
Nara langsung membuka laptop nya begitu duduk di mobil Alex. Alex yang duduk di sampingnya juga tidak mempermasalahkan nya.
“Pak Farid cari restoran. Kita makan siang dulu.” Ucap Alex pada pak Farid yang hari ini bertugas menjadi sopir Alex. Sedangkan Gibran berada di kantor untuk menghandle pekerjaan Alex yang sengaja datang untuk membantu Nara dan Bisma. Pak Farid mengiyakan dengan ragu. Pasalnya saat ini masih belum masuk jam makan siang.
“Kamu sudah lapar jam segini Lex?” Tanya Nara yang mengalihkan pandangannya pada Alex. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Memang tidak salah penglihatannya. Masih jam sebelas siang.
“Bukan aku. Tapi kamu pasti belum sarapan. Iya kan?” tebak Alex.
“Memang sih tadi nggak sempat sarapan. Tapi aku nggak lapar. Kalau kamu belum lapar kita langsung ke rumah sakit saja.” Sebenarnya Nara sudah merasa lapar. Semalam belum sempat makan malam, dan tenaganya juga diforsir. Mana mungkin dia tidak kelaparan. Tapi mengingat papanya di rumah sakit, ia ingin sekali melihat perkembangan Nathan.
“Jadi ini kemana tuan? Nona?” tanya pak Farid ragu. Dia sendiri tahu jika Alex sudah sarapan sebelum berangkat bekerja. Pak Farid memang sopir keluarga. Jadi dia tahu jika Alex terbiasa sarapan.
“Restoran.”
“Rumah sakit.” Jawab Nara dan Alex serempak.
“Kita cari restoran dulu pak. Saya lapar.”
“Katanya tadi tidak lapar.” Nara memicingkan matanya.
“Memangnya kamu bisa merasakan kalau aku sedang tidak lapar? Tidak kan? Kalau aku bilang aku lapar ya berarti aku lapar.” Kekeuh Alex.
“Terserah.” Nara pun menyerah. Ia kembali fokus pada laptop nya. Ia sedang membuat rancangan tentang strategi pemasaran yang akan mereka laksanakan. Jika kakaknya setuju, ia akan mengajari karyawan di bagian pemasaran untuk mengikuti metodenya.
Alex tersenyum melihat Nara Yang serius tapi masih menampilkan wajah cemberut nya. Sungguh menggemaskan.
Mobil berhenti begitu ada restoran yang terdekat. Alex segera mengajak Nara untuk keluar. Tapi gadis itu menolak.
“Keluar sendiri atau perlu kugendong?” ancam Alex yang akhirnya membuat Nara dengan malasnya turun dari mobil. Ia segera mengekori Alex yang sudah berjalan di depannya.
Lain tadi lain sekarang, ketika makanan yang mereka pesan datang, Nara dengan lahap memakan pesanannya. Bahkan ia sampai tidak sadar jika ia memakan pesanan milik Alex. Laki-laki itu tentu saja tidak marah. Dia malah tersenyum.
“Katanya tidak lapar. Lihatlah sekarang siapa yang makan seperti tiga hari tidak makan?” sindir Alex.
“Ikhlas tidak sih ngajak aku makan?” kata Nara kesal. Dia kan memang kelaparan. Jika sudah ada makanan di depan mata kenapa tidak dimakan?
“Tentu saja aku ikhlas. Bahkan aku bisa memberi makan kamu seumur hidup.” Kata Alex.
“Aku masih punya papa. Masih punya kak Bisma. Masih punya mama. Masih banyak yang bisa kasih aku makan. Kenapa aku harus numpang makan sama kamu?” entah memang Nara terlalu polos apa dia hanya pura-pura tidak mengerti kode dari Alex. Namun yang pasti, ucapan Nara membuat Alex merengut.
__ADS_1
“Apa kamu sadar kalau kamu terlalu kejam Ra?” ucap Alex dengan wajah yang ia buat sememelas mungkin.
Nara terkekeh melihat wajah Alex yang terlihat menyedihkan. “Jangan memakai ekspresi seperti itu. Kamu tidak pantas menggunakannya.” Ucap Nara sambil menahan tawanya.
“Itu salahmu Ra. Kenapa kamu pura-pura tidak mengerti?”
Nara menghentikan tawanya seketika. Ia segera berdehem menutupi kegugupannya. Tentu saja ia paham dengan apa yang dimaksud Alex. Terlebih laki-laki itu juga beberapa kali dengan terbuka mengungkapkan perasaan padanya. Dan tak dipungkiri jika sebenarnya Nara juga mulai memiliki perasaan untuk Alex. Namun Nara masih berusaha mengelak karena menurutnya kriteria seperti Alex perlu dijauhi olehnya.
“Saat ini bukan waktu yang tepat membahas masalah itu tuan Alex.” Nara menyaut tas tangannya sambil berdiri.
