
Di sebuah kamar hotel, Virly yang baru saja bangun mengerjapkan matanya. Dia bangkit sambil menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Merasakan bagian intinya yang sakit ia pun meringis. Ini adalah pengalaman pertamanya.
Tiba-tiba saja ingatan kejadian semalam mengalir dan membuat pipinya memanas. Rencananya berhasil. Setelah ini Alex tidak bisa mengelak lagi.
Semalam, setelah acara inti selesai, ada acara ramah tamah untuk para kaum muda. Setelah mengantar Serena ke dalam kamar hotel, Virly segera kembali ke ruang pesta.
Berkumpul dengan nona muda lainnya yang juga hadir.
Pesta yang ini lebih bebas. Hanya menghabiskan waktu sambil minum. Teman-teman Bisma kebanyakan eksekutif muda. Jadi dengan membuka pestanya sendiri, akan mempererat hubungan mereka. Lagipula, pesta seperti ini juga merupakan salah satu wadah berkumpulnya eksekutif muda berkumpul dan berbagi pengalaman.
“Silahkan minumannya tuan.” Rini mendekati Alex yang duduk bersama dengan Bima yang baru saja kembali dari mengantar Karina pulang. Rini memberikan satu gelas untuk Bima.
“Bagaimana? Sudah kamu antar sampai rumahnya?” tanya Alex.
“Sudah. Selamat sampai tujuan.”
Kata Bima bangga.
“Bagus. Terima kasih.”
“Sama-sama. Dia adalah teman Nara. Artinya dia sama berharganya dengan keluarga.”
“Gadis itu lumayan cantik. Kenapa tidak memulainya dengan gadis itu?” Alex memainkan gelasnya. Memutarnya sebelum meminum isinya.
“Aku? Dengan Karina?” ucap Bima tidak percaya.
Menunjukan dirinya dengan wajah aneh.
“Kenapa? Apa Masalahnya?”
Alex menaikkan alisnya.
“Aku dan Karina memiliki karakter yang sangat berbeda. Dia dan aku tidak akan cocok.” Bima tersenyum. Karina, gadis itu memang baik dan juga cantik. Tapi tidak cukup untuk membuat hatinya bergetar.
Juga karakter seperti Karina tidak ada sesuai hidup berdampingan dengannya.
“Kenapa?”
“Entahlah. Aku hanya memiliki perasaan sebagai teman saja. Ya. Sebatas teman.” Bima menegaskan perasaannya. Lagipula untuk menjadi pasangannya harus memiliki cukup banyak kriteria. Dia juga harus kuat. Tapi yang paling penting adalah, Bima tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita manapun untuk saat ini. Perusahaannya bergerak dan berhubungan dengan para kelompok mafia. Jadi akan lebih baik dia hidup sendiri.
“Kamu bisa berbicara seperti itu karena belum tahu rasanya jatuh cinta.”
“Tapi aku sudah cukup melihat bagaimana cinta mengubah seseorang sepertimu menjadi seorang yang penuh hati berwarna pink di sekitarmu.” Bima terkekeh.
“Aku akui. Bibimu itu benar-benar hebat. Sampai-sampai aku tidak menyadari kapan aku mulai mencintainya. Saat aku sadar, tiba-tiba saja aku sudah menjadi tergila-gila padanya.” Senyum Alex mengembang. Mengingat masa di mana ia pertama kali bertemu dengan Nara. Tidak banyak hal spesial yang terjadi antara dia dan Nara. Tetapi entah kenapa tiba-tiba saja Nara telah menempati tempat tertinggi di hatinya.
“Tapi aku dengan Karina itu benar-benar tidak mungkin.”
“Aku percaya.” Alex menyerah jika harus berdebat dengan Bima.
Sepanjang acara, Virly selalu memperhatikan Alex. Meskipun ia berkumpul bersama para gadis seusianya, namun ia selalu mencuri pandang pada Alex.
Saat Alex mulai terlihat mabuk dan berjalan keluar dari ruang pesta, Virly juga ikut berpamitan pada teman-teman nya dan mengikuti Alex.
__ADS_1
Melihat Alex yang semakin sempoyongan, membuat Virly mempercepat langkahnya dan menghampiri Alex. Memapahnya. Membantunya berjalan.
“Nara sayang itu kamu?” Alex mengerjap-kerjapkan matanya. Mencoba mengembalikan kesadarannya.
Virly terdiam beberapa saat. Mendengar Alex memanggil nama Nara bahkan ketika ia mabuk membuat hatinya terasa nyeri. Tapi ia harus mengesampingkan semuanya dan mengalah untuk sementara.
“Iya sayang. Ini aku. Ayo aku bantu ke kamar kita.” Virly memegang erat lengan Alex. Membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kamar Nara.
Sebelum masuk ke dalam kamar, seorang pelayan menghampiri mereka. Membawa nampan yang berisi segelas air yang dipesan Alex.
"Tuan Alex. saya membawakan minuman khusus pesanan anda."
Alex mengambil gelas berisi minuman dan memberikannya pada Virly. meminta gadis itu untuk meminumnya. Setelah Virly meminum habis minumannya dengan bahagia, gadis itu membawa Alex masuk ke dalam kamarnya.
“Biarkan aku melepas sepatumu.” Virly mendudukkan Alex di tepi ranjang. Kemudian melepas sepatu dan kaos kaki yang membalut kaki Alex.
“Aku akan mandi dulu. Aku tahu kamu benci bau alkohol dan rokok.” Alex bangkit dan berjalan ke dalam kamar mandi.
Virly sangat senang. Kemajuan sampai tahap ini benar-benar berhasil. Ia segera mengambil lingerie dari dalam tasnya. Memakainya. Berputar di depan cermin untuk melihat penampilannya yang sempurna.
