Aku Istri Muda

Aku Istri Muda
79. Super Mama


__ADS_3

Flas Back On....


Seiring waktu yang bergulir. Bisma tumbuh menjadi anak yang gagah dan tampan dengan sifat berani dan sedikit posesif terhadap mama dan adiknya. Tiga tahun lalu, Nadia melahirkan seorang putri cantik dan ceria yang ia beri nama Kinara Pramudita Maheswari.


Dua tahun lalu, bu Minah meninggal dunia. Jadi, Selain Nadia dan anak-anaknya, ada seorang baby sitter untuk membantu menjaga kedua anaknya, seorang pembantu dan seorang tukang kebun yang merangkap menjadi penjaga yang merupakan pasangan suami istri. Ada pula seorang sopir yang bertugas mengantar Bisma ke sekolah. Sedangkan Nadia lebih memilih membawa mobilnya sendiri.


Satria juga tinggal bersama mereka semenjak lahirnya Nara. Mereka menjadi keluarga yang bahagia meskipun kadang terlihat aneh saat mengetahui status mereka.


Apalagi di saat jalan-jalan berempat, akan terlihat keanehannya.


Pada pandangan pertama. Orang lain akan melihat mereka sebagai satu keluarga kecil yang bahagia, namun ketika mereka mendengar panggilan kedua anak kecil di antara mereka pada laki-laki yang paling tua diantara mereka, keanehan akan mulai terasa. Pasalnya, Bisma dan Nara akan memanggil Satria dengan panggilan kakak yang memang seharusnya. Di saat itulah, para pemirsa akan mulai berfikir, sebenarnya bagaimana hubungan diantara mereka?


Sudahlah, hubungan mereka memang sudah tidak wajar sedari awal terbentuknya. Jadi tidak perlu dibahas terlalu jauh.


Yang terpenting untuk dibahas adalah bahwa Nadia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Satria meskipun sudah lebih dari dua tahun keduanya tinggal bersama di rumah Nadia. Sebaliknya, Perasaan cintanya pada Nathan tidak pernah berkurang sejak pertama dan terakhir kali mereka ucapkan meskipun mereka tidak pernah bertemu sejak perpisahan mereka empat tahun yang lalu.


Dan perkembangan selanjutnya adalah Satria berhasil move on dan telah memiliki kekasih yang mencuri hatinya. Hesti, Seorang gadis cantik putri seorang pemilik restoran yang tidak sengaja ia temui. Gadis manis yang ceria mampu membuat Satria memantapkan hatinya padanya.


Dan mari kita simak keluarga kecil yang bahagia ini sedang menikmati sarapan mereka.


“Mas Satria, tolong nanti cek mobilku ya. Sepertinya suaranya sedikit beda.” Kata Nadia ketia ia telah menyelesaikan sarapannya.


“Baik mom.”


“Ish. Kenapa memanggilku seperti itu sih?” sungut Nadia.


“Memangnya apa salahnya? Kamu kan memang mommyku.”


“Huh! Terserah.” Nadia cemberut. Sudah berulang kali ia mengatakan bahwa ia tidak suka dipanggil mommy oleh Satria.


Melihat wajah cemberut Nadia, Satria dan si kecil Nara melakukan tos. Mereka sangat menyukai ekspresi jengkel Nadia. Keduanya sama-sama memiliki sifat jahil.


“Kak Satria, jangan mengganggu mama. Aku tidak akan membiarkan mama bersedih.” Kata Bima tegas dan dalam. Sejak kecil ia sudah diajari untuk melindungi mama dan adiknya oleh Minah. Membuat pria kecil itu tumbuh menjadi anak yang kuat dan tegas.


Nyatanya, dalam wajah bocah berusia empat tahun itu tersimpan keseriusan yang tidak bisa diabaikan. Membuat Satria berhenti menggoda Nadia.


“Baiklah bodyguard cilik. Kakak tidak akan melakukannya lagi.” Kata Satria sambil mengacak rambut Bisma yang membuat pria kecil itu ganti cemberut dan dengan segera merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


“Ih kak. Kenapa diberantakin sih! Aku kan jadi nggak keren.” Sungut Bisma. Sedewasa apapun dia, dia masih lah anak kecil yang mempunyai sifat ingin disayang dan juga dipuji.

__ADS_1


“Mama, kak Satria.” Adunya. Ia menghentakkan kaki nya di bawah meja.


“Sini mama benerin rambutnya. Bisma kan anak mama yang paling tampan.” Nadia merapikan rambut Bisma dengan tangannya.


“Wlek! Aku anak mama yang paling tampan. Kak Satria tidak ada apa-apanya dibanding denganku kan ma?” Bisma bergelayut manja di lengan Nadia. Matanya penuh ejekan pada anak laki-laki yang lain.


“Tentu saja. Baiklah anak mama sudah tampan dan juga keren. Sekarang waktunya berangkat sekolah. Makannya sudah selesai kan?” Kata Nadia.


“Sudah ma. Bisma berangkat dulu ya.” Bisma segera meraih tangan Nadia untuk dicium. Tak lupa mencium tangan Satria juga. Perselisihan mereka hanyalah di permukaan. Di dalam hati mereka, keduanya saling menyayangi.


