
Keesokan paginya, Nadia terbangun akibat rasa bergejolak dari dalam perutnya. Perut Nadia terasa tidak nyaman. Dengan segera, ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Nadia membeku. Ia baru saja menyadari satu hal. Sudah lebih dari satu minggu ia telat datang bukan. Sedangkan satu minggu terakhir adalah masa subur yang dia habiskan setiap malam dengan suaminya. Tiba-tiba air matanya menetes. Tangannya meraba perutnya yang rata. Apakah memang ada bayinya yang sedang tumbuh di dalam sana?
Nadia keluar kamar mandi dan mengambil tespeck yang masih tersedia. Dengan hati-hati ia memakai benda itu.
Di tangan Nadia, alat kecil yang baru saja dipakai Nadia mengecek kehamilannya. Nadia bergetar saat melihat dua garis biru tercetak disana. Ini artinya, sekali lagi benih juragan Bondan tumbuh di dalam rahimnya.
“Aku hamil.” Air mata Nadia kembali luruh. Tangannya mengelus perutnya kembali. "Bapak, aku hamil anak bapak. Inikan yang bapak inginkan. Hiks hiks hiks. Tapi bapak meninggalkan kami. hiks hiks."
Entah bagaimana ia mengatur perasaannya untuk kehamilannya ini. Di lain sisi tentu saja ia bahagia karena adanya anak yang tumbuh di dalam rahimnya. Pada sisi yang lain ia merasa bersalah pada bayi itu karena mencintai pria lain selain ayah sang bayi.
"Maafkan aku dokter Nathan. Mungkin kita memang tidak bisa bersama. Aku tidak pantas untukmu." kata Nadia nanar. Kemudian tangannya kembali mengusap perutnya.
“Anakku, mama akan melindungimu sayang. Tak akan mama biarkan seseorang menyakitimu sayang.” Kata Nadia mantap. Ia pernah sekali kehilangan anaknya, ia tak akan pernah membiarkan anaknya yang ini mengalami hal yang sama.
Dering telfon menghentikan tangisnya. Ia faih benda pipih di atas nakas sambil mengelap air matanya yang tersisa.
Nadia meraih handphonenya yang berdering. Pihak kepolisian menghubunginya. Memberitahukan bahwa Dian dalam proses melahirkan sekarang. Mendengar kabar itu, Nadia segera bergegas. Meminta Joni untuk mengantarnya.
Tak lupa Nadia memasukkan tespeck miliknya ke dalam tas. Ia harus berjaga-jaga agar tidak ada orang lain yang mengetahui tentang kehamilannya.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Nadia merencanakan untuk meninggalkan desa demi keselamatan bayinya. Lagipula, penggilingan sudah berjalan dengan lancar, hutang warga desapun sudah lunas. Apalagi sanggar sudah bisa ia lepaskan pada orang kepercayaannya.
Dan untuk Nathan.... dengan kehamilannya, Nadia merasa tidak pantas untuk dokter muda itu. Ia akan pergi sejauh-jauhnya dari Nathan. Sekarang, ia tak sendiri, di dalam perutnya ada nyawa lain yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.
“Kamu kenapa Nadia?” tanya Joni yang melihat Nadia melamun sejak tadi.
“Dengan lahirnya anak Dian, semua akan menjadi lebih sulit. Bu Devi dan Yulia tidak akan membiarkan anak ini tumbuh dengan baik. Sebisa mungkin kita harus merahasiakan keberadaanya.”
“Kamu benar Nadia.”
Sesampainya di rumah sakit, Minah menyambut Nadia dengan isak tangisnya. Wanita paruh baya itu tidak bisa membendung air matanya lagi. Di pelukan Nadia, Minah menumpahkan air matanya.
“Nyonya muda. Dian nyonya. Dian sedang dioperasi.”
“Bagimana ini bisa terjadi bu?”
“Kata pak polisi, Dian jatuh di kamar mandi. Pendarahannya parah.” Ucap Bu Minah di sela isak tangisnya. Nadia membeku.
__ADS_1
“Dian akan baik-baik saja. Kita doakan yang terbaik untuk Dian bu.”
“Kata dokter, kemungkinan keduanya selamat akan sulit. Tadi, dokter memberi pilihan pada Dian untuk menyelamatkannya atau anaknya. Dan Dian memilih menyelamatkan anaknya.” Minah semakin terisak. Nadia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Dian akan selamat bu. Mereka berdua akan selamat. Dian gadis yang kuat, aku yakin dia bisa bertahan.”
“Dian berpesan, jika sesuatu terjadi padanya, dia akan menyerahkan bayinya pada nyonya muda. Dian yakin nyonya muda akan merawat anaknya dengan baik.”
“Tidak akan terjadi hal yang buruk Bu Minah.”
Keduanya diam. Duduk sambil bergandengan tangan dengan mulut yang tak henti merapalkan untuk keselamatan Dian dan bayinya. Hanya berdo’a yang dapat mereka lakukan sekarang. Joni yang mengikuti Nadia duduk tak jauh dari keduanya. Dalam hatinya juga berdoa kebaikan untuk Dian.
