Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_5. Nasihat Nadia


__ADS_3

“Hem... Cowok yang jadi pacarku harus kayak papa. Ah tidak. Untuk pacaran mendingan kayak Gerry aja.” Nara mengetuk dagunya dengan jari telunjuk.


“Kamu beneran pengen punya pacar yang kayak Gerry?” Gita bergidik ngeri. Memang sih Gerry itu tampannya keterlaluan. Tapi dia itu kan playboy nggak ketulungan juga.


“Iya. Memang kenapa?” Nara heran melihat ketiga temannya yang berwajah aneh.


“Secara Gerry adikmu itu kan rajanya playboy. Kamu mau punya cowok playboy?”


Nara berpikir sejenak. Ia sampai melupakan fakta itu. Yang dia pikir hanya sikap Gerry yang memperlakukan pacar-pacarnya dengan sangat perhatian dan pandai merayu. Sebagai seorang gadis yang belum pernah merasakan rayuan gombal sebelumnya, diam-diam Nara mengidamkan yang seperti itu. Bagaimanapun, dipuja dan dipuji itu menyenangkan.


“Aku lupa keplayboyan Gerry. Ah. Yang kayak papa aja deh. Perhatian dan lembut sama mama. Romantis, sayang banget juga sama mama.” Nara menerawang jauh. Mengingat tahun-tahun nya dia lewati dengan melihat pasangan favoritnya yang selalu pamer kemesraan di manapun dan kapanpun mereka berada.


“Bener-bener jablay nih cewek.” Vera bergidik melihat Nara yang tersenyum sendiri sambil merem melek sendiri.


“Biarin. Kalian kan tahu sendiri aku ini jomblo akut.” Ekspresi Nara seperti teraniaya.


“Yang sabar ya.” Ketiga temannya memeluknya bersimpati.


“Lupakan masa lalu. Meskipun kamu tidak berminat dengan tuan Alex, di Amerta stok cowok ganteng jumlahnya bejibun. Jangan khawatir untuk stok. Kamu pasti menemukan satu di sana.” Syila menepuk pundak Nara.


Nara hanya manggut-manggut. Ia juga berharap seperti itu. Sejujurnya ia sendiri masih belum yakin seperti apa cowok idamannya. Dan jawaban yang ia berikan pada teman-teman nya tadi hanya asal sebut saja.


Tapi untuk Alex, laki-laki itu sudah dia diskualifikasi dari daftar targetnya begitu ia melihat betapa dinginnya Alex. Dan yang ia tahu bahwa ia sama sekali tidak menginginkan cowok dengan kriteria dingin. Sudah pasti dia tidak perhatian dan akan sangat canggung dan membosankan berada di sekitarnya.


Sebenarnya Gerry juga tidak buruk. Hanya playboy nya yang harus dia hilangkan. Tidak ada gadis yang ingin mempunyai pacar playboy.


Gerry yang humoris dan sangat hangat benar-benar laki-laki muda yang menarik. Apalagi dengan ketampanan dan dan postur tubuh yang atletis. Pesonanya tidak bisa dihindari. Tapi setelah dipikir-pikir kembali, memiliki pacar seperti Gerry akan sangat merepotkan. Pasti banyak cewek yang dibuat baper karena sikapnya yang selalu perhatian pada cewek manapun. Uh! Gerry memang suka tebar pesona.


Nara segera pamit pulang saat jam tangannya menunjukkan pukul lima. Jika ia tidak berada di rumah tepat waktu, bisa-bisa izinnya memakai mobil sendiri akan dibatalkan selamanya oleh Bisma. Ini juga merupakan syarat yang diberikan Bisma. Meskipun keberatan, Nara hanya bisa menurut.


Tepat ketika adzan magrib pertama berkumandang, Nara telah selesai memarkirkan mobilnya di depan rumah. Kemudian memberikan kuncinya pada mang Udin untuk dibawa ke dalam garasi.


Nara patut bersyukur karena Bisma hari ini pulang lebih lambat dari biasanya. Kerjaan di kantor lumayan banyak karena ada proyek baru yang menjadi tanggung jawabnya. Bisma baru kembali ketika makan malam keluarga akan dimulai.


“Ingat syarat yang kakak ajukan Nara.” Kata Bisma pelan saat Nara akan naik ke lantai dua setelah makan malam. Namun terdengar jelas di telinga Nara. Ia segera mengerucutkan bibirnya sekilas karena segera ia ganti dengan senyuman yang sengaja ia buat semanis mungkin.


“Iya kakakku tersayang.” Nara mencium pipi kanan Bisma sebelum melangkah naik ke lantai dua di mana kamarnya berada.

__ADS_1


Bisma memperhatikan punggung Nara yang semakin jauh. Ia mendesah pasrah menyadari perubahan wajah adiknya yang terlihat lebih bahagia. Apalagi sayup-sayup ia dapat mendengar adiknya itu bernyanyi dengan riang ketika naik tangga.


Adiknya terlihat bahagia dengan kebebasan nya. Apakah ia memang salah jika selama ini terlalu mengekang adiknya itu. Mungkin kasih sayang yang ia curahkan pada Nara selama ini ia berikan dengan cara yang salah.


