
Setelah meminta izin pada Alex dan memasrahkan Serena pada Mak Marni, Nara segera bergegas mencari Vera. Berita itu baru tersebar beberapa hari. Dan kemungkinan besar Vera masih berada di rumahnya. Jadi Nara segera menuju ke sana.
Sudah hampir setengah jam Nara berdiri di depan gerbang megah kediaman walikota kota C. Jika dalam keadaan biasa, dua orang satpam yang berjaga di depan tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengizinkan Nara masuk.
Namun dalam keadaan saat ini, semua jelas berbeda.
Sekali lagi Nara mencoba mendapatkan informasi dari dua satpam tersebut.
“Ayolah Pak Rudi. Masak bapak tidak percaya sama saya?”
“Bukan begitu non. Tapi saya harus menjalankan tugas saya. Ini pekerjaan saya.”
“Baiklah jika saya memang tidak boleh masuk. Tapi tolong beri tahu saya, apakah Vera baik-baik saja? Saya sangat mengkhawatirkannya.”
Pak Rudi menoleh pada rekannya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Melalui tatapan mata mereka, mereka melakukan diskusi dengan cara mereka sendiri. Tak lama kemudian, rekan pak Rudi mengangguk.
“Sini non.” Pak Rudi melambaikan tangannya. Meminta Nara mendekat.
“Ini sebenarnya adalah rahasia non. Tapi karena non Nara adalah temannya non Vera, non boleh tahu.” Nara mengangguk paha. Itu artinya ia juga harus menjaga rahasia kediaman walikota.
“Sebenarnya non Vera sudah tidak di rumah sejak Pak Siddar dibawa sama pihak KPK. Non Vera pergi karena marah.” Jelas pak Rudi dengan suara pelan.
“Lalu kemana Vera?” Tanya Nara kaget.
“Kami juga tidak tahu. Nyonya dan mas Ferdi juga sudah mencarinya. Tapi non Vera tidak ditemukan.” Nara diam. Ia berpikir kemana Vera kemungkinan akan pergi di saat seperti itu?
Setelah tidak mendapatkan hasil apapun selain kabar hilangnya Vera, Nara memutuskan untuk kembali pulang. Tidak baik meninggalkan Serena untuk waktu yang lama. Lagi pula masih belum ada titik terang tentang keberadaan Vera.
Berita yang baru saja ia dapatkan juga ia sampaikan pada Syila dan Gita. Berharap keduanya ikut membantunya berpikir dimana kira-kira keberadaan Vera saat ini.
“Aku ingin sekali pulang. Tapi jika aku sampai nekad pulang, aku tidak akan lagi dapat kembali.” Kata Syila putus asa. Awalnya orang tuanya melarangnya untuk kuliah di luar negeri. Namun Syila memaksa. Dan akhirnya orang tuanya hanya bisa mendukung dan sedikit memberinya tekanan.
__ADS_1
“Aku paham. Yang terpenting adalah tolong bantu aku berpikir kemana kira-kira Vera pergi? Jika kita ada di sini saat itu mungkin Vera akan ke tempat kita. Tapi saat itu kita tidak berada di sisinya.”
“Aku merasa menjadi teman yang buruk.” Gita menimpali.
“Ah! Kita harus berpikir seperti Vera.” Syila mendapatkan ide.
“Maksudmu?” tanya Nara dan Gita.
“Vera adalah gadis yang suka belanja, jalan, dan nongkrong. Dan tempat yang paling memungkinkan adalah mall.” Gita memberikan asumsinya.
“Tapi semua itu butuh uang. Sedangkan yang aku tahu semua aset kediaman walikota sedang dibekukan. Bukankah itu artinya rekening Vera juga termasuk. Tanpa ada uang, bagaimana dia bisa melakukan itu semua?” Pendapat Gita langsung terpatahkan oleh perkataan Nara.
“Yah. Juga mana mungkin seseorang akan berada di mall setiap waktu?”
“Setidaknya jika tahu Vera akan sering berada di mall, kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk menemukan nya.” Gita kembali berbinar.
