Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_48. Acara Pengajian, Siapa Alex?


__ADS_3

Mansion Mahardika sudah ramai sejak pagi. Lantunan ayat suci Al-Quran sudah bergema di seluruh tempat. Para keluarga dan juga tamu undangan yang merupakan tetangga sudah duduk lesehan dengan memakai pakaian muslim berwarna putih.


Ya. Hari ini diadakan pengajian sebelum pernikahan untuk Nara. Gadis dengan kerudung putih yang menutup sebagian kepalanya itu duduk dengan didampingi Nadia di sisi kanannya dan Tasya di sisi kirinya.


Menundukkan kepalanya dalam.


Hari ini ia tampak cantik dengan busana muslimah dan make up tipis yang terkesan lebih natural. Mendengarkan suara merdu dari penghafal Al-Qur’an yang telah diundang.


Hari ini juga, keluarga yang tinggal di luar kota berkumpul di mansion Mahardika. Tak terasa, besok adalah acara pernikahan itu berlangsung.


Nara menghela napasnya dalam. Ia berharap waktu akan berhenti untuk saat ini. Dan memberi waktu lebih agar semua dapat diatasi dan pernikahan ini tidak harus terjadi.


Setelah pembacaan Al-Qur’an selesai, berganti dengan acara siraman qolbu mengenai pernikahan.


Nara mendengarkan setiap ucapan yang diucapkan sang Ustadz. Memikirkannya dengan dalam hingga membuatnya meneteskan air mata.


Di dalam hati ia menyesali keputusannya telah menerima pernikahan ini yang membuatnya terpaksa. Membuatnya tidak iklas menjalani pernikahan yang sakral dan suci ini. Apalagi perkataan sang ustad yang berkata jika istri harus menaati perintah suaminya.


Dengan keadaanya yang seperti itu, Nara jadi berpikir apakah ia bisa menjadi seorang istri yang baik?


”Kamu kenapa sayang?” tanya Tasya. Adik dari Nathan itu mengelus lengan Nara. Ia tidak mengetahui jika pernikahan ini adalah pernikahan yang secara terpaksa dilakukan. Ia pikir keponakan nya tidak mungkin menjalani pernikahan yang seperti itu.


Nara hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Nadia mengeratkan genggaman tangannya pada Nara sambil memberi kode pada Tasya untuk berhenti bertanya. Tasya mengerti dan mengangguk paham.


Acara siraman qolbu selesai, saat ini, Nara duduk bersimpuh di depan Nathan dan Nadia. Di tambah satria yang menjadi wali ya duduk di sebelah Nathan. Saat ini Nara sedang meminta izin untuk menikah. Namun ia sama sekali tidak mampu menyebut jika Rafael sebagai calon suaminya.


Nadia yang mendengar ucapan Nara menangis tak tertahan. Nathan merangkul pundak Nadia. Menguatkan wanita yang sedang melepas masa lajang putrinya.


“Mama, Papa. Terima kasih atas kasih sayang yang tiada Tara yang telah kalian berikan padaku. Sampai kapanpun aku sebagai anak tidak akan pernah bisa menggantinya dengan sesuatu apapun yang sepadan.” Nara mengambil napas dalam.

__ADS_1


“Selama hampir dua puluh dua tahun ini, aku mempunyai banyak kesalahan pada mama dan papa. Pada kesempatan kali ini, izinkan aku meminta maaf dengan tulus.” Nara memandang sendu Nathan, Nadia dan Satria.


“Saat ini, aku, Kinara Pramudita Maheswari Mahardika meminta izin pada kalian bertiga untuk menikah dengan....” Nara tidak sanggup melanjutkan menyebut nama Rafael. Gadis itu mengepalkan tangannya yang tertutupi lengan bajunya yang panjang . “Nara sebagai anak meminta restu dan do’a dari kalian agar rumah tanggaku berjalan dengan baik. Doakan aku dapat membina rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah. Aamiin.”


Nara tidak sanggup jika berkata lebih banyak lagi. Ia memilih untuk menyudahi semuanya.


Dengan berat hati, Nathan memberikan izinnya dan juga nasihat-nasihat yang baik untuk Nara. Laki-laki itu menguatkan hatinya untuk melepas sang putri. Meskipun Nara hanya anak tiri baginya, ia sudah menganggapnya sebagai anak kandung yang sangat ia sayangi.


Dalam acara seperti ini, sudah wajar akan ada pertumpahan air mata. Namun sebagai keluarga, Satria dapat melihat ada yang janggal. Begitu juga dengan Tasya dan yang lainnya.


Untuk itu, mereka berkumpul setelah acara pengajian selesai dan tamu undangan telah meninggalkan mansion Mahardika.


