
Setelah Alex berangkat ke kantor, Nara juga pergi ke kantor Bisma. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan untuk acara penyerahan jabatan secara resmi. Meskipun Bisma sudah cukup lama menjabat sebagai Presdir, tetapi belum ada pengumuman resminya.
Selama ini Bisma masih memerlukan persetujuan dari Nathan jika ia mengambil keputusan. Tetapi setelah serah jabatan secara resmi sudah diumumkan, keputusan penting bisa diambil oleh Bisma secara langsung.
Acara peresmian serah terima jabatan sudah tinggal menunggu hari. Namun masalah internal masih belum terselesaikan. Beberapa dewan direksi masih merasa keberatan jika Bisma yang menjadi Presdir mereka.
Kemampuan Bisma memang tidak diragukan lagi. Hampir satu tahun kepemimpinan Bisma, banyak kemajuan yang dicapai oleh Mahardika. Namun yang menjadi masalah adalah karena Bisma bukanlah putra kandung Nathan. Meskipun Bisma sudah memiliki Mahardika sebagai nama belakangnya, namun masih saja itu dipermasalahkan.
Bisma sendiri awalnya juga menolak. Daripada meneruskan kepemimpinan Nathan, ia lebih memilih untuk mendirikan sendiri perusahaannya. Seperti Bima yang bisa berdiri di atas kakinya. Ia sangat ingin seperti Bima.
Hal ini pun sudah ia bicarakan dengan Nathan saat ia menolak saat Nathan menyampaikan niatnya. Yang lebih berhak menjadi pewaris Mahardika Grub adalah Gerry. Bukan dirinya.
Namun perkataan Nathan selalu terngiang di kepalanya.
“Bisma, kamu tahu papa tidak pernah membedakan kamu dengan Gerry. Sejak papa menikah dengan mamamu, aku telah menerimamu sebagai putraku. Putra sulungku.”
“Aku tahu pa. Tapi aku memiliki mimpi lain. Aku ingin membangun sendiri kerajaan Bisnisku.”
“Aku tahu kamu mampu melakukannya. Tapi kamu adalah putra sulungku. Aku sudah tua Bisma, aku sudah sering sakit-sakitan. Aku ingin menikmati masa tua bersama mamamu.”
“Hem. Baiklah pa. Tapi aku memiliki syarat.”
“Apa syaratmu?”
“Syarat yang pertama, ini hanyalah sementara. Setelah Gerry sudah siap mengambil alih, dia yang akan memimpin Mahardika Grub ini. Syarat yang kedua, izinkan aku mendirikan perusahaan ku sendiri.”
“Baiklah. Papa setuju. Kamu memang putra papa yang membanggakan.”
**
“Permisi tuan, tuan Nathan sudah tiba. Semua orang juga sudah menunggu di ruang rapat.” Suara Andi membuyarkan lamunan Bisma.
“Baiklah Andi. Ayo kita ke sana. Masalah ini harus cepat diselesaikan.” Bisma meraih jasnya. Memakainya sambil berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang rapat.
Saat Bisma baru keluar dari lift, Nathan dan Nara juga sedang berjalan menuju ruang rapat. Ketiganya pun berjalan beriringan.
Wajah-wajah itu terlihat serius. Mereka harus berhasil meyakinkan para dewan direksi. Jika tidak, akan ada perselisihan dan berakibat goyahnya posisi Bisma di masa depan.
Wacana untuk menjadikan Bisma sebagai Presdir Mahardika sebenarnya bukan hal baru. Gagasan ini sudah Nathan sampaikan bertahun-tahun yang lalu. Namun hal ini masih sering menjadi perdebatan sengit.
Hingga puncaknya, Nathan memutuskan secara sepihak rencananya. Sesekali, dewan direksi itu harus diberi sedikit pukulan.
Saat ketiga orang itu memasuki ruang rapat, semua orang berdiri menyambut mereka. Setelah ketiganya duduk, peserta rapat baru bisa duduk kembali.
“Saya tidak ingin mengukur waktu. Saya akan langsung berbicara pada intinya. Saya sudah menyampaikan keputusan saya. Dan saya tetap pada pendirian saya bahwa saya akan menunjuk Bisma sebagai Presdir Mahardika Grub.” Nathan duduk dengan gagah di kursi pimpinan. Wajahnya mendominasi dengan kuat.
