
Malam harinya juragan Bondan datang. Sore tadi ia menerima kabar dari Joni. Tapi sayangnya ia masih berada di luar kota. Jadi dia tidak bisa menyusul Nadia secepatnya. Lagi pula pekerjaannya kali ini tidak dapat dia tinggal begitu saja. Jadi dengan terpaksa ia hanya bisa pulang setelah semua urusannya selesai.
Joni meminta izin untuk pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan selama berada di klinik menemani Nadia.
Juragan Bondan memandang Nadia pilu. Ia merasa bersalah pada istri mudanya itu. Sedikit banyak semua yang terjadi ada kaitannya dengan dirinya. Andai dia tidak diam saja setiap kali Devi menghilangkan calon anaknya yang lain pasti Calon anaknya yang dikandung Nadia juga akan baik-baik saja.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Nadia?”
“Bagamana lagi? Aku hanya bisa bilang baik-baik saja.”
Juragan Bondan memandang Nadia dengan tatapan yang sulit dimengerti. Selama ini dia menyayangi Nadia. Tapi tidak pernah benar-benar mencintai istri mudanya itu. Yang dibutuhkan dari Nadia adalah tubuhnya yang menurutnya sangat nikmat. Sejak lama ia terpesona oleh tubuh molek Nadia sehingga besar keinginannya untuk memperistri wanita muda yang menjadi sahabat anaknya itu.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu Nadia?”
“Lebih baik bapak pulang saja. Sudah ada Joni yang menemaniku.”
“Kamu adalah istriku Nadia. Biarkan aku menemanimu disini.”
Nadia hanya diam. Entah perasaan dari mana, tapi ia merasa sangat marah ketika melihat suaminya ada di sekitarnya. Dari alam baeah sadarnya, ia masih menyalahkan suaminya itu atas keguguran yang ia alami.
Juragan Bondan melihat wajah Nadia yang tidak mengenakkan saat melihatnya. Sepertinya menyimpan kebencian yang dalam di mata sendu Nadia.
“Maafkan aku Nadia. Mungkin akulah yang paling bersalah di sini atas kematian anak kita.”
“Jika bapak sadar akan hal itu. Lebih baik menjauh dariku hingga luka hatiku sembuh dan aku bisa melihat bapak dengan kedua mataku.”
“Aku benar-benar minta maaf Nadia.”
“Berapa banyak kata maaf yang bapak ucapkan tidak akan pernah mengembalikan anakku. Sebenarnya aku tidak menginginkan aku hamil anak bapak. Tapi bapakku lak yang menginginkan cucu dariku. Dan sekarang, cucu bapak... hiks. Pergi pak. Tinggalkan aku di sini sebelum banyak hal yang tidak pantas bapak dengar.” Nadia berusaha menghapus air matanya yang jatuh perlahan.
“Baiklah Nadia. Aku akan pergi. Kembalilah ke rumah saat kamu sudah merasa lebih baik.” Juragan pergi setelah mendaratkan sebuah kecupan di kening Nadia.
Sepeninggal juragan Bondan, Nadia menumpahkan air matanya. Ia terisak meratapi nasibnya. Apa salahnya hingga ia merasakan hidup yang penuh penderitaan seperti ini?
“Ada apa Bu Nadia?” Dokter Nathan terkejut ketika ia masuk kamar Nadia saat hendak pamit dan mendapati wanita cantik itu sedang menangis seorang diri. Dimana Joni yang seharusnya menemaninya?
Tak tahan melihat wanita yang ia cintai menangis sedemikian rupa, Dokter Nathan memeluk Nadia. Menenangkan wanita itu dengan menepuk pelan punggungnya.
__ADS_1
Nadia pun segera menumpahkan air matanya di pelukan dokter Nathan. Ia sampai tidak menyadari bahwa yang memeluknya adalah dokter idaman para wanita. Yang ia butuhkan adalah pelukan hangat yang menenangkan. Dan pelukan seperti itu ia dapat dari laki-laki muda yang sedang mendekapnya. Hangat dan melindungi. Perasaan aneh yang diam-diam hadir dalam dirinya.
Lama mereka berpelukan. Hingga dokter Nathan menyadari bahwa wanita sudah tertidur. Helaan nafas yang dalam terdengar. Menandakan bahwa seseorang telah tertidur pulas. Mungkin akibat efek dari obat yang baru diminumnya. Dengan perlahan dokter Nathan membaringkan Nadia di atas brangkar. Menarik selimutnya hingga menutupi sebagian besar tubuhnya.
“Apa yang membuatmu menangis sampai seperti ini? Kamu benar-benar gadis yang malang.” gumamnya pelan. Namun masih terdengar oleh seorang laki-laki yang sejak awal memperhatikan interaksi keduanya.
