
“Apa kamu sungguh-sungguh menerima pinangan Rafael?” tanya Bisma setelah ia menerobos masuk kamar Nara dan mendapati Nara sedang duduk di atas ranjang sambil memangku laptop miliknya dengan serius.
“Ya kak.” Jawab Nara pasti tanpa menoleh pada Bisma. Tangannya masih sibuk menari di atas keyboard.
“Apa kamu berpikir konsekuensi dari apa yang kamu putuskan?” Wajah Bisma memancarkan kekecewaan.
Saat dirinya baru pulang dari kantor, papanya memberitahu semua yang terjadi. Bahwa Nara bersedia menerima pinangan dari Rafael. Lebih mengejutkan lagi, bahwa pernikahan akan dilangsungkan satu bulan dari sekarang. Betapa marahnya ia mendengar kabar itu.
Lalu, dengan tergesa ia menghampiri Nara yang sudah berada di dalam kamar sejak Rafael pulang. Sejak itu pula, keadaan di mansion Mahardika menjadi muram. Nathan dan Nadia bahkan kehilangan kata-kata mereka menghadapi keadaan itu.
Bukannya mereka tidak menghentikan Nara, tapi Nara lah yang bersikeras.
Nadia yang tidak bisa membayangkan apa yang pernah dialaminya, menikah dengan orang yang tidak dicintainya, terjadi juga pada Nara lahirnya lebih memilih pergi dari ruang tamu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Nathan juga berlalu setelah itu. Tidak dapat dipungkiri ia merasa kecewa. Kecewa pada keputusan Nara, juga kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Nara.
“Apa kamu tidak percaya pada kakakmu ini hah?” Bisma mengguncang bahu Nara. “Apa kamu tidak percaya pada Alex?”
“Justru karena aku percaya pada kalian, aku berani mengambil langkah ini. Dengan aku menyetujui pernikahan ini, aku yakin perhatian Rafa akan terpecah. Dan itu akan memperbesar kesempatan kalian untuk melawannya.” Jawab Nara menatap mata Bisma mantap.
“Tapi ini terlalu beresiko Ra!” Bisma Berjalan menjauhi Nara sambil menyugar rambutnya frustasi. Adiknya ini mengambil langkah yang terlalu berani.
“Aku percaya pada kemampuan kalian. Aku juga percaya kalian tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi.”
“Lalu, apa kamu memikirkan perasaan Alex jika ia mendengar kabar ini?” meskipun yang dikatakan Nara ada benarnya, tapi adiknya itu tidak bisa mengesampingkan perasaan Alex. Laki-laki itu bisa saja kecewa pada Nara. Atau bahkan kehilangan semangat untuk melawan Rafael dan sekutunya.
“Aku yakin Alex tahu niatku kak. Lagipula, jika ia benar-benar mencintai ku, dia tidak akan membiarkan aku menjadi milik orang lain.”
“Haaah!” Bisma mengepalkan tangannya ke udara dan mendesah sambil melepaskan kepalan tangannya. Seperti ia sedang meyakinkan hatinya. “Baiklah. Karena semua sudah jadi seperti ini. Aku juga tidak akan membuang waktu lagi. Aku akan meminta kak Bima untuk mengatur agar kalian bisa berkomunikasi untuk menghindari kesalahpahaman.”
__ADS_1
“Itu tidak perlu kak. Aku tahu Alex akan mengerti. Lebih baik kalian gunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Jangan biarkan pengorbanan ku ini sia-sia.” Nara terkekeh di akhir kalimat nya.
“Mendekatlah.” Bisma merentangkan kedua tangannya. Nara pun bangun dan menghambur memeluk tubuh tegap Bisma dengan erat. “Kamu sudah berkorban begitu banyak. Yakinlah, kakakmu ini akan melakukan yang terbaik agar pengorbananmu ini tidak sia-sia.” Bisma mengelus surai Nara lembut.
“Em. Aku tahu aku punya kakak yang bisa diandalkan.” Nara mengangguk pelan. Ia mengeratkan pelukannya. Sangat nyaman berada di pelukan kakaknya itu.
Di mansionnya, Alex yang juga baru pulang dari kantor juga sedang menerima laporan dari anak buahnya. Tanpa ada yang mengetahui, salah satu pelayan di mansion Mahardika telah menjadi mata-matanya.
Secara kebetulan, pelayan muda bernama Tina itu pernah ditolong oleh Gibran. Jadi saat Gibran meminta tolong padanya, dengan senang hati gadis muda itu melakukannya.
Dan ketika ia mendengar bahwa Rafael datang, ia diam-diam segera melapor pada Gibran dan terus memberi tahu perkembangan yang terjadi pada laki-laki itu.
