Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
37. Harapan Untuk Masa Depan


__ADS_3

Begitu turun dari mobil, sudah ada Mbok Darmi yang siap membantu Nadia. Joni telah menghubungi salah satu pembantu di rumah besar itu. Dengan dipapah oleh wanita paruh baya itu Nadia berjalan ke kamar.


Saat berada di ruang televisi tempat dimana pintu kamarnya berada ia bertemu dengan dua orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Ya, Bu Devi dan Yulia sudah duduk manis disana. Menikmati waktu bersantai mereka dengan menonton televisi.


“Eh nyonya Muda sudah pulang.” Yulia segera menegakkan duduknya sambil melipat kedua tangannya. Nadia bergeming. Ia sedang tidak ingin berdebat sekarang. Tubuhnya masih lemas.


“Sudahlah Yulia. Jangan menganggu ibu tirimu yang sedang berduka atas kematian anaknya.” Kata-katanya memang bijak. Sudah seperti orang selayaknya. Namun nada yang ia gunakan jelas menyiratkan arti sebuah olokan.


“Ibu benar. Kasihan sekali ya. Padahal dengan anak itu cita-citanya untuk mendapat warisan dari bapak bisa terwujud. Tapi sayangnya Tuhan tidak berpihak kepadanya. Sepertinya Tuhan lebih senang membuatmu hidup susah dan memberikan harta warisan kepada orang yang memang pantas mendapatkannya. Ck ck ck. Mulai sekarang berusahalah lebih rajin.”


Nadia menghentikan langkahnya tepat di depan kamar. Kemudian dia berbalik untuk menatap tajam kedua wanita dengan mulut berbisa yang sedang duduk santai.


“Ck ck ck. Kau ini sungguh keterlaluan mbak Yuli. Bapak masih sehat bugar wasiat sudah kamu bahas. Memangnya kamu berharap bapak mati cepat?” Yulia tidak bisa mengelak. Memang dialah yang memulai pembahasan. Sebuah rasan pada rok hitam yang ia pakailah yang menjadi pelampiasan kekesalannya.


“Sudahlah cepat masuk ke dalam kamarmu. Mataku sakit lama-lama melihatmu.” Bu Devi mengibaskan tangannya. Mengusir Nadia untuk segera pergi dari sana.


“Kalau memang melihatku yang memiliki wajah muda cantik berseri ini bisa sakit mata, lalu apa yang akan terjadi jika melihat wajahmu Nyonya Besar? Aih... Pasti pingsan. Sungguh kasihan....” Nadia mencibir. Kemudian dia menggelengkan kepalanya membayangkan seseorang yang pingsan ketika melihat Bu Devi.


Nadia mengakhiri perdebatannya dengan masuk ke dalam kamar. Niatnya untuk mengistirahatkan otaknya sudah gagal. Niat awal ingin segera masuk kamar dan beristirahat, siapa sangka yang begitu sampai di rumah sudah disambut dengan ajakan debat yang tidak bisa ditolak.


Jika mereka tidak lebih dulu menyinggungnya, Nadia pasti akan diam saja. Berjalan dengan berpura-pura tidak ada siapa-siapa yang ada disana. Namun, mereka beraninya menyinggung seorang anak yang bahkan tidak sempat dilahirkan dengan begitu kejam.


Dalam benak Nadia, tidak ada sedikit pun niatnya untuk menikmati sisa hidupnya dengan harta yang disebut harta warisan dari juragan Bondan. Dalam rekening yang ia punya saja, ia tidak akan hidup kekurangan.


Setiap bulan, juragan Bondan selalu memasukkan uang bulanan ke rekeningnya dengan jumlah tiga puluh juta, dan Nadia bukanlah orang yang suka berbelanja dan menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Jadi tidak heran jika uang dalam rekeningnya sudah menumpuk hingga ratusan juta hampir mencapai satu milyar.

__ADS_1


“Hati-hati nyonya muda.” Mbok Darmi membantu Nadia berbaring di ranjangnya. Selama seminggu ke depan, Nadia disarankan untuk bedrest. Dan selama itu pula, mbok Darmi akan menjadi pelayan pribadinya. Sesuai permintaan Nadia. Bukan tanpa alasan Nadia memilih wanita tua itu, Nadia tahu jika Mbok Darmi kekurangan istirahat. Jadi selama satu minggu ini bisa dimanfaatkan untuk mbok Darmi istirahat. Sedangkan pekerjaan rumah tangga lainnya sudah banyak pembantu lain yang akan mengerjakannya.


Nadia duduk bersandar di kepala ranjang. Mbok Darmi meletakkan bantal di belakang punggungnya agar wanita muda itu merasa nyaman.