“Ini pengorbanan terbesar di dalam hidupku. Aku harap semua berjalan sesuai rencana ku.” Kata Virly sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
Sebelum naik ke atas tempat tidur, Virly mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
Meskipun ia sudah sering berpacaran, tetapi itu tidak lebih dari sebatas ciuman dan pelukan. Jadi Ini adalah pengalaman pertamanya. Tentu saja ia merasa gugup.
Saat terdengar suara pintu kamar mandi, Virly menjadi sedikit gugup. Ia menelan ludahnya dengan tidak sadar.
“Kenapa mematikan lampunya?”
“Baiklah. Aku akan segera mengeringkan rambutku dan menyusulmu.”
Tubuh Virly menegang saat tangan yang dingin meraba tubuhnya. Permainan pihak lawan sangat memabukkan. Dengan beberapa sentuhan di titik sensitifnya, dalam sekejap matanya sudah kabur.
Rasa malu yang tadi sempat membuatnya ragu perlahan menghilang. Ciuman dan sentuhan yang dirasakannya membuatnya melayang.
“Aku mencintaimu Alex...” Virly mulai meracau. Tubuh Virly menegang saat benda asing menerobos masuk bagian intinya. Air matanya menetes. Tapi benda kasar dan basah membersihkannya disertai kecupan di setiap jengkalnya.
“Ini sempit sekali sayang. Enak. Aku tidak menyangka dapat barang baru.”
“Aku menjaganya untukmu Lex.” Ucap Virly terbata. Rasa sakit yang awalnya begitu menyiksanya perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat yang tidak bisa ia uraikan.
Malam semakin beranjak. Dua orang yang sedang dimabuk asmara bergelut indah di atas ranjang hotel. Peluh bercucuran. ******* dan decapan menggema menembus dinginnya malam.
**
Awalnya Virly khawatir jika Alex telah meninggalkannya saat ia melihat tempat di sampingnya kosong. Namun setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi ia akhirnya merasa lega.
Virly segera mencari ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Ponsel itu sengaja ia non aktifkan agar tidak ada yang mengganggunya. Segera setelah mengaktifkan ponsel, sederet pesan Dan panggilan tak terjawab dari Serena segera masuk.
Dengan terisak Virly mengangkat telepon Serena yang memanggilnya.
“Virly kamu kenapa tidak membuka pintumu? Tante ada di depan pintu. Apa yang terjadi? Kenapa kamu mematikan ponsel.”
__ADS_1
“Tante, Alex Tante...”
“Ada apa dengan Alex?”
“Alex memperkosaku. Tolong aku tante.”
“Kamu bukakan pintunya.” Virly menarik selimut dan melilit tubuhnya. Dengan tertatih ia berjalan membukakan pintu untuk Serena.
Serena segera memeluk Virly yang terisak. Menepuk punggungnya pelan. Serena melihat noda darah yang ada di atas seprai.
“Kamu tenang saja. Tante akan membantumu mendapatkan keadilan.” Serena mendudukkan Virly di atas ranjang. Kemudian dia menghubungi Nara dan memintanya untuk datang.
Setelah menghubungi Nara, Serena membantu Virly memakai bajunya.
Tak berapa lama, Nara pun datang. Ia sangat terkejut saat melihat kondisi Virly yang terlihat berantakan. Mata gadis itu sembab. Lehernya juga penuh dengan kissmark. Nara sedikit ngeri melihat setiap tanda yang terlihat di sana.
“Lihat apa yang telah Alex lakukan.” Serena melipat kedua tangannya. Berkata dengan sinis pada Nara.
“Alex?” Nara menautkan alisnya.
“Iya. Semalam Alex memperkosa Virly. Sekarang Alex tidak bisa lagi mengelak. Dan kamu juga harus mengizinkan Alex menikahi Virly.”
“Mama sepertinya salah sangka. Semalaman Alex bersamaku.” Nara menatap penuh tanya.
“Tidak mungkin. Semalam Alex mabuk. Dan aku membantunya kembali ke kamarmu.” Virly segera menjelaskan apa yang terjadi malam tadi.
“Alex memang mabuk dan kembali ke kamarku. Lalu bagaimana dia bisa ada di dua tempat sekaligus?”
“Kamu bohong.”
“Tidak. Lagipula aku heran. Bagaimana kamu bisa berkata dengan yakin jika Alex masuk ke dalam kamarmu? Dan juga, jika Alex memang memperkosamu, baju yang kamu gunakan tidak akan seperti itu. Itu pasti kamu yang menggodanya.” Nara melipat tangannya. Menatap Virly dengan tajam.
“Aku... Aku... Alex mencintaiku. Jadi...”
“Jadi apa?”
“Kamu!?” Virly terkejut saat melihat seseorang yang baru masuk.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 🤩
Siapa ya yang datang?
Menuju "sesuatu" itu ada prosesnya. Dari awal sudah akoh kasih tahu bahwa perjuangan mereka hampir berakhir kan...
Akoh mau jelasin bagaimana prosesnya bagaimana kejadiannya. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba aja ada sesuatu yang besar terjadi.
Jadi jika ada yang merasa cerita ini terlalu bertele-tele ya itu hak reader. Tapi sebagai author akoh tetap akan mempertahankan jalan cerita yang ada. Ibarat kereta kelinci yang meskipun namanya kelinci tetapi berjalan sesuai jalan yang harus dilalui. Bukan melompat-lompat di jalan. Ehehehe
__ADS_1
Terima kasih atas kritik dan sarannya. Harap maklum adanya atas kekurangan dari sisi akoh....🙏