
Joni memarkirkan mobilnya di depan rumah dokter Nathan. Menurut informasi yang didapat dari Joko, dokter muda itu berada di rumah dan sedang bersiap kan berangkat.
“Tunggulah disini Nadia. Biar aku yang memanggilnya.” Kata Jennika seraya membuka pintu. Nadia menganggukkan kepalanya.
Sebelum Jennika mengetuk pintu, pintu itu terbuka dan Nathan keluar dari sana. Nathan mengernyit melihat Jennika berada di depan pintu rumahnya.
“Selamat siang dokter Nathan. Sudah lama nunggunya?”
“Nunggu?”
“Iya. Aku yang meminta Nadia untuk menjemputmu biar bisa berangkat bareng.” Kata Jennika sambil tersenyum.
Nathan mendengus. Awalnya ia heran kenapa Joni akan menjemputnya untuk berangkat bersama. Biasanya mereka akan bertemu di luar desa agar tidak ada yang mengetahui pertemuan mereka demi menghindari gosip yang tidak benar. Dan sekarang ia paham mengapa Joni mengajaknya berangkat bersama.
“Kamu mau ikut?”
“Iya. Bolehkan? Aku kan bosan kalau di sini sendirian.”
“Makanya kembalilah ke kota. Minta pak Min menjemputmu.”
“Tidak tidak. Aku akan pilang jika kamu pulang. Tak apa aku akan bertahan.”
“Terserah.” Kata Nathan cuek dan berjalan melewati Jennika menuju mobil. Nathan membuka pintu depan dan langsung duduk disana setelah menyapa Joni dan Nadia.
“Dokter Nathan, kanapa kamu meninggalkanku? Kan aku datang untuk menjemputmu.” Rengek Jennika saat dirinya juga sudah duduk di kursi belakang bersama Nadia.
Nadia yang melihat wajah ditekuk Nathan jadi merasa tidak enak.
“Saya tadi yang mengajak Jennika ikut dokter. Tidak apa-apa kan?” tanya Nadia hati-hati.
“Tidak apa-apa bu Nadia.” Jawab Nathan singkat. Joni melirik ketiganya bergantian.
Nathan dengan wajah yang terlihat kesal. Ini mirip seperti seorang pemuda yang dipaksa nikah. Laki-laki muda itu terlihat sekali bahwa ia tidak menyukai Jennika bahkan terkesan risih jika wanita itu ada di sekitarnya.
Sedangkan Nadia sekarang terlihat canggung. Mungkin merasa tidak nyaman karena menyebabkan suasana hati Nathan memburuk. Nadia adalah tipe orang yang perasa.
Dan wajah Jennika tentu saja menjadi wajah yang paling bahagia diantara keduanya. Senyum kepuasan merekah di bibirnya. Dari bibirnya juga banyak keluar kata-kata. Terlihat sekali jika ia sedang mencari perhatian. Sedangkan Nadia dan Nathan hanya menanggapinya sesekali. Mereka pendengar yang baik.
“Kita mau kemana?”
“Kita akan menemui seorang teman untuk membahas sesuatu.” Jawab Nadia. Wanita itu tahu jik Nathan tidak akan mau repot-repot menjawab pertanyaan Jennika.
“Apakah ini suatu rahasia. Kalau iya, aku tidak keberatan jika aku pergi sebentar.”
__ADS_1
“Tidak juga. Kamu boleh bergabung Jen. Lagi pula jika kamu pergi, itu tidak akan nyaman.”
“Memangnya ada....”
“Diamlah Jen. Apa tidak capek mulutmu itu mengoceh sepanjang jalan? Telingaku saja sampai sakit mendengarnya.”
Mendengar itu, Jennika terdiam dengan wajah yang muram. Nadia menggenggam tangannya.
Sikap Nathan memang sepertinya tidak sopan. Tapi Nadia memang merasa Jennika terlalu banyak omong. Semua hal yang bahkan tidak ada hubungannya dengan mereka dibicarakan. Tidak peduli yang diajak bicara paham apa tidak, yang paling penting untuknya adalah terus bicara untuk mendapatkan perhatian Nathan. Dan Nadia mengerti itu.
Mobil yang dikemudikan Joni berhenti di depan kafe. Joni segera turun dan membukakan pintu untuk Nadia. Sedangkan Nathan membuka pintunya sendiri.
“Dokter Nathan, bukakan pintunya.” Protes Jennika. Dia ingin seperti Nadia yang dibukakan pintunya oleh Joni. Sepertinya akan romantis jika Nathan melakukan hal yang sama untuknya. Namun setelah menunggu, laki-laki yang diharapkan tidak bereaksi.
“Memangnya kamu pikir aku pak Min?”
