Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_122. Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Padahal udah AQ up siang tadi lho! Sampek jam 8 belum lolos review 😔


Sejak masuk ke dalam mobil, Karina memalingkan wajahnya. Pemandangan di luar tampaknya lebih menarik untuknya. Selama perjalanan, keduanya sama-sama diam. Baik Bisma maupun Karina tidak ada yang berniat untuk memecah keheningan. Apalagi Bisma tidak menyukai memutar musik. Jadi keheningan menjadi semakin sempurna.


Suara ponsel Bisma membuat keheningan sedikit terpecah. Andi menelepon Bisma untuk memberitahu jika besok ada rapat. Keduanya sibuk berbicara di telepon yang Karina tidak mengerti. Tak lama, pembicaraan keduanya selesai.


“Kenapa kamu tinggal di tempat itu?” Bisma tiba-tiba bertanya.


“Hah? Apa?” Karina yang sedang melamun tidak begitu mendengar pertanyaan Bisma.


“Lupakan.” Ucap Bisma kesal. Dia sudah mencoba berbicara dengan gadis yang hampir seharian bersamanya itu.


“Maaf. Tadi aku melamun.” Ujar Karina dengan rasa bersalah.


“Apa tidak ada tempat lain untuk tinggal? Kenapa memilih lingkungan seperti itu untuk tinggal?” Bisma menghela napas. Lagipula ia cukup penasaran dengan alasan gadis yang terlihat polos itu tinggal di lingkungan yang menurutnya sangat tidak baik.


“Mmm... Pertama, teman yang aku kenal di sini juga tinggal di sana. Kedua, karena murah. Dan ketiga, dekat dengan tempat kerja.” Jawab Karina setelah berpikir beberapa saat.


“Apa kamu tidak khawatir sesuatu yang buruk bisa saja terjadi di sana?”


“Khawatir tentu saja ada. Makanya aku harus selalu siap sedia.” Karina memukulkan kepalan tangannya.


“Bagaimana kalau ada orang yang mengucilkanmu?” Bisma menyipitkan matanya.


“Seperti kamu misalnya?” Karina menatap Bisma intens.


“Yah. Siapa suruh kamu tinggal di sana.”


“Hahahaha. Aku tahu. Tapi aku tidak peduli dengan penilaian orang-orang terhadapku. Toh aku juga tidak meminta makan pada mereka.”


“Kalau bisa segeralah pindah dari sana. Tempat seperti itu tidak baik untukmu. Apalagi kamu seorang gadis yang tinggal sendiri.” Ucap Bisma serius.


“Apakah tuan Bisma mengkhawatirkanku?” Karina terkekeh dengan ucapannya sendiri. Bisma berdecih.


“Aku memang sudah berencana pindah. Tapi masih belum ada yang cocok. Begitu juga terima kasih untuk perhatiannya.”


“Aku tidak perhatian padamu. Aku hanya takut jika suatu hari Nara ingin ke tempat mu.”


“Oke-oke. Aku paham. Terima kasih juga mau mengantarku.” Karina menarik sudut bibirnya. Melihat wajah kesal Bisma saat turun dari kamar tadi membuatnya terhibur.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Bisma berhenti di depan gang. Mobil sudah tidak bisa masuk ke dalam gang.


Di lingkungan sepeti gang Kamboja, semakin malam semakin ramai. Di depan gang sudah terlihat kegiatan yang berjalan. Para wanita dengan pakaian minim berjalan-jalan di sekitar dengan berlenggak-lenggok menggoda laki-laki yang lewat. Ada juga pasangan yang berjalan dengan mesra masuk ke dalam gang.


Bisma memandang pemandangan di depannya dengan dingin. Karina yang duduk di sebelahnya melirik Bisma dengan canggung.


“Kamu cukup mengantar di sini saja. Semakin malam para wanita itu semakin ganas.” Kekeh Karina melihat para wanita yang memperhatikan mobil Bima penuh harap. Bisma melirik Karina tidak senang.


“Baiklah. Sekali lagi terima kasih.” Karina keluar dari dalam mobil. Saat melihat pintu mobil terbuka, para wanita bergegas mendekat. Bersiap melayangkan godaan maut mereka.


“Ehehehe. Dia temanku. Bukan bagian kalian.” Karina menatap para wanita yang berkerumun dan menyuruh mereka pergi. Para wanita pun pergi menjauh dengan kecewa.


Karina berjalan dengan santai di antara orang-orang dengan segala aktivitas mereka. Semua orang yang ada di sana seperti sudah terbiasa dengan keberadaan Karina. Menganggap Karina seperti tidak ada di antara mereka. Bisma yang melihat Karina dengan dingin.


**


Nara dan Alex sedang berjalan-jalan di mall. Mereka membeli beberapa camilan dan susu hamil.


