Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_95. Dalam Bahaya


__ADS_3

Detak jantung Nara berdetak lebih cepat. Tongkat pel ia pegang erat di depan tubuhnya. Genggaman tangannya gemetaran yang menandakan perasaan takut Nara yang tak dapat ia tutupi lagi. Wajahnya nampak tertekan melihat senyum seorang pria di depannya.


Wajah tampan yang dulu selalu ia puja karena terlihat manis dan menyenangkan, kini tampak menakutkan baginya.


Tiga puluh menit sebelumnya, setelah Nara berhasil mendapatkan kalung yang ia inginkan, Nara meminta izin Alex untuk pergi ke kamar mandi. Alex berniat ingin mengantar Nara tapi istrinya itu menolak. Akhirnya Alex pun melepaskan Nara.


Keduanya tidak pernah menyangka jika Nara telah menjadi target sejak mereka masuk. Roy, telah menunggu sepanjang acara dan menunggu saat yang tepat.


Saat Roy melihat Nara terpisah dari Alex, laki-laki itu mengikuti.


Dengan hati-hati Roy menguntit Nara. Saat Nara masuk ke dalam toilet, Roy masuk setelah memasang tulisan bahwa toilet sedang diperbaiki. Laki-laki itu menunggu hingga beberapa saat hingga Nara keluar.


Begitu Nara keluar, Roy tersenyum dan mendekati Nara.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Nara takut. Nara yakin bahwa ini toilet perempuan, dan tidak ada yang baik jika ada laki-laki yang masuk ke dalam. Apalagi di saat waktu sudah larut.


“Nara, aku menginginkanmu.” Roy melihat Nara dengan tatapan yang membuat Nara bergidik ngeri.


Seketika, Nara panik. Ia tahu betul apa yang dimaksud oleh Roy. Yang pasti itu bukanlah hal yang ia benci.


“Jangan macam-macam Roy. Aku sudah menikah.”


“Aku tidak masalah. Tapi mulai sekarang kamu harus menjadi milikku.” Roy semakin maju. Secara otomatis Nara mundur langkah demi langkah.


“Kamu gila!” Teriak Nara histeris.


“Aku memang gila. Dulu aku begitu takut untuk mendekatimu. Aku akui aku memang pengecut. Harusnya aku tetap berjuang untuk cinta kita saat aku tahu kamu juga menyukaiku.”


“Meskipun aku memang pernah memiliki rasa terhadapmu. Itu dulu. Itu masa lalu. Jika saja kamu datang sebelum Alex masuk di hidupku dan mendapatkan cintaku, aku mungkin bisa bersamamu. Tapi sekarang aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kita tidak mungkin bersama.” Nara menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada yang tidak mungkin sayang. Jika aku bisa mendapatkan mu sekali saja, aku yakin Alex suamimu itu tidak akan lagi mau menerimamu. Hanya aku. Hanya aku yang akan menerimamu.” Roy semakin mendekat.


“Jangan keterlaluan Roy. Masih banyak wanita di luar sana yang bisa kamu dapatkan.”


“Tapi aku hanya mau kamu. Hanya kamu. Ikutlah denganku.”


“Tidak!”


Nara kini terpojok. Punggungnya menabrak dinding di belakangnya. Tangannya bergerak panik meraih apa saja yang bisa ia gunakan sebagai senjata.


Setelah mencoba, tidak ada yang dia dapatkan. Nara mulai menggeser tubuhnya. Kini ia bergerak miring sambil matanya melirik pel yang ada tak jauh darinya.

__ADS_1


“Jangan macam-macam sayang.” Teriak Roy saat Nara berlari kencang dan memegang tongkat pel di depan tubuhnya.


Tongkat pel yang ia dapat segera ia acungkan ke depan. Matanya nyalang menatap Roy dengan rasa takut di dalamnya.


“Hehehehe. Kamu kira hanya dengan menggunakan benda kecil itu kamu dapat lepas begitu saja?” tangan Roy menangkap tongkat pel dengan mudah.


Nara berjuang sekuat tenaga mempertahankan tingkat pel yang merupakan harapan terakhir nya. Namun bagaimanapun ia mencoba, tenaganya jelas kalah telak. Hanya sekali sentak saja, tongkat pel itu sudah berhasil terlepas dan dilempar jauh.


Mata Nara menatap tongkat yang baru saja dilempar Roy. Jauh dari jangkauannya. Ia pun mulai putus asa.


“Lepaskan aku Roy.” Nara mulai menangis dengan putus asa.