Dengan kesal Jennika membuka pintunya dan segera menyusul Nathan yang sudah berjalan ke arah kafe. Sedangkan Nadia dan Joni berjalan santai beriringan.
“Baru kali ini aku bersyukur tidak memiliki wajah yang terlalu tampan.” Kata Joni sambil melihat Nathan yang terus berusaha menarik lengannya yang telah dikuasai oleh Jennika.
“Kenapa?”
“Lihat itu! Dokter Nathan sepertinya tidak menyukai nona Jennika. Tapi lihatlah sendiri, meskipun sudah jelas ditolak, nona Jennika terus mengejar. Aku sampai bergidik jika aku yang ada di posisi dokter Nathan. Pasti sangat risih.”
“Tapi aku sedikit mengerti apa yang dirasakan dokter Nathan, Nad.”
“Memangnya seperti apa?”
“Jika yang terus menempel dengan kita adalah orang yang kita sukai, kita akan bahagia. Dan sebaliknya, jika orang itu adalah orang yang tidak kita sukai, maka kita akan merasa mederita.”
“Dasar lebai.” Nadia tersenyum mendengar penjelasan Joni. Meskipun memang benar seperti itu. Nadia lah yang paking mengerti akan situasi seperti itu. Hampir tiga tahun Nadia berada dalam kondisi yang hampir sama dengan Nathan bahkan lebih.
Nadia dan Joni segera bergabung dengan empat orang yang sudah duduk di ruang private kafe. Mereka akan melakukan pembicaraan serius, jadi membutuhkan ruang yang tenang.
“Selamat siang dokter Wisnu, Nona Bianka.” Sapa Nadia ketika dia baru masuk ke dalam ruangan.
“Selamat siang Bu Nadia.”
Bianka adalah pengacara yang Nathan sewa untuk menangani kasus Dian. Sebenarnya Nadia yang berniat menyewakan jasa pengacara, tapi itu tak akan nyaman sebab yang menjadi korban disini adalah suami Nadia.
“Sebaiknya kita memesan makanan dulu. Berbicara saat perut kosong tidak akan baik.” Kata dokter Wisnu.
“Itu ide yang baik. Berbicara juga membutuhkan tenaga.” Kata Nathan sebelum ia memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
__ADS_1
“Oh ya Nona Bianka. Saya ingin tahu, apakah bisa kita mengusahakan Dian menjadi tahanan rumah. Mengingat kondisinya yang hamil besar. Saya khawatir jika Berada di dalam penjara akan menjatuhkan mentalnya.” Tanya Nadia. Sudah lama ia ingin berbicara secara langsung dengan Bianka. Tapi baru kali ini ia mempunyai kesempatan.
“Sebenarnya bisa. Kita hanya tinggal menyiapkan berkas pengajuan kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Yang paling penting kita bisa menjamin jika Dian tidak akan kabur.”
“Itu bagus. Jadi saya harap nona Bianka bisa mengusahakannya.”
“Saya setuju dengan Bu Nadia. Kasihan jika Dian sendirian dalam masa ini. Mengenai jaminan untuk Dian, saya bersedia menjadi penjaminnya.” Kata Nathan.
“Baiklah. Akan segera saya siapkan.”
“Kalian sebenarnya membicarakan apa sih?” tanya Jennika yang merupakan satu-satunya orang yang tidak mengerti situasinya.
“Kalau tidak paham. Diam dan dengarkan.” Kata Nathan dingin.
“Nanti aku ceritakan Jen.”
“Dia ini Jennika Wiratmaja kan?” tanya Bianka semangat.
“Iya itu saya.” Jawab Jennika bangga.
“Wah saya salah satu penggemar anda lho. Saya sangat beruntung bisa bertemu langsung dengan youtuber terkenal seperti anda.” Kata Bianka.
“Benarkah? Aku senang ada yang melihat konten yang aku buat.”
“Saya menyukai semua konten yang anda buat nona Jennika.”
“Hei Jen, kamu tidak bilang kalau kamu Youtuber terkenal.” Kata Nadia.
“Ah itu hanya untuk mengisi waktu senggang. Dokter Nathan dengar kan? Aku ini bukan gadis manja saja. Aku juga bisa menghasilkan.” Kata jennika.
Nathan hanya diam tidak merespon. Baginya, Jennika tetap saja gadis manja yang selalu ingin mandapatkan apa yang dia mau. Tapi apa salahnya dengan itu? Orang tua Jennika memang mempunyai segalanya untuk memenuhi keinginan putrinya. Semua orang tua ingin melihat anak mereka bahagia bukan?
*
*
*
...~*Aku Istri Muda*~
...
Terima kasih sudah mampir 😘
__ADS_1
Budayakan like 👍dan komen, oke 😊