Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_93. Teman Lama


__ADS_3

Alex duduk dengan tenang di kursi VIP. Ia telah mendapat undangan satu bulan sebelum acara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Alex akan diundang sebagai Tamu kehormatan sebagai pembicara di acara tersebut. Namun ia selalu menolaknya. Awalnya ia juga hendak menolak datang, tapi karena memutuskan untuk hadir ia pun akhirnya menyetujui.


Memang bukan salah satu alumni, namun status Alex selalu menjadi incaran para pebisnis untuk dapat bertemu. Akan sangat menguntungkan jika mereka dapat bekerja sama dengan Amerta Corp.


Nara sendiri tidak mengetahui hal tersebut sampai Sebelum berangkat, Alex baru memberitahunya. Alex meminta Nara untuk duduk bersamanya di tempat VIP yang disediakan untuknya.


Karena sebelumnya Nara berniat untuk duduk bersama teman-temannya, Nara pun menolak. Alex pun menuruti keinginan Nara. Baginya tidak penting dimana ia berada, disana juga harus ada Nara.


Tapi karena ada Virly di antara kelompok Nara, Alex memutuskan untuk menempati tempat duduk VIP yang berada di barisan depan di dekat panggung.


Beberapa kali tamu tak diundang menghampiri Alex. Menyapa pengusaha muda yang duduk sendirian itu. Sepertinya ia tidak bisa disebut sendirian karena di saat seseorang pergi, orang lain akana menghampiri dan duduk Bersamanya dengan alasan menyapanya, namun semua orang itu semuanya memiliki tujuan lain.


”Hai Al.” suara dan juga panggilan yang tidak asing mengalihkan perhatian Alex dari Nara yang sedang sibuk dengan teman-temannya. Sedikit keterkejutan menyentuh hatinya. Namun semuanya itu hanya untuk sepersekian detik. Detik berikutnya ia kembali memasang ekspresi datar dan kembali memperhatikan Nara yang sedang tertawa dengan segerombolan perempuan.


”Boleh aku duduk?” Tanpa menunggu izin gadis bernama Yuri itu duduk di seberang kursi Alex. ”Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini.” lanjutnya.


”Kalau tidak ada yang penting silahkan pergi.” Alex menatap jengah gadis cantik di seberang kursinya.


”Ah! Kamu masih seperti dulu Al.” Yuri tidak terpengaruh oleh pengusiran halus Alex. Dia terkekeh dengan ringan.


”Hentikan omong kosong mu dan pergi.”


”Kenapa? Aku sendirian. Dan begitu juga kamu. Bukankah lebih baik jika ada teman ngobrol yang kita kenal.”


”Siapa yang bilang aku sendiri?”


”Sayang, siapa ini?” Alex menoleh dan tersenyum. Melambaikan tangannya pada Nara yang terus mendekatinya. Yuri melihat tidak mengerti interaksi intim di depannya.


”Ini Nara. Istriku.” Alex berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang Nara. Tersenyum penuh ejekan pada gadis yang juga ikut berdiri canggung di balik mejanya.


”Hai. Aku Nara istri Alex.” Nara mengulurkan tangannya.


Dengan berat Yuri ikut mengulurkan tangan dan menjabat tangan wanita cantik yang diperkenalkan sebagai istri oleh Alex. Laki-laki yang sejak dulu menjadi incarannya. ”Aku Yuri. Aku teman Alex di Amerika dulu.”


”Oh… jadi apa kamu juga temannya kak Bisma?” Nara berbinar. Jika keduanya adalah teman saat Alex menempuh S2 di Amerika, itu artinya gadis cantik yang terlihat anggun dan elegan itu juga mengenal kakaknya, Bisma.


”Iya. Kamu kenal Bisma juga?” Yuri agak terkejut di hatinya. Nara dapat menjadi istri Alex yang bertahun-tahun ia kejar namun tak pernah menanggapinya, dan sekarang bahkan ia juga sepertinya akrab dengan Bisma. Teman Alex yang tak kalah tampan dari Alex. Nara pasti bukan gadis biasa.

__ADS_1


”Kak Bisma adalah kakakku.” jawab Nara riang.


”Oh begitu. Baiklah. Aku pergi dulu. Aku masih ada urusan.” Yuri pamit dengan senyum yang ia paksakan.


”Oke. Sampai jumpa.” Nara melambaikan tangannya.


”Kenapa kamu duduk di sini?” tanya Nara.


”Jika aku duduk bersama teman-temanmu di sana, bukankah akan terasa canggung? Aku akan seperti seorang raja dengan empat selirnya. Apa kamu mau tampilan ku seperti itu di depan semua orang di sini?” ucap Alex. Sebenarnya ia tidak perduli akan pendapat orang lain. Ia hanya enggan duduk satu tempat dengan Virly.


”Sepertinya kamu benar juga. Baiklah aku akan mengirim pesan pada Gita.” Nara mengeluarkan ponselnya dari dompet kecilnya.


Nara sempat menoleh ke belakang tempat teman-teman nya duduk. Ia sedikit merasa iri di hatinya saat Syila dan Gita tertawa riang bersama Virly di sana. Alex mengerti rasa enggang Nara. Ia mengulurkan tangannya dan mengelus kepala Nara dengan lembut.


