
Joni yang baru kembali dari tugasnya membantu Nathan dan Dokter Wisnu di kantor polisi serta menjemput Minah segera menghampiri Nadia ketika ia mempunyai kesempatan. Saat itu, Nadia sedang duduk sendiri di ruang makan. Sedang duduk santai melihat para pelayan memasak. Ia mempunyai berita untuk disampaikan pada majikannya.
Laki-laki itu segera berbicara pelan hampir berbisik pada Nadia di saat keduanya sudah dekat. Menyampaikan dua berita yang ia dapatkan.
“Ada kabar buruk Nad. Dian tidak bisa dibebaskan begitu saja. Namun dia akan menerima perlakuan istimewa di dalam penjara hingga kondisinya stabil.”
Nadia menghela nafas. Ini memang sudah ia perkirakan. Jadi dia tidak merasa kaget.
“Baiklah. Lalu bagaimana dengan Bu Minah?”
“Awalnya Bu Minah syok setelah mendapat kabar ini. Namun ia mencoba tenang. Dan sore ini dia juga sudah menemui Dian.”
“Itu bagus.”
“Oh ya, dokter Nathan dan Dokter Wisnu menyampaikan bela sungkawa mereka dan meminta maaf karena tidak dapat datang secara langsung. Beberapa hari ke depan, mereka berdua masih akan di kota untuk menemani bu Minah dan Dian. Mereka sudah tidak punya orang untuk bisa diandalkan.”
“Kita sangat beruntung dapat bertemu orang seperti mereka berdua Joni. Mereka mau membantu orang lain yang tidak mereka kenal tanpa pamrih.”
“Kamu benar.”
“Apa ada yang terjadi ketika pemakaman?” tanya Joni.
“Kamu asal menebak atau kamu berubah menjadi dukun?”
“Jadi benar ada sesuatu? Aku hanya menebak saja. Suasana di rumah ini berbeda dari biasanya.”
“Tebakanmu benar.” Kemudian mengalirlah cerita dari mulut Nadia. Joni mendengarkan dengan seksama.
🐧🐧🐧
Hari-hari berlalu dengan cepat. Masa berkabung sepuluh haru juga sudah berlalu. Dasuki dan keluarganya juga sudah kembali ke rumah mereka setelah acara tuju hari kematian Juragan Bondan. Sedangkan Satria dan Sinta juga sudah meninggalkan rumah pagi tadi.
Kini di rumah besar hanya ada Nadia, Devi, Yulia, Yanto, Lisa dan Bima. Juga beberapa pembantu. Sudah lupakan saja para pembantu mereka hanya tokoh pelngkap.
__ADS_1
Setelah hidup dengan tenang sepuluh hari ini, Nadia nyatanya harus kembali mendapat masalah. Devi dan Yulia nyatanya kembali ke sifat asli mereka setelah semua orang pergi.
Sore ini, ketika Nadia sedang berada di kamarnya, tiba-tiba saja Devi dan Yulia masuk ke dalam kamarnya. Membuka pintu dengan kasar dan membantingnya dengan keras sehingga suara yang terdengar memekakkan telinga.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian kan bisa meminta baik-baik untuk aku biarkan masuk. Tidak perlu membuka pintu dengan kasar.” Kata Nadia ketika ia melihat Devi dan Yulia berada di dalam kamarnya dengan berkacak pinggang.
"Sudah cukup pura-puranya. Kami sudah gatal ingin bermain denganmu jal*ng!" sinis Devi.
"Oh.. jadi selama ini kalian hanya memasang mantel berbulu domba kalian?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku? Tentu saja mengimbangi permainan kalian. Bukankah kalian baru saja memberikan julukan kalian padaku? Jadia tentu saja aku juga harus memberikan julukanku untuk kalian. Itu baru namanya adil." Nadia memandang remwh kedua wanita yang ada di depannya. Dia masih duduk santai di atas ranjangnya sambil memangku bantal untuk menopang laptop miliknya.
"Hemm bagimana dengan duo serigala. Bukankah itu cocok untuk kalian? Seseorang yang pandai menutupi jati diri bukankah sama dengan serigala?" kata Nadia santai. Kemudian pandangan matanya kembali fokus pada layar laptop yang sedang terhubung dengan aplikasi marketplace untuk menawarkan barang-barang hasil dari sanggar keterampilan.
Kedua orang yang baru saja mendapatkan julukannya menggeram penuh emosi.
"Bukankah julukan itu lebih pantas untukmu?"
"Dasar wanita tidak tahu diri! Mengapa kamu selalu mencari masalah dengan kami?"
"Halooo? Bukankah pertanyaan itu seharusnya aku yang mengajukan? Ingat, kalian yang mendatangiku di sini. Ini kamarku, kalau kalian lupa. Ck ck ck. Perasaan umur kalian itu belum begitu uzur, tapi sudah mulai dihinggapi penyakit pikun. Kasihan sekali."