Biarpun begitu, ia masih belum bisa melepaskan adiknya secara penuh. Di era sekarang ini, dunia bebas sangatlah berbahaya untuk gadis seperti Nara. Dengan fisiknya yang di atas rata-rata dan sikap Nara yang centil, akan menjadikannya sasaran empuk para buaya darat di luar sana. Inilah yang selalu Bisma jaga selama ini. Adiknya terlalu rawan jika dilepaskan.


“Apa yang membuatmu berpikir dengan begitu keras sayang?” suara lembut seorang wanita menyadarkan Bisma dari lamunannya.


Entah sejak kapan mamanya sudah berdiri di depannya.


“Bukan masalah besar ma. Hanya sedikit masalah di kantor.”


“Jangan berpikir terlalu keras.” Nadia menepuk pundak sang anak. “Mama mau buatin papa kopi. Kamu mau sekalian?” lanjutnya. Sebenarnya tadi sudah masuk ke dalam kamar. Namun karena Nathan ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, Nadia berniat membuatkan Nathan kopi. Namun melihat anaknya yang melamun di ujung tangga membuatnya mengurungkan niatnya untuk sesaat.


“Boleh ma.” Jawab Bisma singkat.


“Baiklah. Kamu tunggu di kamar. Nanti mama antarkan ke sana.” Bisma mengangguk sebelum naik ke lantai dua.


Nadia masuk ke dalam kamar Bisma dengan secangkir kopi di tangannya. Sedangkan kopi untuk Nathan ia meminta mbak Wati untuk mengantarkannya ke kamar.


“Boleh mama masuk?” tanya Nadia meskipun kenyataannya dirinya sudah masuk ke dlaam kamar anaknya.


“Ada apa Hem?” Nadia tahu bahwa bukan masalah pekerjaan yang membuat Bisma sampai melamun tadi.


“Tidak ada apa-apa ma.” Sangkal Bisma.


“Huft. Aku ini mamamu Bisma. Aku tahu jika kamu sedang ada masalah dan berbohong bahwa semua baik-baik saja.” Desak Nadia.


“Sebenarnya Bisma mengkhawatirkan Nara ma.”


“Mama tahu kamu sangat menyayangi adikmu dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi dengan kamu mengekang adikmu dengan begitu ketat. Hal itu malah membuat kerugian untuknya.” Nadia menyentuh lengan Bisma.


“Maksud mama?” Bisma belum paham apa yang dimaksud oleh Nadia. Menurutnya, semua yang ia lakukan untuk Nara adalah yang terbaik untuk gadis seperti Nara.


“Dunia ini kejam bagi mereka yang lemah Bisma. Jika kamu terlalu melindungi Nara, dia tidak akan pernah belajar untuk menjadi kuat. Sekali dua kali terluka tidak akan membuat seseorang hancur. Sebaliknya, dengan beberapa kali terluka akan membuat orang itu lebih waspada dan menjadi kuat dari waktu ke waktu.”


Mendengar penjelasan dari Nadia. Bisma seperti telah diserahkan. Di dalam dunia tidak ada yang instan.

__ADS_1


“Mama benar. Sepertinya mulai sekarang aku harus memberi Nara kepercayaan untuk menjaga dirinya sendiri. Tapi aku akan terus memantaunya agar dia tidak jatuh ke dalam masalah yang membahayakan.”


“Itu bagus.”


Tepat ketika Nadia hendak berdiri dari duduknya, pintu kamar Bisma yang memang tidak ditutup dengan rapat terbuka lebar. Menampakkan wajah seseorang yang terlihat sangat frustasi.


“Sayang kenapa kamu malah di sini? Bahkan kopiku di antar oleh mbak Wati.” Nathan muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang memelas.


“Maaf mas. Bisma sedang banayk pikiran mengenai pekerjaan. Jadi aku temani dia dulu biar relax.” Kata Nadia sambil berjalan mendekati Nathan.


“Yang lelah karena kerja bukan hanya dia sayang. Aku juga lelah seharian di kantor. Malam ini bahkan aku harus lembur.”


protes Nathan.


“Iya mas. Ayo kembali ke kamar. Aku temani mas lembur malam ini.” Nathan tersenyum puas mendengar ucapan istrinya.


“Bisma, jangan tidur terlalu malam.” Ucap Nadia sebelum berbalik.


“Kalau malam mama milik papa. Jangan ganggu. Kalau kamu butuh wanita untuk menemanimu. Segeralah bawa menantu di keluarga ini.” Nathan melirik dengan kejam ke arah Bisma. Sang anak hanya mendengus. Jika ia tahu jika papanya akan memonopoli mamanya seperti ini. Dia tidak akan mengizinkannya menikahi mamanya.


“Ingat itu.” Ucap Nathan sekali lagi sebelum ia keluar dari kamar Bisma dengan tarikan Nadia yang keras dan protes dari Nadia atas sikap Nathan pada Bisma.


Bisma samar-samar masih bisa mendengar dua orang yang baru keluar dari kamarnya berdebat. Dengan Nadia yang marah dan Nathan yang selalu bersikap manja.


Ah! Bagaimana pun Nathan, dia adalah pasangan yang paling tepat untuk Nadia. Bisma selalu menghangat melihat sikap romantis keduanya.


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 😘


Alhamdulillah bisa up malam ini.


Jangan lupa like dan komen EA....

__ADS_1


Dukungan kalian benar-benar menjadi pendorong Akoh buat berhalu ria di penghujung hari🥰


__ADS_2