
Bima membawa Roy ke markasnya. Bisma sudah kembali ke kantornya. Sedangkan Alex pergi untuk menemui Surya Winata. Papa Roy.
Roy di dudukkan di sofa. Ikatan di tangannya sudah dilepaskan. Tapi sudah dipastikan laki-laki itu tidak akan ada niat untuk kabur. Dari wajahnya saja sudah dapat dilihat bahwa ia lebih suka berada di dalam jeruji besi dibandingkan ada di tangan Bima.
Seorang OB dengan seragam berwarna hitam dengan garis merah masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. OB bernama Harto itu membawa nampan berisi dua gelas minuman. Jus buah naga merah yang terlihat seperti jus darah.
Roy menelan ludahnya dengan gugup saat melihat jus yang dibawa OB tersebut. Di dalam pikirannya sudah tergambar macam-macam gambar aneh dalam fantasinya. Ia bahkan emnduga jika cairan di dalam gelas itu adalah darah manusia. Yang menjadi korban keganasan Bima. Sungguh imajinasi yang terlalu tinggi.
“Sesuai dengan perintah bos. Tanpa gula.” Harto menundukkan badannya di depan Bima. Berkata dengan penuh hormat. Bima berdehem dan melambaikan tangannya. Memberi isyarat untuk menyuruhnya pergi. Harto membungkuk sekali lagi dan keluar dari ruangan. Menutup pintu dengan perlahan. Membiarkan ketegangan merenggut keadaan.
Bima mengangkat gelasnya. Sebelum meneguknya melirik Roy yang gemetaran di depannya.
“Nggak haus?” tanya Bima.
“Tidak tidak. Saya tidak haus.”
Bima mengangkat bibirnya dengan acuh. Kemudian meminum jusnya hingga tersisa setengah di dalam gelas.
“Bawa saya ke kantor polisi. Saya akan mengakui semua kejahatan saya.” Roy berkata dengan gugup.
“Kamu akan ke sana cepat atau lambat. Namun sebelumnya, kami sudah menyiapkan kejutan yang tak akan terlupakan di dalam sisa hidupmu.” Bima melirik Roy dengan dingin. Menatap tajam laki-laki itu.
“Saya tidak butuh kejutan. Saya ingin ke kantor polisi saja.”
“Hahahaha. Ini menarik. Baru kali ini ada orang yang menolak dijamu dan lebih memilih untuk memohon masuk penjara.” Bima tertawa puas. Kemudian menghabiskan jus dalam gelasnya.
“Saya lebih baik ada di penjara dari pada berada di sini.” Terang Roy gugup. Namun ia berkata jujur. Keringat dingin terus bercucuran di sekujur tubuhnya.
“Heh! Kenapa? Aku sudah berbaik hati menyuruh anak buahku untuk memberikan jus buah naga agar kamu nanti punya tenaga untuk menghargai hadiah yang kami siapkan.” Roy kaget. Menatap cairan merah dalam gelas itu sekali lagi. Tenggorokan nya kering. Sudah berjam-jam tidak dilewati sesuatu selain ludahnya sendiri yang terasa pahit.
Namun untuk meminum cairan merah yang kata Bima adalah jus buah naga masih membuatnya ragu. Bagaimana jika Bima membohonginya. Apalagi jika itu berisi racun.
Bima melihat laki-laki itu intens. Melihatnya memperhatikan gelas berisi jus jambu itu dengan tatapan horor membuatnya ingin tergelak. Ia sudah menduga pasti Roy membayangkan hal yang ekstrem.
“Kalau kamu nggak mau aku akan habiskan sendiri.” Bima mengangkat gelas dan meminumnya seketika. Habis dalam satu tegukan. Bahkan pria itu masih ingin menggoda Roy dengan menjilat sudut mulutnya yang masih tersisa cairan jus di sana.
“Memang apa yang kamu pikir? Aku manusia normal yang nggak doyan minum darah. Aku masih menyukai jus buah naga. Nikmat, segar dan sehat.” Penjelasan Bima membuat Roy melongo.
__ADS_1
**
Suryo bermandikan keringat. Meskipun berkali-kali ia mengelap keringat yang keluar dari pelipisnya, namun pelipis itu masih terlihat mengkilat akibat keringat yang terus keluar. Sapu tangan yang ia pakai sudah basah dan tak mampu menghisap keringatnya lagi.
Laki-laki paruh baya itu berdiri di depan meja kebesaran miliknya. Sedangkan kursi kebesarannya, sudah diduduki dengan arogan oleh Alex.
“Jadi kamu pilih mana?” Tanya Alex memecah keheningan.
Tiga puluh menit sudah Suryo berpikir dengan keras. Alex memintanya untuk memilih diantara dua pilihan yang sama-sama sulitnya.
Alex hari ini datang dengan membawa berita bahwa Roy sudah ditangkap olehnya. Namun bukan hanya untuk memberinya kabar, Alex datang tidak sesederhana itu.
Entah dari mana Alex tahu jika ia memiliki seorang putra yang lahir di luar nikah. Hasil perselingkuhannya. Selama puluhan tahun ia sudah menyembunyikan fakta itu dari istri dan putranya.
Arka nama anak Suryo yang lain. Hidup bersama ibunya di sebuah rumah pinggir kota. Suryo sesekali mampir ke sana saat ia sedang berada di kantornya yang lumayan dekat dengan rumah itu.