Joni yang baru saja kembali dari rumahnya segera masuk karena tidak mendapati antek juragan Bondan yang menunjukkan bahwa suami dari pasien yang berada di dalam kamar VIP itu juga tidak ada di sana. Awalnya ia begitu kaget ketika melihat tubuh nyonya mudanya yang berada di dekapan dokter tampan yang menolongnya sedari awal.
Namun setelah mendengar isak tangis Nadia dan kata-kata yang diucapkan dokter Nathan untuk menenangkan Nadia, dirinya merasa lega. Joni menyimpulkan bahwa dokter Nathan adalah orang yang baik dan dapat dia percaya untuk menjaga Nadia. Terlihat dari caranya memberikan perhatiannya pada wanita yang baru saja kehilangan calon anaknya itu.
“Dokter.” Panggil Joni setelah dokter Nathan hendak berbalik.
“Ah Jon! Kamu mengagetkanku.” Dokter Nathan mengelus dadanya yang terlonjak kaget akibat panggilan Joni yang tiba-tiba.
“Maafkan saya dokter.” Joni menggaruk tengkuknya. Dia merasa bersalah pada dokter tampan itu.
“Sejak kapan kamu masuk?”
“Setidaknya cukup untuk melihat kepedulian dokter terhadap Nadia.” Jawab Joni santai.
“Kenapa tidak bersuara?”
“Ck. Itu bukan romantis Jon. Kamu salah sangka. Aku hanya berusaha menenangkan bu Nadia.”
“Benarkah?” joni memicingkan matanya. Memandang penuh selidik sosok dokter di depannya.
“Awalnya aku kesini untuk pamitan akan pulang bersama adikku. Tapi sampai disini aku melihat bu Nadia menangis seorang diri.”
“Sendirian?”
“Iya. Kemana kamu tadi?”
“Aku tadi pulang sebentar. Tapi tadi ada juragan Bondan yang menemani. Kemana dia?”
“Ketika aku datang sudah tidak ada siapa-siapa di sini.”
“Huh.” Joni menghela nafas. Apa yang ia harapkan dari juragan Bondan? Sebuah perhatian? Sepertinya mimpinya terlalu tinggi. “Baiklah dokter. Terima kasih telah menjaga Nadia selama saya tidak ada. Jika dokter ingin pulang, saya persilahkan.” Lanjutnya.
__ADS_1
“Aku tidak jadi ikut pulang Tasya. Dia sudah pulang duluan meninggalkanku. Aku akan menemanimu lagi di sini. Boleh?”
“Baiklah dokter. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk menjaga istri orang.”
Keduanya duduk di sofa. Berbincang banyak hal hingga keduanya mengantuk dan memutuskan untuk tidur di sofa tersebut.
“Jon.” Suara lirih Nadia terdengar lemah di dalam ruangan. Joni yang terbiasa waspada mampu menangkap suaranya. Ia segera bangun dan berdiri setelah mengucek matanya yang masih mengantuk. Ini masih pukul satu dini hari. Dan dia baru tidur selama satu jam.
“Iya Nad, apa yang kamu butuhkan?”
“Aku haus Jon.” Joni membantu Nadia duduk. Kemudian memberikan Botol. Air mineral yang ada di nakas. Membantu Nadia memegang botol tersebut.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Joni setelah Nadia selesai minum.
“Aku merasa lebih baik. Tapi kepalaku sedikit pusing sekarang.” Keluh Nadia.
“Itu karena kamu terlalu banyak menangis. Ada apa semalam?”
“Semalam bapak.. Lho! Dokter Nathan masih disini?” Nadia baru sadar jika dokter Nathan juga ada dalam satu ruangan dengannya.
“Iya. Awalnya dia mau pulang ke tempat adiknya. Tapi tidak jadi.”
“Aku merasa jadi orang yang tidak berguna Jon. Selalu saja menyusahkan semua orang. Bahkan Dokter Nathan yang bukan siapa-siapaku juga ikutan repot gara-gara aku.” Nadia menundukkan wajahnya dalam.
“Kamu tidak merepotkan sama sekali Nadia. Bahkan sangat menyenangkan bagi kami bisa menjaga istri orang sepertimu.” Kelakar Joni. Nadia ikut tersenyum.
Nasib sepertinya sedang mempermainkan Joni dan Dokter Nathan. Sepertinya mereka bersua memang ditakdirkan untuk menjaga istri orang. Ini sudah dua kali mereka berada dalam situasi yang sama. Inilah awal perjuangan mereka bertiga.....
*
*
*
Terima Kasih Sudah Mampir... 😉
Sesudah membaca alangkah baiknya meninggalkan sebuah LIKE 👍 buat akoh....
__ADS_1
Ehehehe ✌️