“Kau benar-benar semakin kurang ajar.” Kata Devi hendak memukul Nadia. Tapi dengan cepat Nadia menghidar sambil terkekeh.
"Hati-hati nyonya besar. Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti encok." cibir Nadia. Membuat Devi semakin murka. Namun ia tidak bisa melawannya secara langsung.
“Sudahlah bu. Kita tidak perlu menghabiskan tenaga kita untuk berbicara omong kosong dengan jal*ng ini.”
“Kamu benar Yulia. Hei Nadia, sekarang Kau bukan siapa-siapa lagi di rumah ini. Kalau kau punya malu, lebih baik kamu angkat kaki dari sini!” Devi berkata sambil melipat kedua tangannya di depan perut. Yulia berdiri di sampingnya dengan posisi yang sama. Keduanya memasang wajah garang.
“Bukan siapa-siapa hem?” sudut bibir Nadia berkedut sebelum tersenyum meremehkan.
__ADS_1
“Bapak sudah tidak ada. Tidak ada lagi yang akan membelamu di sini.”
“Perlu aku luruskan sekarang. Yang pertama, aku masih lah nyonya muda di rumah ini. Dan aku istri sah dari bapak meski pun bapak tiada. Itu sama dengan anda sendiri Nyonya besar. Jadi, ada tidaknya bapak disini, aku tetap mempunyai hak untuk tinggal. Sama denganmu juga. Lagipula, ini bukanlah rumah kalian. Kalian itu Cuma numpang.” Nadia menekankan kalimat akhirnya, kemudian Nadia menutup laptopnya dan meletakkan benda itu di atas nakas. Kemudian dengan gerakan yang amggun namun terlihat angkuh ia menuruni ranjang.
Kedua wanita itu nampaknya mencari musuh yang salah. Meskipun Nadia terlihat lemah, namun ia memiliki otak yang cerdas dan keberanian yang kuat untuk melawan mereka yang berani menerobos teritorialnya, apalagi sampai memprovokasinya.
“Kalian kira aku sebodoh yang kalian kira hem? Aku tahu jika rumah ini sudah menjadi hak milikku. Bapak rupanya sudah merasa jika istri kesayangannya akan dipersulit oleh madunya dan anak tirinya. Hah... ini sebuah ironi bukan? Bukan aku yang seharusnya pergi, tapi kalian. Tapi tenang saja. Aku bukanlah seseorang yang menyukai perpecahan. Jadi, nikmati kebersamaan kita sebagai sebuah keluarga yang harmonis.” Kata Nadia sambil berjalan mengelilingi dua orang wanita yang masuk paksa ke dalam kamarnya.
Devi dan Yulia hanya bisa menggertakkan giginya. Pagi ini saat mereka pergi ke notaris juragan Bondan untuk mengalihkan nama kepemilikan rumah, mereka dibuat kaget sekaligus marah dalam satu waktu.
Bagaimana tidak, sejak setengah tahun yang lalu, nama yang tertera dalam akta tanah adalah nama Nadia. Tepatnya setelah juragan Bondan mengetahui kehamilan Nadia. Sepertinya juragan Bondan berusaha melindungi Nadia dan anaknya di masa depan. Dan semua ini ternyata sangat tepat.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tentu saja notaris bapak sendiri yang menghubungiku mengenai hal ini. Tunggu saja, sebentar lagi dia juga akan datang kesini untuk mengkonfirmasi.” Sebenarnya, bukan hanya rumah yang menjadi milik Nadia, namun sebagian tanah juga sudah menjadi milik Nadia. Bahkan satu hari setelah kematian juragan Bondan, uang sebanyak lima ratus juta juga masuk ke dalam rekening Nadia. Tapi Nadia menyembunyikan semua itu, kalau tidak, pasti kedua wanita itu akan semakin merasa marah.
“Pasti kamu merayu bapak kan?” tuduh Devi.
“Tentu saja itu tidak perlu aku lakukan. Itu adalah bukti kasih sayang bapak kepadaku. Jadi bapak pasti merasa semua ini akan terjadi. Sudahlah, kalian boleh menganggap rumah ini rumah kalian juga. Aku tidak masalah harus berbagi rumah dengan kalian. Jangan sungkan.” Kata Nadia enteng dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
Devi dan Yulia kehabisan kata untuk melawan. Mereka tentu saja tidak mau jika harus pergi dari rumah besar itu. Jadi mereka akan menelan pil pahit dan menekan malu untuk tetap tinggal disana. Sambil memikirkan recana mereka selanjutnya. Mereka tidak akan berhenti begitu saja.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir.
Hari ini akoh dapat pelajaran berharga,
Berhati-hatilah dalam melangkah, sebab ada yang harus dijaga.
__ADS_1
Kepercayaan dan kasih sayang dari orang yang melangkah bersama kita.
Serta sebentuk penghormatan dari orang yang mengikuti kita dari belakang.