
Nara menikmati lumpia yang baru saja diantar oleh Karina dan Bisma. Alex yang melihat Nara makan dengan lahap hanya bisa meminta Nara untuk berhati-hati.
“Bagaimana? Apakah rasanya masih sama dengan yang kamu rasakan dulu?” Tanya Bisma penasaran. Sebelumnya, saat ia mengusulkan untuk membeli lumpia di ibu kota saja Nara menolaknya dengan tegas. Wanita hamil itu berkata jika ia ingin memakan lumpia yang sama dengan yang pernah ia rasakan dulu. Jadi ia pun memberi tahu juga dimana ia harus membeli lumpia yang ia maksud.
“Tidak tahu! Itu sudah lama sekali. Mana mungkin aku ingat.” Jawab Nara tanpa rasa bersalah.
“Huh! Lalu kenapa kamu minta dibelikan di tempat yang sangat jauh jika kamu sudah lupa.” Bisma sangat kesal. Ia seperti dikerjai oleh Nara.
“Tapi ini enak. Belum tentu akan seenak ini jika dibeli di daerah sini.” Kilah Nara.
“Lex. Urus istrimu dengan baik. Lain kali jangan libatkan aku dalam urusan ngidam anehnya itu! Menjengkelkan.” Bisma tidak bisa memarahi Nara secara langsung. Jadi sebagai gantinya ia hanya bisa melampiaskan emosinya pada Alex.
“Yang ada di perut Nara juga keponakanmu. Kamu mau jadi paman durhaka? Lagi pula kamu tidak punya istri. Mana kamu mengerti perasaan seperti itu?” ejek Alex.
Sudah cukup! Kedua orang ini membuatnya marah. Sudah dibantu malah dikerjai dan diejek habis-habisan. “Tidak peduli. Ayo!” karena emosinya, Bisma secara tidak sadar membawa Karina bersamanya. Menarik tangannya agar mengikutinya tanpa ada kesempatan untuk protes.
Nara dan Alex yang melihat kepergian keduanya hanya melirik sekilas. Nara sudah kembali fokus pada kotak kedua. Sedangkan Alex sibuk mengelus kepala Nara.
Dan pada akhirnya, Bisma baru menyadari jika Karina ikut bersamanya kembali ke rumahnya saat mobil yang ia kendarai masuk ke dalam halaman.
“Kamu kenapa ikut aku pulang?” tanya Bisma emosi.
“Kamu yang menarikku tadi.” ujar Karina kesal.
“Kamu kan bisa menolak.”
“Kalau bisa sudah aku lakukan. Kamu menarik tanganku begitu saja. Aku bahkan tidak sempat pamitan pada Nara. Dan sekarang masih bisa menyalahkan ku? Antar aku pulang.” Karina melipat tangannya. Seenaknya saja melimpahkan kesalahan yang tidak ia buat padanya.
“Aish sudahlah. Aku akan mengantarmu pulang nanti. Aku mau mandi. Tubuhku lengket.” Bisma segera keluar dari mobil. Meninggalkan Karina yang sibuk mengambil lima kotak lumpia yang sengaja ia simpan untuk dibawa pulang Bisma.
Karina masuk ke dalam mansion Mahardika dengan kesusahan. Di tangannya ada tas plastik berisi kotak-kotak lumpia. Nadia yang melihat itu segera membantu Karina untuk meletakkannya di atas meja.
Sama dengan Bisma, Nadia juga memandang heran lumpia yang dibawa oleh Karina. Setelah kembali dari kantor Bisma, Nara pulang ke rumahnya sebentar.
“Kenapa beli banyak sekali?”
Karina melirik Bisma. Ia bingung menjelaskan pada Nadia. Bagaimana pun dia orang asing di tempat itu. Dan niatnya membeli begitu banyak lumpia untuk Bisma bawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Dia bilang untuk oleh-oleh.” Bisma menghela napas.
“Aah. Kamu memang gadis yang baik.” Nadia memeluk Karina dengan haru. Ia tidak menyangka jika Karina dapat membuat Bisma menurutinya. “Jadi ini untuk Tante?” Nadia menunjuk kotak lumpia di atas meja.
“Iya Tante.”
“Wah terima kasih. Tante sudah lama tidak memakannya.” Ucap Nadia senang. Wanita paruh baya itu langsung mengambil satu kotak dan membukanya.