“Tidak akan. Malam ini aku akan membawamu bersamaku.”


“Tidak tidak. Aku mohon padamu lepaskan aku...” Nara mengangkupkan tangannya.


“Jangan memohon seperti itu sayang. Kamu tahu aku tidak akan mengabulkannya.”


“Jangan menyentuhku!” teriak Nara saat Roy menangkap tangannya.


“Percayalah padaku, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padamu.” Roy mengunci tangan Nara di atas kepala. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membelai wajah Nara dengan lembut.


Cuih! Nara meludah di wajah Roy saat laki-laki itu hendak menciumnya.


“Alex tidak akan datang. Menurutlah.”


“Tidak! Alex akan datang menyelamatkanku dan akan menghancurkan mu.”


“Hahahaha.”


**


Beberapa kali Alex melihat ke arah jalan masuk. Tempat dimana ia terakhir melihat siluet Nara sebelum masuk ke dalam hotel. Sudah cukup lama Nara izin ke kamar mandi dan belum juga kembali.


Saat Alex hendak menyusul Nara, ternyata acara sudah hampir selesai. Dan Alex akhirnya memutuskan untuk mencari Nara setelah acara sambil berharap Nara segera kembali.


Acara pun selesai. Semua orang satu persatu meninggalkan tempat acara. Alex juga segera berdiri dan berniat mencari Nara


Namun saat ia hendak masuk ke dalam hotel, Virly menghampirinya.


“Dimana Nara?” tanya Virly pura-pura tidak tahu. Padahal saat Nara mulai berdiri, ia terus mengawasinya. Bahkan ia mengikuti sampai Nara masuk ke dalam salah satu toilet. Setelah ia memastikan tidak ada orang lain di dalam kamar mandi, Virly bergegas keluar dan menyuruh Roy untuk masuk. Sedangkan dia sendiri segera kembali ke tempat acara agar tidak ada yang mencurigai nya.

__ADS_1


“Tadi dia bilang akan ke toilet. Tapi sampai sekarang belum kembali.” Jawab Alex.


“Hem. Bagaimana kalau aku coba bantu cari?”


“Baiklah. Tolong beritahu Nara aku menunggunya di lobi.” Virly mengangguk dan berjalan meninggalkan Alex dengan senyum kepuasan.


“Siapa suruh kamu mengacaukan hidupku? Selama aku berpacaran dengan Roy, kamu selalu menjadi batu sandungan. Dan sekarang, laki-laki sempurna yang harusnya menjadi milikku telah kamu rebut. Kita lihat siapa yang akan menang sekarang? Hahahah.” Gumam Virly dalam hati. Ia yakin rencananya akan berhasil.


Flash Back On....


Dua jam yang lalu, saat lelang belum dimulai Virly pergi ke kamar mandi. Tanpa sengaja saat ia kembali ia bertemu dengan Roy, mantan kekasihnya.


“Sepertinya kamu masih belum bisa melupakannya.” Virly melipat tangannya di depan dada. Penampilan Roy berantakan malam ini. Minuman keras membuatnya mabuk.


“Bukan urusanmu.”


“Hahahaha... Pasti sangat menjengkelkan bukan saat melihatnya bahagia bersama orang lain sedangkan dirimu begitu menderita di sini.” Virly semakin semangat. Melihat reaksi Roy saat ini, ia tahu jika mantan kekasihnya itu masih memiliki rasa pada Nara.


“Sudah kubilang itu bukan urusanmu. Pergi sana!” hardik Roy. Matanya merah. Selain mabuk, hatinya juga semakin terbakar amarah.


“Bagaimana jika aku bilang aku bisa membantumu.”


Roy bereaksi. Ia mulai memandang Virly dengan benar. “Apa maksudmu?” tanya Roy penasaran. Ia tidak yakin dengan apa yang diucapkan Virly sebelumnya.


“Sepertimu yang menginginkan Nara. Aku menginginkan Alex. Jadi aku rasa kita punya tujuan yang sama.” Virly tersenyum. Ia merebut gelas Roy dan meletakkannya di atas meja dengan keras.


Virly membisikkan rencana yang berhasil ia pikirkan.


“Baiklah. Aku setuju.” Roy mengangguk. Virly pun tersenyum dengan puas.


“Aku akan membuat hidupmu menderita Nara.” Ucap Virly dalam hati.


Flas back off....


*


*


*


Terima kasih sudah mampir 🤩

__ADS_1


__ADS_2