Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_62. Bagaimana Rasanya?


__ADS_3

Nara berusaha keras untuk berjalan dengan normal untuk berangkat ke kampus hari ini. Ia menyesal memberi izin pada Alex semalam. Suaminya itu selalu saja membuatnya terbuai hingga membuatnya lupa semua hal. Termasuk dengan izinnya yang hanya satu kali. Nyatanya, pasangan pengantin baru itu melakukannya beberapa kali hingga Nara ketiduran karena kelelahan.


Akhirnya dengan perjuangan keras Nara selesai dengan urusannya. Dan juga skripsinya sudah dianggap sempurna oleh dosen pembimbing nya.


Setelah keluar dari ruangan dosen, Nara berjalan ke arah kantin tempat ketiga sahabatnya menunggu. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu di kantin kampus dari pada di tempat lain di kampus. Alasannya simpel. Mereka semua suka makan.


Syifa yang melihat Nara memicingkan matanya. Pasalnya sahabatnya itu tidak kelihatan batang hidungnya sejak ia menikah.


“Wah lihat-lihat. Pengantin baru kita sudah datang.” Ucap Syifa yang membuat Gita dan Vera menoleh ke belakang. Nara yang diperhatikan seperti itu menyunggingkan senyumnya.


“Widih udah ada isinya belum?” Syifa menyentuh perut Nara yang duduk di sampingnya.


“Sudah dong. Hari ini Mak Jum memasak tumis kangkung yang sama enaknya dengan buatan mama.” Jawab Nara sambil menyedot jus apel milik Vera.


“Kita salah kalau memiliki niat mengolok Nara.” Ucap Gita. Syifa dan Vera mengangguk setuju. Nara yang tidak mengerti maksud ketiganya mengernyitkan alisnya.


“Bicara sama Nara tidak bisa dengan cara tersembunyi. Kita harus menjelaskannya secara detail pada adik kecil kita yang sudah jadi istri ini.” Syifa menepuk bahu Nara.


“Kalian ini bicara apa sih? Aku nggak ngerti deh.”


“Lupakan saja. Sekarang lebih baik kamu ceritakan bagaimana malam pertamamu?” pertanyaan Syifa membuat wajah Nara memerah. Gadis itu menggoyangkan kakinya karena malu.


“Memerah. Itu artinya kalian sudah melakukannya kan?” Vera menyenggol lengan Nara.


Nara mengangguk dengan malu-malu.


“Bagaimana rasanya?” tanya Gita penasaran.


“Nggak usah bahas itu deh. Malu tahu.” Nara segera menandaskan es teh milik Syifa. Membuat sang pemilik geleng-geleng kepala.


“Ayolah Nara. Tidak perlu malu. Kami kan juga ingin tahu.”


“Iya Nara. Ayolah.”


“Kalau kamu tidak mau menceritakan nya. Katakan pada kami bagaimana rasanya? Katanya waktu pertama kali itu sakit ya?” Syifa bertanya dengan antusias.

__ADS_1


“Iya. Saaakiit banget. Kayak ada yang sobek. Kalian tahu. Di sepray sampai ada darahnya. Tapi setelah itu...” Nara menutup wajahnya.


“Setelah itu apa?”


“Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Aku bingung bagaimana menjelaskannya. Semua terjadi begitu saja.” Sampai sekarang Nara saja tidak bisa menjabarkan bagaimana ia bisa begitu terbuai saat mereka melakukannya. Dia hanya merasa jika setiap kali Alex melakukannya ia akan lupa segalanya. Yang ada dia hanya akan menikmati sensasi yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.


“Enak?”


“Enak.” Jawab Nara cepat. Lalu dengan segera ia menutup mulutnya.


“Aah. Aku jadi ingin menikah.” Syifa menangkupkan tangannya.


“Pacar saja nggak punya. Mau nikah sama siapa?” perkataan Gita menusuk hati Syifa. Gadis itu baru saja putus dengan kekasihnya dua hari yang lalu karena sang kekasih selingkuh.


“Kamu putus sama Dion?” Nara yang memang sudah lama tidak ikut berkumpul tidak mendengar kabar ini. Dulu ia sempat merasa iri saat melihat Syifa dan Dion terlihat mesra.


“Iya. Masak dia selingkuhin aku sih. Mana aku udah sayang lagi sama dia.” Syifa berkata dengan kesal. Jika mengingat kejadian dua hari lalu saat ia memergoki Dion sedang bermesraan di bioskop dengan cewek lain, ingin rasanya ia kembali melampiaskan kekesalannya dengan menjambak rambut Dion yang selalu tampak macho itu sampai puas.