“Apa ini tidak perlu dipikirkan lagi?” salah seorang laki-laki mengangkat tangannya.
__ADS_1
“Apa ada masalah dengan rencana saya?” ucap Nathan dingin.
“Memang tidak ada masalah dengan pergantian posisi ini. Tapi apakah tuan Bisma layak?”
“Bisma sudah membuktikan kemampuannya pada kalian semua. Apa ada yang bisa menyangkalnya?”
“Kemampuan tuan Bisma memang tidak diragukan lagi. Tapi tuan Bisma bukanlah keturunan langsung dari keluarga Mahardika.” Seru seseorang yang lain.
“Huh! Bisma adalah putra sulungku. Memang siapa lagi yang lebih pantas menjadi Presdir di perusahaan ini?”
“Bukankah masih ada Gerry.”
“Apa kalian ini tidak punya otak? Kalian mau Mahardika menjadi bahan tertawaan orang lain?”
“Atau kita bisa memilih orang lain yang lebih tepat untuk menjabat sementara waktu.”
“Di perusahaan ini, saham yang aku pegang adalah yang terbesar. Bisma sendiri memiliki sepuluh persen saham di sini. Bisma adalah putraku. Dan sebagai pemegang saham terbesar, aku berhak memutuskan siapa yang akan duduk di bangku Presdir.”
Tidak ada yang bisa menentang. Tapi masih banyak dari pemegang saham yang keberatan. Mereka masih berbisik-bisik dengan rekan mereka.
Bisma memandang semua orang. Ia tahu bahwa keputusan Nathan pasti akan ditentang karena statusnya yang merupakan anak tiri.
“Pa, izinkan saya bicara.” Bisma menoleh pada Nathan. Nathan mengangguk menyetujui. Ia yakin Bisma mempunyai rencananya sendiri.
“Karena masih ada yang merasa saya tidak layak, bagaimana kalau saya memberi kalian waktu untuk menunjuk seorang kandidat yang lebih potensial dari saya. Kandidat itu harus memenuhi syarat yang sesuai. Jika kalian dapat menemukan kandidat seperti itu sebelum acara pelantikan lima hari lagi, saya akan mundur dengan senang hati. Bagaimana?”
Semua orang saling memandang. Mereka mungkin tidak bisa menemukan orang seperti itu. Bisma adalah seseorang yang sangat layak duduk di posisi Presdir menggantikan Nathan.
Namun Nathan tidak mudah dilawan. Apalagi Bisma sudah menyandang Nama Mahardika sebagai nama belakangnya. Sepertinya Nathan memang sudah mempersiapkan Bisma dari awal.
Tapi bagaimana cinta kepada anak tiri dapat mengalahkan cintanya pada anak kandung? Paling tidak, mereka berpikir Nathan akan Khawatir jika Bisma sampai menduduki kursi tertinggi, Bisma akan menyalahgunakan posisinya dan akan menyingkirkan Gerry yang merupakan pewaris sesungguhnya.
“Kalian ini maunya apa sebenarnya? Kalian tidak melihat kemampuan kak Bisma?” Nara berkata dengan kesal. Dari tadi ia sudah kesal mendengar semua protes mereka.
“Kami berdua memang anak tiri di sini. Tapi kasih sayang yang papa berikan pada kami menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dekat dari hubungan darah. Tidak peduli darah siapa yang mengalir di tubuh kami, bagi kami Nathanael Geovan Mahardika adalah papa kami.” Tutur Nara.
“Nara, tidak ada gunanya menjelaskan hal semacam itu pada orang-orang yang melihat segalanya melalui harta dan kekuasaan.” Nathan mencibir.
“Untuk menghilangkan keraguan, aku setuju dengan usul Bisma. Jika sampai lima hari mendatang kalian tidak bisa menemukan kandidat yang labuh baik dari Bisma, aku tidak ingin lagi mendengar kalian akan mempermasalahkan hal ini di masa depan. Kalian mengerti?”
“Baik tuan. Kami menerima keputusan itu. Jika dalam lima hari kami tidak bisa menemukan orang yang melampaui tuan Bisma, kami tidak akan mengganggu kepemimpinan tuan Bisma.”
