
Setelah semuanya dibahas, mereka semua segera memutuskan untuk berpisah. Seperti saat berangkat, Nathan ikut dalam mobil Nadia.
Yang dimaksud kota disini bukanlah seperti kota besar seperti Jakarta atau kota besar lain, melainkan hanyalah sebuah kota kabupaten. Jadi tentu saja ini tidak seperti yang diharapkan Jennika yang terbiasa hidup di ibukota.
“Di mana Mall terbesar disini?” tanya Jennika sambil mengamati bangunan di kanan kiri jalan. Semuanya tidak menunjukkan apa yang ia cari.
“Gempita Mall adalah mall satu-satunya. Apa kamu mau mengunjunginya sebelum kita kembali? Bagaimana dokter Nathan?” tanya Nadia, dengan kematian Juragan Bondan, tentu saja kebebasannya sekarang agak longgar. Tidak lupa menanyakan penduduk lain di mobilnya.
“Ayo pergi. Ya ya ayolah dokter Nathan. Selagi kita berada disini kita harus manfaatkannya kan?”
Nathan menghela nafas sebelum menyetujui ide Nadia. Ini juga baik untuknya. Sepertinya beberapa barang juga ia butuhkan.
“”Baiklah kalau begitu. Jon, kita ke Gempita.”
“Siap.”
Joni segera membawa mobil mereka menuju mall yang dimaksud. Saat tiba disana, Jennika hanya bisa menganga.
“Ini yang dimaksud mall disini?” gumamnya yang didengar semua orang yang ada di mobil itu.
“Hem, ini hanyalah sebuah kabupaten kecil, jadi hanya mall ini yang ada.” Jawab Nadia.
“Kalau kau ingin mall yang seperti apa yang ada di pikiranmu, silahkan bermimpi.” Kata Nathan.
“Eh, meskipun tempatnya kecil, disini lumayan lengkap. Ayo masuk. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang menarik.” Kata Nadia memberi sangat Jennika. Nadia memaklumi sikap Jennika.
“Dasar manja!” decak Nathan sebelum membuka mobil dan keluar.
Jennika cemberut mendengar ejekan Nathan. Ia kadang menyesali sikapnya yang manja. Tapi ini seperti mendarah daging padanya. Sangat sulit menghilangkan sifat manja ini darinya.
“Ayo.” Nadia mengajaknya sekali lagi sebelum ia juga keluar dari mobil. Jennika mengangguk sebelum menyusul turun.
__ADS_1
Keempatnya masuk ke dalam mall. Jika Jennika terbiasa dengan mall yang besar dan menjulang tinggi, Gempita Mall hanyalah bangunan yang cukup besar dengan empat tingkatan. Sangat jauh berbeda dari yang biasa ia masuki.
Jennika mengedarkan pandangannya begitu ia sampai di dalam bangunan mall. Memindai apa saja yang ada di dalamnya. Mencari nama toko fasion dengan label langganannya atau foodcourt kesukaannya. Jennika mendengus. Tidak ada satupun disana yang bisa menjadi tempat tujuannya.
Beberapa toko fasion hanya menyediakan label yang tidak begitu terkenal. Bukan seperti keinginannya. Bagaimana bisa ia akan menjadi fasionable tanpa merek-merek terkenal itu?
“Kamu mau mencari apa Jen?” tanya Nadia ketika melihat Jennik hanya diam.
“Apakah disini tidak ada toko yang menjual pakaian dengan label L?” tanya Jennika ragu.
“Hehehe maaf Jen. Merek seperti itu tidak disediakan disini. Konsumen disini tidak akan mampu membeli sepotong pakaian dengan harga fantastis.” Kata Nadia. Nathan hanya menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu yakin aku nggak akan kena iritasi dengan menggunakan baju-baju ini?” tanya Jennika setelah Nadia menyeretnya ke sebuah toko yang menyediakan pakaian dengan merek standar.
“Kalau kulitmu begitu sensitif seperti bayi, kamu tidak akan bisa bertahan disini.” Kata Nathan sambil memilih beberapa pakaian. Jennika merengut mendengar ucapan Nathan. Kadang ia merasa heran kenapa ia bisa menyukai Nathan yang sering mengeluarkan perkataan pedas untuknya. Padahal laki-laki itu akan sangat ramah pada orang lain.
“Dokter membeli baju banyak sekali.” Kata Jono ketika melihat Nathan memberikan beberapa potong baju kepada pelayan toko.
