
Sudah merupakan hukum dari zaman dulu jika atasan terlalu malas melakukan sesuatu, pasti bawahannya yang akan dibuat bingung dan sibuk. Yah. Memang nasib para bawahan kadang sangat tidak menyenangkan dan sangat memusingkan.
Malam ini, Gibran yang dibuat repot oleh Alex. Di tengah malam, di saat dirinya sedang nyenyaknya tidur setelah seharian menghabiskan energinya untuk menambah pundi-pundi rupiah untuk Alex, sang atasannya menghubungi nya dan memberinya perintah yang cukup membuatnya bingung.
Bagaimana tidak, Alex menginginkan Nara yang seorang mahasiswa yang sedang melakukan observasi mengenai keuangan di perusahaan nya untuk berada dekat dengannya sepanjang waktu. Bukankah ini artinya Alex ingin Nara menjadi sekretarisnya. Lalu apa alasan yang bisa dibenarkan untuk hal ini?
Dan Gibran yang malang berakhir dengan tidak bisa tidur sepanjang sisa malam itu.
Dengan mata yang merah. Kantung mata yang menghiasi kedua mata yang biasanya menatap tajam dan menjadikannya suram. Belum lagi warna hitam di sekitar mata. Sungguh merusak pemandangan.
Gibran memasuki kantor pagi itu dengan suasana yang kacau.
Banyak karyawan yang menatapnya bingung dan saling berbisik menanyakan apa yang terjadi pada sang sekretaris hebat sekelas Gibran. Namun sebanyak apa pun mereka bertanya, mereka tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang sesuai.
Malahan, dari dugaan dan prasangka semua karyawan. Banyak gosip yang tercipta. Mulai dari kegagalan dalam cinta sampai dipaksa menikah oleh orang tua. Ah! Para lambe lamis memang terhebat dalam membuat sebuah cerita tanpa tahu kebenaran nya.
Gibran yang samar-samar mendengar pembicaraan para karyawan mengenai dirinya hanya bisa mengerutkan bibirnya. Sebenarnya bisa saja ia membungkam semua orang dengan sekali ucap. Namun untuk saat ini dirinya terlalu malas. Biarkan saja gosip yang menyebalkan ini beredar. Lama kelamaan juga akan hilang. Se-simple itu.
Yang paling penting untuk saat ini adalah dia belum juga menemukan cara yang tepat untuk membuat Nara berada di sisi Alex tanpa ada kecurigaan dan pertanyaan yang akan muncul.
Beberapa kali, Gibran memijat pelipisnya yang terasa pening. Mengayunkan langkahnya dengan malas ke dalam lift khusus para petinggi. Di dalam kepalanya sendiri, otaknya masih sibuk bekerja mencari cara untuk memuaskan sang bos.
“Ya Halo.” Ucapnya malas di telfon saat dirinya baru saja keluar dari lift. Sebuah panggilan masuk dari salah satu bawahannya.
“Ada apa?” tanyanya lagi. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Bibirnya tanpa terasa melengkung dengan sendirinya. Kepalanya menganggukkan dengan puas. Cahaya di matanya yang tadi suram kini telah kembali. Berganti dengan picingan yang terlihat licik.
“Oke. Lanjutkan cutimu selama satu bulan.” Ucapnya tanpa ragu.
“Jangan banyak tanya. Lakukan saja. Dan untuk gajimu, kamu akan tetap mendapatkannya tepat waktu tanpa potongan sepeserpun.”
“...” lawan bicaranya sampai tidak bisa bicara. Kapan lagi atasannya ini begitu dermawan.
Padahal karyawan yang merupakan salah satu staf sekretaris yang ada di naungannya, namanya Beni yang tiba-tiba saja izin cuti selama satu Minggu untuk pulang kampung karena ibunya yang sakit. Dan oleh Gibran, dia malah diberi cuti selama satu bulan dengan gaji full. Bukankah ini seperti kejatuhan bulan? Oh bukan! Ini namanya menikmati hidup tanpa bekerja. Pasti menyenangkan.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ia berpikir...
“Saya tidak dipecat kan pak?”
“Hahahaha. Tidak. Tentu saja tidak. Saya malah berterima kasih padamu.” Beni pun semakin bingung. Kenapa malah dia mendapatkan ucapan terima kasih dari atasannya yang biasanya ketularan dinginnya sang Presdir?
“Tidak ada yang salah kan pak? Bapak baik-baik saja kan?” tanyanya khawatir. Seperti seorang pacar Yang sedang khawatir. Padahal dia takut jika ini hanya alasan untuk memecatnya. Zaman sekarang sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Apa lagi sebaik di Amerta.
“Tidak- tidak. Saya baik-baik saja. Saya hanya terlalu bahagia.”
“Bapak yakin? Apa saya tunda saja cuti saya?” tanya Beni semakin khawatir.
“Tidak perlu. Tapi saya punya satu syarat.” Nada bicara Gibran sudah kembali ke mode biasanya. Se-ri-us.
