Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_37. Rasakan Akibatnya


__ADS_3

Nara memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan saat Alex tiba di toilet tempat Nara dan Siska saling menyerang. Rambutnya pun terlihat acak-acakan. Ia segera menghambur memeluk Alex yang baru datang bersama Gibran dan karyawan lainnya.


Membuat semua mata tertuju kepadanya dengan tidak percaya. Berani sakali dia. Dan sebagian dari mereka menyimpulkan jika gosip yang beberapa waktu lalu beredar yang menyatakan jika Alex dan Nara mempunyai hubungan khusus itu benar.


“Lex ini sakit.” Keluhnya. Air matanya pun mulai mengalir dari kedua mata indahnya.


“Beraninya melakukan semua ini pada Nara di kantorku!?” Alex menatap tajam wanita yang beberapa saat lalu menjadi lawan Nara dalam pertengkaran sengit.


Melihat wajah takut Siska membuat Nara tersenyum penuh ejekan. Siapa suruh berani mengusiknya. Apalagi sampai membawa nama baik mamanya. Jelas tindakan yang begitu berani tidak akan bisa dimaafkan begitu saja. Harus ada ganjaran yang setimpal untuk itu.


Rasakan akibatnya sekarang!


Flash Back On....


“Kalian boleh mengolokku. Menghinaku. Tapi jangan sekali-kali kalian berani menghina ibuku!” Nara menggertakkan giginya. Mamanya adalah ibu terbaik di dunia. Hanya mengajarkan kebaikan pada anak-anaknya. Tidak ada yang boleh menghinanya seperti itu.


“Aku hanya berbicara. Jika itu bukan kenyataannya mengapa kamu marah? Apakah memang benar apa yang aku katakan jika ibumu seorang penggoda?” Siska melipat kedua tangannya. Senyum penuh ejekan ia lemparkan pada Nara. Pada tahap ini ia merasa ialah pemenangnya.


“Aku tidak ada masalah denganmu sebelumnya mbak Siska. Tapi sekarang kamu telah menyulut emosiku!” Nara segera maju dan menampar wajah Siska dengan keras. Membuat wanita itu terhuyung dan jatuh di lantai. Diana, temannya segera membantu Siska berdiri.


“Berani kamu ya!” Siska yang sudah berhasil berdiri tidak terima dan menarik rambut Nara. Tak lama kemudian dua orang wanita itu saling membalas. Saling menjambak dan mencakar.


Dinda segera keluar dari toilet untuk mencari bantuan. Pertengkaran antar wanita seperti ini harus segera dipisahkan. Apalagi keduanya memiliki ego yang sama-sama tinggi yang tidak mungkin akan ada yang mau mengalah.


Tak butuh waktu lama hingga Dinda membawa belasan orang mengikutinya. Yang ada di barisan paling depan adalah Alex dan Gibran.


Melihat kedatangan penyelamatnya, Nara menemukan ide di dalam otaknya. Ia berbisik pada Siska sebelum mendorong wanita itu dengan keras hingga membuatnya terjatuh.


“Jika kamu bilang aku adalah penggoda, biar aku tunjukkan bagaimana jadinya jika aku menjadi penggoda seperti katamu.”


Flash Back Off...


“Sakit sekali Lex hu~ hu~.” Keluh Nara lagi membuat Alex kembali memperhatikannya. Ia kemudian ikut mengelus kepala Nara yang sakit.

__ADS_1


“Mana lagi yang sakit?” tanya Alex penuh kelembutan. Membuat semua orang yang ada menatap keduanya takjub. Hanya Gibran yang menggelengkan kepalanya melihat dua sejoli yang tak kenal tempat untuk pamer kemesraan.


“Ini juga. Lihatlah ia mencakar tanganku hingga berdarah.” Nara menunjukan lengannya yang kena cakar Siska. Meskipun itu hanya luka yang kecil tapi itu juga terasa perih.


Melihat luka di lengan Nara membuat Alex sangat murka.


“Gibran pecat wanita kurang ajar itu. Masukkan ke dalam black list. Dan pastikan ia tidak akan pernah mendapat pekerjaan di manapun.” Alex berbicara penuh emosi pada Gibran tapi ia tidak mengalihkan tatapan tajamnya pada Siska yang bergetar ketakutan.


“Tuan maafkan saya. Saya bersalah. Tolong ampuni saya.” Siska berlari dan bersimpuh di hadapan Alex yang masih memeluk Nara.


“Tidak ada maaf bagi siapapun yang menyinggung Nara. Ini peringatan untuk semuanya.” Ucap Alex membuat semua orang ngeri.


“Kasihanilah saya tuan. Saya menyesal.” Siska masih belum menyerah. Ia adalah tulang punggung keluarga. Jika ia dipecat dan tidak mendapatkan pekerjaan di manapun ia tidak akan bisa menghadapi semuanya.


“Apa kamu tidak berpikir sebelum menyakiti Nara hah?”


