Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
S2_34. Sepenggal Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Tiga tahun yang lalu....


“Maafkan aku Rafa. Aku sungguh menghargai perasaan yang kamu miliki untukku. Tapi aku hanya bisa menganggapmu sebagai kakakku. Saudaraku. Aku tidak bisa membalas seperti yang kamu harapkan.” Suara Nara bergetar saat menolak untuk menjadi kekasih dari Rafael.


Hari itu adalah hari kelulusan Nara dari SMA. Setelah mengetahui pengumuman bahwa ia lulus, ia dan Rafa memutuskan untuk mengadakan pesta kecil-kecilan bersama. Mereka makan siang di sebuah kafe tak jauh Dari sekolah mereka.


Semua berjalan baik hingga Rafa menyatakan perasaannya pada Nara yang bahkan Nara sendiri tidak menyadarinya.


“Apakah aku tidak pantas untukmu Nara?”


“Bukan begitu. Hanya saja aku memang tidak memiliki cinta. Yah. Kau tau kan kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan?” jawab Nara gugup.


Sejak Nadia menikah dengan Nathan, Nara dan Bisma berteman dengan Rafael yang merupakan anak dari Luna (ingat sekretaris Nathan dulu?). Tapi hanya Nara yang dekat dengan Rafael karena mereka memang sebaya. Sedangkan Bisma tidak begitu menyukai Rafael yang sangat ceroboh di waktu kecil.


Bisa dikatakan Nara dan Rafael tumbuh bersama. Bersekolah bersama. Bahkan Nara lebih dekat dengan Rafael daripada dengan Bisma.


Di sekolah mereka bahkan digosipkan menjadi sepasang kekasih. Apalagi tidak ada yang mengelak berita itu. Nara yang terlampau cuek dan hanya menganggap semua itu lelucon, sedangkan Rafael yang memang memiliki perasaan pada Nara jelas sangat menikmati gosip yang tidak benar tersebut hingga ia merasa seperti memang menjadi kekasih Nara waktu itu.


“Aku tahu aku memang tidak sederajat denganmu. Mamaku hanyalah mantan bawahan dari papamu. Dan perusahaan papaku juga tidaklah sebesar milik papamu.”


kata Rafael sendu.


“Rafa, bukan begitu. Aku hanya...”


“Tidak perlu dijelaskan lagi. Aku sudah mengerti.” Rafael berdiri dengan segera. Nara hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak menyangka akan ada situasi yang begitu tidak nyaman antara dirinya dengan Rafael. Yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


“Aku akan membuktikan jika aku pantas untukmu. Aku akan kembali hanya jika aku berhasil.” Ucap Rafael sebelum meninggalkan Nara yang semakin sedih mendapati perubahan sahabatnya itu.


Rafael segera keluar dari kafe dengan tangan mengepal dan mata yang memerah. Dia pergi dengan membawa tekad yang kuat bersamanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan kembali dan membuktikan bahwa semua yang ia ucapkan benar. Bahwa ia pantas bersanding dengan Nara.


Sedangkan Nara melihat nanar punggung sahabatnya yang semakin jauh. Ia tidak menyangka jika persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun lamanya akan berakhir seperti itu.


Sejak saat itu, Nara tidak pernah lagi bertemu dengan Rafael. Kabar terakhir yang ia dengar adalah jika Rafael melanjutkan pendidikan nya di luar negeri. Setelah itu ia sudah tidak lagi mengetahui nya. Apalagi Luna memutuskan untuk ikut pindah ke kota asalnya dimana perusahaan David, suaminya berdiri dan sedang berkembang.


...🍁🍁🍁

__ADS_1


...


Hari ini Bisma mengajak Nara untuk menemui seseorang yang bersedia membantu mereka menyelamatkan Mahardika Grup. Pemimpin perusahaan itu bersedia menggelontorkan dana yang besar untuk itu.


“Kak, aku sepertinya tidak asing saat mendengar nama perusahaan itu.” Kata Nara sambil mengetuk dagunya. Sejak Bisma memberitahu nya. Ia sudah merasa ada yang aneh.


“Hem. Aku juga. Tapi sudahlah. Kita akan mengetahuinya sebentar lagi.” Tepat ketika Bisma menyelesaikan ucapannya, lift yang membawa mereka ke lantai teratas dari sebuah gedung kantor yang akan menjadi tempat pertemuan siang hari itu.