“Sama-sama Tante. Tapi bukan saya yang membelinya. Semua ini dibeli dengan uang tuan Bisma.” Karina menjelaskan.
__ADS_1
“Huh! Tidak peduli uang siapa yang dipakai, bagiku ini adalah pemberian mu.” Nadia menepuk pundak Karina. Melirik Bisma dengan tatapan menusuk. “Tidak seperti seseorang yang punya banyak uang dan sering bepergian. Tapi tidak pernah membawakan ibunya oleh-oleh seperti ini.”
“...” Karina tidak tahu harus bicara apa. Melihat cara Nadia menatap Bisma membuatnya terkejut. Nadia yang terlihat lembut ini bisa memiliki tatapan menakutkan yang dia tujukan pada putranya.
“Sudahlah. Aku naik dulu.” Bisma tidak begitu menanggapi. Ia lelah setelah perjalanan. Badannya pun lengket. Ia ingin segera mandi dan menyegarkan tubuh.
“Biarkan saja dia.” Nadia melirik Bisma sekilas. Nadia meminta Karina duduk menemaninya berbicara. Keduanya berbicara dengan akrab. Bukan. Lebih tepatnya Karina yang mendengarkan Nadia berbicara ini dan itu.
Tak berapa lama, mbok Ida datang dengan membawa minuman dan camilan.
“Mbok, bawa lumpia ini ke dalam, masukkan satu kotak ke dalam lemari es. Sisanya bagikan Pada yang lain.”
“Baik nyonya, terima kasih.” Mbok Ida berlalu sambil membawa lumpia yang dibawa Karina.
“Anak bodoh itu pasti tidak memberimu makan kan? ayo Tante temani kamu.”
“Tidak usah Tante. Saya sudah kenyang. Saya tadi sudah makan dengan tuan Bisma.” Tolak Karina. Ia ingin segera pulang dan istirahat.
“Itu kan tadi. Setelah perjalanan panjang pasti sudah hilang dibawa angin.” Logika dari mana yang dipakai Nadia? Makanan akan disimpan di dalam perut setelah masuk ke dalam perut. Dan sekencang apapun angin bertiup tidak akan bisa mempengaruhinya.
“Tapi Tante, jika saya pulang setelah makan , saya akan kesulitan mendapatkan bis nanti.”
“Lalu apa? Bisma yang membawamu ke sini. Jadi dia yang akan mengantarmu.”
“Tidak perlu Tante. Merepotkan.”
“Tante. Saya senang membantu Nara. Tidak perlu seperti itu.”
“Tante sudah lama tidak memiliki teman ngobrol yang asik. Apa kamu mau pulang begitu saja?” mulut Karina berkedut melihat ekspresi yang ditunjukkan Nadia.
“Baiklah tante. Maaf merepotkan.” Karina tidak ada cara lain selain menyetujui Nadia. Paling tidak ia makan gratis malam ini.
Bohong jika perutnya sudah kenyang. Makanan yang disediakan di restoran begitu sedikit menurutnya. Jadi perutnya cepat kembali merasa lapar. Jadi niat Karina adalah mampir ke warung pecel lele saat perjalanan pulang nanti.
“Bagus. Sekarang kamu lebih baik mandi dulu. Tante akan Carikan baju Nara. Sepertinya tubuh kalian seukuran.” Nadia membawa Karina ke dalam kamar tamu. Menyediakan semua yang di butuhkan oleh Karina sebelum mencarikan baju ganti di kamar Nara.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Karina memutuskan untuk beristirahat sebentar. Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Ini hanya kamar tamu. Tapi ranjangnya begitu nyaman.” Karina menepuk sisi ranjang di sekitarnya. Matanya mengedar di seluruh ruangan kamar. “Ini juga sangat luas. Ukurannya bisa tiga kali luas kamar kosku.” Lanjutnya.
Tok tok tok...
Mendengar suara ketukan pintu Karina segera bangun dan membuka pintu. Di liar kamar, seorang gadis muda yang sepertinya adalah pelayan membungkuk hormat padanya. Karina merasa canggung melihat pelayan itu. Di tempatnya bekerja, ia juga seorang pelayan. Jadi saat melihat seseorang yang memperlakukannya seperti seorang putri membuatnya kurang nyaman.