“Saya turut menyesal nyonya.” Kata mbok Darmi sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


“Kenapa mbok yang menyesal?”


“Ini semua pasti ada hubungannya dengan makanan atau minuman yang saya siapkan.”


“Ini bukan salahmu Mbok. Ini memang jalan takdir yang harus aku lalui.”


“Ini kelalaian saya Nyonya. Sayalah yang menjadi kepala pembantu. Seharusnya saya memastikan apa yang nyonya konsumsi sudah aman.”


“Jangan menyalahkan diri sendiri mbok. Ini sudah menjadi kehendak-Nya. Tandanya, Tuhan sayang kepadaku mbok. Tuhan sudah menyiapkan anakku di sisi-Nya sebagai tabunganku yang akan menyelamatkanku di sana.” Nadia mengusap air mata Mbok Darmi yang keluar dari kedua bola mata yang meneduhkan jika dipandang.


“Aku tidak sekuat itu mbok. Tapi ada hal yang bisa mbok lakukan untuk membuatku menjadi sekuat yang mbok bilang.” Kedua mata Nadia menyiratkan begitu banyak harapan. Mata yang terlihat sendu selama berada di rumah sakit sekarang telah menghilang. Tergantikan dengan mata yang bening yang ceria.


“Apa pun yang bisa saya lakukan akan saya lakukan untuk anda Nyonya.”


“Do’akan aku Mbok. Mbok, sudah berapa kali aku meminta Mbok untuk memanggil namaku saja jika kita bersama. Kupingku rasanya gatal mendengar mbok memanggilku dengan panggilan yang membuatku merasa tua. Sudah cukup aku merasa tua di luar sana. Masak sepanjang hari aku harus mendengarkan panggilan menyebalkan itu.”


Mbok Darmi hanya tersenyum. Wanita di depannya ini, meskipun usianya bahkan tidak ada separuh dari usianya, tapi kedewasaan dan cara fikirnya membuatnya kagum. Aura yang dikeluarkanpun sangat agung. Dia bahkan tidak bisa untuk tidak hormat padanya. Dalam waktu dua tahun ini, ia sangat mengenal karakter Nadia dengan tepat. Wanita muda yang baik, sabar, tegas dan tidak berambisi pada harta. Mbok Darmi juga tahu jika Nadia tidak akan mengganggu siapapun yang tidak mencari gara-gara dengannya.


"Walaupun usia nyonya muda sangat jauh di bawah saya, namun panggilan itu sangat cocok untuk nyonya. Bukan karena anda terlihat tua, melainkan anda terlihat berwibawa. jadi jangan meminta saya menghilangkan panggilan itu. Karena dengan sangat menyesal saya akan menolaknya."

__ADS_1


"Huh! Baiklah Mbok. Lakukan apa yang mbok mau. Saya tidak mau berdebat dengan orang tua lagi. hihihi" Nadia terkikik pelan. sekali-kali bercanda dengan orang tua seperti mbok Darmi ternyata asik juga.


Lama mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol. Membahas banyak hal yang terjadi di desa selama Nadia berada di rumah sakit. Mengenai sanggar keterampilan yang sedang mendapatkan proyek besar.


Tas lukis yang mereka hasilkan disukai banyak orang. Bahkan pasar mereka sudah menembus luar kota. Dan kini jumlah wanita yang tergabung dengan sanggar juga semakin banyak. Pemuda desa juga ikut berpartisipasi. Mereka yang bertugas mengantarkan barang pesanan.


Senyum kembali Nadia merekah mendengar kabar perkembangan sanggar binaannya. Ini artinya, misinya sebentar lagi akan tercapai. Menghilangkan kebiasaan buruk warga yang terbiasa bergantung pada hutang untuk menyelesaikan masalah perekonomian keluarganya.


Meskipun gaji yang para wanita peroleh dari sanggar tidaklah banyak, namun setidaknya mereka tidak akan lagi kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sedangkan para laki-laki bisa terbantu dan akan lebih semangat dalam melunasi hutang yang mereka miliki.


“Semua ini berkat anda nyonya, saya yakin desa ini suatu saat akan terkenal dwngam baebagai macam jenis keterampilan."


"Itu harapan untuk masa dengan yang indah Mbok. Aku adalah orang yang paling bahagia jika hal itu benar-benar terjadi suatu saat nanti."


"Saya yakin itu akan segera terwujud."


"Aamiin."


*


*


*


...~*{ Aku Istri Muda}*~...

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 😘


Kalu sudah mampir, tanda likenya 👍disentuh ya...😎


__ADS_2