Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
57. Di rumah ini akulah yang berkuasa


__ADS_3

Happy reading...😎


Tepat ketika Devi dan Yulia keluar dari kamar Nadia, seorang pelayan memberitahukan bahwa rumah mereka kedatangan seorang tamu penting yang ingin bertemu dengan kedua istri juragan Bondan.


“Siapa bi?” tanya Devi penasaran.


“Saya kurang paham nyonya besar. Hanya saja dia berpakaian formal berjas. Membawa tas dan banyak amplop penting di tangannya.” Jelas pelayan itu.


“Baiklah. Lakukan tugasmu. Jangan lupa minta yang lainnya menyiapkan minuman.” Devi mengibaskan tangannya untuk mengusir pelayan itu. Sedangkan dia dan Yulia segera pergi ke ruang tamu di mana tamu mereka menunggu.


Nadia yang juga mendengarnya segera keluar dari kamar setelah merapikan pakaiannya. Dia masih mendapati pelayan yang sama hendak mengetuk pintu kamarnya.


“Aku sudah dengar bi. Terima kasih.” Kata Nadia ketika melihat pelayan itu hendak membuka mulutnya untuk berbicara. Jika yang bersangkutan sudah mendengar isi pesanya walaupun tidak secara langsung, untuk apa mengulanginya lagi.


“Baik nyonya muda.”


“Hem. Pergilah.” Nadia melenggang ke ruang tamu menyusul Devi dan Yulia yang lebih dulu berada disana.


Belum sampai Nadia di ruang tamu, di sudah mendengar suara Devi mencoba membujuk seornag laki-laki yang diketahui Nadia adalah seorang pengacara.


“Katakan saja sekarang pak pengacara. Saya adalah istri sah juragan Bondan. Jadi saya berhak mendengar wasiat dari bapak kan? Ayo katakan.” desak Devi.


“Mohon maaf bu. Ini bukan bagian dari warisan. Jadi saya tidak bisa membantu.” Devi ingin sekali merebut semua kertas yang berisi sebuah amanat dari juragan Bondan yang ada di depan laki-laki itu.


“Permisi. Selamat sore, Saya Nadia Ayu Purnama, istri kedua Bondan Darusman.” Nadia masuk ke dalam ruang tamu dan memperkenalkan diri pada laki-laki berjas disana. Setelah memperkenalkan diri, dia mendudukkan dirinya di sofa tunggal di depan pengacara itu.


“Selamat sore nyonya Nadia.” Wau, istri mudanya bahkan lebih muda daripada anaknya. Lanjutnya dalam hati.


Tak lama setelah Nadia duduk. Seorang pelayan masuk ke dalam ruang tamu dan menyajikan teh dan beberapa camilan dalam toples. Devi selaku tuan rumah menawarkannya pada sang tamu.


Dion menyesap sedikit teh miliknya sebelum mengambil nafas dalam untuk mulai pembicaraan yang serius. Karena semua orang yang dimaksud sudah berada di ruangan, pengacara bernama Dion itu tidak mengulur waktu. Dia segera menarik dirinya untuk duduk dengan tegak setelah mengambil sebuah map biru yang berisi surat amanah juragan Bondan.

__ADS_1


“Baiklah karena kedua istri juragan Bondan sudah ada, saya akan segera membacakan surat amanah yang disampaikan juragan Bondan dua bulan yang lalu.”


“Baiklah pak Dion silahkan dibacakan pesan dari bapak.” Kata Yulia dengan tidak sabar.


“Baiklah.” Dion segera membacakan isi surat itu. Yang isinya adalah pembagian sebagian harta yang dimaksudkan untuk hadiah untuk kedua istrinya. Sedangkan untuk hal warisan, akan dibagikan satu bulan setelah kematian juragan Bondan.


Dalam surat itu tertulis bahwa Nadia berhak atas kepemilikan rumah dengan syarat tidak boleh dijual. Sedangkan Devi mendapatkan penggilingan bersama anak-anaknya dengan catatan akan memenuhi kebutuhan rumah tangga rumah besar. Hal ini bertujuan untuk membuat kedua istrinya hidup berdampingan dengan rukun.


“Saya tidak terima. Saya adalah istri pertama. Jadi saya yang lebih berhak mendapatkan hak atas rumah ini.” Devi begitu emosi hingga menggebrak meja. Dion yang memang sudah sering mendapatkan respon seperti itu sudah terlebih dulu memantapkan hatinya.


“Oh ya? Lalu, apakah bu Devi ingin melakukan pertukaran dengan saya. Apakah itu bisa tuan Dion?” Nadia bertanya dengan sopan.


“Tentu saja itu bisa di atur.” Jawab Dion dengan senyum. Bukan hanya muda dan cantik. Namun dia juga sangat pintar. Sepertinya ia terbiasa membungkam mulut madunya yang cerewet.


