
Sudah dua hari Nara ke kantor Alex. Mulai hari ini ia akan sibuk dengan teman-teman nya menyusun hasil observasi mereka selama di Amerta Corp karena empat hari lagi mereka akan selesai di sana.
Untuk itu Nara kembali ke ruang keuangan untuk memudahkan ia berkumpul dengan teman-teman nya. Ia pun sudah mengabaikan gosip murahan mengenai dirinya. Toh setelah ini ia akan keluar dari kantor itu.
Dengan menggunakan teknik abai yang diajarkan Nadia membuat Nara hidup tenang dia hari ini meskipun semakin bermacam-macam gosip tentangnya. Yang bisa ia lakukan hanya menjauh dari Alex. Semua gosip berawal dari kedekatannya dengan laki-laki itu yang disalah artikan oleh orang lain.
Sebagai imbasnya, Alex menjadi uring-uringan sebab diabaikan oleh Nara. Chat dan telfon dari Alex sengaja Nara abaikan. Di kantor pun Nara selalu menghindar jika ada Alex. Ia akan mencari cara menjauhi Alex dimanapun mereka tidak sengaja bertemu.
Lagi-lagi Gibran yang menjadi korbannya. Alex seperti menjadikan Gibran sebagai alat pelampiasan nya. Semua pekerjaan yang dikerjakan Gibran seperti tidak ada benarnya dua hari ini.
Kali ini Gibran sudah tidak kuat. Ia mencari Nara di kantin saat jam makan siang. Tentu saja kedatangannya menjadi daya tarik tersendiri. Gibran yang merupakan laki-laki tampan nomor dua setelah Alex sangat jarang datang ke kantin. Jadi kedatangan laki-laki itu tentu saja menjadi pusat perhatian.
“Jangan abaikan tuan Alex.” Kata Gibran tiba-tiba. Membuat ketiga teman Nara kaget. Pasalnya mereka memang tidak mengetahui seperti apa hubungan antara Alex dan Nara.
“Kenapa?” tanya Nara santai. Ia memasukkan sesendok bakso yang ia pilih menjadi menu makan siangnya.
“Aku yang ikut menderita.” Nara mengerutkan alisnya mendengar jawaban Gibran.
“Apa hubungannya dengan anda pak Gibran? Kenapa jadi anda yang menderita?” tanya Nara menyelidik.
“Tuan Alex sudah seperti cacing kepanasan. Dia menjadikanku pelampiasan kemarahannya.”
“Ooo...” Nara manggut-manggut. Ini seperti tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Gibran rasanya tertimpa batu yang berat di kepalanya. Dia sudah sedemikian menderita. Sedangkan Nara malah memberi respon yang terlalu biasa untuknya. Apakah gadis ini masih punya hati?
“Sekarang ikut aku.” Gibran berdiri. Membuat keempat gadis yang sedang menikmati makan siang mereka terkejut. Pasalnya sebelum berdiri ia menggebrak meja.
“Pak Gibran apa-apaan sih!” teriak Nara keras. Ia sampai menyemburkan bakso yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut karena kaget.
“Maaf, ini darurat. Ayo pergi!” Gibran menarik tangan Nara. Dengan terpaksa gadis itu mengikuti Gibran yang menariknya.
Sedangkan ketiga temannya yang lain masih belum mengerti situasi yang sedang terjadi. Mereka masih belum mengerti tentang Nara yang mengabaikan Alex. Kemudian Gibran berkata jika ada situasi darurat. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabat mereka itu?
__ADS_1
Mereka tidak saling bertemu hanya satu Minggu. Itupun dengan komunikasi yang bisa dibilang masih terjaga walaupun berkurang intensitasnya. Tapi banyak sekali hal mengenai Nara yang mereka tidak tahu.
Selain mereka, masih ada para karyawan yang sedang berada di kantin saat itu. Mereka tidak bisa mendengar percakapan antara Nara dengan orang nomor dua di perusahaan tempat mereka bekerja sehingga mereka hanya bisa menduga-duga dan berujung menjadi gosip lainnya. Huh! Manusia dengan lambenya....
Nara yang masih memberengut ketika keluar dari kantin seketika berubah saat melihat dua orang laki-laki kesayangannya baru saja masuk ke dalam kantor.
Tanpa memperhatikan sekitar, ia langsung berlari menghampiri dua pria tampan yang sangat ia kenali. Terlebih satu diantaranya sudah sangat ia rindukan keberadaannya.
