Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
Extra Part 4


__ADS_3

...Semoga mengobati kerinduan😘...


...Happy Reading,😎...


Hari ini Nathan beserta seluruh keluarganya datang ke desa. Nathan, Nadia, Nara dan Bisma beserta Hana berada dalam satu mobil, sedangkan Rita, Panji dan Tasya di mobil yang lain. Mereka berangkat sabtu pagi agar bisa beristirahat sebelum acara yang akan diadakan hari minggu keesokan harinya.


Sedangkan di desa sendiri sudah ramai dengan aktifitas warga. Semua orang di desa sangat antusias untuk menyambut Nadia yang bagi mereka seperti pahlawan desa. Bagaimana tidak, kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu.


Sanggar keterampilan yang didirikan Nadia kini bahkan sudah tembus pasar internasional. Bisa mengekspor hasil karya mereka ke liar negeri. Pabrik beras yang dikelola Yulia juga bertambah besar. Dulu generasi muda kebanyakan berhenti sekolah setelah SMA dan untuk para gadis segera menikah, sekarang kebanyakan melanjutkan hingga jenjang perkuliahan.


Acara itu sendiri akan diadakan di depan rumah besar. Rumah milik Nadia yang sekarang sudah berpindah pemilik menjadi rumah Devi. Di halaman rumah sudah terpasang tenda-tenda yang akan menampung para tamu. Sebenarnya tamunya adalah Nathan dan keluarga yang malah akan menjadi bintang utama dalam acara. Sedangkan tamu yang hadir tak lain hanya warga desa jadi mereka menyiapkan tempat dan acara untuk mereka sendiri.


Berbagai makanan khas pedesaan juga mereka siapkan. Juga jajanan dan berbagai camilan juga sudah rapi dimasukkan ke dalam toples-toples. Para wanita lah yang bekerja sama menyiapkan semuanya.


Itulah desa, semua dikerjakan secara gotong royong. Jika ada satu keluarga yang berhajat, para tetangga akan berbondong-bondong datang untuk membantu. Menjalin kerukunan dan kedamaian desa. Menciptakan rasa kekeluargaan yang kental terjalin erat.


Di saat para warga sibuk bekerja, dua mobil yang membawa tamu mereka masuk ke dalam desa. Dengan mobil Nathan memimpin di depan dan mobil Panji yang dikemudikan sopir berada di depannya. Namun ada satu tambahan lagi tiga mobil box di belakangnya yang ikut berderet ketika mereka keluar kota kabupaten dan masuk ke desa.


Mobil itu adalah mobil yang sengaja Nathan persiapkan untuk oleh-oleh warga desa. Dua mobil berisi barang-barang sembako, mobil yang lain berisi snack dan juga mainan yang kesemuanya akan dibagikan kepada warga desa.


Nadia berbinar dapat kembali ke desa ini secara terang-terangan setelah lima tahun belakangan ia akan mengendap-ngendap setahun sekali untuk mendatangi makam kedua orang tuanya, Dian dan juragan Bonda.


“Kamu senang sayang?” tanya Nathan yang melihat ekspresi bahagia di wajah istrinya.


“Tentu saja sayang. Biasanya aku datang ke desa ini dengan mengendap-endap seperti maling. Sekarang aku bisa kesini dengan seluruh keluargaku yang menyertaiku.” Mendengarnya Nathan mengernyitkan alisnya.


“Kamu sering ke sini?” Nathan tidak pernah mendengar Nadia memberitahunya tentang ini. Joni pun sepertinya juga tidak tahu.


“Iya. Setiap tahun setiap akan lebaran aku kesini untuk mengunjungi makam ibu, bapak, Dian dan bapaknya anak-anak.” Nadia menggigit bibir bawahnya saat sadar ia membicarakan mantan suaminya pada suaminya. Meskipun juragan Bondan telah tiada namun Nadia tetap merasa tidak enak membicarakannya di depan Nathan.


Namun tanggapan Nathan justru di luar dugaanya. Suaminya itu justru tertawa terbahak-bahak. Bahkan membuat Nara dan Bisma serta mbah Hana yang tadi tertidur menjadi terbangun karena suara tawa Nathan yang keras.


“Kenapa mas tertawa?” tanya Nadia. “Anak-anak jadi bangun kan.” Nadia kesal. Kedua anaknya baru saja bisa diam setelah hampir tiga jam mendengarkan keduanya ramai di dalam mobil.


“Maaf. Habisnya lucu.” Nathan mengusap kepala Nadia sebelum mengusap air mata yang dia hasilkan dari tawa menggelegarnya. Padahal Nadia yang ada di sampingnya bahkan tidak tahu sebenarnya hal lucu apa yang ditertawakan oleh suaminya itu.

__ADS_1


“Nah sudah sampai.” Nathan menghentikan mobilnya di depan sebuah pemakaman umum. Mereka memang berniat mendatangi makam terlebih dulu begitu sampai di desa.


“Kita ke makam pa, ma?” tanya Bisma heran setelah mereka turun dari mobil. Sebab setahunya mereka akan pergi ke desa untuk mendatangi acara. Bukan ke makam.


“Em.” Nadia mengangguk dan meraih tangan Bisma untuk digandenganya. Sedangkan Nara sudah nyaman berada di dekapan Nathan.


Nathan, Nadia dan Bisma berjalan paling depan. Sementara yang lain mengikuti di belakangnya kecuali sopir yang mengemudikan mobil Panji yang tidak ikut ke makam.


Mereka berhenti di depan dua makam yang saling berdekatan yang merupakan makam ibu dan bapak Nadia.


“Mama ini makam siapa?” tanya Bisma. Ia belum pernah mendengar dua nama yang tertulis di makam. Nara juga menanyakan hal yang sama. Sampai sekarang kedua bocah itu masih belum tahu apa tujuan mereka datang ke tempat peristirahatan terakhir itu.


