Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
47. Perkembangan yang Menggembirakan


__ADS_3

Pengaturan kepindahan Dian dan Bu Minah dilakukan dengan begitu tapi hingga tidak ada yang menyangka jika kepergian keduanya dari desa disebabkan oleh Dian yang dalam keadaan depresi dan sedang hamil.


Dian telah lebih dulu dibawa keluar dari desa pada tengah malam. Posisi rumah Bu Minah yang berada di pinggir desa memudahkan prosesnya. Setelah keluar dari desa, Dian dibawa ke rumah salah satu saudara Joni yang berada di luar desa.


Sedangkan Bu Minah keluar dari desa ketika pagi harinya. Kepada para tetangga, Bu Minah memberi alasan bahwa ia akan menyusul Dian ke rumah kerabatnya dan akan merantau di desa. Jadi nantinya tidak akan ada yang mencurigainya.


Baik dari pihak Nadia maupun dokter Nathan, tidak ada yang bergerak secara langsung. Kendaraan yang dipakai juga merupakan kendaraan rental. Joko dan Joni hanya mengawasi dari jauh, memastikan semua berjalan dengan lancar.


Dokter Wisnu, dokter psikolog yang dipercayai oleh dokter Nathan untuk merawat Dian. Gadis muda itu akan berada dalam perawatannya sampai sembuh. Melihat kondisinya, Dian tidak akan lama menderita depresi.


Tiga bulan setelah Dian dirawat, perubahan besar sudah terjadi. Perkembangan yang sangat bagus. Kondisi janinnya juga sehat. Kini perut Dian sudah terlihat sedikit menonjol, usia kandungannya sudah menginjak lima bulan. Bu Minah selalu memberi support untuk anaknya. Selalu mendampingi di setiap sesi pengobatannya. Kata Dokter Wisnu, hal itulah yang paling penting.


Nadia juga mengambil paket kecantikan, meskipun bukan di salon yang ia tunjukkan dan harga yang jauh di bawahnya. Seminggu sekali ia akan menjalani perawatannya dan dua minggu sekali menyempatkan diri mengunjungi Dian.


Dokter Nathan sendiri secara rutin selalu mengontrol kondisi Dian setiap hari melalui dokter Wisnu. Dan seminggu sekali akan datang secara langsung.


Hari ini secara kebetulan, Nadia dan dokter Nathan berkunjung secara bersama. Keduanya yang jarang bertemu masih meninggalkan kecanggungan sejak kejadian tiga bulan yang lalu.


“Wah kebetulan sekali dokter juga berkunjung.” Kata Joni saat dia menunggu Nadia di teras rumah tempat Dian tinggal. Dokter Nathan baru sampai saat itu.


“Ah iya Jon. Saya juga tidak menyangka kita kebetulan bertemu. Emmm...?”


“Nadia di dalam. Kami sudah setengah jam di sini. Dokter Wisnu juga berada di dalam.”


“Baiklah. Kamu tidak masuk?”


“Tidak dokter. Saya tidak tega lihat Dian. Masih muda sudah mengalami banyak hal seperti ini.”


“Hem. Kamu benar. Ya sudah saya masuk dulu ya Jon.”


“Siap dokter.”


Dokter Nathan masuk ke dalam rumah. Dian sedang melakukan terapinya. Jadi, Nadia lebih memilih untuk menunggu sambil membuat makan siang untuk mereka. Sudah lama Nadia tidak melakukan kegiatan favoritnya itu. Yah, semenjak menikah tidak pernah sekalipun ia masuk dapur untuk masak.


Nathan yang tidak menjumpai siapa pun di ruang tamu segera masuk ke dalam. Ia mendengar sayup-sayup suara dari kamar Dian. Jadi ia menyimpulkan jika terapinya belum selesai. Dokter Nathan duduk di ruang keluarga. Menyalakan benda kotak itu dan menonton acara yang sedang diputar.

__ADS_1


“Jon. Tolong kesini sebentar.” Nadia yang mendengar ada suara televisi menyala mengira jika itu adalah Joni. Karena tak mendapat sahutan, Nadia menghampiri.


“Oh ternyata dokter.”


“Iya bu Nadia. Selamat siang.”


“Siang juga dokter.”


“Bu Nadia ada apa mencari Joni?”


“Gasnya habis. Saya tidak bisa memasangnya.”


Mendengar itu, dokter Nathan menawarkan bantuannya. Ia segera berdiri saat Nadia mengiyakan. Dokter Nathan mengikuti Nadia dari belakang.


“Bu Nadia sedang masak?” hah, pertanyaan yang aneh. Sudah jelas Nadia sedang masak. Sebuah celemek terpasang di tubuhnya. Dan sebuah panci yang berisi sup ayam masih mengepul di atas kompor yang padam. Di dapur juga tidak ada orang lain selain Nadia, jadi sudah pasti Nadia lah yang memasak.