“Mama, Nara ikut antar kak Bisma sekolah ya.” rengek gadis kecil dengan penuh pengharapan.


“Oke. Mbak Hana, Nara ingin ikut mengantar kakaknya sekolah. Tolong temani ya.” Nadia mengizinkan dan meminta mbak Hana, baby sitter Nara menemani si kecil. Mendapat persetujuan, Nara merasa sangat senang. Ia segera mencium kedua pipi Nadia.


“Iya bu. Permisi.” Nadia mengangguk. Hana segera mengikuti Nara dan Bisma yang sudah berlari ke depan.


Setelah anak-anak pergi, tersisa Nadia dan Satria yang belum menyelesaikan makan mereka.


“Kamu ibu yang hebat Nadia.”


“Tentu saja.”


“Hemm... pekerjaan menuntut untuk bersikap percaya diri mas Satria. Demi lancarnya bisnis, membangkitkan sifat percaya diri sangat dibutuhkan.”


“Kamu benar. Baiklah, nanti aku antar ke kafe apa aku suruh anak buahku untuk mengambil mobilnya?”


“Antarin aku saja ya. Hari ini aku sedikit lelah.”


“Kenapa tidak mencari sopir saja sih?”


“Aku rasa itu belum dibutuhkan. Akan ribet jika mengandalkan sopir.”


“Huh terserah kamu lah. Ayo berangkat.”


“Oke.” Nadia segera berdiri setelah mengelap bibirnya dengan tisu. Kemudian mengikuti Satria yang sudah berjalan di depannya.


...


Nadia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Meskipun ia sibuk di kafe, ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Bisma dan Nara bermain di sore hari dan juga memasak makan malam untuk mereka.

__ADS_1


Menurut Nadia, sudah cukup dengan kedua anaknya untuk tidak merasakan kasih sayang dari ayah mereka, mereka tidak boleh juga kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. Itulah mengapa Nadia berusaha sebaik mungkin untuk menjadi ibu terbaik bagi kedua anaknya. Untuk Satria, lupakan dia jika ia juga merupakan anak Nadia, dia sudah dewasa bahkan lebih tua dari Nadia. Sudah tidak pantas disayang Nadia.


Untung saja pekerjaannya di kafe tidak menuntut untuk berada di sana sepanjang waktu, jadi ia memiliki waktu bebas yang cukup banyak untuk dihabiskan dengan kedua anak kesayangannya.


Sore ini Nadia pulang lebih awal. Ia sudah berjanji membawa kedua anaknya jalan-jalan mall dan menonton bioskop.


“Ye ye mama sudah pulang.” Teriak Nara sambil melompat girang dan menghambur ke pelukan Nadia .


“Hati-hati sayang.”


“Kita jadi ke bioskop kan Ma?” mengabaikan nasihat mamanya, Nara bertanya dengan antusias.


“Tentu saja. Kakakmu mana? Cepat bersiap dan suruh kakakmu bersiap juga. Setelah itu kita berangkat.” Kata Nadia. Menganggapi perintah yang ia dapatkan. Gadis kecil berusia tiga tahun itu segera berlari menuju kamar kakaknya yang ada di lantai dua.


Saat tiba di mall, Nadia memegang tangan kedua anaknya. Mereka bertiga mengayunkan kaki mereka dengan ringan sambil bercanda di sepanjang jalan dengan Hana yang berjalan di belakang mereka.


Setelah menonton bioskop, mereka memutuskan untuk makan malam di Purnama Kafe yang tak jauh dari mall. Mereka juga mengundang Satria untuk bergabung dengan mereka.


Nadia menggandeng Nara ketika masuk. Jadi ia tak begitu memperhatikan orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dia adalah Nathan yang sepertinya juga sedang tidak memperhatikan jalan karena menelfon sambil berjalan tergesa-gesa. Namun ketika keduanya bersimpangan saling melewati, keduanya reflek memegangi jantung mereka masing-masing karena tiba-tiba berdebar tanpa sebab. Nadia bahkan sampai berhenti sejenak.


“Ada apa bu? Kenapa berhenti?” tanya Hana saat melihat tingkah aneh Nadia.


“Tidak apa-apa. Ayo masuk.” Nadia segera melanjutkan langkahnya dan duduk di tempat yang kosong.


...


“Maaf aku terlambat. Tadi ketemu teman lama di luar, jadi sedikit mengobrol.” Kata Satria sebelum duduk. Nara dan Bisma bahkan sudah mulai makan karena mereka sudah lapar.


“Tidak masalah. Itu sudah aku pesankan makanan kesukaan mas Satria. Ayo makan.” Kata Nadia sambil menunjuk piring berisi ayam balado kesukaan Satria. Setelah Satria datang dan mengambil makanannya, Nadia dan Hana juga mulai makan makanan mereka.


Jika orang lain melihat, kelompok mereka seperti sepasang suami istri dengan dua anaknya bersama baby sitternya. Keluarga yang harmonis. Tidak akan ada yang menyangka hubungan rumit diantara keempatnya.


*


*


*


Jangan lupa ritual sebelum beranjak, 👍nya ditekan dulu. Terus ketik-ketik sepatah dua patah kata buat akoh. Biar semangat ^_^

__ADS_1


Lanjuuuut....!


__ADS_2