
Seorang wanita cantik dengan gaun yang mewah duduk tenang di dalam privat room sebuah hotel bintang lima. Wajahnya berseri karena bahagia. Wanita itu jelas bahagia karena akhirnya penantiannya akan berakhir. Laki-laki yang sudah ia incar selama dua tahun ini akhirnya mau melihatnya dan meminta bertemu dengannya terlebih dahulu.
Dia adalah Miranda. Miranda Rahardian. Satu-satunya ahli waris perusahaan Rahardian. Perusahaan terbesar kedua setelah Perusahaan milik Nathan yang berdiri di kota X.
“Tante Rita pasti berhasil membujuk Nathan hingga ia merubah sikapnya padaku. Lagi pula, tidak ada wanita lain yang tebih tepat untuk Nathan dari pada aku.” Katanya sambil membenarkan make up nya yang mulai berantakan.
Dua jam lalu setelah mendapatkan pesan dari Nathan, dirinya langsung pergi ke salon untuk mempersiapkan diri. Padahal Nathan meminta bertemu satu jam setelah itu. Karena tidak ingin jika Nathan sampai menunggu, Miranda segera bergegas. Namun siapa yang menyangka bahwa Nathan bahkan telat selama satu jam lebih tanpa kabar.
Menghiraukan sedikit kecewa di hatinya, Miranda segera memberikan kalimat pisitif pada dirinya sendiri. Berulang kali Miranda berkata pada dirinya sendiri bahwa Nathan pasti datang dan sekarang sedang dalam perjalanan. Sehingga disaat perasaan negatifnya hendak muncul, malaikat baik selalu membisikkan kata manis di telinganya.
Nathan datang satu setengah jam lebih lambat dari waktu yang dijanjikannya. Seharusnya ia bisa tepat waktu jika saja Nara tidak menelfonnya di saat terakhir ia akan berangkat.
Namun keadaan memang membuatnya tinggal lebih lama dan menghabiskan waktu yang berharga dengan Nara. Tentu ia tidak menolak karena itu menyenangkan. Hingga ia melupakan janjinya pada Miranda.
“Maaf telat. Tadi masih ada urusan.” Ucap Nathan acuh tak acuh seperti tidak membuat kesalahan. Sebenarnya ia merasa enggan. Namun ia berniat untuk mengakhiri semuanya dengan Miranda sebelum gadis itu semakin tidak terkendali. Ini langkah kedua untuk mendapatkan Nadia, membersihkan jalan mereka berdua.
Mengabaikan perasaannya yang sedikit terluka, Miranda segera menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Di depan laki-laki yang ia cintai jelas ia harus menunjukkan sisi cantiknya kan?
“Tidak masalah Nathan. Kamu sudah disini saja aku sudah bahagia.”
“Kamu belum memesan makanan?”
“Sebenarnya aku menunggumu. Aku tidak tahu seleramu.”
“Oh.” Nathan segera memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya.
Di dalam privat room itu kedua orang duduk dalam diam. Nathan sibuk dengan handphone miliknya untuk membalas beberapa e-mail yang masuk serta beberapa pekerjaan yang dikirim oleh Luna. Miranda sendiri lebih memilih untuk mengaduk jus yang lebih dulu ia pesan sambil menikmati pemandangan di depannya yang terlihat menarik. Nathan dalam mode on serius membuatnya tiga kali terlihat lebih tampan.
Setelah beberapa lama, makanan yang mereka pesan telah tertata rapi di atas meja. Nathan mengambil langkah pertama untuk makan dengan enggan. Ia sedikit menyesali pertemuan ini. Seharian ini ia sibuk sehingga tidak bisa mengunjungi Purnama Kafe untuk minta dimasakkan oleh Nadia. Setelah sekiam lama terbiasa dengan masakan Nadia, rasanya enggan untuk makan masakan orang lain.
“Kamu pasti bertanya kenapa aku mengajakmu bertemu disini kan?” tanya Nathan setelah ia mengelap mulutnya dengan tisu.
“Emm. Iya. Tapi pasti ini karena tante Rita kan?” tebak Miranda percaya diri. Pada pertemuan terakhirnya dengan ibu dari laki-laki di depannya ini, Miranda mengeluhkan sikap Nathan yang dingin padanya. Dan ia mendapatkan janji dari Rita untuk menegur Nathan. Tentu saja ia akan percaya diri terhadap apa yang ia simpulkan.
Namun pernyataan Nathan selanjutnya membuat senyum manis di bibirnya memudar. Wajahnya berubah gelap. Suram.
“Ya. Dan karena itulah aku memintamu untuk menjauhiku.”
“Tapi kenapa? Bukankah tante Rita bilang akan menjodohkan kita?”
__ADS_1
“Memangnya kamu pikir yang akan menikah itu mama? Aku tidak akan setuju. Aku tidak akan menikahimu.”
“Tapi tante Rita bilang...”
“Berhenti bersembunyi di balik mama. Dia adalah mamaku. Ia tentu saja lebih memilih kebahagaianku dibandingkan apapun di dunia ini.”
Flash Back On....