Sebenarnya Nara masih sangat penasaran. Tapi Bisma memang benar. Siapapun di balik semua ini akan menjadi jelas sebentar lagi.


“Selamat siang tuan Bisma, nona Nara.” Seorang sekretaris cantik menyapa mereka ketika mereka baru saja tiba.


“Selamat siang nona Citra.” Jawab Nara yang sudah beberapa kali berkomunikasi dengan sekretaris cantik itu melalui telepon. Sedangkan Bisma hanya mengangguk seperlunya.


“Mari saya antar. Kalian berdua sudah ditunggu tuan saya di ruangannya.” Citra berjalan untuk memimpin jalan.


Tok tok tok


Tanpa menunggu perintah pintu itu segera dibuka oleh sekretaris cantik itu. Mengajak Nara dan Bisma untuk masuk.


“Tuan, tuan Bisma dan nona Nara sudah tiba.” Ucap citra setelah ia membungkukkan badannya.


Citra segera keluar setelah itu. Ia menutup pintu dengan sangat hati-hati hingga tak menimbulkan suara sedikitpun.


“Kenapa masih berdiri, silahkan duduk.” Ucap laki-laki itu.


“Sombong sekali pria ini.” Kata Nara dalam hati.


Bisma yang mengetahui jika Nara sedang kesal hanya bisa memberi isyarat pada Nara untuk diam dan menahan diri.


“Oke oke. Aku akan diam.” Ucap Nara pelan yang mengerti kode dari Bisma.


Keduanya pun segera duduk di kursi yang tepat berada di seberang meja laki-laki itu. Setelah mengetahui jika tamunya duduk. Laki-laki itu segera memutar kursinya hingga berhadapan dengan Nara dan Bisma. Menampilkan senyumnya yang menawan.


“Apa kabar Nara? Kak Bisma?”

__ADS_1


“Rafa!” Ucap Nara dan Bisma bersamaan.


“Ya. Ini aku. Bagaimana? Apa kalian terkejut?” Rafael segera melipat kedua tangannya di atas meja.


“Yah. Cukup terkejut.” Jawab Bisma. “Awalnya aku merasa tidak asing saat mendengar siapa pemimpin dari Lunar Ind. Tapi aku tidak menyangka jika memang benar-benar kamu.” Lanjutnya.


“Yah. Aku memang sudah jauh berubah sekarang. Aku bukan lagi hanya seorang anak dari pemilik perusahaan kecil.”


“Aku juga bisa melihat itu. Kamu sudah berubah banyak.”


“Waktu dan tekad memang bisa membuat banyak hal berubah kak.” Ucap Rafael sambil melirik Nara yang dari tadi hanya diam tanpa berniat ingin ikut dalam percakapan. Ia masih ingin meneliti seperti apa sahabatnya sekarang.


“Nara apakah kamu tidak merindukan aku?” Rafael memasang wajah melasnya saat menatap Nara dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Ah iya. Apa kabar Rafa?” Nara merasa Rafa yang sekarang sangat berbeda. Ia seperti tidak mengenalinya lagi.


“Aku baik. Sangat baik. Apakah kamu tidak menyangka jika akan berada di posisi seperti sekarang ini?”


Pertanyaan Rafael membuat Nara gugup. Bisma yang mendengar jelas tahu jika ada makna lain yang tersirat dari ucapan teman lamanya itu. Tapi dia sendiri tidak mengetahuinya. Di masa lalu ia juga tidak begitu memperhatikan keberadaan Rafael, jadi saat laki-laki itu pergi ia pun tidak merasa ada yang salah.


“Sudahlah tidak perlu di jawab. Aku hanya bergurau. Lebih baik kita langsung berbicara pada intinya saja saat ini. Dan untuk masalah lain, aku akan menemui kalian lain kali.” Rafael tertawa meskipun tidak ada yang lucu.


Hampir satu jam mereka berbincang. Nara pun sudah dapat menguasai dirinya. Ia sudah bersikap profesional seperti biasanya.


“Sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau aku traktir kalian berdua makan siang sekalian mengingat-ingat masa lalu.” Tawar Rafael yang segera disanggupi oleh Bisma. Lagi pula sepertinya Lunar Ind. memang bisa membantunya.


Ketiganya berjalan berdampingan saat mereka tiba di restoran. Dengan Nara yang berjalan di tengahnya.


“Nara, Bisma. Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” Secara tidak sengaja Alex juga berada di restoran yang sama.


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir 🥰


Like👍 dan komen² oke😁


__ADS_2