
Roy berdiri dengan frustasi. Uang yang dia ambil sebelum kabur juga tidak seberapa. Dan saat ini dia hampir tidak punya uang. Sedangkan untuk mengambil lagi itu tidak akan mungkin. Alex pasti akan segera tahu keberadaannya jika ia pergi untuk mengambil uang dalam rekeningnya. Belum lagi jika rekening itu diblokir.
Ponsel yang dia pegang ia putar di tangannya. Menimbang akan menghubungi Surya atau tidak. Di saat seperti ini, selain Surya ia tidak memiliki orang yang bisa ia andalkan. Teman-teman nya sudah pasti diselidiki oleh Alex.
Tuut...
Tuut...
Di kantornya, Surya sedang sibuk menghadapi perlawanan Alex yang terus mendesak perusahaannya. Dia sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Roy. Dibandingkan dengan Roy, nyatanya kelangsungan perusahaannya jelas lebih penting.
Sejak Alex datang ke kantornya, sudah tidak terhitung berapa ratus kali ia mengutuk anaknya yang telah membuat dirinya masuk ke dalam kesulitan. Membuat perusahaan yang ia banggakan berada di ambang kebangkrutan.
Ketika ponsel di mejanya berdering, keringat di pelipisnya mulai keluar. Ia selalu khawatir jika saja Alex atau anak buahnya kembali menyerang.
Surya melihat nomor asing di layar. Ia mengelap keringatnya sebelum mengangkat telpon.
“Papa..”
Belum selesai satu kalimat di seberang, Surya sudah emosi mengenali suara yang sangat ia kenal. Surya pun mulai berteriak. Berdiri sambil berkacak pinggang. Memaki anaknya yang sedang dalam pelarian.
“Dimana kau anak durhaka? Beraninya pergi setelah membuat perusahaan ku berantakan!”
“Papa tolong aku.”
“Menolongmu? Seharusnya sebelum bertindak pikirkan dulu konsekuensinya.”
“Aku tahu aku salah papa. Tapi aku mohon tolong aku.”
“Dimana kau?”
“Aku akan beri tahu. Tapi jangan katakan pada Alex.”
“Huh! Punya rasa takut juga ternyata. Seharusnya kau berhenti jika kamu takut.” Surya mencibir.
“Papa boleh memarahi aku. Tapi tolong kirim orang untuk memberiku uang. Aku sudah hampir mati kelaparan.”
“Tidak akan. Cepat pulang dan minta ampun pada tuan Alex. Berharap dia mau mengampuni mu.” Surya mendengus. Ingin memintanya mengirim uang? Dirinya sudah kehilangan banyak uang akibat ulahnya. Apa dia pikir dia gila?
“Tidak bisa. Kalau Alex menemukanku, dia akan menghabisiku.”
“Takut apa? Ini adalah negara hukum. Dia tidak bisa seenaknya membunuhmu.” Roy berpikir. Memang benar apa yang dikatakan Surya.
__ADS_1
Di tempat lain, Bima mendapat laporan salah satu anak buahnya mendapatkan lokasi setelah menyadap ponsel Surya. Mereka yakin jika yang menghubungi Surya adalah Roy. Orang yang sedang bos mereka cari. Mereka pun melacak lokasinya.
“Baik. Kirimkan padaku lokasinya. Aku akan menyuruh Bisma dan Alex kesini.” Bima mengambil ponsel yang menghubungi Alex dan Bisma.
Untuk menangkap Roy merupakan hal yang mudah untuknya. Namun Alex lebih berhak untuk mengurus masalah ini. Jadi semua keputusan akan ia serahkan pada Alex sebagai suami Nara.
Jika Bima yang memutuskan akan diapakan Roy karena telah lancang mengganggu kehidupan Nara, bisa dipastikan Roy tidak akan pernah melihat matahari terbit keesokan harinya tanpa tahu bagaimana ia menghilang dari dunia.
Alex dan Bisma datang tidak lama setelah mendapat kabar. Saat kedua orang itu masuk ke dalam kantor, kantor sudah dalam keadaan sepi. Jam kantor sudah usai, jadi hanya beberapa orang yang masih tinggal di dalam.
“Jadi dia ada di mana?” Alex langsung bertanya ketika ia baru saja masuk ruangan Bima dan duduk dengan tidak sabar.
“Santai dulu. Dia tidak akan bisa kabur lagi. Aku sudah meletakkan anak buahku di sana.” Bima bangun dengan tenang dari kursinya, berjalan menghampiri Bisma dan Alex yang juga duduk di sofa.
“Cepat katakan. Jangan membuang waktu.”
“Sebelum aku mengatakannya. Aku ingin tahu hukuman apa yang sudah kamu siapkan untuknya?” Bima bertanya serius.
“Tenang saja. Aku sudah menyiapkan hadiah yang akan membuat Roy senang.” Jawab Alex dengan senyum smirk.
