
...Akoh tepatin janji nih. Karena hari ini kalian pada Baek sama Akoh kasih akoh banyak vote, akoh up lagi satu episode. Selamat membaca 🤓
...
...🌱🌱🌱
...
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Nara dan teman-teman nya pun sudah tidak berada di kantor Amerta. Hubungan antara Alex dan Nara juga semakin baik. Meskipun Nara masih belum bisa memastikan perasaannya, ia sudah mau menerima Alex di sisinya.
Chat dan telfon dari Alex pun sudah tidak diabaikan nya lagi. Alex juga kerap mengajak Nara jalan atau sekedar menjemput nya dari kampus. Nara ingin memberi Alex kesempatan.
“Nak Alex tidak mampir sayang?” Tanya Nadia ketika melihat Nara baru masuk ke dalam rumah. Mobil Nara sudah sampai di rumah satu jam yang lalu diantarkan sopir Alex.
“Tidak ma. Alex ada meeting setelah ini.” Ya. Siang ini Alex menjemput Nara ketika jam makan siang yang senggang untuknya. Alex mengajak Nara makan siang bersama. Juga pergi ke butik untuk membeli gaun untuk Nara.
Nara duduk di samping Nadia yang sedang menonton televisi. Menyenderkan kepalanya setelah meletakkan tas kuliahnya dan paper bag berisi gaun di atas meja.
“Dia sepertinya sangat perhatian padamu.” Nadia melirik isi paperbag yang isinya sedikit terlihat dan menoleh pada Nara. Apalagi melihat gadis itu tersenyum sejak masuk ke dalam rumah. Membuat Nadia tidak bisa untuk tidak kepo.
“Memang.”
“Lalu apa lagi yang ingin kamu pastikan? Alex sudah sangat sempurna dijadikan pasangan.”
“Kami masih ingin menikmati hubungan yang seperti ini ma.” elak Nara.
“Kalian apa Cuma kamu?”
sindir Nadia.
“Hehehe. Mama tahu aja.”
Nara tidak repot-repot menyembunyikan nya dari mamanya.
“Dasar. Awas menyesal kalau sampai Alex bosan menunggu mu dan mencari gadis lain.”
“Ya biarkan saja.” kata Nara cuek.
“Nara, mama bicara serius.”
Nadia sedikit emosi menghadapi Nara yang seperti acuh pada Alex. menantu idamannya.
“Aku masih ragu ma.”
“Meragukan apa lagi?”
“Alex adalah laki-laki yang tampan dan penuh pesona. Aku takut aku akan mati karena cemburu nanti.” Kata Nara sendu. Ia sering melihat teman-temannya di kampus yang sedang cemburu pada pasangannya. Pasti akan merepotkan jika sampai ia mengalaminya juga.
__ADS_1
“Jangan lebai deh. Hanya cemburu tidak akan sampai membuatmu kehilangan nyawa. Dasar ratu drama.” Nadia memutar bola matanya. Putrinya ini terkadang memiliki kadar ke alay-an tingkat tinggi.
“Tapi kan membuat hati tersiksa ma.” Bela Nara.
“Emang kamu pernah cemburu?”
“Enggak.” Nara menggeleng cepat. “Tapi sekarang saja aku suka kesal kalau lagi jalan sama Alex terus denger para wanita memuji-muji Alex. Kan kesal.” Lanjutnya.
“Hahahaha. Itu namanya kamu cemburu!”
“Iya kah?” Nadia mengangguk.
“Tuh kan cemburu itu menyiksa. Aku nggak mau lagi deh jalan sama Alex.”
dengus Nara.
Nara beranjak. Wajahnya yang tadinya penuh senyum kini lenyap sudah. Berganti dengan wajah penuh kekesalan.
“His nih anak.” Decak Nadia. “Sini duduk dulu.” Nadia meraih tangan Nara dan menariknya agar kembali duduk
“Apa?” tanya Nara malas. Ia sudah tidak mau lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Merepotkan saja.
“Mama akan mengajarimu tentang cinta.” Kata Nadia semangat. Masalah cinta ini Nadia adalah ahlinya sekarang.
“Cinta adalah perasaan yang mulia. Datang tanpa diminta dan tanpa disangka. Kita tidak bisa mengatur kemana cinta di hati kita akan berlabuh. Dan di saat cinta sudah menemukan tujuannya, kita pun juga tidak bisa mengelak atau menyangkalnya.” Nara mendengarkan petuah sang mama dengan seksama. Baginya Nadia memang orang yang paling tepat.
“Seiring dengan hadirnya rasa cinta, rasa lain juga akan muncul. Ada bahagia, cemburu, curiga, rindu, terharu, sedih semua datang silih berganti. Kita tidak bisa hanya meminta bahagia saja dalam cinta. Rasa yang bermacam-macam datangnya itu juga ada manfaatnya.” Lanjut Nadia. Penjelasan ini membuat Nara mengerutkan alisnya.
“Manfaatnya adalah memperkuat ikatan cinta antara keduanya.”
“Bagaimana bisa rasa cemburu malah memperkuat rasa?”
“Begini. Cemburu itu tanda cinta. Jadi jika kamu cemburu pada Alex untuk hal sepele saja, itu artinya kamu sudah jatuh cinta pada Alex.” Nadia tersenyum senang. Putrinya masuk perangkap juga akhirnya.
