
Nadia memulai harinya seperti biasa. Seperti tidak ada yang terjadi pada Narti kemarin. Katakanlah jika Nadia tidak memiliki hati. Tapi ini memang dikarenakan sudah terbiasa menghadapi hal yang seperti ini.
Berulang kali Nadia mencoba menyelamatkan para korban dari sang suami dan juga istri pertamanya. Dan, tidak sekali dua kali Nadia menerima hasil akhir sebuah kekalahan dengan korban yang kehilangan janin ataupun nyawa. Huft. Kadang Nadia merasa hidup di hutan. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa.
Demi keselamatan dirinya, Nadia juga harus ekstra hati-hati dalam bertindak. Itulah mengapa selama ini ia terlihat seperti air tenang di permukaan. Ia tak mau orang lain yang merupakan musuhnya mengetahui jika dia sedang berusaha mengumpulkan bukti untuk menjerat pelaku.
“Kamu kelihatan pucat Nyonya Muda.” Cibir Yulia saat mereka sedang sarapan. Juragan Bondan yang sedari tadi duduk tenang menikmati sarapannya mau tidak mau menoleh ke arah Nadia.
“Apakah kamu sakit sayang?” Juragan Bondan menatap lekat Nadia. Wanita itu baik-baik saja pagi ini. Bahkan semalam Nadia masih bisa bermain dengannya sampai tiga ronde.
“Tidak apa-apa. Mungkin hanya kecapekan karena semalam.” Alasan yang membuat Desi tersenyum kecut. Ia tahu betul maksud dari istri muda suaminya.
“Ahahaha. Maafkan aku sayang. Tubuhmu terlalu enak untuk diabaikan.” Kelakar juragan Bondan. Pergulatan panas semalam memang membuatnya tidak ingin mengakhiri malam. Kemarin malam ia keluar kota, sehingga tidak dapat menghabiskan malamnya dengan istri mudanya. Bahkan dua orang pelac*r yang ia sewa nyatanya tidak dapat memenuhi birahinya seperti Nadia.
“Jangan lupa minum vitamin Nadia. Aktifitasmu padat kan?” sinta, yang malam tadi baru datang memberi Nadia perhatian. Sejujurnya Nadia sangat merindukan sahabatnya itu. Tapi hari ini jadwal di sekolah sedang padat.
“Hem.”
Setelah itu tidak ada yang dibicarakan. Makan dalam diam. Nadia sendiri sibuk memikirkan rencana selanjutnya. Untuk kasus Narti memang sepertinya sudah selesai. Tidak akan ada lagi hal yang bisa diambil sebagai barang bukti.
Juragan Bondan mengelap mulutnya dengan sapu tangan setelah meletakkan sendoknya di atas piring. Menandakan jika ia sudah selesai makan.
“Ada yang tahu tentang kematian Narti?” tanya Juragan Bondan mengejutkan semua orang. Selama ini rentenir itu tidak pernah mau tahu kasus yang menimpa salah satu wanitanya. Kenapa sekarang tiba-tiba?
“Aku dengar rumahnya terbakar.” Kata Desi seperti tidak tahu apa-apa. Padahal kami semua tahu bahwa dialah dalang dibalik kejadian ini.
“Aku harap hati-hati dalam bertindak. Salah sedikit saja aku tidak akan pernah mau ikut campur.”
Juragan Bondan berdiri setelah mengucapkan kata-kata yang ambigu.
Desi segera menggeser kursinya untuk berdiri. Meraih tangan juragan Bondan untuk mencium punggung tangannya. Begitupun dengan Nadia. Wanita itu bangun dan mengecup punggung tangan suaminya.
“Jika kamu sakit tidak usah pergi ke sekolah.” Juragan Bondan mengusap surai Nadia yang digerai.
__ADS_1
“Tidak apa-apa pak. Setelah minum vitamin dan suplemen pasti akan aku akan segera pulih.”
“Baiklah kalau begitu.” Juragan Bondan mencium kening Nadia
“Pergilah ke salon. Malam ini aku akan tidur di kamarmu.” Kata Juragan Bondan menatap Desi. Memberinya perintah mutlak. Desi hanya mengangguk dan tersenyum penuh kemanangan.
Setelah selesai dengan kedua istrinya, juragan Bondan meninggalkan rumah bersama antek-anteknya.
Nadia juga beranjak setelah menghabiskan makanan di atas piringnya. Sinta mengantarkannya sampai di teras. Wanita itu akan menginap dua malam lagi karena suaminya sedang pergi ke luar kota.
