
Nara menghela napas lega saat keluar dari kamar Nadia. Ia bahkan harus memaksa Nadia meminum obat tidur agar dapat beristirahat dengan tenang. Ia meminta Dini menemani mama mereka malam ini. Sedangkan dirinya sendiri akan kembali ke rumah sakit. Ada beberapa hal yang perlu dia lakukan dengan Bisma.
Sebelum berangkat ke rumah sakit kembali, Nara masuk ke dalam kamarnya. Mengambil jaket dan juga laptop milik nya. Selain itu, ia juga mengambil beberapa dokumen dari ruang kerja Bisma dan Nathan.
**
“Aku akan jaga papa malam ini. Kalian pergi saja untuk mengurus semuanya.” Ucap Gerry saat melihat Nara baru sampai. Ia tahu jika kedua kakaknya akan sibuk malam ini. Dia sendiri tidak akan bisa membantu. Jadi dia akan mengambil tanggung jawab menjaga papa mereka.
“Kamu sudah semakin dewasa.” Ucap Nara bangga. Gerry tersenyum kecil mendengar nya.
“Karena kamu sudah jadi laki-laki dewasa, lakukan tugasmu dengan baik disini. Jaga papa dengan sepenuh jiwa.” Mendengar ucapan Bisma, kedua adiknya saling memandang. Mereka bukan akan menghadapi perang. Tapi ya biarlah. Kata-kata itu memang tidak cocok, tapi sesuai dengan keadaan.
Setelah memastikan jika semua akan baik-baik saja, Bisma dan Nara pergi dari rumah sakit. Memasrahkan Nathan untuk dijaga Gerry. Adik playboy mereka.
Nara dan Bisma pergi ke kantor pusat dengan satu mobil. Mereka akan mulai bergerak sekarang.
Sebelumnya, Bisma telah memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan barang-barang yang diminta oleh Nara sebelumnya. Dan malam ini mereka akan memeriksanya. Mencari setiap celah untuk bisa memperbaiki keadaan yang ada.
Laptop di pangkuan Nara juga sudah dia nyalakan. Ia membuka file mengenai rancangan produk mereka yang telah bocor. Melihat setiap detail dari setiap benda.
“Apa sebenarnya rencanamu Nara? Kakak harap ini bukanlah ide yang buruk.” Ucap Bisma setelah melirik Nara yang tengah sibuk.
“Tentu saja tidak. Aku pastikan kita akan berhasil.” Jawab Nara pasti. Bisma mendengar dengan jelas semangat pada diri Nara. Kadang dia merasa iri pada semangat Nara yang seperti tiada habisnya.
Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mereka sampai. Padahal Bisma sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun memang jarak yang memang jauh membutuhkan banyak waktu.
Gedung kantor pusat yang berdiri menjulang tinggi itu sudah sepi. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan jam kantor sudah berakhir sejak jam lima sore. Tentu saja yang tersisa hanyalah dua orang satpam yang sedang berjaga di luar gerbang.
Saat mobil yang dikendarai Bisma masuk ke dalam gerbang, salah seorang satpam mendekati mobil karena melihat kaca mobil yang diturunkan. Kemudian ia Membungkuk untuk menyapa anak dari pemilik perusahaan itu. Nara yang mengetahui jika mereka sudah sampai segera mengemasi barang-barang nya bersiap untuk turun
“Adi sudah di dalam?” tanya Bisma pada sang satpam.
“Sudah tuan. Pak Dandi juga sudah ada di dalam.” jawab satpam itu.
__ADS_1
“Baiklah. Kami masuk dulu.” Satpam mengangguk sebelum mundur dua langkah. Bisma menaikkan kaca jendelanya sebelum kembali melajukan mobilnya.
Mobil berhenti di depan lobi. Nara dan Bisma bergegas turun membawa barang-barang mereka. Mereka berjalan tergesa menuju lantai teratas. Tepatnya di ruangan sang papa.
Ketika Bisma dan Nara masuk ke dalam ruangan, dua orang yang sedang duduk di sofa dengan berkas di tangan mereka segera mendongak. Melihat kedua orang yang baru saja datang dengan wajah penuh harap.
“Bisma, Nara, bagaimana keadaan tuan Nathan?” tanya pak Dandi yang merupakan asisten pribadi Nathan. Laki-laki yang sudah berumur itu terlihat sangat khawatir terhadap keadaan sang bos.
“Masih belum ada perkembangan.” Bisma menghela napas berat. Beban yang ia dan Nara tanggung tidak main-main. Bukan hanya tentang perusahaan keluarga, melainkan nasib dari ribuan orang yang menggantungkan Mahardika grup sebagai tempat menggantungkan asa.