“Ya udah lah Fa. Mending ketahuan sekarang dari pada nanti saat kamu sudah mantap mau menikah.” Gita menepuk pundak Syifa.


Mereka melanjutkan berbincang sambil sesekali bercanda. Mereka berusaha menghabiskan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena setelah masa kuliah ini selesai mereka pasti memiliki kehidupan masing-masing.


Gita dan Syifa berencana untuk melanjutkan S2 nya di luar negeri. Sedangkan Vera ingin langsung bekerja. Dan untuk Nara, tidak perlu ditanya. Nara bahkan belum berpikir tentang masa depannya.


“Eh aku balik dulu ya. Barusan Alex chat aku minta dibawain makan siang. Di kantor sedang sibuk. Jadi nggak sempat keluar.” Pamit Nara sambil meraih tas dan juga memasukkan ponsel miliknya.


“Halah alasan. Bilang aja kalau sudah kangen. Hihihihi.” Syifa sengaja menggoda Nara. Terbukti dengan pipi Nara yang berangsur memerah. Melihat Nara ya g seperti ini membuatnya terlihat seperti seorang ABG yang baru merasakan cinta untuk pertama kalinya.


“Nggak lah. Aku kan baru ketemu tadi pagi.”


“Tapi udah kangen lagi. Hahahaha.” Gita dan Vera melakukan hi-five yang semakin membuat Nara merasa malu.


“Ah sudahlah. Aku duluan.” Nara dengan tergesa-gesa berjalan meninggalkan ketiga temannya yang masih menahan tawa mereka.


Melihat Nara begitu bahagia membuat ketiganya ikut merasa bahagia. Setidaknya mereka akan lega saat mereka akan meninggalkan Nara nantinya. Pertemanan yang sudah terjalin hampir empat tahun lamanya membuat mereka sudah seperti saudara.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Mobil yang dikendarai Nara baru saja terparkir apik di parkiran depan kantor Amerta. Namun setelah sepuluh menit berlalu setelah mobil itu berhenti, belum ada tanda-tanda sang pemilik akan keluar dari dalamnya. Saat ini Nara masih memperhatikan gedung tinggi menjulang dari balik kaca mobil nya.


Dulu ia masuk ke dalam gedung ini sebagai seorang mahasiswi. Sedangkan saat ini statusnya sudah jauh berbeda. Tentu saja ada perasaan yang kurang nyaman. Nara sedikit khawatir terhadap respon karyawan yang bekerja di kantor suaminya ini.


“Sayang kenapa lama sekali?” Alex merengek melalui sambungan telepon nya.


“Aku sudah di bawah. Tapi aku ragu mau masuk.” Jawab Nara jujur.


“Kenapa? Ah. Kalau begitu aku akan turun untuk menjemput mu.”


“Ti...” namun kata “tidak perlu” yang akan diucapkan Nara tidak sampai di telinga Alex karena laki-laki itu telah memutuskan telepon mereka. Nara mendengus dan keluar dari dalam mobil.


Dengan kotak nasi di tangan kanannya dan tangan kanan menenteng tas jinjing miliknya, Nara masuk ke dalam kantor. Suasana kantor sedang ramai karena saat ini jam istirahat. Banyak karyawan yang berseliweran di lobi dan lorong yang dilewati Nara.


Melihat keramaian itu membuat rasa khawatir Nara kembali muncul. Ia khawatir akan ada yang tidak menerima pernikahan nya dengan Alex.


Namun setelah sekian lama ia berjalan, bukan hanya tidak mendapatkan respon yang buruk, malah ia mendapatkan banyak sapaan dan penghormatan.


Saat Nara hampir memencet tombol lift biasa, lift khusus petinggi yang ada di sampingnya terbuka. Menampilkan sosok Alex yang tersenyum lebar menyambut istrinya.


“Hai sayang. Kenapa kamu naik melalui lift itu? Mulai sekarang kamu bisa memalui lift khusus ini.” Alex keluar dan meraih pinggang Nara. Dan dengan tanpa diduga mencium bibir dan pipi Nara di depan semua orang. Membuat semua orang terdiam membeku hingga beberapa saat.


Inikah atasan mereka yang dingin? Apakah atasan mereka berubah menjadi tidak tahu malu setelah menikah?


Kenyataannya, Alex melakukan semua itu untuk menunjukkan pada semua orang seperti apa posisi Nara di hidupnya. Memberi tahu semua orang bahwa mereka semua harus memperlakukan dan menghormati Nara seperti mereka menghormatinya. Semua itu untuk mendukung ucapannya pada beberapa hari yang lalu. Tepat sehari setelah mereka menikah.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2