
Akhirnya....
Setelah sekian lama akhirnya Nara duduk dengan bangga di belakang kemudi mobilnya. Mobil Audy warna kuning yang merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas dari sang papa. Meskipun mobil itu sudah cukup lama dimilikinya mobil itu masih terlihat baru saja keluar dari showroom, itu karena Nara sendiri sangat jarang menggunakan nya. Karena dia tidak pernah keluar rumah sendirian selama ini. Jika Bisma tidak bisa mengantarnya, akan ada sopir yang standby mengantarnya kemana pun.
Dengan tatapan tajam dari Bisma, Nara melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion Mahardika. Satu tahun setelah pernikahan Nadia dan Nathan, Nathan memboyong keluarganya ke ibu kota.
“Sudahlah Bisma, adikmu itu sudah cukup dewasa untuk mengendarai mobilnya sendiri. Percayalah, Nara pasti bisa menjaga dirinya sendiri.” Kata Nathan yang menyadari tatapan Bisma yang terlihat kecewa. Nathan tahu putra sulung mereka sangat menyayangi adik-adiknya terutama Nara. Dan Bisma tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padanya. Nathan menepuk pundak Bisma yang tegang.
"Kamu kakak yang terbaik Bisma. Selama ini kamu telah menjaga adik-adik mu dengan sangat baik. Tapi sekarang Nara sudah cukup dewasa untuk mandiri. Biarkan dia belajar dunia luar." lanjutnya.
Bisma menghelas napas sebelum mengangguk dengan paksa. Tak lama setelah itu, ia pamit kepada Nadia dan Nathan untuk berangkat ke kantor.
“Mas apa aku salah mengizinkan Nara berkendara sendiri?” tanya Nadia tidak enak.
Melihat tatapan Bisma yang tidak berdaya itu membuatnya merasa bersalah. Ia lah yang meminta Bisma melepaskan Nara.
Nathan menghampiri Nadia, memeluk bahunya dengan sedikit tekanan. Menepuknya dua kali dengan lembut.
“Aku rasa tidak. Ini juga baik untuk Nara. Jika Nara terus berada dalam lindungan Bisma seperti ini, dia tidak akan pernah siap menghadapi dunia di masa depan.”
“Mas ya yang mengajari Nara?” Nadia melirik Nathan dengan tajam. Kata-kata yang keluar dari mulut suaminya sama persis dengan kata-kata Nara untuk membujuknya kemarin.
Nathan mengernyit bingung. Ia tidak tahu apa-apa masalah ini. Kenapa ia juga terkena batunya. Lihatlah wajah istrinya yang seharusnya penuh senyum untuknya. Sekarang berubah masam dengan bibir yang mengerucut bikin gemas.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud sayang. Tapi kalau maksud dari kodemu itu aku tahu.” Sebelum Nadia menyadari makna dari perkataan suaminya itu, Nathan sudah mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir manis Nadia. Sedikit menahan tengkuknya untuk menikmati lebih banyak.
“Ish mas. Malu lah. Sudah tua masih aja mesum.” Ucap Nadia setelah Nathan melepaskannya.
“Mesum sama istri sendiri tidak ada salahnya sayang.” Nathan tersenyum jahil. Mata kanannya mengerling nakal.
“Tapi tidak di depan umum juga kan.” Nadia melirik supir yang ada di dalam mobil Nathan. Dia memang tidak menghadap ke arah mereka. Tapi bisa saja kan kelakuan mereka barusan terlihat dari kaca spion?
__ADS_1
“Baiklah. Ayo masuk. Hari ini aku tidak akan pergi ke kantor.” Nathan tersenyum sambil menarik tangan Nadia untuk diajaknya masuk ke dalam rumah.
“Jangan macam-macam deh.” Decak Nadia. Ibu dari empat orang anak itu menghentikan langkah kakinya dengan sedikit menghentak nya.
“Satu macam saja sayang. Katanya tidak boleh mesum di Depan umum. Ayo kita habiskan seharian di dalam kamar.” Mata Nathan berbinar penuh harap.
“Ngarep.” Nadia melipat tangannya. Memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.
“Kamu semakin membuatku tergila-gila sayang.” Nathan mencium pipi kiri Nadia. “Kita lanjutkan nanti malam saja. Aku berangkat dulu. Banyak pekerjaan yang menungguku di kantor.” Nathan mencium pipi kanan Nadia sekejap. Dia tidak mau mengambil resiko membuat Nadia marah dan berakhir tidur di luar kamar jika membuat istri tercintanya itu ngambek.
Nadia segera meraih tangan kanan Nathan dan mencium punggung tangannya. Sebagai gantinya, Nathan mencium kening Nadia lama.
“Love you my dear.” Kata Nathan sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Nadia hanya tersenyum. Namun itu sudah cukup untuk Nathan. Laki-laki yang sudah berusia lima puluh tahun itu sudah hafal karakter sang istri yang pemalu. Tidak perlu kata cinta dari istrinya untuk mengetahui seberapa besar cinta sang istri kepadanya. Itulah mengapa ia selalu berusaha mencintai Nadia lebih dari Nadia mencintainya.