“Ini makam kakek dan nenek kalian. Bapak dan ibunya mama.” Jelas Nadia sambil menunjuk kedua nisan itu bergantian. Kedua anak itu mengangguk. Keduanya suah tahu itu artinya kakek dan nenek mereka sudah meninggal seperti Minah yang makamnya sering mereka datangi.


Kemudian Nadia duduk di tengah-tengah makam itu bersama Nathan. Sedangkan yang lain duduk melingkarinya.


Nadia terlebih dulu mencabuti rumput-rumput kecil yang tumbuh di atas tanah yang sudah datar itu. Juga membersihkan daun kering yang ada di sana diikuti oleh Nathan.


Setelah kedua makam itu bersih. Nadia mengelus kedua nisan yang bertuliskan nama ibu dan bapaknya bergantian.


“Bapak, ibu, Nadia hari ini kemari dengan membawa keluarga Nadia. Kalian sudah punya dua cucu sekarang. Yang satu tampan, yang satu cantik. Maafkan Nadia karena tidak bisa memberi kesempatan untuk kalian menimang mereka. Bahkan membawa mereka kesini setelah sekian lama.” Nadia mendesah.


Nathan menyentuh pundak Nadia. Memberi kekuatan di sana.


“Bapak, Ibu. Saya Nathaneil Geova Mahardika. Mohon maaf saya telah menikahi putri bapak dan ibu tanpa meminta izin sebelumnya. Saat ini saya datang untuk meminta izin dan do’a agar pernikahan kami berjalan langgeng.” Ucapan Nathan diaminkan oleh semua orang yang hadir disana.


Setelah memanjatkan do’a di sana, Nadia berjalan ke makam yang lain. Tujuannya adalah makam juragan Bondan. Nathan duduk di sebelah Nadia yang duduk di samping makam.


Nadia mengajak kedua anaknya untuk duduk di samping mereka. Mereka berhak tahu siapa yang ada di makam itu.


“Bisma, Nara, yang ini adalah makam bapak kalian. Namanya Bondan. Dia adalah bapak kandung kalian berdua. Bapak sudah lama meninggal. Bahkan kalian masih dalam kandungan saat itu.”


“Bapak yang fotonya ada di kamar kami?” tanya Nara. Nadia memang sengaja memasang foto juragan Bondan di kamar kedua anaknya agar anak-anaknya mengenali bapaknya.


“Benar. Di sini bapak kalian sudah beristirahat dengan tenang.” Nadia mengusap nisan juragan Bondan sebelum membersihkan rumput dan daun-daun seperti Nathan yang lebih dulu melakukannya.

__ADS_1


“Bapak, Nadia datang. Hari ini Nadia membawa Nara dan Bisma. Bapak pasti sudah sangat ingin berkenalan dengan mereka kan? Inilah mereka yang selalu Nadia ceritakan ketika Nadia datang berkunjung.” Ucap Nadia.


“Ehm. Juragan Bondan. Nadia sekarang sudah menjadi istri saya. Harap juragan tidak marah ya?” Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semua orang menahan tawanya.


Bagaimana mungkin orang secerdas Nathan mendadak menjadi tidak masuk akal seperti itu? Orang yang di dalam tanah tidak mungkin bisa marah.


“Sayang, bapak tidak mungkin bisa marah. Lebih baik katakan yang lain daripada membanyol seperti itu di makam. Aneh.”


“Hehehe. Juragan bondan, Nadia sekarang sungguh berani.” Ucapnya yang malah mendapatkan pukulan keras di lengannya dari Nadia. Suaminya benar-benar mengajak bercanda di saat waktu yang tidak tepat.


“Aduh sayang. Sakit.” Nathan mengelus lengannya yang terasa panas menjalar.


“Terserah. Ayo anak-anak.” Nadia menggandeng tangan kedua anaknya dan melewati Nathan begitu saja.


Kali ini Nadia berhenti di depan makam Dian. Bisma dan Nara sudah sering mendengar namanya dalam cerita yang sering diceritakan oleh mama mereka.


“Ini makam mama Dian?” tanya keduanya setelah kedua anak itu saling memandang dan sepertinya membuat kesepakatan dari tatapan itu.


“Kalian benar. Ayo temui mama Dian.”


Di depan malam juragan Bondan, Nathan masih duduk di sana. Banyak hal yang ingin ia ucapkan secara pribadi kepada laki-laki yang dulu jadi rivalnya.


Nathan mendesah dengan pandangan serius ke arah makam.


“Juragan Bondan, saya bukan hanya menikahi Nadia, namun telah menganggap Nara dan Bisma seperti anak saya sendiri. Saya berjanji akan membahagiakan dan melindungi mereka bertiga dengan segenap hati saya. Saya harus akui jika bibit juragan memang unggul. Terbukti dengan Bisma dan Nara yang tumbuh menjadi anak-anak yang naik hati dan cerdas. Jadi do’akan aku dan Nadia juga segera mendapatkan anak yang sama cerdasnya dengan mereka berdua.”


“Aku masih tidak percaya kakakku yang cerdas bisa berbicara sekonyol itu.” Cibir Tasya yang sontak membuat Nathan berbalik. Ia kira tadi sudah tidak ada orang di sekitarnya. Ternyata ada yang memergoki tingkah konyolnya.


*


*


*


Maaf Akoh lama up date nya.🙏

__ADS_1


Musim pancaroba musim batuk pilek yang juga berhasil membuat akoh K.O. dan harus tiduran di atas kasur selama beberapa hari karena pusing yang melanda.😵😵😵


Masih adakah yang nungguin?


__ADS_2