”Aku ada di sini. Kamu tidak perlu iri pada yang lain.”


Nara tersenyum. ”Aku tidak iri. Aku hanya tidak menyangka jika diantara kami akulah yang lebih dulu memiliki pasangan.”


”Kamu harus bangga diri akan itu. Apalagi kamu memiliki suami yang hebat sepertiku.” ucap Alex narsis.


”Ya ya ya. Aku percaya. Baru sebentar saja hilang dari jangkauan sudah didatangi lebah cantik yang sedang menawarkan madu.” Nara memutar bola matanya. Perasaan masam tiba-tiba menyerebak di hatinya. Melihat dari tatapan Yuri saat memandang Alex dengan tatapan memuja penuh harap. Mengingat itu membuat rasa cemburu membakar hatinya.


”Huh! Mana ada lebah yang begitu anggun. Apalagi menatap seorang laki-laki sepeti menatap sebuah bunga yang sedang mekar.”


”Sudahlah sayang. Jangan cemburu. Kamu tahu aku hanya akan mencintaimu.” Alex menarik tangan Nara dan menciumnya. Nara terkejut dan terdiam kaku. Semburat merah jambu membuat pipi putihnya merona.


”Wah wah… jika aku tidak melihatnya secara langsung aku tidak akan percaya pada kabar bahwa tuan Alexander Briano Juantama sangat mencintai istrinya.” seorang laki-laki tampan menghampiri Alex dan Nara.


”Huh! Ini tidak ada hubungannya denganmu.”


”Hei Lex, kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Apakah kamu sedikit saja tidak merindukan ku?” tanpa izin laki-laki bernama Aldy duduk di kursi sebelah Alex.


”Kapan kamu kembali?” Alex bertanya dengan acuh.


”Emm. Satu bulan yang lalu. Kamu pasti tahu gejolak yang terjadi di PH. Star. Adik tiri ku membuat ulah dan hampir menghancurkan PH. Star menjadi remahan biskuit.” ujar Aldi tak berdaya.


”Bukankah sudah aku peringatkan Sebelumnya untuk berhati-hati pada adik tirimu itu. Salahmu yang terlalu naif dan menyayanginya dengan penuh.”

__ADS_1


”Baiklah-baiklah. Itu memang kesalahanku. Sekarang kenapa tidak mengenalkan kakak ipar padaku?” Aldi melihat Nara dengan antusias.


”Kamu tidak ada kualifikasi untuk mengenalnya. Enyah.” Alex mengusir Aldi dengan isyarat tangannya.


”Kakak ipar. Bukankah Alex begitu kejam terhadapku?” Aldi memandang Nara dengan tatapan yang menyedihkan.


”Sejak kapan istriku menjadi kakak iparmu?” sinis Alex yang tidak terima panggilan Aldi terhadap Nara.


”Sudahlah sayang….” Nara mengelus lengan Alex lembut lalu menoleh pada Aldi yang tersenyum penuh kemenangan.


”Aku Kinara.” Nara tersenyum mengulurkan tangannya.


Aldi segera menyambutnya. Namun sebelum tangan mereka bertemu, Alex segera menarik tangan Nara. ”Namanya Doraemon.” Nara mengerutkan alisnya mendengar nama yang diperkenalkan oleh Alex.


”Bukan-bukan.” Aldi menggelengkan kepalanya dengan panik. Alex dan Bisma selalu saja memanggilnya dengan Doraemon. Kadang ia memang konyol, tapi akan menyebalkan jika dipanggil seperti itu. ”Biar aku sendiri saja yang memperkenalkan diriku. Kakak ipar. Namaku Aldi, Aldi Doerman Farhat. Putra pertama Dani Farhat.” Aldi memperkenalkan dirinya dengan bangga. Kini Nara paham kenapa Alex memperkenalkan Aldi dengan nama Doraemon.


”Sayang jangan bicara dengan kucing.” Alex melirik Aldi dengan enggan.


”Kalau kamu tahu hanya kucing, kenapa kamu mempersulitnya?” Nara hampir terkekeh menggoda teman Alex yang konyol. Alex kesulitan menahan tawanya.


”Ternyata begitu rendah aku di mata kalian. Hiks hiks.” Aldi cemberut mendengar perkataan Nara.


”Hentikan. Jangan racuni istriku dengan kemampuan aktingmu yang kampungan. Enyah dari sini! Aku tidak ingin seekor kucing berada satu meja denganku.”


”Kakak ipar…” baru saja Aldi ingin merengek, tatapan tajam dari Alex segera mengurungkan niatnya.


”Baiklah-baiklah. Aku pergi sekarang.” Aldi bangun. Menepuk celananya yang agak kusut. ”Kakak ipar, jika kamu ingin mengetahui rahasia Alex, jangan ragu-ragu bertanya padaku. Aku akan menceritakannya tanpa sensor.” ucap Aldi sambil terkekeh melihat reaksi Alex yang seperti hampir menerkamnya hidup-hidup.


"Aku tidak menyangka kamu memiliki teman yang konyol seperti itu."


"Aku sendiri tidak yakin dia itu temanku atau bukan." jawab Alex acuh.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 🤩


__ADS_2