
Setelah makan, Serena mengajak Alex, Nara dan Virly untuk berbincang-bincang di ruang tamu.
Virly dan Nara pun beberapa kali menceritakan masa lalu mereka saat mereka masih menjadi seorang mahasiswa.
“Oh ya Nara, bagaimana hasil pemeriksaan kalian hari ini! Karena terlalu bersemangat ada Virly mama jadi lupa.” Serena baru teringat dan langsung bertanya. Ia tidak akan tahan jika harus menunggu sampai Virly pulang. Lagipula baginya Virly gadis yang baik.
“Semuanya baik ma. Dokter mengatakan tidak ada masalah apapun pada kami berdua.” Jawab Nara berbinar.
“Mama tenang saja, di dalam perut Nara sebentar lagi cucu mama akan tumbuh.” Ucap Alex sambil mengelus perut Nara yang datar.
“Mama ikut senang mendengar nya.” Serena tersenyum senang.
“Mulai besok Nara akan berhenti bekerja mama. Apa mama senang Nara bisa menemani mama di rumah?” meskipun di dalam hatinya Nara enggan untuk berhenti pergi bekerja, namun ia memang harus mengistirahatkan tubuhnya agar kesempatan untuk hamil lebih besar. Menurut dokter Kania, kelelahan dan juga terlalu banyak pikiran juga ikut berpengaruh pada lamanya ia tidak kunjung bisa hamil. Jadi setelah berdiskusi, Alex dan Nara memutuskan agar Nara berhenti saja sementara waktu.
“Tentu saja mama sangat senang. Mulai sekarang maam tidak akan kesepian lagi di rumah.” Tidak dapat dipungkiri jika selama ini Serena merasa kesepian.
“Oh ya, apakah posisi Nara sudah ada yang menggantikan?” tanya Serena. Ia pernah mendengar jika posisi Nara sangat penting di kantor. Jika Nara keluar begitu saja, ini akan menyulitkan Alex nantinya.
“Belum. Tapi ada Gibran yang bisa menghandlenya sementara sampai kami menemukan gantinya.” Jawab Alex.
“Eh kebetulan sekali, Virly bukannya kamu sedang mencari pekerjaan?” Serena menoleh pada Virly yang duduk tidak jauh darinya.
“Ah iya Tante.” Virly tersenyum malu-malu.
“Bagaimana kalau kamu saja yang menggantikan posisi Nara?” tanya Serena antusias.
“Ini sedikit tidak nyaman Tante.”
“Tidak nyaman bagaimana?”
“Kalau Virly masuk secara tiba-tiba itu tidak akan baik Tante. Apa lagi Virly takut kalau tidak memenuhi standar.” Virly menunjukkan kepalanya. Namun di dalam hatinya ia sangat senang. Ia memiliki Serena yang mendukung nya.
“Bagaimana Lex? Mama rasa Virly pasti mampu.” Serena bertanya penuh harap.
__ADS_1
“Kalau dia memang ingin untuk bekerja di Amerta Corp, bisa datang untuk wawancara Senin depan. Kalau memang layak, dia bisa bekerja di sana. Aku tidak akan menurunkan standar kelayakan hanya untuk seseorang.” Ucap Alex.
“Apa kamu tidak bisa mengecualikan kali ini saja? Virly ini teman kecil kamu lex.” Serena sedikit kecewa. Virly adalah anak sahabatnya, jika sampai Virly tidak diterima di Amerta dia aka merasa tidak enak hati.
“Tante tidak perlu seperti itu. Virly tahu Amerta sangat mementingkan kemampuan sejak dulu.”
“Bagus kalau dia mengerti. Kalau dia memang memiliki kualifikasi untuk bergabung dengan Amerta, tidak ada yang perlu ditakutkan. Baiklah ini sudah larut. Aku dan Nara akan kembali ke kamar.” Alex berdiri dan menggandeng tangan Nara.
Alex sudah menahannya sejak awal, tingkah laku Virly membuatnya jijik. Beberapa kali ia memergoki gadis itu memperhatikannya. Ia bukannya tidak menyadari jika Virly ini memiliki niat yang tidak baik padanya dan Nara. Tapi ia tidak akan membiarkan gadis itu berhasil apapun rencananya.
“Bagaimana dengan Virly? Bukankah seharusnya kamu mengantarnya dulu?” Virly tersenyum di hatinya. Ia yakin Serena sudah ada di tangannya.
“Tidak perlu Tante. Aku bisa pulang sendiri.”
