Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_6. Calon Pacar Idaman


__ADS_3

Pagi ini Nara sudah rapi dengan pakaian rapi khas orang kerja kantoran. Berada di dalam lingkungan Amerta Corp Nara dan teman-temannya harus menyesuaikan dengan karyawan yang lain meskipun mereka di sana bukan untuk bekerja.


“Widiiih kak Nara rapi amat.” Seloroh Dini ketika melihat kakaknya yang baru bergabung di meja makan untuk sarapan dan membalikkan piring untuk dirinya sendiri.


“Kakak mulai hari ini akan pergi di Amerta Corp. Tempat para laki-laki tampan berkumpul.” Nara mengangguk dan berkata dengan bangga.


Mendengar alasan Nara, Nathan sampai tersedak karena nya. Alasan anaknya ini terlalu uwau. Nadia segera memberikan segelas air putih untuk Nathan seraya mengelus dada suaminya dengan lembut.


“Jadi kamu memilih Amerta karena mau cari laki-laki?”


“Cuci mata pa. Bosen tiap hari lihatnya itu-itu mulu.” Nadia hanya menggelengkan kepalanya. Wanita itu tahu betul sifat sang anak.


“Papa peringatkan Nara, Amerta Corp bukan tempat untuk main-main. Tuan Alex meskipun dia masih muda, dia tidak kenal ampun. Ia akan tegas dan kejam pada siapa pun yang mengacau di lingkungannya.” Nathan berkata serius.


“Papa tenang saja. Nara tidak akan membuat masalah di sana. Lagi pula, Nara akan menjauhi tuan Alex.”


Bisma yang dari tadi diam melirik kaget. Awalnya ia lega ketika ia mendapat kabar dari Alex jika Nara masuk ke dalam perusahaan nya. Itu artinya rencananya untuk menjodohkan Nara dengan Alex akan berjalan lancar.


Tapi kenapa sekarang Nara malah sudah berniat menjauhi Alex. Padahal seyogyanya, dengan sifat Nara yang menyukai ketampanan, ketampanan yang dimiliki Alex pasti sesuai dengan kriteria level yang dia inginkan.


“Sayang, bukankah tuan Alex itu temanmu?” ucap Nadia sambil melihat Bisma. Nadia ingat pernah sekali Presdir Amerta Corp datang ke rumahnya untuk menemui Bisma. Dan keduanya tampak akrab saat itu.


“Iya ma. Kami memang teman satu kampus.” Jawab Bisma santai. “Saat ini perusahaan kita juga sedang bekerja sama dengan Amerta Corp.” Tambah Bisma.


“Pantas saja satu spesies dengan kakak.” Ejek Nara.


“Hahahaha. Kak Nara, kak Bisma itu bukan spesies lagi. Dia itu balok besi.” Gerry terbahak mendengar ejekan Nara. Ia pun berdiri dan mengangkat tangannya di depan Nara yang segera disambut oleh kakanya. Dini terkikik tertahan. Dia sedikit takut dengan Bisma. Melihat bagaimana Bisma memperlakukan Nara dengan posesif, ia jadi ngeri membayangkan jika itu berlaku pula untuknya di masa depan.


“Kalian ini. Jangan mengejek kak Bisma seperti itu.” Nadia segera memelototi ketiga anaknya. “Kak Bisma kakak kalian. Kalian harus menghormatinya.”


“Iya ma. Maafkan kami kak.” Kata ketiganya kompak.


Bisma menghela napas. Sebenarnya ia sama sekali tidak marah mendengar ejekan dari para saudaranya. Memang seperti itulah dia. Kaku dan dingin. Jadi memang pantas diberi julukan balok besi.


“Aku sudah memberikan kepercayaan ku padamu Nara. Aku harap kamu bisa menjaga dirimu sendiri.”


“Tentu saja kak.”

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan merasa tenang sekarang.”


“Oke. Kak Bisma jangan terlalu memikirkan aku.”


“Meskipun pemilik Amerta Corp adalah teman baikku. Tetapi aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan perlakuan istimewa darinya. Dan, ketika kakak bertemu denganmu di Amerta, kakak akan menganggapmu sebagai orang asing.” Kata Bisma serius. Membuat Nara merasakan dingin di punggungnya.


“Iya kak.” Nara menjawab dengan yakin. Lagi pula ini akan baik untuknya. Namun sedetik kemudian, ia merasa bahwa sesuatu yang tidak beres akan terjadi.