Melihat ibunya yang hidup sebagai seorang selingkuhan membuat Arka tumbuh menjadi pemuda yang dingin. Ia membenci ayahnya sendiri.
Selama bertahun-tahun Suryo menyembunyikan keberadaan dua orang itu dari semua orang. Menghidupi mereka secara diam-diam. Dan sejauh ini ia berhasil. Tidak ada yang curiga sama sekali. Lalu dari mana Alex mengetahuinya?
Dengan menggunakan perusahaannya sebagai ancaman, Alex memintanya untuk mengekspos keberadaan Arka di depan umum. Memintanya untuk mengumumkan bahwa Arka adalah penerusnya. Dan Roy, hanya akan jadi bayang-bayang.
Namun jika ia menolak, perusahaan yang ia bangun dengan susah payah akan hancur tanpa bersisa. Saat ini saja, Alex menyerangnya dari berbagai sudut. Sedikit saja Alex menjentikkan jarinya, semua kerja kerasnya akan hancur.
Suryo bukan orang yang naif. Ia berpikir realistis. Ia tentu saja memilih opsi yang pertama. Jika rumah tangganya hancur dan Roy membencinya, ia masih punya Arka dan ibunya. Apalagi ibu Arka lebih muda dan menarik dari istrinya. Ini akan lebih menguntungkan untuknya.
“Saya akan mematuhi perintah anda. Saya akan segera mengumumkan tentang Arka.”
“Pilihan yang bijak. Aku kira anda adalah pria yang berprinsip. Tapi ternyata, ck ck ck” Alex menggelengkan kepalanya.
“Saya hanya mencoba berpikir realistis tuan Alex. Lagipula Roy adalah anak yang tiska berbakti. Dia membuat saya dalam kesusahan. Justru saya harus berterimakasih kepada tuan telah menyingkirkan Roy dari kehidupan saya.” Ujar Suryo percaya diri.
“Hahahaha. Saya tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka.” Alex tergelak. “Hem...saya sekarang jadi merasa kasihan pada Roy. Tapi mengingat apa yang ia lakukan, bahkan jika ia mati pun itu belum cukup untuk membalas kerugian yang kami terima.”
“Ngomong-ngomong. Saya sudah mengatur konferensi pers untuk Arka. Pemuda itu juga sudah ada di sini. Lengkap dengan ibunya. Saya harap tuan Suryo menyukai kejutan kecil dari saya.” Alex menautkan tangannya dan memainkan ibu jarinya.
Suryo terkejut beberapa saat. Namun setelah memikirkannya, ia kembali tenang. Tidak apa jika ia mengorbankan istrinya dan Roy dalam hal ini. Yang terpenting ia masih bisa memimpin perusahaan dengan tenang.
__ADS_1
**
Bima mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Melihat nama Alex tertulis di atas layar yang sedang memanggil. Mengangkatnya dengan tenang.
“Sudah?” tanyanya setelah mendengar ucapan Dari seberang.
“Baiklah. Aku akan menyambungkannya segera.” Bima mematikan sambungan. Kemudian berdiri, berjalan ke mejanya dan membuka laptop canggih miliknya. Mengotak-atik nya sebentar.
Tak lama setelah itu menyalakan mesin proyektor di meja. Yang baru disadari keberadaannya oleh Roy.
“Pertunjukan akan segera dimulai. Mari kita nikmati.” Bima kembali ke sofanya. Duduk dengan tenang setelah menyalakan rokok dan menghisapnya.
Roy terkejut saat melihat wajah Surya memenuhi layar. Terlihat di layar, laki-laki itu sedang melakukan Konferensi pers di kantornya. Melihat itu Roy masih belum bisa menebak apa yang akan terjadi. Namun firasatnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu yang buruk.
Pandangan matanya lalu menatap seorang laki-laki muda yang kira-kira seusia dengannya. Laki-laki itu memiliki fitur wajah yang hampir sama dengannya. Namun ia tidak mengenalnya. Ia adalah anak tunggal. Juga tidak memiliki banyak sepupu. Dan ia mengenal sepupunya. Lalu siapa laki-laki yang mirip dengannya? Kenapa juga ia berdiri di samping papanya yang terlihat baik-baik saja?
“Yah seperti yang kamu lihat. Papamu tidak merasa kehilangan dirimu. Dia hidup dengan santai.” Ujar Bima. Wajahnya terlihat penuh penyesalan. Tapi sorot matanya menunjukkan ejekan yang mendalam.
“Apa maksudmu? Papaku tidak mungkin melupakanku.” Ujar Roy marah. Ia selalu menjadi anak yang dibanggakan dan selalu dielu-elukan.
“Mau bagaimana lagi? Putranya membuatnya rugi. Jadi ya.. kamu tahulah. Aku harap kamu bisa memaafkan papamu karena telah membohongi mu selama ini.”
“Tidak. Ini tidak benar.”
“Syut. Diam. Dengarkan perkataan papamu.”
Roy terlihat kacau. Pengakuan papanya membuatnya terpukul. Ia tidak pernah menyangka jika akan ada hati dimana ia hancur dengan sangat menyedihkan.
Di dunia ini, ia tidak lagi memiliki apa-apa.
**
"Roy sudah dihukum. Sekarang giliran membereskan Virly " gumam Alex menatap punggung Roy yang digiring masuk ke dalam penjara.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😘