
Pagi hari pun tiba. Nara akhirnya sadar. Nara memijat kepalanya yang pusing. Lamat-lamat ia mengingat kejadian yang ia lalui semalam. Akhirnya ia terjingkat saat ia sadar jika ia tidak berada di kamarnya.
“Mbaknya sudah bangun?” Seorang gadis baru saja masuk sambil membawa nampan berisi segelas teh di atasnya. Nara menatap nya penuh tanya.
“Kamu siapa? Kenapa saya ada di sini? Dimana Roy?” Tanya Nara memberondong.
“Perkenalkan, nama saya Karina. Saya petugas kebersihan hotel semalam.” Karina mengulurkan tangannya setelah meletakkan nampan di atas meja sebelah ranjang.
“Aku Nara. Kenapa saya bisa ada di sini?” tanya Nara langsung setelah menjabat tangan Karina.
“Untuk masalah itu, izinkan saya bertanya lebih dulu. Siapa laki-laki yang ada dalam mobil yang sama dengan kamu? Apakah dia pacar atau...”
“Bukan. Dia penculik. Orang jahat.” Jawab Nara tegas.
Karina menghela napas lega. Jujur saja setelah tukang ojek pergi, ia juga memikirkan jika bisa saja Roy dan Nara adalah pasangan yang sedang bertengkar. Jika ia ikut campur dalam hal ini, tentu bukanlah hal yang baik.
“Syukurlah kalau begitu. Laki-laki itu semalam saya pukul sampai pingsan. Lalu saya tinggalkan di tengah jalan. Jadi tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang.” jawab Karina sambil menggaruk pipinya. Jujur saja ia tidak terpikir bagaimana keadaan Roy setelah ia memukulnya hingga pingsan.
“Itu memang pantas dia dapatkan.”
“Iya. Memang benar. Orang jahat pasti menemui sesuatu yang jahat pula.”
“Terima kasih telah menolong saya semalam. Kalau mbak Karina tidak ada, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.”
“Tidak masalah. Kebetulan saya melihat sesuatu yang tidak baik terjadi. Saya melihat pisau itu. Jadi saya membuntuti kalian. Waktu ada kesempatan yang tepat, syukurlah bisa membantu.” Karina menghela napas lega. Ia juga ketakutan semalam. Tapi karena kondisi darurat, sebuah keberanian entah muncul dari mana. Ia seperti bergerak dengan sendirinya. Tidak ada rasa takut sama sekali di hatinya.
“Oh ya. Silahkan diminum dulu tehnya.” Karina menyerahkan teh pada Nara.
“Apakah ada nomor yang bisa dihubungi?” tanya Karina setelah Nara menghabiskan setengah minumannya.
“Ada. Saya ingat nomor suami saya. Bisa pinjamkan ponsel?” Karina mengangguk dan mengambil ponsel di saku celananya.
Pagi ini, ia buru-buru mengisi pulsa agar dapat digunakan oleh Nara. Menggunakan uang terakhir di dompetnya. Gajinya tidak seberapa. Jadi hanya tersisa sedikit untuk bertahan hidup setelah mengurangi untuk dikirim menyicil hutang pada Fania.
Alex yang sedang berada di kantornya bersama Bisma sedang berbicara dengan beberapa orang yang mereka tugaskan untuk mencari Nara. Saat Alex sedang mendengarkan laporan dari anak buahnya, ponselnya berdering. Nomor asing terlihat di layarnya. Alex segera mengangkat teleponnya dengan mode loud speaker, sedangkan Bima melacak posisinya.
“Halo siapa ini?!” suara di seberang sana terdengar menakutkan.
__ADS_1
“Sayang ini aku. Tolong aku sayang.” Nara menangis. Mendengar suara Alex, ia tahu Alex pasti sedang cemas.
Mendengar suara Nara, semua orang di ruangan itu diam mendengarkan dengan seksama.
“Tenang sayang. Aku akan segera menjemput mu. Kamu bisa katakan ada dimana?”
“Mbak Karina, kita ada di mana?”
Saat nama asing disebutkan Nara dan juga nada bicara Nara yang terdengar tenang, semua orang merasa lega. Itu artinya Nara tidak dalam keadaan bahaya.
“Ini di gang Kamboja.” Karina pun menjelaskan letak tempatnya.
