
Roy memegang pisau di tangannya yang ia tutupi dengan jas. Mata pisau itu menempel di bagian perut Nara. Nara berjalan di bawah ancaman Roy yang terus berbisik di telinganya.
Tak jauh dari keduanya, Virly mengawasi keadaan. Matanya mengawasi Alex yang berdiri di depan hotel. Ketika ia melihat Alex yang hendak berbalik, ia buru-buru menghampiri dan mengalihkan perhatian Alex.
“Nara dimana?” Tanya Alex. Ekor matanya mencari keberadaan Nara.
“Tadi ada yang melihat Nara pergi ke toilet. Tapi setelah aku cek ternyata tidak ada.” Ucap Virly terlihat cemas.
“Apa maksudmu? Dimana Nara?” Alex panik. Ia bergegas masuk ke dalam hotel.
Virly juga mengikuti Alex dengan terburu-buru.
Dari tempatnya, Nara melihat Alex yang menjauh. Ingin sekali ia berteriak keras. Tapi ia merasa ujung mata pisau Roy sudah menusuk di kulit perut nya akibat tekanan Roy hingga membuat kulit Nara terluka dan sedikit darah keluar dari kulit putih itu. Nara meringis kesakitan.
“Diam! Percayalah aku tidak akan segan.” Bisik Roy tajam. Nara hanya bisa diam dan menurut. Dia adalah gadis yang takut sakit. Ia selalu tidak menyukai rasa sakit.
“Bersuara sedikit saja, kamu akan tahu rasanya tertusuk.” Lanjut Roy semakin membuat Nara gemetar.
Alex berjalan semakin jauh. Punggung Alex dan Virly sudah hilang di balik kelokan.
Melihat situasi sudah aman, Roy mendorong Nara berjalan lebih cepat.
“Masuk mobil dan jangan berisik. Kamu tahu aku tidak main-main.” Ancam Roy saat mereka sampai di samping mobil.
Nara masuk dengan tertekan. Air mata kini tidak dapat ia tahan. Turun dengan deras dengan Isak tangis yang mengiris.
Setelah Roy masuk, laki-laki itu mengeluarkan sapu tangan yang sudah ia beri obat bius dari dalam saku jasnya.
“Menurutlah.” Roy melajukan mobilnya meninggalkan besmen.
Tidak berapa jauh dari mereka, seorang gadis berseragam petugas kebersihan hotel melihat semuanya. Ia mulai menyembunyikan dirinya saat melihat Roy dan Nara masuk ke besmen.
Melihat mobil Roy menjauh, gadis itu segera menjatuhkan kantong sampah yang ada di kedua tangannya. Berlari keluar hotel dan langsung naik ojek yang selalu siap di depan hotel. Mengintruksi tukang ojek tersebut untuk mengikuti mobil Roy.
“Cepat kejar mobil di putih di depan mang. Jangan sampai ketinggalan.” Gadis itu menepuk pundak tukang ojek berulang kali.
“Pacar neng selingkuh ya? Nggak sabaran amat.” Tukang ojek tersenyum menggoda gadis itu.
“Sembarangan. Yang ada di dalam itu orang jahat mang.”
“Hah orang jahat?! Saya nggak berani ikut campur deh. Neng turun sini aja ya.” Tukang ojek itu mulai membayangkan banyak hal negatif di kepalanya. Mulai dari gembong narkoba sampai pembunuh. Tiba-tiba punggung tukang ojek itu mendadak terasa dingin.
Kalimat panjang lebar mulai keluar dari mulut tukang ojek mengenai apa saja yang berhasil ia pikirkan. Hal ini semakin membuat gadis di belakangnya merasa sakit kepala.
__ADS_1
“Jangan mikir macam-macam deh mang. Ikuti saja mobil itu. Jangan sampai ketinggalan.”
Namun tak berapa lama, saat berada di jalanan yang sepi mobil itu tiba-tiba saja menepi. Motor yang ditumpangi gadis itu pun berhenti.
“Neng...”
“Syuut. Diam dulu.” Gadis itu menghentikan tukang ojek berbicara.
Gadis itu memperhatikan mobil Roy yang berhenti di depannya. Mobil bergerak-gerak tak beraturan sebelum pintu sebelah kiri terbuka dan Nara keluar dari sana dengan terburu-buru.
Setelah Nara keluar, Roy mengikuti keluar dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Mengejar Nara yang sudah berlari di depannya. Karena panjang langkah Roy jelas lebih lebar dari Nara, dengan cepat Nara terkejar.
“Diam Nara! Menurutlah!” Roy membekap mulut Nara. Seketika wanita itu kehilangan kesadarannya.
Roy menangkap tubuh Nara yang tidak berdaya. Memapahnya kembali ke mobil.
“Bugh!” Roy menyentuh leher belakangnya. Menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis membawa balok di tangannya.
