Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
87. Luluh


__ADS_3

Kata orang, hati wanita selembut kapas. Yang akan mudah berganti ketika mendapati situasi yang berbeda. Mungkin di satu hari ia begitu membenci satu hal dikarenakan suatu penyebab. Namun akan dengan cepat menyukai satu hal itu setelah mendapatkan sebab yang lain.


Itulah yang dirasakan Rita. Beberapa hari yang lalu, ia mau menerima Nadia hanya demi anaknya, namun untuk sekarang rasa itu berbeda.


Apa yang ia lihat dan dengar di dalam ruang rawat Nara membuatnya sadar jika wanita yang dicintai anaknya memang pantas mendapatkan cinta itu terlepas dari statusnya.


Jika sejak awal Rita mau menutup matanya tentang status. Nadia adalah sosok menantu idamannya. Sederhana dan sopan. Terlebih dia juga sangat cantik dan juga baik. Namun selama ini semua hal baik pada diri Nadia tertutup oleh status dan juga rumor mengenai wanita cantik itu.


Namun saat dirinya mendengar sendiri.... ah! Andai ia yang berada di posisinya, ia tak akan sanggup.


Saat itu,


“Kenapa kamu tidak pernah bilang jika banyak rumor buruk tentangmu Nadia?” tanya Nathan yang baru mengingat laporan dari bawahannya. Nadia yang baru akan beranjak dari duduknya untuk menghampiri Nara berhenti dan menatap Nathan dengan serius.


“Mas, lidah manusia tidak bertulang. Jadi mereka bisa berucap sesuka hati.”


“Tapi mereka keterlaluan. Aku tidak terima jika ada yang mengatakan hal seburuk itu tentangmu. Siapa yang menyebarkan jika kamu yang merayuku? Padahal aku lah yang mengerjarmu. Terlebih lagi merayu laki-laki lain. Ini menggelikan.”


“Entahlah.” Nadia menggedikkan bahunya. “Sudahlah mas. Mulut mereka banyak. Kita tidak bisa membungkam mulut mereka dengan kedua tangan kita. Tapi dengan kedua tangan itu, kita bisa menutup telinga.”


“Sekarang ada aku di sisimu Nadia. Kamu tidak harus menahan diri. Kamu akan menderita. Dengan satu mulutku ini aku akan membuktikan jika aku bisa membungkam mulut mereka.”


Nadia terkekeh. Sesungguhnya ia sudah kebal mendengar banyak rumor dan cemoohan. Latihannya tidak main-main hingga menjadikan telinganya setebal tembok raksasa China.


Namun tangan Nathan yang menggenggam tangannya menghentikan tawa Nadia.


“Jangan memendamnya sendiri Nadia. Apa kamu masih belum mempercayaiku?”


“Aku percaya padamu mas. Tapi bukankah mas tahu jika telingaku ini sudah begitu tebal hanya untuk mendengar hal semacam itu. Hal ini masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan apa yang aku alami dulu.”


“Kamu perempuan terhebat Nadia.”


“Tentu saja. Jika aku tidak hebat, bagaimana aku bisa membuat mas masih bertahan sampai sekarang hanya untukku.” Kelakar Nadia. Nathan yang mendengarnya sontak tertawa. Ia merasa sekarang Nadianya semakin berani dan sedikit narsis di satu kesempatan.


“Aku mencintaimu Nadia.”


“Hem.”


“Jawab dong. Apa kamu mencintaiku?”


“Apa aku harus menjawabnya?”

__ADS_1


“Tentu saja.”


“Aku juga.” Jawab Nadia singkat sambil berlalu dan duduk di kursi sebelah brangkar Nara. Kembali menggenggam tangan kecil putrinya.


Nathan yang ditinggal begitu saja hanya tersenyum melihat Nadia yang terkadang masih bersikap malu-malu padanya. Ia sangat menyukai rona merah di area pipi mulus Nadia yang sangat ingin ia cium.


“Jangan senyum-senyum. Cepat tidur.” Perintah Nadia. Nathan segera menarik selimutnya dan tidur dengan nyaman disana.


Di balik pintu yang setengah terbuka, dua orang saling berpandangan. Kemudian dengan kode, keduanya duduk di kursi di depan ruang VIP itu.


“Apakah mama sekarang sudah yakin?”


“Ya pa.”


“Papa yakin Nathan tidak akan salah mengenali orang.”