Entah mengapa Nadia merasa apa yang diucapkan Bisma ini karena Bisma mempunyai rencananya sendiri. Ia mengenal Bisma dengan baik. Ia tidak mungkin membiarkan adiknya lepas dari pengawasannya begitu saja.


Tapi kenapa harus menganggap adiknya seperti orang asing ketika mereka bertemu? Benarkan antara dirinya dan Alex itu teman dekat atau malah sebaliknya?


...🍃🍃🍃


...


Nara dan teman-teman nya sudah memulai aktifitas mereka. Bergabung dengan para staf keuangan yang ada di Amerta Corp. Keempatnya menjadi pusat perhatian saat mereka diperkenalkan oleh pihak HRD.


Bukan hanya karena kecantikan mereka, lebih penting lagi adalah siapa sebenarnya mereka yang bisa masuk ke Amerta dengan mudah. Selama ini sangat jarang ada mahasiswa yang diterima untuk melakukan observasi di perusahaan mereka.


Di hari pertama, mereka sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka berada. Selama tiga bulan ke depan, mereka akan berada di Amerta untuk melakukan penelitian dan pendekatan mengenai strategi keuangan dan pembukuan di perusahaan besar. Dan hasil dari penelitian kali ini akan mereka jadikan sebagai referensi skripsi mereka.


Oleh kepala divisi keuangan, mereka diberikan satu staf untuk membantu mereka.


Nara benar-benar merasa beruntung kali ini. Karyawan yang akan mendampinginya adalah sosok tertampan di sana.


Namanya Dio. Wakil kepala divisi. Orangnya ramah dan sabar. Dia juga sangat baik terhadap Nara.


Dalam sekejap, keduanya nampak akrab. Nara belajar banyak dari Dio.


“Kemajuan pesat nih sepertinya.” Goda Vera saat berpapasan dengan Nara. Gadis itu menyenggol lengan sahabatnya.


“Hem. Kak Dio cool banget.” Nara cekikikan.


“Kita lanjut nanti waktu makan siang.” Vera segera berlalu. Dia di Eri tugas oleh seniornya untuk mengcopy file untuk dipelajari. Nara mengangguk dan segera berjalan ke mejanya yang berada tepat di samping meja Dio.


“Kalian satu kelompok?” tanya Dio ketika Nara baru duduk di kursinya.

__ADS_1


“Iya kak. Kami berempat udah kayak Power Puff Girl. Nggak bisa dipisahin.”


“Pantesan kelihatan akrab.”


“Ya. Begitulah.”


Nara segera fokus kembali pada pekerjaan nya. Bagaimana pun dia, target yang telah ditentukan tidak boleh telat. Pantang baginya.


“Ra waktunya makan siang. Itu dilanjutkan nanti saja.” Dio menghampiri Nara. Gadis itu masih sibuk dengan map yang dipegangnya.


“Nanggung kak.”


“Amerta Corp beda dengan lainnya. Kalau kamu tidak memanfaatkan waktu makan siang dengan baik meskipun dengan alasan pekerjaan, jangan harap kamu mendapatkan tambahan waktu istirahat.” Nasihat Dio. Jangan sampai waktu untuk makan siang terpotong dan akhirnya malah terlambat ketika jam istirahat sudah usai. Bisa-bisa sanksi yang akan diperoleh.


“Baiklah. Ketat banget. Sampai makan siang aja diatur.” Nara merendahkan suaranya di akhir kalimat.


“Itu semua demi kita juga. Jika kita telat makan, kan kita bisa sakit.”


“Iya-iya. Amerta kan kabanggaan kak Dio.” Dio tersenyum mendengar ucapan Nara. Itu memang benar. Baginya, Amerta bukan hanya sebagai ladangnya mencari nafkah. Melainkan suatu kebanggaan.


Tidak mudah seseorang bisa masuk dan bekerja di Amerta. Seleksi pegawai sangat ketat. Setiap tahunnya, akan ada ribuan orang yang bersaing untuk masuk ke dalamnya. Namun hanya beberapa yang beruntung yang diterima.


Dio sendiri sudah tiga tahun ini bergabung di Amerta pusat. Satu tahun sebelumnya dia bekerja di kantor cabang Amerta. Karena prestasinya yang memuaskan. Laki-laki itu akhirnya di tarik ke pusat dan naik jabatan dengan cepat. Semua karena dedikasi.


Nara yang mendengar ceritanya tadi juga kagum pada Dio. Selain tampan dan baik, dia juga pekerja keras. Calon pacar idaman banget.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😎


Maaf telat mulu 🙏


Akoh usahain up lagi nanti malam😘

__ADS_1


__ADS_2