Mobil yang akan mengantar Nadia pergi ke sekolah sudah siap dengan Joni yang ada di depan pintu mobil. Bersiap membukakan pintu untuk majikannya.
“Jon, bawa mobilnya hati-hati.” Kata Sinta ketika Nadia sudah berada di dalam mobil. Naida membuka kaca di sebelahnya. Melambaikan tangannya pada sahabatnya itu.
“Apakah keputusanku untuk melibatkan dokter Nathan adalah keputusan yang tepat Jon?” tanya Nadia setelah mobil melaju di jalanan desa.
“Entahlah Nad. Tapi aku rasa Dokter Nathan orangnya baik.”
“Tapi ini sangat bernahaya. Hari ini bapak memberi peringatan pada bu Desi. Aku yakin kasusnya tidak sesimple biasanya.”
“Selama ini bapak tidak pernah mau ikut campur masalah seperti ini. Yang ia fikirkan hanya bisa tabur menabur benih. Dia tidak akan mau repot-repot berfikir apakah benih itu tumbuh dengan baik apa malah membuat ibunya menderita. Ini pertama kalinya Bapak menanyakan masalah kemarin.”
“Kamu benar.”
“Yang aku takutkan adalah ada lagi wanita yang sedang mengandung anak bapak. Dan bapak tahu itu. Makanya dia memberi peringatan pada bu Desi.”
“Sepertinya memang begitu. Tapi siapa?”
“Entahlah. Kita tidak akan bisa mengetahuinya jika tidak muncul di permukaan. Dan yang aku takutkan adalah Bu Desi yang pertama akan tahu.”
“Apa boleh buat. Kita hanya bisa berdo’a dan menunggu.”
Nadia menghela nafas. Sampai kapan semua ini berakhir. Sudah banyak ia mendengar kematian para wanita di sekitarnya. Dan semuanya bermula dari orang yang sama.
__ADS_1
“Kamu sendiri bagaimana dengan kandunganmu?”
“Baik Jon. Tapi semalam bapak main kasar. Perut bagian bawahku sedikit berdenyut akibat semalam.”
“Tapi tidak apa-apa kan?”
“Aku rasa tidak. Nanti antarkan aku ke puskesmas. Aku sudah membuat janji temu dengan bu bidan.”
“Oke.”
“Aku masih penasaran, sebenarnya obat kuat macam apa yang diminumnya. Gila tua bangka itu. Bisa-bisanya main sampai tiga ronde.” Dengus Nadia. Ia mengingat bagaimana ganasnya suami tuanya itu di atas ranjang.
“Tapi kamu menikmatinya kan?” Joni terkekeh. Melihat Nadia yang selalu bersungut jika disinggung masalah urusan ranjangnya dengan suaminya.
“Mau bagaimana lagi Jon. Jika aku menolak entah pada siapa dia akan melampiaskannya. Tapi malam ini aku selamat. Bapak akan bermalam di kamar Bu Desi.”
“Senangnya yang dapat libur.”
Nadia tak menimpali. Tentu saja ia akan sangat senang. Sudah ratusan kali dirinya melayani lintah darat yang sialnya adalah suaminya. Selama ini dirinya berada di pihak pasif. Dia hanya akan menerima dan melakukan apa yang diminta oleh suaminya di atas ranjang. Tapi meskipun begitu, suaminya sangat puas dengan dirinya.
Lain halnya dari pihak Nadia. Dia selalu merasa jijik pada dirinya sendiri setelah ia melakukan kewajibannya itu. Sampai sekarang ia merasa jika ia tak lebih dari seorang pelac*r. Budak pemuas nafsu.
Nadia meraba perutnya yang masih datar. Di dalam sana, sedang tumbuh buah hatinya. Janin yang menjadi bukti keampuhan kecebong juragan Bondan meskipun sudah berumur. Namun, bukan hanya di dalam perut Nadia saja janin milik Juragan Bondan.
“Apa tidak sebaiknya memberi tahu juragan tentang kehamilanmu ini Nad? Setidaknya dia juga akan melindungimu dari Bu Devi.”
“Tidak Jon. Setidaknya sampai memang tidak bisa disembunyikan lagi.”
“Apa kamu yakin?”
“Aku yakin Jon. Jika bapak tahu kehamilanku sekarang, aku tidak yakin dia bisa melindungi kami. Bu Devi tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan apapun untuk menghilangkan apa yang dianggapnya batu sandungan.”
‘Aku harap keputusanku ini ya g terbaik untukku dan untuk anakku. Aku harus lebih hati-hati sekarang.’
__ADS_1
^^^~*{Aku Istri Muda}*~
^^^