Keduanya menoleh saat pintu ruang operasi terbuka. Kemudian, seorang suster keluar dari sana.
“Ada yang namanya nyonya Nadia? Pasien ingin bertemu.” Kata suster itu.
“Saya sus. Nadia.”
“Silahkan masuk.”
“Apakah saya boleh ikut masuk sus? Saya ibu pasien.”
“Silahkan.”
“Bu Nadia? Pasien ingin bicara.” Kata dokter wanita disana ketika melihat Nadia dan Minah masuk.
“Iya dokter. Terima kasih. Saya Nadia.” Nadia dan Minah mendekat. Dian perlahan membuka matanya dengan lemah ketika mendengar suara Nadia. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Nadia dan Minah. Mau tidak mau, Nadia dan Minah pun ikut tersenyum.
“Dian.” Panggil Nadia sambil menggenggam tangan Dian. Dian melepaskan alat bantu pernapasannya agar memudahkannya berbicara.
“Nyonya muda, terima kasih selama ini telah menjaga kami. Saya tidak menyesal telah mengandung dan melahirkan bayiku. Bahkan saya merasa bangga bisa memberikan banyiku pada nyonya.”
“Kamu tidak boleh berbicara seperti itu Dian. Kita akan menjaga bayimu bersama-sama.”
“Tidak nyonya. Waktuku tidak akan banyak.”
“Kamu masih muda, waktumu masih panjang Dian.”
“Ini bayi pasien. Sehat dan tampan.” Kata seorang suster yang datang sambil menggendong seorang bayi. Nadia segera menerimanya.
__ADS_1
“Dia mirip denganmu Dian. Lihatlah hidungnya yang mancung ini. Matanya, bibirnya. Semuanya mirip kamu.” Kata Nadia. Nadia mendekatkan bayi itu pada Dian. Berharap dian mempunyai semangat untuk terus hidup.
Dian tersenyum, kemudian tangannya membelai pipi bayi yang baru saja ia lahirkan. “Rambutnya mirip juragan nyonya.” Kata Dian.
“Kamu benar. Tapi lainnya mirip denganmu. Dia manis dan tampan.”
“Namanya Bisma, Bisma Putra Perkasa. Kelak, Bisma akan menjadi pelindung nyonya muda dan keluarga nyonya. Saya menitipkan Bisma pada Anda nyonya. Sa-ya per-ca-ya...” tangan Dian terkulai seiring tertutupnya kedua mata Dian yang menandakan nyawa Dian telah meninggalkan raganya.
“Maaf bu, pasien sudah tidak ada.” Kata seorang dokter yang datang memeriksa Dian. Dokter itu segera melipat tangan Dian dan menutupi jasadnya.
Minah langsung menghambur memeluk jasad Dian. Meraung memanggil nama anaknya.
“Aku berjanji akan merawat Bisma dengan baik Dian. Meskipun aku memiliki anak sendiri, Aku akan tetap menyayanginya seperti aku menyayangi anakku sendiri.” Nadia menenangkan Minah.
Setelah menyelesaikan semuanya, jasad Dian dibawa pulang ke rumah Rahmat karena rumah Minah sudah dijual. Nadia dan bu Minah bergantian menggendong bayi Dian selama perjalanan.
Nadia ikut mengantar Dian sampai ke peristirahatan terakhirnya, sedangkan Minah bersama Bima menunggu di rumah.
Banyak orang menaruh simpati pada Dian dan anaknya. Terkecuali Devi dan Yulia tentunya. Bisma dan Minah sementara tinggal di rumah Rahmat hingga Bisma lebih kuat.
Pada hari ke tujuh meninggalnya Dian, Nadia mengutarakan niatnya pada Minah.
“Bu Minah. Sesuai pesan terakhir Dian, aku akan merawat Bisma.” Minah mengangguk pasrah. Ia juga setuju. “Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu. Aku juga sedang hamil bu Minah.” Minah memandang Nadia. Ia khawatir jika Nadia tidak akan menyayangi Bisma.
“Biarkan saya merawatnya Nyonya muda.”
“Tentu. Saya tidak akan memisahkan Bisma dengan neneknya. Saya punya rencana bu Minah.”
“Rencana apa itu?”
“Begini, kita akan merawatnya bersama. Tapi tidak disini Bu Minah. Kita akan pergi jauh dari sini. Jika kita tetap disini, akan sangat berbahaya untuk kita. Apakah bu Minah mau pergi bersama saya?”
Minah memandang Bisma yang ada di atas pangkuannya. Pandangannya penuh dengan rasa kasihan pada bayi kecil yang masih merah itu. Dalam usianya yang masih bayi sudah kehilangan ledua orang tuanya.
“Baiklah Nyonya muda. Kemanapun nyonya muda pergi, kami akan mengikuti.”
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir. Like ya 👍