“Tidak menyangka waktu berjalan begitu cepat Dok.” Ucapan Nadia membuat Nathan mengingat kembali saat pertama kali ia melihat Nadia.
Sekarang, entah sudah berapa kali Nathan melihat Nadia. Entah mengapa perasaan tertarik seperti saat pertama kali ia rasakan tidak pernah hilang bahkan bertambah seiring berjalannya waktu.
Tiba-tiba bagian di dalam tubuh dokter muda itu berdesir. Dulu, wanita cantik adalah istri orang, dan Nathan tentu saja tidak mau berharap lebih. Yang ia bisa lakukan hanya menekan perasaan yang semakin berkembang.
Sekarang wanita itu sudah menjadi janda, perasaan yang ia rasakan mungkin bisa ia perjuangkan. Tetapi setelah melihat gadis yang ada di samping Nadia, hatinya menjadi ragu.
Papa Jennika adalah salah satu investor terbesar di perusahaan keluarga Mahardika. Itulah mengapa papa Nathan mewanti-wanti putranya untuk tidak menyakiti perasaan Jennika mengingat gadis itu adalah anak kesayangan keluarga Wiratmaja.
“Nadia awas!” teriak Nathan sambil menarik Nadia dalam pelukannya. Melindunginya dari manequin yang jatuh akibat tidak sengaja disenggol oleh salah satu pengunjung toko.
Tangan kiri Nathan melingkar di pinggang Nadia, sedangkan tangan kananya berada di belakang kepala gadis itu. Sedangkan kedua tangan Nadia mencengkeram kuat kerah kemeja Nathan. Pandangan mereka bertemu pada satu titik. Terpana.
__ADS_1
Keduanya berdebar, bukan karena kaget. Melainkan sesuatu yang entah mengapa membuat jantung keduanya berdebar kencang. Seperti ada lem yang menempel. Baik Nadia maupun Nathan sepertinya tidak ada yang memiliki inisiatif untuk saling melepaskan diri. Mereka dalam posisi yang saling menempel dalam beberapa detik. Hingga seseorang membangunkan keduanya...
“Maafkan saya mbak, saya tidak sengaja.”
Mendengar itu, barulah kedua orang yang berpelukan itu melepaskan diri.
“Maafkan saya Bu Nadia. Tadi itu mendesak. Saya reflek.” Kata Nathan canggung sambil menggaruk hidung mancungnya.
“Saya yang seharusnya berterima kasih dokter. Untung saja Dokter menyelamatkan saya. Kalau tidak kepala saya pasti akan terluka. Terima kasih dokter.” Jawab Nadia tak kalah canggungnya.
Nathan melihat pelayan toko yang sedang berusaha menegakan manequin itu kembali setelah meminta maaf atas kejadian yang hampir saja melukai Nadia.
Kejadian tak terduga yang baru saja terjadi tidak luput dari pandangan Jennika yang berdiri tak jauh dari keduanya. Hatinya mencelos. Nathan terlihat sangat perhatian. Tak bisakah ia mendapatkan kesempatan seperti itu juga? Mengabaikan perasaannya, Jennika menghampiri Nadia dan Nathan. Menanyakan kondisi keduanya.
“Baiklah. Karena semuanya baik-baik saja, bagaimana kalau kita lanjutkan belanjanya?”
“Ya. Tapi sepertinya aku sudah cukup.” Kata Nadia. Dia memang awalnya tidak berniat membeli baju. Tapi karena ada disini, sekalian saja. Ia juga membelikan beberapa potong untuk Nita dan Joni. Tak lupa ia membelikan sebuah kebaya yang indah untuk mbok Darmi.
“Aku juga sudah. Walaupun jauh dari keinginanku, tapi ini tidak buruk juga.” Jennika kemudian mengajak Nadia ke tempat pembayaran.
Nathan yang baru saja bisa mengendalikan dirinya segera menyusul Nadia dan Jennika yang sedang menunggu antrian.
Mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Suasana di dalam mobil terasa canggung. Hanya Jennika yang terus berbicara. Namun, baik Nadia maupun Nathan masih terbelenggu rasa canggung. Keduanya tak mengeluarkan sepatah katapun antara keduanya. Meskipun Jennika berusaha membangun pembicaraan, nyatanya ia telah gagal.
Jennika melirik Nadia yang tampak tenang. Gadis itu mulai menyadari, ketenangan inilah yang disukai Nathan. Nadia begitu tenang dan elegan. Sedangkan dia sendiri seorang wanita muda yang terbiasa hidup bebas dan ekpresif. Jennika dan Nadia berbanding terbalik.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir Ganz!