“Saya tidak tahu jika Nara begitu berharga untuk tuan.”


“Tidak ada ampun bagimu.” Dengus Alex. Ini adalah peringatan kecil untuk mereka yang berani mengusik Nara.


“Lihatlah! Nara bahkan masih bisa memohon untuk mengampunimu.” Sarkas Alex.


“Terima kasih Nara. Maaf telah menyinggung perasaan mu.” Siska segera menghampiri Nara. Berusaha meraih lengan gadis itu. Tapi Alex segera menepis nya.


“Jauhkan tangan kotormu dari Nara. Mulai sekarang pergilah dari hadapanku. Dan aku tidak ingin lagi kamu muncul di hadapan ku maupun Nara. Mengerti?!”


“Iya iya tuan. Saya mengerti.” Siska langsung pergi dengan terburu-buru. Mengambil barang-barangnya di ruangannya dan pergi meninggalkan kantor dengan secepat yang ia bisa.


Sedangkan Nara yang baru saja memenangkan pertempuran nya tersenyum bangga. Ia puas telah memberi pelajaran kepada orang yang telah berani menghina mamanya.


“Ayo masuk ke ruangan ku. Aku akan mengobati luka-lukamu.” Alex membimbing Nara untuk kembali masuk ke dalam ruangannya. Mendudukkan Nara di atas sofa dan segera mengambil kotak p3k untuk mengobati Nara.


“Au!” pekik Alex saat Nara menjambak rambutnya. Saat ini Alex sedang mengobati luka cakar di lengan kiri Nara dengan hati-hati. Tapi gadis itu malah menjambak rambutnya saat merasa perih.

__ADS_1


“Hati-hati! Ini perih.” Keluh Nara yang kembali menitikkan air matanya. Kali ini bukan air mata buaya yang ia buat-buat. Melainkan rasa sakit nyata yang hakiki. Diam-diam ia menyesal karena tadi sudah menangis pura-pura. Sudah banyak air mata yang ia buang percuma seharian ini.


Alex hanya diam mendengar keluhan Nara. Kepalanya pun rasanya ngilu saat Nara menarik rambutnya dengan keras. Tapi ia tidak berani menyalahkan Nara atas hal itu. Dia tidak mau menambah emosi Nara. Yang bisa ia lakukan hanya melanjutkan mengoleskan obat dengan terus meniup luka itu agar mengurangi rasa sakitnya.


“Sudah selesai.” Alex baru saja menempelkan plester di atas kain kasa yang menutupi luka yang selesai ia obati. Ia kini beralih menyisir rambut Nara yang berantakan.


Nara mengamati luka yang telah diperban Alex sekilas sebelum mengangguk puas. “ Lumayan.” Ucapnya. “ Tapi kamu masih harus belajar membalut luka dengan rapi. Aku harus menjaga penampilan ku.” Lanjutnya sambil memegangi perban yang memang terlihat kurang rapi.


“Ini hanya perban. Mana bisa terlihat bagus.”


“Aku tidak mau tahu. Yang aku mau lain kali kamu membuatnya dengan indah.” Nara bersikeras.


“Baiklah. Lain kali aku akan membuatkan perban khusus dengan gambar hati di setiap incinya. Tapi aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi lain kali.” Dengus Alex. Inilah yang ia benci dari seorang gadis. Ribet. Tapi apapun akan ia lakukan untuk Nara.


“Hahahaha. Aku hanya bercanda. Terima kasih ya.” Ucap Nara tulus sebelum mendaratkan ciumannya di pipi kanan Alex sebelum ia berlari meninggalkan Alex yang terpaku dalam diam.


Laki-laki itu memegangi pipinya yang masih terasa hangat. Bahkan rasa kenyal hangat dari bibir berwarna nude itu masih terasa hingga saat ini.


“Gadis ini. Beraninya menggodaku.” Alex tersenyum. “Sedikit demi sedikit pada akhirnya hatimu akan terbuka untukku. Aku yakin saat ini kamu telah mencintai ku juga. Hanya saja kamu malu mengakuinya. Ah! Tunggu aku akan membuatmu mengungkapkan cintamu secepatnya.” Gumam alex pasti.


Sedangkan Nara yang sudah berada di kursi belakang mobil yang dikendarai pak Farid hanya bisa tersenyum dalam diam. Ia tidak menyangka jika ia tanpa sadar mencium Alex tadi.


“Aku sudah gila. Aku pasti sudah gila.” Teriaknya pelan.


Namun pak Farid yang mendengar teriakan kecil Nara dengan jelas ikut tersenyum. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat dari wajah Nara yang terlihat sumringah dan juga senyum yang tak berhenti sejak masuk tadi, ia dapat menyimpulkan jika hubungan gadis itu dengan majikannya pasti sudah naik level.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🥰

__ADS_1


Like👍 dan komen² oke😁


Maaf telat 🙏


__ADS_2