“Ini sudah malam. Tidak baik anak gadis pulang sendirian.”
“Aku sudah memberitahu pak Farid untuk mengantarnya. Aku lelah. Permisi.” Alex segera melingkarkan tangannya di pinggang Nara dan membimbingnya pergi dari ruang tamu. Sedangkan Nara hanya mengikuti Alex setelah menganggukkan kepalanya pada Serena dan Virly.
**
Selain Virly, banyak pelamar yang ikut antusias untuk mendaftarkan diri. Sejak awal Alex telah menegaskan bahwa yang paling penting adalah kemampuan. Jadi hasil dari wawancara hari itu dia sendiri tidak bisa menentukan.
Kemampuan Virly memang tidak bisa dianggap remeh. Dia adalah calon terbaik dari seratus lebih orang yang mendaftar. Dan hari itu juga ia resmi menggantikan Nara sebagai asisten Presdir.
Di sisi lain, Setelah Nara mengundurkan diri, ia menjadi memiliki banyak waktu luang. Ia akan menghabiskan waktunya di rumah sepanjang hari. Menemani Serena, sesekali juga ikut ibu mertuanya itu untuk arisan yang mulai diikutinya.
Di beberapa kesempatan, ia juga akan pergi ke rumah Nadia. Menghabiskan waktunya dengan keluarga nya.
Selama itu pula, ia dan Alex masih rutin mengunjungi dokter Kania. Namun sayangnya masih belum ada kabar bahagia. Dokter Kania juga beberapa kali mengganti metode. Tapi seberapa keras manusia berusaha, jika Tuhan belum menghendaki, semua tindakan tidak ada artinya.
**
Hari ini, Virly tampil dengan sangat cantik. Pakaian kerja yang dia gunakan khusus dia beli dari Paris saat ia menemani Alex meeting di sana. Wajahnya juga dipoles dengan begitu cantik.
__ADS_1
Sejak Virly datang, ia sudah menjadi buah bibir karyawan lain karena penampilannya hari ini yang terlihat sangat cantik.
“Sebelumnya, aku mengira jika nonya Nara adalah wanita tercantik di kantor ini. Tapi setelah melihat Virly hari ini, aku tiba-tiba merasa Virly ini secantik nonya Nara.” Kata salah satu Resepsionis pada temannya.
“Iya benar. Kecantikan mereka berdua benar-benar seimbang.”
“Aku jadi ragu apakah tuan Alex tidak akan goyah jika setiap hari dekat dengan wanita cantik seperti Virly?”
“Kalian sepertinya banyak menganggur akhir-akhir ini hingga memiliki waktu untuk bergosip di saat jam kerja. Kalau kalian memang memiliki waktu luang, aku rasa kalian tidak akan keberatan membantu divisi Humas untuk menata file.” Gibran datang dengan tiba-tiba.
Sebenarnya Gibran ingin memberi tahu resepsionis untuk memesankan makanan dan juga memberitahu dirinya jika Nara sudah tiba. Karena Alex berkata jika Nara akan mampir ke kantor untuk makan siang bersama. Tapi ia tidak menyangka akan mendengar kedua resepsionis itu sedang bergosip. Apalagi yang menjadi bahan gosip bukanlah orang yang dapat mereka sentuh.
“Maaf tuan. Kami salah. Kami tidak akan berani bergosip lagi di saat jam kerja.” Dua orang resepsionis itu sangat takut mendengar perintah Gibran.
Gibran mendengus. “Kali ini kesalahan kalian dimaafkan. Tapi jika sekali lagi aku mendengar kalian bergosip apalagi membicarakan masalah pribadi tuan Alex dan nyonya Nara, kalian akan kehilangan pekerjaan dan tidak akan pernah lagi diterima di Amerta Corp manapun.”
Dua wanita di belakang meja resepsionis gemetaran. Keduanya segera mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Kami berjanji Tuan.”
“Aish! Kalian sebagai bawahan tidak mengenal siapa tuan kalian.”
“Maafkan kami! Maafkan kami.”
“Sudahlah. Aku kesini ingin menyampaikan pesan tuan Alex, nonya Nara akan ke sini untuk makan siang. Kalian segera pesankan makanan sea food dari restoran D.”
“Baik tuan. Kami akan segera laksanakan.”
“Kalau nanti nonya Nara sudah datang. Kalian cepat hubungi aku.” Gibran pergi setelah menyampaikan perintahnya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mendukung karya akoh sampai sejauh ini 🥰