Sepulang dari rumah Nadia kemarin, Nathan segera pulang ke rumahnya. Disana mama dan papanya kembali berkunjung. Keduanya ingin membicarakan hal serius dengannya. Dan Nathan tahu betul apa yang ingin dibicarakan kedua orang tuanya.
Ini pasti mengenai Miranda!
Dan Nathan membenci perbincangan ini.
Nathan disambut senyum hangat oleh Rita. Membawa anak laki-lakinya duduk di ruang tamu.
“Ma. Biarkan Nathan membersihkan diri dan istirahat dulu.” Panji yang geram atas sikap istrinya ini segera menegur. Ia sebenarnya juga tidak begitu setuju jika Nathan menikah dengan Miranda. Gadis itu terlalu bebas dan manja. Namun karena istrinya selalu memaksanya ia akhirnya menurut.
“Tidak pa. Masalah ini harus segera diselesaikan.” Rita yang cemberut setelah ditegur suaminya segera tersenyum mendengar pembelaan dari sang putra.
“Baiklah. Karena Nathan tidak keberatan Mama akan langsung mengungkapkan keinginan kami berdua.” Rita melirik tajam suaminya. Berharap ia tak mengacaukan rencananya. Panji hanya mendesah pasrah. Bagaimanapun pasal dalam sebuah rumah tangga masih berlaku bahwa wanita selalu benar. Dia ratunya.
“Apa yang mama inginkan?”
“Aku menunggu restu anak tiriku.”
“Huh anak tiri. Di depanmu bahkan ada seorang gadis yang cantik. Bisa-bisanya pandanganmu dipenuhi oleh janda genit itu? Sadarlah Nathan.” Geram Rita.
“Cukup ma. Nadia adalah wanita baik-baik.”
“Kalau dia wanita baik-baik, tidak mungkin ia mau menjadi istri kedua. Terlebih suaminya itu lebih pantas menjadi bapaknya.”
“Berhenti menjelekkan Nadia. Mama tidak tahu apa yang terjadi.”
“Mama tahu. Miranda memberi tahu Mama semuanya.”
“Jadi mama lebih percaya pada ucapan orang lain daripada ucapan anak mama?”
“Nathan. Sebaik apapun wanita itu, dia adalah janda anak dua. Dia tidak sebanding denganmu. Apa yang kamu harapkan dari seorang janda? Seorang Jal*ng sepertinya akan merusak reputasimu.”
__ADS_1
“Nadia bukan orang yang bisa mama hina. mama hanya melihat Nadia sekali. Dan mendengar cerita buruk tentangnya sekali. Dan mama memutuskan hal yang buruk untuk Nadia. Ini tidak adil ma.”
“Apa yang dilakukan jal*ng itu padamu hingga membuatmu seperti ini Nathan?”
“Cukup Ma. Mama sudah keterlaluan. Kemana mama yang lembut selama ini? Sepertinya Miranda membuat Mama menjadi seorang yang kasar.” Panji menegur Rita.
“Papa ikut-ikutan membela Jal*ng itu?”
“Mama! Nadia tidak seperti itu. Dia wanita baik-baik.” Bentak Nathan. Ia tidak tahan mendengar mamanya berulang kali menyebut Nadia sebagai seorang Jal*ng.
“Kamu baru mengenalnya satu bulan dan dia membuatmu membentak mamamu sendiri Nathan.”
“Maafkan Nathan ma. Bukan seperti itu maksudku. Aku sudah lama mengenal Nadia. Dia bahkan menghindariku selama empat tahun ini karena merasa dirinya tidak pantas untukku.”
“Bagus jika dia sadar diri.” Rita melipat kedua tangannya di depan dada.
“Dengarkan penjelasan Nathan Ma.” Nathan duduk bersimpuh di depan Rita, kemudian meraih tangan mamanya dengan lembut. Mendapati perlakuan seperti itu Rita mulai melembek.
Melihat mamanya yang sudah tenang, Nathan menceritakan semua hal tentang Nadia. Tidak ada yang ia tutupi termasuk pernikahan Nadia dengan juragan Bondan.
Setelah mendengar cerita tentang kehidupan Nadia, tanpa sadar Rita meneteskan air matanya.
“Aku sangat mencintainya ma. Kami saling mencintai. Tolong restui hubungan kami. Izinkan kami bahagia.” Nathan menatap lekat mata Rita yang terus meneteskan air matanya.
Panji menepuk pundak istrinya. “Ma, apa lagi yang kita cari di kehidupan ini selain kebahagiaan anak-anak kita? Nadia adalah wanita yang baik. Apa masalahnya jika ia telah mempunyai anak? Bukankah ini memudahkan kita untuk segera merasakan memiliki cucu?”
“Baiklah. Jika menikah dengan Nadia membuatmu bahagia, mama akan merestui kalian.” Rita mendesah pasrah.
“Terima kasih mama.” Nathan merasa sangat bahagia. Kini hanya tinggal meminta restu dari Bisma. Calon anak tirinya.
Flash Back Off...
Mendengar perkataan Nathan, Miranda mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia berjanji akan mendapatkan Nathan bagaimanapun caranya.
Nathan melenggang meninggalkan Miranda. Ia merasa lega karena telah merasa menghentikan Miranda untuk mengejarnya.
*
*
__ADS_1
*
Please like and comment 😁