
Sorang pria paruh baya mengepalkan tinjunya di bawah meja. Raut wajah emosi yang dibalut kekhawatiran dan ketidak berdayaan terlihat jelas disana. Pandangan matanya menatap bingung pintu yang baru saja tertutup di hadapannya.
Setelah menenangkan hatinya sebentar, ia meraih handphone dari dalam saku jasnya. Menekan beberapa kali sebelum menempelkan benda itu dekat telinga kanannya dan menempel di pipi. Menunggu beberapa saat sebelum sambungan bersambut dan terdengar suara seorang wanita yang ceria dari seberang sana.
“Sayang, kemarilah.” Perintahnya pada seseorang di seberang sana. Tanpa berkata hal lain, ia mematikan sambungan telfonnya. Memberi penjelasan melalui telfon bukanlah pilihan terbaik saat ini. Jadi ia lebih memilih kembali menenangkan hatinya sekali lagi.
Setelah melakukan panggilan. Wajahnya menjadi sendu. Otaknya jelas sedang memikirkan hal yang sangat berat.
Flash Back On....
“Permisi tuan, Tuan Nathaneil dari Mahardika Grup ingin bertemu.” Ucapan sang sekretaris membuat seorang pria paruh baya yang sedang fokus dengan pekerjaannya menegakkan badannya. Ia tak menyangka akan mendapatkan tamu tak terduga yang merupakan penguasa bisnis di kota X. Ia merasa hari ini ia akan mendapatkan berkah.
“Tunggu apa lagi? Segera persilahkan masuk.” Ucapnya girang. Sang sekretaris membungkukkan badannya sebelum keluar ruangan atasannya untuk mengerjakan apa yang diperintahkan sang bos.
Tak lama berselang, sekretaris itu kembali masuk dengan dua orang bersamanya. Setelah dua tamunya duduk di kursi depan sang bos. Sang sekretaris hendak pergi menyiapkan minuman untuk tamunya. Namun sebuah suara yang dingin mendominasi mencegahnya.
“Kami tidak akan lama berada disini. Tidak perlu menyiapkan apapun untuk kami.” Mendengar itu, sang sekretaris segera berdiri di belakang sang bos.
“Hahaha. Baiklah tuan Nathan. Apa yang merepotkan tuan hingga datang ke tempat kecil saya?” tanya Hendra Wijaya. Sang bos besar di perusahaan itu yang seketika menjadi kecil di hadapan Nathan.
Namun tawa basa-basi Hendra berhenti ketika menyadari raut wajah Nathan yang terlihat dingin.
“Tidak perlu basa-basi. Saya ingin anak anda meninggalkan negara ini paling akhir besok.” Ucapan Nathan membuat bola mata Hendra melotot. Apa yang terjadi hingga Nathan tiba-tiba meledakkan hal seperti itu di depannya?
Selama ini Hendra mengenal Nathan sebagai laki-laki yang sedang dekat dengan putrinya hingga ia mendengar kabar bahwa Nathan mengumumkan pernikahannya. Tapi ia tidak mengetahui apa yang dilakukan anaknya untuk memprovokasi orang yang tidak seharusnya disinggung.
Jadi ketika mendengar Nathan memintanya untuk meminta secara langsung untuk mengusir anaknya ia menjadi syok.
“Tapi ada apa?”
“Anak gadis anda mencoba memprovoksi saya dengan mengganggu ketentraman orang-orang di sekitar saya.”
Mendengar alasan Nathan, sekali lagi Hendra menjadi kebingungan. Sebenarnya apa yang dilakukan putrinya di luar sana?
“Jika itu yang terjadi, atas nama anak saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya berjanji tidak akan membiarkan anak saya mengganggu kehidupan keluarga tuan.”
“Tidak diperlukan. Lakukan saja apa yang saya minta atau saya akan menarik semua saham dari perusahaan anda. Baiklah kami permisi.” Nathan segera berdiri dari duduknya. Luna yang dari tadi hanya menjadi penonton sekali lagi hanya bisa mengikuti atasannya keluar.
__ADS_1
Flash Back Off...
Nathan segera menuju hotel yang akan dia jadikan tempat untuk mengadakan jumpa pers. Ia ingin semua persiapan sesuai dengan keinginannya. Ia juga harus memastikan jika kenyamanan Nadia adalah hal terpenting.
Sementara yang lain, pria tua yang baru mendapatkan sebuah ancaman dalam dilema sekarang. Miranda asalah satu-satunya anak yang dimilikinya. Dengan istrinya yang meninggal ketika anaknya masih kecil, anaknya tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah. Segala apa yang menjadi keinginannya, semua akan dapat dengan mudah ia penuhi. Hendra hanya ingin anaknya bahagia. Dan tanpa sadar, ia telah menjerumuskan anaknya menjadi seseorang yang manja dan egois.
Sekarang, setelah anaknya bertindak jauh dari kemampuannya, ia baru menyesalinya. Jika saja ia tidak terlalu memanjakan anaknya, mungkin anaknya tidak akan tumbuh menjadi anak yang penuh dengan ambisi dan menghancurkan masa depannya sendiri seperti yang dilakukannya sekarang.