“Tidak-tidak. Aku tidak mencintai Alex.”
Haaah. Nadia menepuk dahinya. Anaknya ini terlalu sulit dibuat mengaku. Susah-susah ia menggiring opini Nara untuk mengakui jika ia sebenarnya mencintai Alex. Tapi pada akhirnya sungguh mengecewakan.
“Ah sudahlah terserah kamu saja.”
Nara tersenyum menang. Siapa juga yang cinta pada Alex. Apa salahnya dia marah jika ada gadis yang memuji Alex di belakangnya. Ia hanya tidak suka saja.
“Ma, tapi aku masih tidak mengeri bagaimana bisa cemburu dapat mempererat hubungan. Kan seharusnya cemburu itu malah merusaknya.” Pertanyaan yang tadi belum dijawab Nadia ia tanyakan lagi. Ia masih penasaran.
“Dalam suatu hubungan, kita memang tidak bisa menghindari adanya perasaan cemburu sayang. Itulah mengapa dalam sebuah hubungan ada dua poin penting yang harus dilakukan oleh setiap pasangan.” Kata Nadia serius.
Selama hampir dua puluh tahun ia menjalani rumah tangga dengan Nathan, tentu saja hubungan di antara mereka tidak selalu berjalan mulus. Ada saja yang mengganggu di setiap langkah mereka. Namun selama ini Nadia dan Nathan berhasil melaluinya dengan baik. Kini rahasia mereka akan ia tuturkan pada Nara yang kini beranjak dewasa.
__ADS_1
“Apa itu ma?” Nara bersiap mencatatnya di dalam hati.
“Poin pertama adalah saling memupuk rasa. Bagaimana caranya? Setiap pasangan akan menemukan caranya masing-masing. Bisa dengan saling mengucap kan kaya cinta, ada yang saling memberi perhatian, dan bagi pasangan yang sudah menikah adalah hubungan baik selama di ranjang harus dijaga.” Nadia terkikik di akhir kalimatnya. Sepertinya ia menyesal menyebutkan yang terakhir. Wajahnya sampai memerah.
“Ish mama.” Nara yang mendengar ucapan vulgar sang mama hanya bisa tersipu. Ia sendiri tahu bagaimana kehidupan mama dan papanya. Keduanya selalu tampil mesra sampai sekarang.
“Tapi itu benar sayang.” Nadia mengusap keringat halus yang keluar di dahinya.
“Lalu poin yang kedua?”
“Poin yang kedua adalah saling memberi kepercayaan. Kita harus memberi kepercayaan pada pasangan kita bahwa mereka tidak akan pernah berpaling dari kita. Rasa cemburu itu muncul karena rasa kurang percaya diri kita sendiri. Jika kita percaya diri bahwa pasangan kita tidak akan tergoda dengan yang lain, maka rasa cemburu itu dapat ditekan.”
Ucapan Nadia masih terngiang di telinga Nara hingga malam harinya. Membuat gadis itu lebih banyak melamun malam ini. Alex yang duduk di sampingnya menatapnya heran.
Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan untuk memenuhi undangan perjamuan ulang tahun salah satu rekan Alex. Laki-laki itu meminta Nara menemaninya. Dan siang tadi mereka sudah membeli gaun yang akan dipakai Nara.
“Kamu tidak enak badan?” tanya Alex akhirnya. Bukannya menjawab, Nara malah menatap lekat Alex yang tengah menyetir.
“Apa kamu mau kita pulang saja?” melihat Nara yang diam membuat Alex khawatir.
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja.” Nara memalingkan wajahnya. Sepertinya apa yang dikatakan mamanya bahwa ia mencintai Alex adalah benar.
“Kita bisa pulang jika kamu sakit.” Alex mengelus kepala Nara dengan tangan kirinya. Memberikan perasaan hangat pada gadis itu.
“Tidak Lex. Aku hanya memikirkan sesuatu.”
“Jika ada sesuatu yang membebanimu jangan ragu untuk berbagi denganku Ra.”
“Tidak masalah. Aku hanya cukup untuk memastikan sesuatu.” Jawab Nara akhirnya. Mulai saat ini ia akan memikirkan perasaannya dengan sungguh-sungguh.
“Kamu mau memastikan jika kamu mencintaiku kan?” Alex menaik turunkan alisnya.
“Ish! Apaan sih. Jangan Ge-er deh.” Sangkal Nara. Tapi wajah Nara berhasil dibuat merona. Untuk menutupi pipinya yang rasanya panas, Nara pun semakin menundukkan wajahnya.
Alex yang melihat respon Nara tersenyum senang. Ia tahu jika hati Nara sedikit demi sedikit akan terbuka untuk menerimanya. Dan ia akan sabar menunggu hingga saat itu tiba.
*
*
*
Terima kasih semuanya....😇
Akoh nggak nyangka vote nya bisa banyak gitu. Makasih ea😘
Yah meskipun dengan sedikit pemaksaan akoh senang kok🤭
__ADS_1
Akoh sampai terhura, eh terharu🥺
*K**alau kayak gini akan Akohnya juga semangat buat up😁*