“Hei hei! Itu seperti kamu akan langsung terbang kemari dan ikut mencari. Di sini saat ini hanya ada aku. Di sini ada puluhan mall. Dan kita tidak tahu dimana Vera akan muncul. Apa kamu pikir aku bisa membelah tubuhku dan menyebarkannya di seluruh kota hah?” Nara menaikkan nada bicaranya. Gagasan yang dikemukakan Gita itu seperti mudah dilakukan. Tapi jika hanya Nara yang bergerak akan sangat sulit.
“Kalian hubungi aku kalau kalian sudah menemukan solusi. Mertuaku sedang sakit. Aku harus melihatnya dulu.” Kata Nara sebelum memutuskan sambungannya secara tiba-tiba. Membuat kedua sahabat yang hendak mengoloknya terpaksa menelan kata-kata mereka dengan perasaan dongkol.
**
Serena sedang berbicara dengan Mak Jum saat Nara masuk ke dalam kamarnya. Dari luar kamar terdengar gelak tawa kecil dari dalam. Nara tersenyum senang. Ia ikut bahagia mendengar Serena tertawa.
“Wah sepertinya kalian cukup bersenang-senang. Boleh Nara gabung?” Nara masuk dengan senyum di bibirnya. Serena tersenyum melihat menantunya masuk ke dalam kamarnya. Alex memang masih mengabaikan nya. Tapi setidaknya menantunya ini baik dan perhatian padanya. Ia patut bersyukur.
Mak Jum yang awalnya duduk di tepi ranjang segera berdiri saat melihat Nara masuk. Namun Nara segera menghentikannya.
“Tidak perlu pindah Mak Jum.” Ucap Nara. Ia lalu menarik kursi untuk mendekat ke arah Serena.
“Mama sudah merasa baikan? Apa masih ada yang kurang nyaman?” Nara mengelus punggung tangan Serena.
__ADS_1
Serena tersenyum. Perhatian kecil itu membuatnya menghangat. “Mama sudah baik-baik saja. Hanya tinggal lemasnya saja. Jangan khawatir.” Serena menangkup tangan Nara yang masih ada di punggung tangannya.
“Nara lega mendengarnya. Oh ya kalian tadi sepertinya ngobrol dengan menyenangkan. Kalian sedang membicarakan apa?”
“Oh kami tadi sedang membicarakan Alex saat dia masih kecil. Coba kamu lihat ini.” Serena meraih album foto yang ada di atas nakas. Kemudian memberikan nya pada Nara. Membiarkan menantunya membuka lembaran memory yang berisi kenangan masa lalu.
“Ini Alex ma?” tanya Nara saat mendapati foto bayi yang terlihat lucu meskipun sedang menangis.
“Hem. Mama rasa mama tidak pernah melihat bayi setampan dan semenggemaskan Alex saat kecil.” Serena kemudian sibuk menunjukkan beberapa foto di dalam album.
Namun sayangnya beberapa foto di sana sudah hilang. Foto yang hilang itu adalah foto yang ada Serena di dalamnya. Hanya ada foto Alex dan Yoga, papa Alex. Pelaku dari hilangnya foto itu adalah Alex sendiri. Ia yang meminta Mak Marni untuk membakar semua foto Serena di mansion Juantama setelah kematian Yoga.
Sebelumnya, Yoga selalu merawat dan menyayangi setiap kenangan Serena. Sampai meninggal, Yoga masih tetap mencintai Serena meskipun ia sudah dikhianati. Itulah yang membuat Alex sangat membenci yang namanya cinta. Menurutnya, cinta membuat seseorang menjadi tidak masuk akal dan bodoh.
Nara juga menyadari kejanggalan itu. Beberapa tempat kosong. Ia juga sudah bisa menebak foto siapa yang telah dihilangkan. Jadi ia tidak mau bertanya hal yang akan membuat Serena sedih.
“Lihatlah. Alex tampan seperti papanya.” Serena menunjuk satu foto dimana Yoga sedang duduk bersama Alex. Saat itu Alex berumur tujuh tahun. Di usianya yang masih kecil saja Alex sudah terlihat tampan. Dan melihat Alex saat ini pasti akan mengira jika Alex adalah reinkarnasi dari Yoga. Keduanya nampak sama.
“Yah. Mereka berdua mirip.”
Serena mengelus foto itu. Matanya menerawang jauh ke masa lalu. Masa di mana keluarga kecilnya hidup damai meskipun Serena tidak memiliki cinta untuk Yoga.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa like ya man teman🥰
__ADS_1