Hendra mengetuk mejanya. Ia adalah pemimpin perusahaan. Ribuan karyawannya bergantung padanya. Jika ia tidak menuruti kemauan Nathan, perusahaannya akan bangkrut, akan banyak keluarga yang menderita. Tapi jika ia menurutinya, ia akan jauh dari putri semata wayangnya.
Dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, dia tetap harus mengambil keputusannya.
“Papa.” Sapa Miranda riang. Ia langsung masuk ke dalam ruangan Hendra tanpa mengetuk pintu. Lagipula ia adalah anak dari pemilik perusahaan. Hal semacam itu tidaklah diperlukan.
Begitu masuk, Miranda mencium pipi Hendra sebelum memeluk pacar pertamanya itu.
“Ada apa pa? Sepertinya wajah papa terlihat lebih tua ketika serius seperti itu!” goda Miranda dengan senyum berbinar.
Namun senyumnya memudar ketika menyadari wajah serius Hendra yang tidak mencair setelah melihat senyumannya. Instingnya menyatakan bahwa ada hal yang sangat serius yang terjadi.
“Duduklah dulu. Kita bicara sambil duduk.” Hendra menuntun Miranda duduk di sofa. Mendudukkan putrinya di depannya. Tangannya memegang lembut tangan sang putri.
“Ada apa sih pa? Sepertinya ada hal penting.”
“Sayang, jika kamu memilih antara menikah dan pergi ke luar negeri. Kamu pilih yang mana?” mendengar pilihan dari Hendra, Miranda mengerutkan alisnya. Tidak biasanya papanya akan memaksakan kehendaknya seperti saat ini. Apa lagi membuatnya harus memilih antara pilihan yang sulit.
Namun pikirannya lebih condong dengan pemikiran yang pertama. Ia memiliki pengaturannya.
“Kalau aku menikahnya dengan Nathan, aku lebih baik menikah saja pa.” Ucapnya. Ini adalah harapannya. Siapa tahu papanya telah menyiapkan kejutannya dengan menikahkannya dengan Nathan. Selama ini papanya akan memberikan apa saja yang ia inginkan.
“Papa akan mencarikan laki-laki lain yang tidak kalah dari tuan Nathan.”
“Tidak pa. Aku hanya ingin menikah dengan Nathan. Tidak dengan yang lain.”
“Jika kamu keras kepala seperti ini. Terpaksa papa harus mengirimmu ke luar negeri.”
“Papa tidak bisa melakukan itu padaku!” pekik Miranda. Ia menarik tangannya yang digenggam Hendra. Ia berdiri dengan kesal. Papanya tidak boleh memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
“Miranda. Papa salah karena telah terlalu memanjakanmu sejak dulu hingga kamu tumbuh menjadi anak yang ambisius seperti ini. Kamu telah memprovokasi orang yang seharusnya tidak boleh kamu ganggu.”
“Tapi aku mau Nathan pa. Aku mencintainya.”
“Dia tidak menginginkanmu. Dan kamu malah mengusik kehidupannya. Tahukah kamu akibat dari sikapmu? Perusahaan ini akan hancur akibat ulah kekanakanmu itu!”
“Aku tidak percaya papa tega mengatakan itu padaku.” Miranda mulai terisak. Selama hidupnya, tidak pernah sekalipun papanya membentaknya.
“Ini semua demi kebaikanmu nak. Tuan Nathan tadi kesini, dia mengancam papa akan menarik semua sahamnya di perusahaan kita. Kamu tahu artinya kan? Perusahaan kita akan hancur tanpa bantuannya. Lagipula, jika kamu terus berada disini, papa yakin tuan Nathan tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Ini tidak akan lama sayang. Hanya setelah kamu menikah, kamu boleh kembali kesini. Kamu cantik, pintar. Akan mudah menemukan orang yang cocok untukmu. Jauh melebihi tuan Nathan.”
“Tidak pa. Aku tidak mau. Aku hanya akan menikah dengan Nathan.”
“Kalau kamu begitu keras kepala, jangan salahkan papa bertindak kasar. Robert!”
Seorang laki-laki muda dengan setelan formal masuk ke dalam ruangan. Menundukkan sedikit badannya di depan Hendra.
“Bawa Miranda. Pastikan dia naik pesawatnya!” perintahnya tegas.
“Tidak pa! Aku mohon jangan...” miranda menangis tersedu-sedu. Tapi Hendra sudah membulatkan tekadnya.
Keputusan yang diambil harus penuh pertimbangan. Ia tak bisa begitu saja mengabaikan ribuan karyawan yang berada di bawahnya. Lagipula, jika Miranda terus berada disini, ini juga tak baik untuk anaknya. Jadi di harus berusaha mengeraskan hatinya untuk anaknya kali ini. Demi kebaikannya.
Dan saat itu jugalah ia mengirim putri semata wayangnya pergi ke luar negeri.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir....
Nathan : Koh lama amat aku nikahnya. Udah nggak sabar nih!
Akoh : Sabar. Akoh belum ada dana buatin kalian pesta.
Nathan : Ayo Reader kasih akoh hadiah biar bisa cepet aku nikahnya 😉
__ADS_1