Di tempat lain, Nara baru saja memarkirkan mobilnya dengan bangga. Ia sengaja memarkirkan mobilnya itu dekat dengan milik para sahabatnya. Setelah mematikan mesinnya, Nara meraih kaca mata hitam yang ada di dashboard dan memakainya di pangkal hidungnya.
Setelah merapikan penampilannya, Nara keluar dengan gerakan yang dia buat-buat. Membuat ketiga sahabatnya yang sedang duduk di bangku tak jauh dari tempatnya menjatuhkan rahangnya karena tidak percaya. Ketiganya memang belum hafal betul mobil Nara yang memang sangat jarang ia pakai. Ketiganya buru-buru berdiri dan mendekat ke arah Nara yang sedang berdiri dengan angkuhnya di samping mobilnya.
“Kemajuan pesat nih.” Tambah Vera sambil menyenggol bahu kanan Nara ringan.
“Kemana kak Bisma?” Nara langsung merengut begitu mendengar Syila menyebut nama kakak ternyebelin nya.
“Bisa tidak jangan menyebut namanya. Merusak mood saja.” Decak Nara sambil membenarkan letak kaca matanya.
Ia meletakkannya di atas kepala.
“Iya. Tumben nggak diantar kakak tampan?” mengabaikan peringatan Nara, Gita masih saja menanyakan Bisma. Di antara teman-teman Nara, Bisma cukup populer. Banyak diantara teman-teman Nara yang mendekati Nara hanya untuk mengetahui Bisma lebih jauh.
“Kalian ini temanku apa teman kak Bisma sih.” Gerutu Nara. Teman-temannya menggaruk tengkuk mereka sambil terkekeh. Nara memandang ketiga sahabatnya dengan jengah. “Sudahlah. Ayo masuk. Ingat ya! Hari ini tidak ada yang boleh menyebut nama kak nyebelin. Dilarang merusak moodku.” Nara melenggang ke area fakultasnya dengan diikuti ketiga temannya.
__ADS_1
Nara and the geng termasuk mahasiswi yang cukup terkenal. Keempatnya cantik dengan penampilan yang memukau. Keempatnya berasal dari keluarga yang berada.
Sepanjang jalan, mereka tidak kekurangan pemuja sedikitpun. Para mahasiswa akan merebut untuk menyapa. Bahkan ada yang memberanikan diri untuk mengajak salah satu dari mereka pergi makan malam atau bahkan kencan. Hanya Nara yang tidak pernah digoda.
Bukan karena dirinya tidak cantik. Bukan. Nara bahkan paling cantik dari ketiga temannya. Pembawaannya manis dan ceria merupakan daya tarik tersendiri. Namun dengan kualitas seperti itu bahkan tidak membuatnya menjadi pacar salah seorang diantara para cowok tampan di kampus.
Di kampus tidak ada yang tidak mengetahui bahwa pantang untuk seseorang mendekati Nara. Siapa lagi biang keroknya jika bukan Bisma. Nara sudah ibarat boneka India. Yang hanya bisa dikagumi tanpa bisa didekati.
Semua orang di kampus tahu siapa Bisma. Dia tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran bagi siapa pun yang berniat mengganggu adik tersayangnya. Dan ini sudah menjadi hukum tidak tertulis di lingkungan kampus. Nara adalah seorang gadis yang harus dihindari. Di black list dari daftar target pacar siapa pun.
Inilah yang membuat Nara sebal. Dia jadi tidak bisa mendekati Roy. Anak Bismen idolanya. Cowok terfamous di kampus. Kapten team basket idola setiap wanita. Dan Nara menjadi salah satunya.
Namun seperti apa pun usaha yang Nara lakukan untuk mendekati Roy, pemuda tampan itu melangkah mundur secara teratur.
Huh! Lagi-lagi Nara harus bisa bersabar.
Ketika yang lainnya sibuk meladeni para mahasiswa yang menggoda, Nara sendiri tenggelam dalam dirinya. Sebuah speaker Earphone terpasang di telinga kanannya dengan kabel yang terhubung pada handphone yang berada di dalam saku celananya. Bergumam mengikuti lagu yang sedang ia dengarkan.
Ketika mereka melewati lapangan basket, sorak Sorai terdengar. Tanpa melihat pun sudah dapat dipastikan sedang ada latihan di sana.
Dari ekor matanya, Nara dapat melihat Roy sedang berlatih bersama dengan teman-temannya. Dengan kaos olah raga yang sudah basah oleh keringat. Terlihat sangat maskulin dan keren. Pada gadis bergerombol di sisi lapangan. Meneriakkan nama Roy memberi semangat.
Di sisi lain lapangan, Virly, yang merupakan pacar dari Roy membawa selembar handuk dan sebotol minuman kemasan di tangannya. Beberapa kali, kedua sejoli yang akan tampak serasi jika keduanya berdampingan itu saling melempar pandangan dengan tatapan yang mesra.
Nara menghela napas. Bagaimana pun, cowok idolanya itu sudah menjadi milik orang lain.
“Ini semua gara-gara kak Bisma!” Umpat Nara dalam hati.
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 😎
Jangan lupa tinggalin jejak dengan klik like👍, vote 😍 dan komentarnya oke😘