“Iya dokter. Sudah lama saya tidak masak. Bu Minah juga sedang sibuk.”


“Saya salut dengan Bu Minah. Dia berhasil menumbuhkan semangatnya.” Kata dokter Nathan sambil memasang tabung gas.


“Benar Dok. Saya awalnya tidak percaya jika dia tega melalukan itu pada Dian. Bu Minah dari dulu terkenal baik dan sangat menyayangi Dian.” Nadia berdiri tak jauh darinya.


“Sudah menyala dokter. Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Setelah melaksanakan tugasnya, dokter Nathan tidak kembali menonton televisi. Ia lebih memilih menemani Nadia masak. Dia mendudukkan diri di meja makan yang bersebelahan dengan dapur.


Kebetulan rumah yang mereka sewa bergaya modern, letak dapur dan ruang makan berdampingan. Bahkan terkesan menjadi satu. Sehingga Nadia yang sedang sibuk memasak terlihat jelas dari tempat duduk dokter Nathan. Keduanya terlibat pembicaraan mengenai kondisi Dian dan juga keadaan desa.


Nadia terlihat lebih cantik hari ini. Dengan rambut yang ia gelung sembarangan menampakkan lehernya yang halus berwarna kuning langsat. Terlihat sangat menggoda. Apalagi dengan peluh yang menghiasi dahinya. Membuat sesuatu dalam diri dokter Nathan berdesir.


Dengan godaan yang mampu menggoyahkan iman, akhirnya dokter Nathan menyerah. Ia tak mau lebih dalam jatuh dalam pesona istri orang. Dia segera pamit dengan alasan menemani Joni di luar.


Tepat saat makanan sudah matang, sesi terapi Dian selesai. Gadis itu berjalan dengan senyuman mengembang di bibirnya. Bu Minah berjalan di sampingnya. Wajahnya juga terlihat bahagia. Mereka berdua segera menemui Nadia yang sedang menata masakannya ke atas meja.

__ADS_1


Dokter Wisnu yang keluar tak lama setelah Dian dan Bu Minah keluar segera pergi ke ruang tamu. Dokter Nathan sudah menunggunya disana.


“Lho nyonya Muda yang masak?” tanya Minah kaget. Dia tidak menyangka jika Nadia akan mau merepotkan dirinya untuk memasak makanan yang begitu banyak.


“Iya bu Minah. Kita sedang berkumpul. Jadi akan sangat menyenangkan jika bisa ngobrol sambil makan siang bersama.” Kata Nadia.


“Benar nyonya. Saya dengar dari dokter Wisnu, dokter Nathan juga sedang berkunjung.”


“Benar. Bagaimana kabarmu hari ini Dian?” tanya Nadia pada Dian yang sudah duduk di kursi meja makan.


“Saya baik nyonya muda.” Jawab Dian. Dia sudah sangat baik. Bisa dikatakan dia sembuh sekarang.


Nadia mendekati Dian. Kemudian mengelus lembut perutnya. Ia jadi teringat akan calon anaknya yang telah tiada.


“Ah. Andai saja saya tidak keguguran saat itu, pasti perutku juga akan lebih besar dari punyamu Dian.” Air mata menetes dengan tanpa disadari. Nadia buru-buru menghapusnya. Bu Minah memang sudah tahu jika alasan Nadia dirawat saat itu karena dia keguguran. Dan di saat itulah kejadian nahas yang menimpa Dian bermula.


Dian meraih tangan Nadia yang baru saja digunakan untuk mengelap air matanya, lalu ia meletakkan telapak tangan itu ke atas perutnya.


“Anak saya akan beruntung jika memiliki ibu seperti nyonya muda.” Kata Dian tiba-tiba. Membuat Nadia dan Bu Minah terdiam.


“Apa maksudmu Dian?”


“Setelah anak ini lahir, saya akan menyerahkannya pada anda. Biarlah ia menjadi ganti anak nyonya Muda yang telah tiada.”


“Itu tidak perlu Dian. Kepergian anakku adalah menjadi takdirku. Anakku sudah tenang disana. Ia sedang menungguku di surga. Tidak perlu ada ganti untuk itu. Kamu harus ingat, tidak ada yang bisa memisahkan ibu dari anaknya. Kamu ibunya. Jadi anak ini pasti lebih baik bersama ibunya.”


Nadia bersyukur dalam hati. Dian sudah dalam kondisi yang sangat baik sekarang. Usahanya berhasil sampai saat ini. Dan sekarang tinggal memastikan bayi yang ada di kandungan Dian lahir dengan selamat.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😍

__ADS_1


Kalau sudah mampir jangan pergi tanpa meninggalkan jejak ya 😉


Jadilah reader budiman yang menghargai karya orang lain. Budayakan Like 👍 setelah membaca sebuah karya. Okrek 😎


__ADS_2