“Tuan Nathan adalah orang yang baik. Tuhan pasti akan menjaganya.” Ucap pak Dandi tulus.
“Pak Dandi benar. Beliau pasti akan segera sembuh dan dapat kembali memimpin perusahaan ini.” Timpal Adi.
“Meskipun tidak ada papa disini. Aku harap kita berempat bisa membalikkan keadaan yang ada dan mengembalikan kejayaan Mahardika kebanggaan kita. Saat ini, papa mengandalkan kita untuk menyelamatkan perusahaan. Apa kalian sanggup?” ujar Nara dengan semangat. Semangat empat limanya berimbas pada tiga laki-laki yang bersamanya.
“Oke. Kita harus berjuang. Semangat!!” Adi mengepalkan tangan kanannya di udara.
“Mana barang yang aku minta?” tanya Bisma serius. Mereka tidak punya banyak waktu.
Terlihat beberapa peralatan dapur di ruangan itu. Mereka dipisahkan menjadi dua kelompok. Sangat jelas untuk memudahkan dalam mengenali mana yang asli dan mana yang imitasi karena dari bentuk dan bahkan warna pun hampir sama.
Nara langsung memeriksa setiap barang. Ketiga laki-laki yang bersamanya melakukan hal yang sama. Mereka membandingkan dua barang yang terlihat sangat mirip. Memeriksa semuanya secara mendetail. Mencocokkan dengan penjelasan mengenai produk mereka dengan produk imitasi.
Hampir satu setengah jam mereka mengamati barang-barang tersebut. Mereka semua harus teliti. Perbedaan sekecil apapun harus mereka perhatikan.
“Ini mustahil. Selain bahan yang digunakan, semuanya mirip.” Kata pak Dandi. Laki-laki itu terlihat frustasi.
“Bukan hanya bahan om. Tapi efisiensi penggunaan juga berbeda.”
“Itu memang benar. Bahan yang mereka gunakan merupakan kualitas nomor dua. Tentu saja tidak bisa disamakan dengan produk kita yang menggunakan bahan terbaik.” Ucap Bisma.
“Perbedaan bahan itu lah yang membuat harga keduanya terlampau jauh.” Tutur Adi.
__ADS_1
“Jika masyarakat pandai dlaam memilih. Mereka seharusnya lebih memilih produk kita. Bukan yang imitasi.” Tutur pak Dandi.
“Tapi di mata masyarakat, barang kita lah yang merupakan barang imitasi pak. Produk kita baru terbit setelah barang mereka satu bulan beredar di pasaran.” Jelas Bisma. Ia menghela napas berkali-kali. Mereka pun tidak bisa memberi tahu jika produk mereka lah yang asli.
Untuk para pelaku yang berbuat curang, mereka tidak akan pernah dilepaskan. Tapi untuk sekarang, masalah yang paling penting adalah menyelesaikan masalah produk yang terancam gagal louncing. Walaupun bisa louncing tetap tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Biarlah mereka tertawa dahulu sekarang. Setelah semua ini selesai, semua bukti akan segera terkumpul dan kebahagiaan mereka tidak akan bertahan lama.
“Lalu bagaimana? Semua barang ini sudah menghabiskan banyak modal. Mau dijadikan apa?”
“Aku tahu.” Nara menjentikkan jarinya. Kemudian meminta ketiga orang itu mendekat ke arahnya.
Mendengar ucapan Nara, harapan tiba-tiba seperti terbit. Mereka kembali antusias. Mereka yakin masalah ini dapat diatasi dengan segera asalkan mereka dapat bersatu dan bekerja sama.
Untuk masalah barang-barang itu setidaknya sudah bisa dikatakan teratasi. Tinggal bagaimana cara untuk meyakinkan para pemegang saham agar tetap bertahan dan tidak menarik tangan mereka.
Untuk menyelamatkan perusahaan sebesar Mahardika, semua harus bersatu dan saling percaya.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🥰
Penasaran bagaimana Nara dan Bisma menyelesaikan masalah mereka?
Bagaimana juga kisah cinta Nathan dan Nadia selanjutnya?
Apakah Nathan akan segera sembuh dan mereka dapat menikmati masa tua mereka bersama?
Apakah justru mereka akan terpisah karena kepergian Nathan untuk selamanya?
__ADS_1
Penasaran???
Kasih jempol 👍dulu dong biar akoh semangat lanjutin cerita ini....🤩