“Aku harap kamu tidak mengecewakan ku. Nara adalah adikku yang berharga. Jika aku tahu kamu tidak memberikan balasan yang setimpal pada Roy, aku yang akan melakukannya untuk itu.” Bisma menatap dengan tajam.
Untuk menghilangkan keraguan Bisma dan Bima, Alex pun memberitahukan rencananya. Setelah mendengarnya, bisma dan Bima juga puas dengan rencana Alex.
“Kenapa?” tanya Bisma kaget. Ia kira mereka akan menyelesaikannya malam itu juga.
“Aku tidak tenang meninggalkan Nara sendiri.” Jawab Alex. Dua orang itu akhirnya diam. Lagi pula Roy sudah ada di genngaman tangan mereka. Tidak akan ada bedanya mereka bertindak hari ini atau besok.
**
Saat Alex sampai di rumah, suasana rumah sepertinya tidak normal. Meskipun malam belum begitu larut, malam ini terasa sepi.
Alex melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Biasanya ia akan mendengar suara tawa yang berbaur dengan suara televisi saat ia pulang. Tapi malam ini terasa sepi.
Setelah masuk lebih dalam, samar-samar Alex mendengar Suara wanita yang sedang mengobrol. Suara itu sepetinya berasal dari arah ruang makan.
Saat sudah dekat, Alex dapat mengenali suara itu. Satu adalah milik Serena, yang lain adalah milik Virly. Namun setelah mendengarkan lagi dengan seksama, ia tidak mendengar suara istrinya.
Lalu kemana Nara?
“Sudah pulang sayang?” Serena yang melihat Alex segera memanggilnya.
__ADS_1
“Iya. Nara dimana?” tanya Alex.
“Di kamar. Istrimu tadi marah.” Jawab Serena sinis.
Alex mengernyit kan alisnya. “Marah?”
“Iya. Mama hanya bilang, seharusnya dia sebagai istri itu bisa masak. Dia harus belajar masak. Kalau dia tidak bisa masak lalu kamu mau diberi makan apa? Mama meminta Nara untuk mencontoh Virly. Meskipun dia wanita karir tapi dia tidak mengabaikan kodratnya sebagai perempuan.”
Setelah mendengar penjelasan Serena, kini Alex mengerti apa yang terjadi.
“Mama tidak seharusnya berkata seperti itu pada Nara. Dia itu istriku.”
“Justru karena dia istrimu. Dia juga menantuku. Aku hanya ingin menantu seperti Virly. Bisa masak, baik dan juga ramah. Lihatlah, dia bahkan membuatkanmu cheese cake yang sangat enak.” Serena menyodorkan sepotong chees cake.
“Aku tidak membutuhkannya. Aku juga tidak membutuhkan istri yang bisa masak. Aku tidak kekurangan uang untuk membayar uang untuk melakukan semua itu untukku. Jika aku menikahi Nara hanya untuk membuatkanku masak, apa bedanya dengan aku menikahi pembantu? Aku hanya membutuhkan istri yang mencintai dan aku cintai dalam hidupku. Menemaniku dan menghilangkan lelahku. Menghiburku dan membantuku menghabiskan uangku. Aku tidak butuh orang lain untuk menilai istriku.”
“Kamu menganggap mamamu ini orang lain?! Kamu melawan mama demi wanita lain?”
“Nara bukan orang lain. Dia adalah istriku. Kurang baik apa Nara pada mama? Apa mama lupa siapa yang membawa mama ke rumah ini? Sebelum Nara membawa mama ke rumah ini mama bukan siapa-siapa.”
Alex segera pergi meninggalkan Serena yang tengah marah. Di sampingnya Virly berusaha menenangkannya.
“Tante jangan bertengkar dengan Alex.”
“Aku tidak percaya anakku sendiri berani melawanku. Membela orang lain daripada aku.” Serena duduk dengan kesal. Dadanya naik turun karena marah.
“Di rumah ini memang seharusnya Tante yang lebih dihormati. Sebagai menantu, Nara juga tidak diperbolehkan membuat Tante dan Alex bertengkar.” Virly dengan sengaja menambahkan minyak ke dalam api.
“Kamu memang gadis baik. Andai saja kamu yang jadi menantuku. Aku tidak akan begitu menderita.” Serena mengeluh. Virly tersenyum dengan senang. Ia sudah berhasil memenangkan hati Serena. Hanya sedikit lagi, dengan bantuan Serena ia akan mudah mendapatkan Alex.
*
*
*
Terima kasih 🤩
Akoh up 2 kali hari ini. Tapi yang satu episode pendek ya. Yang tidak suka episode yang hareudang 🔥 jangan baca. Dari pada baca terus akoh dikomen yang tidak enak dibaca. jadi Akoh sengaja pisah karena ada sebagian reader yang tidak suka baca episode seperti itu. Ada yang menantikan. Kan juga lama nih mereka nggak kita intip waktu di kamar. hehehehe 😎
Semoga aja lolos review. Biar hareudang³ panas³
__ADS_1
Love you 🥰