“Syaratnya apa pak?” tanya Beni antusias.
“Kamu tidak boleh mengatakan apa pun pada seseorang di perusahaan ini. Aku yang akan mengatur sisanha. Jika Samapi hal ini bocor, aku akan langsung memecatmu tanpa peringatan.”
Glek...
“Baik pak. Tapi kenapa?”
“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Apa kamu tidak pernah mendengar jika terlalu banyak tahu bisa membahayakan nyawamu?” Gibran semakin membuat Beni ketakutan dengan ancamannya. “Baik-baik di kampung dan jangan kembali kesini sebelum masa cuti untuk satu bulan ini berakhir. Selamat menikmati hari bahagiamu. Tuuuttt.” Biarkan saja karyawannya dalam kebingungan. Yang terpenting adalah bahwa ia bisa menemukan pemecahan masalah yang dia pikirkan semalaman.
Dengan semangat ia memasuki ruang kerjanya yang berada di sebelah ruangan Alex. Ruang dengan dinding kaca yang tembus pandang dari dalam tapi buta dari luar. Ini membuatnya bisa mengawasi bawahannya yang ada di sebelah dan di depan ruangannya bekerja. Sangat menguntungkan.
Setibanya di ruangannya. Gibran mendudukkan dirinya di atas kursi panas miliknya. Kemudian duduk dengan angkuhnya dan meraih gagang telfon. Berbicara sebentar dengan seseorang dari seberang sana dan menutup nya segera setelah ia menyampaikan perintahnya.
Tak lama setelah itu, terlihat dari tempat nya duduk bahwa orang yang baru saja berbicara dengannya melalui saluran telfon sedang berjalan mendekati ruangannya dengan sebuah map yang ia minta.
Tok tok tok
“Masuk.” Katanya pelan. Gibran sudah mengatur dirinya dalam mode serius. Agar tidak menanyakan secara detail tentang keadaan yang membuatnya melakukan hal yang aneh itu.
__ADS_1
“Selamat pagi pak Gibran.” Sapa seorang wanita tiga puluh tahunan yang terlihat sangat tenang dan berwibawa. Dia adalah Bu Imelda. Kepala bagian divisi keuangan.
“Selamat pagi. Silahkan duduk Bu Imelda.”
“Ini data yang pak Gibran minta tadi di telfon.” Imelda memberikan map yang dibawanya setelah ia duduk dengan nyaman. Gibran menerimanya dengan segera. Membuka dan mempelajarinya dengan teliti.
“Bagaimana dengan pekerjaan dari mahasiswa yang bernama Kinara?” Tanya Gibran pada Imelda.
Bu Imelda sedikit berpikir sebelum menjawab. “Dia...”
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😎
Jangan lupa like, vote dan komentarnya 👍
Maaf ya akoh telat mulu. Akoh lagi dapat tugas dari Gusti Allah SWT. Sudah hampir satu bulan ini ibunya akoh sakit. Karena anaknya Cuma akoh dan adiknya akoh yang sudah nggak tinggal serumah lagi dengan beliau, akhirnya akoh gantian jaga sama adik akoh.
Sudah dua Minggu akoh jadi perawat dadakan. Bukan Cuma perawat. Tapi juga menggantikan hampir semua kegiatan ibu akoh. Termasuk usaha beliau yang cukup menyita waktu dan tenaga. Ditambah tugas akoh sendiri sebagai ibu dari dua orang anak yang sudah bersekolah. Tahu lah repotnya kalau lagi daring. Huft. Menguras segalanya. Hehe. Lebay...
Akoh baru bisa istirahat paling awal jam sembilan malam. Kalau sedang tidak terlalu lelah dan ngantuk, ya seperti ini, akoh bisa ketik-ketik sambil ngehalu. Tapi kalau mata sudah nggak kuat kebuka dan badan juga lelah, ya maaf saja akoh belum bisa memenuhi tugas akoh sebagai salah satu Author untuk memberikan cerita pada reader sekalian. Itu artinya Akoh sudah Tepar di atas pulau mimpi.
Bukan karena tidak menyayangi kalian, bukan! Akoh sangat menyayangi dan menghargai kalian yang telah memberi dukungan untuk akoh selama ini. Tapi apalah daya, akoh hanya manusia biasa yang bukan setengah dewa. Ehehehe
Akoh juga minta tolong sama para reader yang Budiman, tolong bantu do’akan ibu akoh agar segara sembuh dan dapat kembali beraktivitas agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar seperti sedia kala. Aamiin.
Okeh. Terima kasih atas do’a kalian.
Lov yu pullll💝💖♥️
__ADS_1
Sekedar informasi, walaupun episode ini agak gaje (biar pun gaje tapi ini episode penting) akoh bikin satu episode ini hampir satu jam lho... belum lagi akoh review pribadi berulang kali sebelum akoh serahkan.
Biar kalian juga tahu susahnya. Kakakakaka