“Apa?! Tidak itu tidak benar. Aku tidak akan pernah menyerahkan penggilingan padamu.”


“Lalu mau yang seperti apa? Ini sudah menjadi keputusan bapak. Apakah kalian tidak lagi menghormati bapak?” dihadapkan pada pertanyaan itu, kedua wanita itu hanya terdiam. Mereka tentu saja tidak akan melepaskan penggilingan. Tapi tidak juga dengan rumah besar. Keduanya harus menjadi milik mereka.


“Kau? Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga semua ini terjadi?”


“Tidak ada.”


“Bagaimana? Apa kalian bisa menerima pembagian ini?”


“Kalau saya, saya akan menerimanya tuan Dion. Tapi kalau bu Devi mau melakukan barter aku juga terima.”


“Tidak. Itu tidak akan terjadi. Lebih baik seperti awal saja. Nadia tidak boleh mendapatkan penggilingan.”


“Pilihan yang bijak. Dengan itu pekerjaanku tidak akan bertambah. Mengurus sanggar saja aku sudah kerepotan, biarkan kalian saja yang mengurus penggilingan. Mas Yanto sangat berkompeten dalam hal ini.”


“Baiklah kalau begitu. Silahkan tanda tangani surat ini.”

__ADS_1


Dion segera pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Kepergiannya diantar ketiga wanita yang tadi berbicara dengan pengacara muda itu. Wajah Devi maupun Yulia menggelap sepanjang waktu ingin protes tapi tak tahu harus ditujukan pada siapa. Orang yang bertanggung jawab dalam pembagian ini saja sudah satu minggu lebih berada di dalam tanah dan tidak mungkin lagi bicara.


“Baikalah. Karena sekarang sudah jelas. Di rumah ini akulah yang berkuasa. Aku tidak ingin ada lagi yang membuat masalah apapun disini. Aku harap kita bisa hidup berdampingan dengan damai. Tenang saja. Aku akan pergi suatu saat nanti tanpa membawa rumah ini bersamaku. Aku bukanlah seekor siput. Jadi hingga waktu itu tiba, mohon bersabarlah untuk menghirup udara yang sama denganku.” Nadia berbalik dan meninggalkan kedua orang wanita yang sedang menahan amarah mereka.


“Nadia sangat keterlaluan bu. Tapi apakah ibu ingat perkataan terakhirnya?” Yulia berubah serius. Meskipun dia sedang dikuasai amarah saat itu, tapi telinganya jelas menangkap apa yang keluar dari bibir Nadia.


“Apa? Bahwa dia bukan siput?” Devi terlalu malas. Berbicara dengan istri muda suaminya itu menghabiskan separuh energinya hanya untuk merenung dan merenung tanpa bisa membalas.


“Bukan bu. Yang dia bilang akan pergi dari sini suatu saat nanti. Apa ibu tahu maksudnya?” Yulia memegang lengan ibunya. Devi mengernyitkan dahinya. Sekilas dua memang mendengar kata-kata itu diucapkan. Tapi tidak memasukkannya ke dalam hati apalagi sampai dipikirkan dengan serius.


“Ah ya aku juga dengar. Tapi apa maksudnya berkata seperti itu? Apakah ia memang berniat akan pergi dari sini?”


“Itu mungkin. Itu tidak penting. Entah dengan niatnya sendiri atau kita yang membuatnya pergi, dia pasti akan pergi dari sini. Tanpa membawa harta warisan sepeserpun.”


Kedua wanita itu tersenyum jahat. Nadia harus pergi dari kehidupan mereka. Dan yang harus digaris bawahi adalah dengan tidak membawa harta warisan dari suaminya. Wanita itu hanya datang beberapa tahun ini. Sedangkan Devi dan anak-anaknya tentu saja sudah berada di samping juragan Bondan selama puluhan tahun. Ini tidak bisa dibandingkan. Nadia tidak ada apa-apanya.


Tapi mengingat apa yang terjadi hari ini, keduanya harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Rumah ini ada dalam kekuasaan Nadia. Dengan kata lain, posisi mereka seimbang. Tidak ada yang bisa memprovokasi yang lainnya.


Tidak mungkin juga mereka menggunakan cara yang ektrem atau yang terbuka. Mereka mulai memikirkan beragam cara halus yang mungkin akan membuat Nadia dengan kemauannya sendiri meninggalkan rumah besar. Meninggalkan hidup mereka yang sepertinya hanya akan damai setelah kepergian Nadia.


*


*


*


...~*Aku Istri Muda*~...


Masih ingat kan dengan kebiasaan baiknya, xixixi ✌️


Like, Vote, Komen jangan ketinggalan 😊

__ADS_1


__ADS_2