Malam ini, Gibran tidak bersama dengan Alex. Ia ditugaskan oleh Alex ke luar kota untuk mencari informasi mengenai Rafael. Ketika ia mendapat kabar mengejutkan itu, sekretaris serba bisa seperti Gibran segera kembali ke ibu kota sesegera mungkin.
“Lalu apa yang akan kita lakukan tuan?” melihat Alex yang terdiam setelah mendengar kabar darinya, Gibran tidak bisa tidak merasa khawatir. Ia sudah lama mengikuti Alex dan tahu betul bagaimana Alex mencintai Nara. Dan ketika atasannya ini dikhianati seperti sekarang ini, tentu saja hatinya ikut merasa tidak nyaman.
Mendengar berita jika Nara menerima Rafael untuk menjadi suaminya, tentu saja hatinya mendidih. Tapi saat ia menyadari jika Nara tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya, ia tahu jika gadis itu sebenarnya telah berusaha menciptakan peluang untuknya dan Bisma menyerang.
“Maksud tuan?” tanya Gibran heran. Ia kira jika atasannya itu akan memintanya untuk merusak rencana Rafael demi Nara. Tapi yang dilakukannya justru tidak. Apakah benar jika atasannya akan membiarkan Nara menikah dengan orang lain?
“Kamu tahu seperti apa gadis seperti Nara." ucap Alex sambil tersenyum miring mengingat gadis yang dicintainya itu. "Dia tidak akan mau dirugikan. Jadi dia sebenarnya sedang mengalihkan perhatian Rafael dari kita. Memberikan kita akses lebih dekat tanpa pengawasan Rafael. Jadi, yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan nya dengan baik.” Alex tersenyum miring.
Gibran yang melihat senyum Alex segera merinding. Ia tahu betul apa yang akan terjadi jika senyum itu akhirnya muncul. Siapapun itu, yang mengacau akan dibinasakan.
“Oh ya. Minta gadis itu untuk menyampaikan pada Nara untuk menyiapkan pesta pernikahan di KS Hotel. Dan pastikan itu adalah pernikahan yang termegah dan termewah tahun ini.” Alex lagi-lagi tersenyum dengan dingin.
“Tuan, ini adalah pernikahan nona Nara dengan...”
__ADS_1
Perkataan Gibran segera dipotong Alex. “Apa yang terjadi di masa depan masih belum bisa dipastikan. Biarkan saja jika Rafael membuat pesta dengan meriah. Bahkan, semakin meriah akan semakin bagus.” Jawab Alex santai.
"Dengan begitu pekerjaan kita akan menjadi lebih mudah." lanjutnya.
Sesuai intruksi dari Alex, Gibran segera menghubungi Tina untuk menyampaikan pesan Alex pada Nara.
“Itu pesan dari Alex?” tanya Nara lembut. Pagi ini saat ia akan mengambil camilan di dapur untuk dibawa ke dalam kamar, Tina menawarkan bantuan untuk membawakannya dan mengikutinya ke kamar. Ia tidak menyangka jika gadis itu pada akhirnya menyampaikan pesan dari Alex untuknya.
“Benar nona. Sebenarnya, saya sudah menerima perintah ini sejak tadi malam. Tapi, semalam sudah sangat larut dan takutnya saya akan mengganggu istirahat nona, jadi saya hanya bisa menunggu pagi dan mencari kesempatan untuk bicara dengan anda secara pribadi.” Jawab Tina.
“Itu bagus. Aku tahu Alex akan mengerti.” Nara mengangguk puas. “ Baiklah. Sampaikan juga pada Alex untuk tidak perlu khawatir. Pesta akan berlangsung meriah tanpa ada cela.”
Tina sedikit tersentak. Bukankah yang ia tahu jika pernikahan ini sebenarnya ditentang oleh semua anggota keluarga Mahardika. Tapi kenapa Nara malah berniat membuat pesta yang mewah?
Namun, seperti apa pun kebingungan di hatinya, Tina hanya bisa menyimpannya di dalam hati dan mengiyakan perintah Nara.
“Baiklah nona. Akan saya sampaikan pada tuan Alex segera.” Nara mengangguk sambil tersenyum. Beban berat di hatinya telah terurai. Ia akhirnya lega saat tahu jika Alex mengerti jalan pikirannya.
Ke depannya, ia berharap semua berjalan sesuai yang dia harapkan.
Tukang pos yang sedang bersembunyi di dalam kamar mandi pun segera menyampaikan pesan dari Nara pada Alex lewat Gibran. Sebelumnya Gibran sudah mewanti-wanti agar ia bergerak dalam diam dan tidak mencolok.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🥰