang cemburu padanya. Dan hal ini tentu saja sengaja disebarkan oleh Virly.
Tujuan Virly tidak lain untuk merusak citra Nara di depan umum. Membuat pandangan orang memihak padanya. Mengagungkan namanya dan menggunjingkan Nara sebagai gantinya.
Hari ini, Serena mengajak Virly untuk membeli gaun. Dia akan mengajak Virly menghadiri acara di Mahardika Grub untuk menemaninya.
“Nara kamu juga membeli gaun?” ketika mereka berpapasan, Virly menyapa Nara sebelum Nara menyapa Serena.
“Ah iya. Selamat sore mama.”
“Selamat sore. Seorang istri berkeliaran sendirian. Ayo Virly kita masuk.” Serena berjalan melewati Nara dengan dingin.
Nara menghela napas pasrah. Ia hanya berharap semua masalah segera selesai dan Serena kembali seperti sebelumnya.
Tidak menjadi musuh seperti saat ini.
*
*
*
Terima kasih 🥰
__ADS_1