“Itu bagus. Baiklah. Rapat ditutup sampai di sini. Lima hari lagi kita bertemu lagi untuk menentukan hasilnya.” Nathan berdiri. Memberi kode pada Bisma dan Nara untuk mengikutinya.
Sepeninggal Nathan, Bisma dan Nara, semua orang di ruang rapat melanjutkan diskusi mereka. Mereka si UK mencari seseorang yang lebih baik dari Bisma. Mereka masih berharap jika Presdir masa depan akan berasal dari pihak mereka. Jadi mereka juga bisa memegang kendali di masa depan.
**
__ADS_1
Setelah rapat selesai, Nara sudah lelah. Dia meminta izin untuk kembali lebih dulu. Namun ia tidak langsung pulang, melainkan menemui Karina. Sejak gadis itu menyelamatkannya, mereka sudah sering bertukar kabar melalui aplikasi WhatsApp.
Nara meminta pak Farid mengantarnya menemui Karina. Mereka sudah janjian makan siang di sebuah kafe yang tidak jauh dari hotel tempat kerja Karina.
Begitu Nara memasuki kafe, ia mengedarkan pandangan matanya. Mencari keberadaan Karina yang sudah memberitahunya bahwa ia sudah sampai.
“Maaf ya lama.” Nara duduk di depan Karina.
“Aku juga baru sampai kok.” Karina tersenyum. Melihat Nara yang siang itu berpenampilan berbeda. Karena ke kantor, ia menggunakan pakaian formalnya. Dengan penampilan itu Nara terlihat lebih dewasa dan anggun.
“Kamu terlihat cantik.” Puji Karina tulus.
“Kamu juga cantik.”
“Hahahaha. Buluk gini cantik dari mana?” Karina mengangkat bahunya.
“Menurutku kamu cantik. Cuma poles dikit aja nggak kalah cantik sama artis-artis terkenal.”
“Hem. Baiklah. Terima kasih sudah menghiburku.” Karina tersenyum. Ia masih merasa Nara hanya memujinya karena untuk menghiburnya saja.
“Hahaha. Aku beneran. Aku tidak bohong. Ah sudahlah sekarang lebih baik kita memesan makanan. Aku sudah kelaparan.” Nara menggosok perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.
Karina mengangguk dan memanggil pelayan. Keduanya memesan makanan. Mereka berdua menikmati makan siang sambil mengobrol.
“Lusa aku ingin mengundangmu datang ke pesta perayaan serah terima jabatan kakakku.” Nara mengeluarkan undangan dari dalam tasnya.
Karina membuka undangannya. Dari undangannya saja terlihat itu adalah pesta yang mewah untuk kalangan atas. Ia merasa tidak pantas untuk bergabung. Dia membolak-balikkan undangan itu sebelum membukanya.
“Maaf Nara, sepertinya aku tidak bisa datang.” Dengan penuh penyesalan Karina menolaknya.
“Kenapa?”
“Aku merasa tidak pantas hadir di acara itu. Yang datang pasti semua orang besar. Kamu lihat aku seperti ini. Aku takut akan mempermalukan mu.” Karina meneliti penampilannya. Dia dan Nara jauh berbeda.
“Aku tidak menerima penolakan. Dan lagi, keluargaku tidak melihat seseorang dari kedudukannya. Apalagi kamu adalah penyelamat putri mereka. Kamu tahu, mama dan papaku sangat ingin bertemu dengan mu. Tapi kamu selalu saja sibuk.”
“Maaf. Tapi Nara..”
“Kamu tenang saja. Lusa aku akan meminta seseorang menjemputmu. Aku juga akan mengirimkan gaun untuk kamu pakai nanti. Jadi tidak ada alasan menolak undangan ku.” Potong Nara cepat.
“Huh. Ini akan merepotkan mu.”
“Tidak. Apa kamu sesungguhnya tidak mau datang? Kamu tahu aku akan sedih jika kamu tidak datang.” Ucap Nara memelas. Saat ini Nara tidak memiliki teman. Hanya Karina yang ia anggap teman akrab. Gadis itu berteman dengan tulus.
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih sudah mampir 😘