Melihat istrinya diam, Panji melanjutkan ucapannya.


“Kadang sebuah status tidak harus dilihat dan diterima begitu saja ma. Bukankah mama pernah mendengar cerita dari Tasya mengenai Nadia?” mendengar pertanyaan Panji, dahi Rita berkerut.


“Mama pasti lupa. Itu yang gadis desa yang pernah menjadi pasien Tasya, aku rasa Nadia lah orangnya.”


Saat itu, Tasya dengan antusias menceritakan salah satu pasiennya. Yang ternyata Nadia. Dari ceritanya, Rita mengetahui sedikit masa lalu Nadia. Dan bagaimana bisa Nadia mendapatkan statusnya yang ia benci sekarang.


“Kita temui sekarang? Sepertinya Nara sudah bangun.” Kata Panji. Ia lamat-lamat mendengar suara tangis Nara yang merasakan sakit di kepalanya.


Rita mengangguk. Ia segera mengikuti suaminya yang masuk terlebih dulu sambil membawa buket buah di tangannya.


Di dalam sana, dua orang paruh baya mendapati Nadia yang sedang menenangkan Nara di atas brangkar. Sedangkan putra mereka tertidur lelap di ranjang di pojok ruangan.


Nadia yang melihat keduanya masuk setelah mengetuk pintu segera menyapa mereka.


“Lihat sayang, siapa yang mengunjungimu?” ucap Nadia berusaha mengalihkan perhatian Nara dari rasa sakitnya.


Ternyata cara itu berhasil, Nara segera menoleh pada tamu yang hadir di ruang rawatnya. Ia tersenyum di sela isak tangisnya.


Rita yang melihat wajah menahan sakit Nara menjadi tidak tega dan segera menghampiri gadis cilik yang berusaha menahan tangisnya.


Nadia segera menyingkir untuk memberi ruang bagi Rita.


“Mana yang sakit sayang?” tanya Rita saat dia baru saja duduk di depan Nara.

__ADS_1


“Kepala Nara sakit oma.”


“Sini biar ima obati.” Rita mencium kepala Nara yang diperban. “Nah sudah. Setelah ini sakitnya pasti hilang.” Lanjutnya.


“Terima kasih oma.”


“Maafkan saya, karena mas Nathan tadi menyumbangkan darahnya untuk Nara, jadi dia menjadi lemas.” Ucap Nadia ketika Rita memandang putranya yang tertidur lelap di ranjang.


“Tidak apa Nadia. Bukankah Nara juga akan menjadi putri Nathan. Sebagai papanya, ia memang harus melakukan apapun untuk putrinya.” Ucap Rita serius.


“Aku sangat senang melihatnya tertidur seperti itu. Sudah lama rasanya tidak melihatnya tidur dengan lelap. Terima kasih Nadia.”


Nadia yang mendengar ucapan Terima kasih dari Rita menjadi bingung. Ia tidak melakukan apa-apa.


Belum lega rasa penasaran Nadia, ucapan Rita selanjutnya menjadikannya lebih bingung.


“Kini aku mengetahui mengapa Nathan sangat menjaga cintanya padamu. Dia bahkan rela bekerja dengan sangat keras demi segera menyusulmu di desa. Sekarang aku mengerti alasannya.”


Melihat raut bingung calon menantunya, Rita segera memegang lengan Nadia.


“Putraku sangat mencintaimu Nadia. Dan aku yakin kebahagiaannya hanya ada bila bersamamu. Aku merestui hubungan kalian. Segeralah menjadi menantuku. Aku yakin kita akan menjadi pasangan menantu dan mertua yang bahagia.” Ucap Rita sambil terkekeh.


“Tidak ma! Nadia akan menjadi istriku. Aku dan Nadia yang akan menjadi pasangan yang bahagia.” Ucapan Nathan membuat keempat orang disana melihat ke arah satu manusia dengan muka bantal di sudut ruangan.


Rita segera bangkit dari duduknya dan menghampiri putranya. Kemudian dengan kekuatan penuh menjitak keras dahi sang putra.


“Aduh! Sakit ma.” Gerutu Nathan sambil mengelus keningnya yang berdenyut ngilu.


“Rasakan! Biar otakmu yang beku kembali encer.” Sungut Rita. Ia tidak menyangka jika kadar kecemburuan putranya in berada di level keterlaluan.


*


*


*


Like!


Like!


Like!

__ADS_1


__ADS_2