“Aku tahu ada yang salah di sini. Ada yang bisa menjelaskan nya pada kami?” Satria mewakili semua orang yang belum mengetahui masalahnya. Laki-laki itu menatap Nadia, Nathan, Nara dan Bisma bergantian. Berharap satu dari mereka dapat memuaskan rasa penasarannya.


“Perusahaan dalam keadaan kacau kak.” Bisma akhirnya berbicara. Mereka awalnya berniat menyembunyikan semuanya hingga semua berakhir. Tapi seperti apapun mereka berusaha menutupi kabar itu, di depan keluarga pasti terbongkar juga. Jadi Bisma merasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagu. Satria mendengarkan dengan seksama. “Kami sudah berusaha sebaik mungkin hingga saat ini.”


“Jadi Nara menikah karena terpaksa!” Tasya bertanya dengan emosi.


“Ya Tuhan. Jangan biarkan masa lalu terulang. Bagaimana pun kita tidak bisa mengorbankan kebahagiaan Nara.” Satria menyugar rambutnya frustasi.


“Jangan khawatir kak. Kami sudah menyiapkan segalanya. Kita semua harus berdoa agar besok rencanaku dan Alex berhasil.” Ucap Bisma tegas.


Berada dalam Keadaan ini tidak ada seorangpun yang menghendaki. Mereka pun adalah korban. Lagipula mereka juga tidak hanya diam saja membiarkan Nara berkorban dan duduk manis menikmati kekayaan. Mereka pun Berjuang. Kata-kata Satria ini seperti menyalahkan mereka yang ada di sekitar Nara atas semua ini.


“Siapa Alex?” tanya Satria yang merasa asing dan tidak mengenal sosok Alex. Bukankah nama dari calon suami Nara adalah Rafael. Lalu siapa Alex?


“Alex itu pacar Nara, Satria. Dia juga sedang berusaha keras di luar sana.” Jawab Nathan.


“Kalau Nara memiliki pacar, kenapa tidak menikah dengan dia saja?”

__ADS_1


Tanya Satria lagi.


“Satria tolong dengarkan penjelasan kami, Rafael ini menyerang perusahaan kami. Baik Mahardika maupun Amerta dalam posisi yang terancam. Dan kami juga terpaksa melakukan langkah ini. Menikahkan Nara dengan Rafael hanya untuk mengalihkan perhatian Rafael dari kami. Jika tidak, Rafael akan menghancurkan dua perusahaan. Kamu dapat bayangkan berapa orang yang akan kehilangan pekerjaannya.” Nathan berusaha menjelaskan situasinya. Melihat Satria yang emosi membuatnya tidak tahan untuk menjelaskan.


Mendengar penjelasan Nathan, Satria menghela napas pasrah. Sebagai puncak dari sebuah perusahaan besar, tentu saja kewajibannya juga sama besarnya dengan posisinya. Nara berada dalam posisi itu. Menjadi ujung tombak yang menentukan masih ribuan karyawan dari dua perusahaan sekaligus.


“Apa yang bisa kami bantu?” Joni yang sedari tadi diam menawarkan bantuan.


“Paman. Aku minta tolong untuk mengerahkan anak buah paman untuk berjaga-jaga besok. Aku takut Rafael juga mengerahkan anak buahnya untuk memblokir pergerakan kami.” Kata Bisma. Ia juga memiliki bawahan. Tapi dengan semakin banyak orang yang membantu akan semakin baik hasilnya.


“Baiklah. Hal semacam ini serahkan padaku.” Jawab Joni dengan yakin.


Satu persatu dari mereka akhirnya menawarkan bantuan. Inilah yang disebut keluarga. Selalu ada di saat suka dan duka. Saling membantu di saat susah. Dan saling berbagi di saat bahagia.


Di waktu yang sama. Di kota yang berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari ibu kota, Alex dan anak buahnya yang bersenjata lengkap sedang berada di sebuah gudang tua. Gudang dengan bangunan usang ditelan zaman. Gudang dengan halaman sekitar yang ditumbuhi ilalang yang bahkan lebih tinggi dari pada seorang laki-laki dewasa.


Mereka mengendap-endap dan bersembunyi memanfaatkan kerimbunan ilalang. Mengintai bagian dalam gudang yang dijaga ketat oleh beberapa preman yang berpatroli lima belas menit sekali.


“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Hanya ada sekitar sepuluh orang. Saya pikir Rafael tidak akan menyangka jika kita dapat menemukan tempat ini.” Lapor Gibran yang dengan setia mengikuti Alex.


“Bukankah itu bagus. Laksanakan sekarang. Lumpuhkan mereka dengan segera dan jangan biarkan seorang pun dari mereka bisa kabur.” Alex menyeringai. Kemenangan ada di depan mata.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


Coba tebak, apa yang ada di dalam gudang?


Kalau ada satu saja yang menjawab benar, akoh akan up satu episode lagi hari ini.😁


__ADS_2