Ketika sampai di depan laki-laki itu Nara langsung melompat ke pelukannya.
“Kangeeeen. Kapan datang? Kenapa tidak langsung menemuiku? Apa sudah melupakan aku? Mana oleh-oleh ku?” Nara memberondong pertanyaan begitu saja. Membuat laki-laki itu tersenyum.
“Sudah selesai?” tanyanya lembut sambil mengelus kepala Nara. Membuat gadis itu mengangguk.
“Aku juga kangen. Aku baru saja mendarat tadi dan langsung kesini begitu mendengar kamu sekarang ada di sini. Oleh-oleh untukmu tentu saja istimewa. Jadi tidak bisa langsung aku berikan begitu saja.”
“Kak Bima memang kakak terbaik.” Ya. Laki-laki itu adalah Bima.
Selama dua bulan terakhir Bima menangani kasus di Belanda. Salah satu perusahaan di sana dibobol oleh pihak lawan. Selama dua bulan ini Bima melawan pihak lawan yang terus berusaha merusak sistem keamanan perusahaan tersebut. Sehingga di saat Bisma memintanya untuk membantu Alex ia hanya bisa mengerahkan anak buahnya.
Berbekal ilmu yang diperolehnya. Bima akhirnya bisa mengembangkan software yang dapat melindungi perangkat dari pihak lain yang ingin membajak. Mulai dari sana nama Bisma di kenal dan menjadikannya ahli yang disegani.
“Kalau kak Bima kesini untukku, tunggu aku disini. Aku akan berkemas dan ikut pulang bersamamu.” Kata Nara semangat. Tapi sebelum ia bisa kabur, rambutnya ditarik oleh Bisma.
“Ish! Apaan sih kak? Sakit tau!”
“Mau kemana?” tanya Bisma.
“Ambil tas. Kita pulang.” Jawab Nara sambil melepaskan tangan Bisma dari rambutnya.
“Aku dan kak Bima kesini bukan Cuma untukmu. Kami mau menemui Alex.”
“Ooo. Baiklah aku ikut.” Nara langsung mengaitkan lengannya ke lengan Bima. Menarik laki-laki itu mengikutinya. Sedangkan sang kakak menjadi terabaikan sekarang. Jika ada Bima, dirinya kalah pamor. Bagaimana lagi, sikap Bima yang lembut dan penyabar tidak bisa ia tiru begitu saja.
__ADS_1
Saat ini, Nara seperti seorang princes dengan tiga orang pangeran tampan. Dengan Bima yang ia gelayuti mesra, Bisma yang berjalan di sisinya, dan juga Gibran yang mengikuti ketiganya mengekori mereka.
Di antara keempat orang itu Gibran memiliki perasaan khawatir nya sendiri. Bagaimana jadinya jika Alex melihat Nara yang ia cintai bergandengan mesra dengan laki-laki lain di hadapannya? Ujung-ujungnya dia akan menjadi korban untuk kesekian kalinya.
Melihat pemandangan seperti itu, para karyawan yang melihat tidak bisa untuk tidak memperhatikan mereka. Pertanyaan besar muncul pada diri mereka. Siapa sebenarnya Nara? Kenapa ia bisa begitu beruntung di kelilingi oleh para makhluk tampan?
Nara bukannya tidak menyadari hal ini. Tapi ia membiarkan saja. Di hari-hari terakhirnya disini ia akan memberikan kesan yang argh! Menghibur mereka dengan banyak pikiran lah. Toh dirinya juga tidak dirugikan.
Ia dengan senyum di bibirnya berjalan dengan percaya diri. Mengabaikan kasak kusuk tentang dirinya.
“Sepertinya para karyawan disini kekurangan pekerjaan.” Sindir Bisma yang merasa tidak nyaman mendengar bisik-bisik mengenai adiknya.
“Maaf tuan.” Gibran kemudian memelototi para Karyawan yang malah sibuk bergosip. Mereka pun segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Mereka biasa bergunjing seperti itu?” Bisma melirik Nara yang sepertinya tidak terpengaruh sedikit pun dengan masalah ini.
“Biarkan saja. Inilah resiko jadi cewek cantik. Banyak yang iri.”
*
*
*
Terima kasih atas segala bentuk apresiasi yang kalian berikan pada Akoh 🤩
__ADS_1
Ayo dukung Akoooohhh!!!!