“Shit!” Roy hendak menyerang tapi ia tidak bisa bergerak bebas dengan Nara ada di lengannya. Akhirnya balok di tangan gadis itu kembali berhasil memukul kaki Roy yang mengakibatkan Roy kehilangan keseimbangan dan jatuh. Secara otomatis Nara juga terjatuh di tanah.
“Ayo mang bantu saya!” Teriak gadis itu pada tukang ojek yang melongo melihat adegan di depannya. Seorang gadis yang dengan berani melawan seorang pria.
“Jangan ikut campur! Pergi!” teriak Roy melotot. Gadis itu akhirnya memukul Roy kembali hingga Roy pingsan.
“Saya tidak mau ikut campur.” Tukang ojek itu ketakutan.
“Menolong orang tidak perlu takut. Ayo bawa dia pergi dari sini.”
“Bagaimana kalau ini suami atau pacarnya? Bukankah kita melakukan kejahatan?”
“Saya yakin bukan mang. Saya tadi lihat dia bawa pisau buat ngancam perempuan ini.” Mendengar ucapan gadis itu, mang ojek akhirnya tidak ragu lagi untuk menolong.
Dengan bekerjasama, gadis itu dan tukang ojek menyelamatkan Nara dari Roy.
Di atas sepeda motor yang melaju dengan kecepatan sedang, tiga orang berada di atasnya. Nara berada di tengah-tengah tukang ojek dan gadis itu.
“Jadi sekarang kita bawa perempuan ini kemana?” tanya tukang ojek setelah mereka agak jauh dari lokasi.
“Em...” gadis itu berpikir sejenak. Ia memperhatikan Nara yang sedang pingsan. Meraba gaun Nara apakah ada handphone atau tanda pengenal yang ada. Namun tidak ditemukan.
“Kita bawa dia ke tempat saya saja. Di gang Kamboja.” Tukang ojek mengangguk dan mengantar gadis itu dan Nara.
Nara di masukkan ke dalam kamar kos. Di baringkan di atas ranjang kecil di dalamnya.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa jangan libatkan saya ya neng.” Tukang ojek masih takut dia salah dalam membatu Nara.
“Iya iya. Nih.” Gadis itu memberikan satu lembar uang seratus ribuan agar tukang ojek itu diam. Tukang ojek tersenyum senang dan pergi dengan tergesa-gesa.
Gadis itu kembali ke dalam kamar kosnya. Duduk di lantai menunggu Nara sadar setelah gagal membangunkan Nara dengan minyak kayu putih.
Tanpa sadar gadis itu tertidur sambil duduk karena menunggu Nara.
Sedangkan di hotel, Alex sedang marah-marah. Ia berniat untuk melihat CCTV untuk menemukan Nara. Namun petugas hotel jelas melarang. Alex harus melakukan beberapa prosedur karena ini merupakan data pribadi hotel.
“Hubungi manager kalian. Bilang jika Alexander Briano Juantama ingin bertemu. Aku akan membeli hotel ini dan merobohkannya.” Ucap Alex.
Dua orang yang bertugas di bagian ruang kontrol CCTV kini tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi tahu managernya tentang keinginan Alex. Keduanya jelas tahu siapa pria yang sedang berdebat dengan mereka.
Setelah mendapat izin, pintu ruang kontrol terbuka. Alex dan Virly mengikuti masuk di belakangnya.
Saat layar mulai memutar waktu beberapa menit yang lalu, Virly meremas gaunnya. Di dalam hati ia berdoa agar dia tidak terekspos oleh Alex.
“Nah itu dia!” teriak Nara saat melihat Nara masuk ke dalam toilet. Alex mulai memperhatikan dengan serius layar di depannya.
Setelah beberapa saat, sosok laki-laki bertopi terlihat di layar. Memasang tulisan dan masuk. Sayangnya, tidak ada satu kamera pun di dalam toilet. Itu melanggar hukum. Jadi Alex tidak tahu apa yang terjadi di dalam selama sepuluh menit.
Detik demi detik terasa mendebarkan. Apalagi saat Nara dan pria bertopi keluar. Wajah Nara terlihat ketakutan.
“Sial! Siapa yang berani menculik Nara?” Alex menggertakkan giginya. Di sampingnya, Virly bernapas lega karena baik ia maupun Roy tidak terekspos.
*
*
*
Siapa ya gadis yang menolong Nara?
a. Tidak penting, hanya orang yang sedang lewat
b. Vera yang sudah ganti profesi
c. Karina yang lagi Oteweh ke Bisma
d. Silahkan diisi sendiri sesuai keinginan hati
Terima kasih 🤩
__ADS_1
Maaf telah sedikit. Ada acara haul kakek nenek suami akoh. Jadi saudara dari Semarang dan Demak datang. Ramai dan Repot pokoknya. Tapi seneng bisa kumpul saudara 🥰