“Kak Alex.” Megan yang kala itu juga sedang jalan-jalan di mall yang sama melihat orang yang ia kenal. Gadis itu kemudian bergegas menghampirinya.


Alex dan Nara menoleh pada Megan. Keduanya saling menatap. Nara menatap Megan dengan jengah.


“Soalnya istrinya kak Alex sedang hamil. Jadi dia sibuk menemani istrinya.” Bukan Alex yang menjawab. Tetapi Nara.


“Wah kak Nara hamil? Selamat ya.” Megan dengan antusias memberi selamat pada Nara. Jauh dari yang dibayangkan Nara. Di dalam bayangannya, Megan akan menangis sedih mendengar bahwa dirinya telah hamil anak Alex. Tapi ternyata gadis ini malah jauh dari bayangannya. Bahkan malah terlihat senang.


“Kamu tidak sedih?” tanya Nara heran.


“Tentu saja tidak. Kenapa harus sedih?” Megan mengernyitkan alisnya.


“Bukankah kamu menyukai Alex? Seharusnya kamu sedih kan melihat orang yang kamu sukai bersama dengan orang lain.”


“Oh...itu dulu. Sekarang sudah enggak. Soalnya kata papa aku tidak boleh menyukai orang yang sudah menikah. Lagi pula aku sudah ada cowok ganteng lain yang lebih aku suka sekarang.” Jawab Megan enteng. Wajahnya juga memerah membicarakan cowok tampan yang berhasil merebut hatinya.


“Bagus. Kamu sudah tahu. Itu artinya kamu sudah dewasa.” Alex mengacak rambut Megan.


“Kak Alex ih. Jangan begitu. Nanti kalau cowok incaran aku lihat kan salah sangka.” Megan segera merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulah Alex. “Aduh aku sampai lupa! Aku kan sedang mengintai.” Gadis itu menepuk dahinya.


“Ya sudah sana pergi. Nanti kehilangan jejak.”

__ADS_1


“Oke. Kak Alex kak Nara. Aku pergi dulu. Dadah...” Megan berlari kencang setelah melambaikan tangannya.


Alex menatap Nara yang juga sedang menatapnya. Nara tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa tertawa seperti itu?” tanya Alex heran.


“Aku tidak menyangka secepat itu Megan berpaling darimu. Aku ingin tahu laki-laki mana yang mengalahkan pesonamu.” Nara mencibir.


“Aku tidak peduli dengan perasaan orang lain. Yang penting istriku yang cantik ini tetap mencintaiku.” Alex memeluk Nara. Meletakkan dagunya di pundak Nara.


“Lepas Lex. Kamu nggak malu apa dilihatin orang?” Nara mendorong tubuh Alex. Mereka sedang berada di tempat umum. Dan banyak orang di sekitar mereka.


“Tidak. Buat apa malu? Yang aku peluk ini istriku sendiri.” Jawab Alex cuek. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Nara frustasi. Alex tidak malu. Tapi dia yang malu. Jadi dia harus memikirkan cara untuk melepaskan dirinya.


“Lex, baby Kita kepencet kalau kamu kayak gini.” Seakan sadar. Alex segera melepaskan Nara.


“Maafkan Daddy sayang.” Alex segera mengelus perut Nara yang masih datar. Gurat penyesalan terlihat jelas di wajahnya. Nara yang melihat Alex seperti itu merasa bersalah. Padahal Nara tahu betul jika apa yang dilakukan Alex sama sekali tidak menyakiti bayi mereka. Nara hanya ingin lepas dari Alex.


“Maafkan aku sayang. Bayi Kita tidak apa-apa.”


“Aku tahu.” Alex mengerlingkan matanya sambil kembali mendorong troli meninggalkan Nara yang menjatuhkan rahangnya.


Dengan hanya sedikit tindakan, sedikit ucapan dan sedikit perhatian akan menimbulkan suatu kebahagiaan. Begitulah rumah tangga. Tidak perlu yang wah berlimpah. Hanya dengan sesuatu yang sederhana, kekuatan cinta yang akan mempererat sebuah rumah tangga akan semakin sempurna.


Kesetiaan dan perlindungan. Juga saling menghargai dan menghormati antara satu dan lainnya akan selalu memberi makna yang dalam.


Dalam rumah tangga, cobaan dan godaan selalu datang silih berganti. Menghadapi semuanya bersama-sama adalah cara yang paling baik. Dengan bersama semua masalah akan terasa mudah.


Begitulah akhirnya. Nara dan Alex hidup bahagia dalam pernikahan mereka. Bersama-sama menikmati hari-hari menunggu buah hati mereka. Masalah yang bermacam-macam juga masih kadang menyapa. Pertengkaran kecil juga menghiasi perjalanan mereka. Tetapi keduanya menyadari bahwa mereka tercipta untuk bersama. Segala masalah akan selesai hanya dengan senyuman dan juga sentuhan.


*


*


*


The end....

__ADS_1


__ADS_2