Alex juga segera berdiri dan mengikuti Nara. “Jadi, jika lain kali aku mengajakmu membahas masalah ini, apa kamu akan mau?”
Nara yang masih belum jauh tentu saja mendengar dengan jelas ucapan Alex. Apalagi mereka berada di dalam ruangan VIP. Ia berhenti untuk berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Masalah nanti belum bisa diputuskan sekarang Lex. Hati manusia tidak ada yang tahu kapan akan berubah.” Setelah mengatakan itu, Nara segera berlalu. Ia masih perlu waktu untuk meyakinkan perasaannya.
“Aku hanya mengenalmu beberapa saat. Tapi kamu sudah membuatku mengingkari banyak kata-kataku. Entah sedalam apa aku telah mencintaimu Nara. Karena aku telah menandai kepemilikan atas dirimu. Aku akan mengejarmu hingga kamu akan menjadi milikku.” Kata Alex dalam hati yang hanya bisa melihat punggung Nara untuk saat ini. Tapi ia yakin jika suatu saat, ia akan bisa menahan gadis itu untuk tidak pergi meninggalkannya. Karena punggung itu akan berjejer dengan punggungnya.
**
Nara langsung menghampiri Gerry yang duduk di depan ruangan ICU. Alex berjalan santai di belakangnya. Gerry yang melihat seseorang yang datang bersama kakaknya melirik Alex dengan tatapan penuh pertanyaan. Gerry memang mengenal Alex. Tapi kenapa bisa datang bersama kakaknya?
“Iya. Kenapa kakak datang bersama kak Alex?”
“Tadi Alex ke kantor. Karena aku kesini jadi sekalian mau jenguk papa katanya.” Jelas Nara membuat Gerry mengernyit bingung.
“Kenapa kakak hanya memanggil namanya saja? Tidak sopan.” Mendengar protes dari sang adik Nara malah bingung. Sejak kapan adiknya ini dekat dengan Alex. Jika sering berkunjung ke rumah pastinya dia juga sudah lama mengenal Alex kan? Bahkan mamanya juga tahu.
“Iya. Kakakmu ini memang tidak berperasaan. Padahal aku lebih tua dari pada dia. Bahkan di kantor aku ini adalah bosnya.” Sindir Alex. Meskipun ia tidak keberatan akan panggilan Nara padanya yang terdengar tidak sopan. Dia hanya ingin menggoda gadis itu.
“Aish. Terserah kalian. Lagian kamu itu bos aku kalau di kantor. Nah sekarang kamu mau jadi bos juga di rumah sakit ini? Sudahlah. Aku mau nemuin papa dulu.” Nara mengibaskan tangannya. Kemudian masuk ruangan khusus untuk memakai pakaian steril sebelum ke dalam menemui Nathan.
“Mama.” Panggil Nara saat sudah berada di depan ranjang. Nadia yang duduk diam sambil menggenggam tangan Nathan menoleh. Ia tersenyum begitu mendapati putrinya yang berdiri tak jauh darinya.
“Kamu datang nak.” Kata Nadia tanpa melepaskan tangan Nathan.
“Iya ma. Bagaimana keadaan papa? Apa sudah ada perkembangan?” Nara mendekati Nadia. Mengelus lengan Nathan yang tergeletak di atas ranjang.
“Dokter bilang papa sudah melewati masa kritisnya. Kita doakan saja semoga papa cepat sembuh.”
__ADS_1
“Tentu ma. Kita semua berdoa untuk kesembuhan papa.” Nadia mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya pada lengan sang putri.
“Mama sangat mencintai papa Nara. Mama tidak akan bisa hidup tanpa papa.” Kata Nadia mulai terisak.
“Mama tidak boleh seperti ini. Papa pasti akan segera sembuh. Kami juga mencintai papa.”
Nadia semakin terisak membuat air mata yang dari tadi berusaha ditahan Nara akhirnya keluar.
“Mama jangan seperti ini. Nanti papa juga sedih.”
“Mama takut sayang.”
“Takut apa? Mama takut jadi janda lagi?” canda Nara.
“Hus. Nggak boleh bilang kayak gitu.” Nadia menepuk lengan Nara keras. Itu kan sama saja dengan menyumpahi Nathan. Dasar anak durjanah.
“Papa cepat bangun. Kalau mama jadi janda lagi masih banyak yang antri lho.”
"Kita keluar sekarang sayang.” Nadia menarik Nara segera keluar dari ruang rawat Nathan. Nara hanya pasrah mengikuti. Ia pun ingin mamanya keluar dan makan. Pasti mamanya ini tidak mau makan karena terlalu memikirkan Nathan.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
Mampir karya Akoh lainnya juga donk! Kepoin yuk biar makin ramai❤️
Kalau sudah mampir jangan lupa tinggalin jejak ea....
...Kasih like👍 lah...
...Komen 😎lah...
...Vote 🤔lah...
...Kembang 💐 apa kopi ☕lah...
__ADS_1