“Tapi mobil tidak bisa masuk. Hanya bisa dilalui sepeda motor.” Ucap Karina di akhir penjelasannya.
“Baik. Saya mengerti terima kasih. Tolong jaga istri saya selagi saya belum datang.”
“Anda bisa yakin.” Alex mengangguk meskipun ia tahu pihak lain tidak akan melihatnya.
“Sayang segeralah datang. Aku takut.” Nara kembali bicara.
“Iya. Aku percaya.” Nara mematikan sambungan telepon.
“Terima kasih.” Nara menyerahkan ponsel Karina.
Sementara Bima baru teringat sesuatu yang dari tadi terasa tidak beres. Ketika mendengar tempat dimana Nara berada saat ini, ia berpikir keras apa yang salah? Namun sekarang dia ingat.
“Kamu yakin tadi wanita itu bilang Nara ada di gang Kamboja?” tanya Bima pada Alex dan Bisma yang kini menatapnya heran.
“Iya. Kenapa?” Alex membenarkan.
“Di Gang Kamboja banyak prostitusi terselubung. Bagaimana Nara bisa sampai di sana?” ucapan Bima membuat Alex dan Bisma kaget. Keduanya saling berpandangan.
“Ayo cepat pergi.”
Alex segera masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan cepat tanpa menunggu Bisma dan Bima yang tak jauh di belakangnya.
“Sial! Berani sekali dia meninggalkan kita.” Bisma mengumpat Alex yang sudah tidak terlihat.
__ADS_1
“Aku kasihan padanya.” Bima menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk.
“Apa maksudmu?”
“Bukankah aku sudah bilang itu adalah tempat prostitusi? Memangnya apa yang bisa terjadi jika seorang pria tampan sendirian di sana?”
Tiba-tiba Bisma tertawa lebar. Membayangkan bagaimana nasib buruk yang menimpa Alex. “Biarkan saja. Bagaimana dengan kita?”
“Kita bawa bawa beberapa orang bersama kita. Paling tidak mereka akan bisa mengusir lalat-lalat itu.” Bima melangkah maju setelah memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk mengikutinya.
Sementara itu, Alex yang baru saja tiba di tempat yang sudah dijelaskan oleh Karina. Turun tanpa ragu. Benar-benar tidak menyadari nasib yang akan menimpanya begitu ia melangkahkan kakinya lebih jauh di depan sana.
“Hai tampan, masih pagi sudah sampai di sini. Apa servis pacarnya tidak memuaskan?” baru saja Alex masuk di kelokan pertama, seorang wanita muda yang cantik sudah bergelayut di lengannya.
Alex yang tidak pernah berpikir mengalami hal ini sebelumnya, pikirannya kosong beberapa saat. Di detik setelahnya, tubuh mulus dengan celana yang tidak ada sejengkal dan juga tanktop hitam terjatuh di jalan dengan keras.
“Auch tampan. Kenapa tidak sabaran? Dari pada mendorong tubuh aku di jalanan, ayo datang ke tempatku dan jatuhkan aku di atas ranjang.” Wanita itu mengedipkan matanya sambil tersipu malu. Namun kedipan matanya itu benar-benar berkata lain.
“Hei Prita, masih pagi sudah ada tamu aja. Cepat bawa ke dalam. Kalau tidak biarkan aku saja.” Perempuan cantik lain datang dari kamar kos di sebelah.
Namun sebelum perempuan itu mendekati Alex, Prita yang tadi jatuh segera berdiri dan menghadangnya di depan Alex.
“Enak saja. Si tampan ini milikku. Kau lihat tadi dia menjatuhkan ku. Itu tandanya dia sudah tidak sabaran. Ayo tampan aku akan memberimu servis yang memuaskan.” Prita berbalik dan meraih lengan Alex.
Sedangkan perempuan yang baru datang juga meraih tangan Alex yang bebas. Tanpa terelakkan, tarik menarik di antara keduanya terjadi dengan Alex yang ada di tengahnya. Pria itu benar-benar tidak berdaya. Beberapa kali berusaha mengelak selalu saja kalah cepat dengan dua perempuan yang menggila itu.
“Sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat. Lihatlah dia sedang bersenang-senang.”
Nada bicara Bima yang ceroboh membuat wajah Alex menghitam. Apa lagi melihat senyum mengejek Bisma di sebelahnya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1