“Nona Karina, makanannya sudah siap. Nyonya meminta nona untuk turun.” Karina tidak menanggapi sampai beberapa saat. Dia tidak biasa mendapatkan perlakuan yang spesial. Apalagi dipanggil dengan sebutan ‘nona’ terdengar sangat aneh di telinganya.
“Mau melamun sampai kapan? Mau membuat mama menunggumu sampai lumutan?” Bisma mencibir saat melewati kamar Karina.
__ADS_1
Tidak bisa mengelak. Karina hanya bisa mengikuti Bisma sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Laki-laki di depannya ini selalu saja membuat suasana hatinya buruk.
Nadia menyambut dua orang yang baru datang ini dengan senyuman. Oh tidak. Senyuman itu ia tujukan untuk Karina. Sedangkan Bisma, putranya itu bahkan sudah jarang ia lihat tersenyum. Jadi di matanya, Bisma yang sekarang terlihat menyebalkan.
Nadia meminta Karina duduk di sebelahnya. Bisma juga ikut duduk di kursinya sendiri. Makanan yang baru saja dihangatkan oleh pelayan sudah tersaji di atas meja.
“Yoo... Ada kakak cantik dari mana ini?” Garry yang baru pulang mengamati Karina dari atas ke bawah.
Gadis yang tidak tahu siapa dan bagaimana bisa ada di rumahnya. Terlihat sangat akrab dengan Nadia. Bahkan memakai pakaian yang ia kenali sebagai milik kakaknya. Gadis ini tidak sesederhana yang terlihat.
“Gerry jangan tidak sopan. Dia Karina. Orang yang menolong Nara saat dia diculik dulu.”
“Oh maaf. Halo kakak cantik, namaku Gerry. Selamat malam kak Karina.” Gerry mengulurkan tangannya dengan senyuman. Jangan lupakan kerlingan mata nakal yang membuatnya mendapatkan pukulan dari Bisma.
“Berhenti main-main.” Ucap Bisma tegas.
“Oke oke.” Gerry melambaikan tangannya dan duduk tenang di tempatnya. Tapi matanya menatap lekat Karina yang duduk tepat di depannya.
“Maafkan anak Tante ya. Ini Gerry, adik Nara. Dia memang kurang ajar. Kalau dia gombalin kamu jangan kepengaruh. Dia ini playboy cak kucing.”
“Aduh mama. Kenapa bilang seperti itu sih.”
“Itu kenyataannya. Kakak cantik jangan dengarkan dia. Mulutnya itu lebih manis dari pada madu. Tapi lebih berbahaya dari racun.” Cibir Dini berjalan ke dapur sambil membawa botol kosong.
“Sudah-sudah. Ada tamu kalian malah ramai sendiri. Ayo Karina silahkan makan.” Nadia menegur anak-anaknya.
Setelah makan, Karina pamit pulang. Nadia sebenarnya enggan melepas Karina pulang. Tapi pagi esok pagi Karina harus sudah sampai di hotel pagi-pagi sekali. Dan jarak dari mansion Mahardika ke hotel tempat Karina bekerja cukup jauh. Jadi Nadia terpaksa mengizinkannya pulang.
“Biarkan Bisma mengantarmu.”
“Aku sibuk ma. Tadi banyak pekerjaan yang belum selesai gara-gara Nara.” Tolak Bisma sambil berlalu.
“Mama tenang saja. Biar aku saja yang mengantar kakak cantik.” Gerry sangat bersemangat untuk mengantar Karina pulang. Meskipun Karina Beberapa tahun lebih tua darinya, wajah Karina cenderung babyface yang tampak sangat muda. Apalagi dengan postur tubuh yang cukup mini dibandingkan dengan Gerry yang tinggi. Jadi jika keduanya berjalan, orang akan mengira keduanya pasangan.
“Jangan, Jangan. Biar kakakmu Bisma saja.” Tanpa penolakan, Nadia segera menyusul Bisma di kamarnya. Nadia tahu lingkungan dimana Karina tinggal. Tidak ada baiknya jika Gerry tahu tempat seperti itu. Jadi lebih baik menghindarinya.
“Aku benar-benar sibuk ma. Kalau Gerry mau mengantarnya ya biarkan saja. Atau pak Udin kan juga ada.”
“Kamu lupa Karina tinggal dimana? Kalau Gerry atau pak Udin yang mengantar kamu coba pikir dampaknya.”
“Huh baiklah.”
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😘