
Dua bulan berlalu. Hubungan antara Alex dan Serena juga semakin membaik. Keadaan Serena semakin hari semakin membaik. Nadia juga sering mengajak Serena untuk pergi keluar. Bertemu dengan teman-teman Nadia agar besannya itu mempunyai teman dan tidak merasa bosan.
Selama itu Nara selalu menyempatkan diri mencari keberadaan Vera. Namun belum juga berhasil. Tidak kurang usaha yang dilakukan Nara untuk menemukan Vera. Mulai dari mencarinya ke kantor tempat dimana Vera bekerja. Namun orang-orang di kantor itu berkata bahwa Vera sudah lama tidak masuk ke kantor sejak berita korupsi papa Vera menyebar.
Selain mencari di kantor, Nara juga mencari informasi dari teman Vera yang lain. Namun belum ada tanda-tanda tentang keberadaan Vera. Selain Nara, Rony yang merupakan kekasih Vera pun mencari keberadaan Vera. Pria yang dipacari Vera selama tiga bulan itu juga sudah dua bulan tidak bertemu dengan Vera.
Sedangkan keluarga Vera sudah putus asa mencari dan lebih baik diam. Mereka juga sibuk dengan kasus yang harus dihadapi Siddarta.
“Sebenarnya kamu kemana Vera?” gumam Nara saat istirahat siang. Saat ini ia sedang makan siang di ruangan Alex.
“Jangan terlalu lelah. Jaga kesehatan juga.” Alex menutup dokumen yang dipelajarinya dan ikut duduk di samping Nara. Nara memberikan kotak nasi yang sudah dibukanya pada Alex. Wajah gadis itu memberengut.
“Aku merasa jadi teman yang tidak berguna seperti ini. Sudah dua bulan berlalu, bahkan tanda-tanda keberadaan nya saja belum bisa aku dapatkan. Bahkan Syila dan Gita sempat pulang untuk ikut mencari. Namun sampai sekarang belum mendapatkan hasil apapun.”
“Itu artinya dia memang masih belum ingin bertemu dengan kalian.” Kata Alex tanpa menghentikan kegiatan makannya.
“Memangnya ada yang seperti itu?” Nara memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
“Aku rasa seperti itu. Gadis seperti temanmu itu pasti sengaja bersembunyi dari kalian.” Alex meraih tisu yang ada di dekatnya dan mengusapnya ke bagian sudut bibir Nara yang berminyak.
“Kenapa kamu selalu menyebut Vera dengan temanmu itu?” Nara sudah beberapa kali mengingatkan Alex nama Vera. Tapi Alex seakan tidak mau mengingatnya sama sekali.
“Aku terlalu malas untuk mengingat nama orang yang tidak penting.”
“Dia itu temanku. Dia penting bagiku.”
“Baiklah lain kali aku akan mengingatnya.” Jawab Alex malas.
“Itu bagus! Jadi aku harus bagaimana?” tanya Nara frustasi.
“Tidak ada. Kamu cukup diam saja dan menunggu. Jika saatnya tiba siapa itu namanya? Vera. Ya Vera akan muncul dengan sendirinya.” Nara diam. Dia memikirkan kata-kata Alex yang sepertinya ada benarnya.
Alex selesai dengan makanannya dan menutupnya. Mengelap bibir ya dengan tisu dan meminum segelas air yang sudah disediakan Nara untuknya.
__ADS_1
Vera merupakan gadis yang sangat menjaga harga dirinya. Pantang baginya untuk meminta bantuan orang lain. Bahkan ia tidak akan membiarkan seorang pun mengasihaninya. Jadi dalam menghadapi masalah seperti ini sepertinya memang normal bagi Vera untuk bersembunyi.
“Tapi bagaimana kehidupannya sekarang? Apakah dia hidup dengan baik di luar sana?” sebagai seorang teman, Nara tentu saja merasa khawatir terhadap Vera. Apalagi tidak ada seorangpun yang tahu keberadaan nya. Ia khawatir hidup Vera akan sulit di luar sana. Rekening Vera sudah dipastikan telah dibekukan. Jadi pasti sulit bagi Vera bertahan di luar sana.
“Tenanglah. Aku yakin temanmu itu bisa bertahan.” Alex memeluk Nara. Mengelus punggung Nara dengan lembut.
“Kenapa kamu masih memanggilnya temanmu itu. Namanya Vera Lex. Vera!”
Nara protes. Sebegitu sulitkah menyebut nama Vera?
“Iya-iya maaf. Lain kali aku pasti ingat.” Alex mengangkat dua jarinya. “Sayang apakah kamu sadar sejak teman mu itu hilang aku jadi kurang kasih sayang?” Alex mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat. Tangan yang awalnya hanya mengelus punggung kini menelusup ke dalam punggung Nara.
"Shh... Apa yang kamu lakukan Lex?" tubuh Nara meremang.
Tidak sampai di situ, bibir Alex juga sudah mulai meninggalkan jejaknya di leher belakang Nara. Membuat gadis itu m3ndes5h tertahan.
“Ini kantor Lex...ah.” Nara mer3mas sofa dengan erat saat Alex dengan nakalnya mer3mas buah miliknya.
“Lalu kenapa? Kita belum pernah mencobanya di sini kan?” Alex semakin tidak sabar dan meraup bibir berwarna pink yang dari tadi sudah ia incar. Menikmati bibir itu sambil sedikit demi sedikit menjatuhkan Nara di atas sofa yang mereka duduki.
Tok tok tok...
Nara melepaskan tangannya. Mencoba mendorong dada Alex yang menempel padanya.
“Lex ada orang.” Kata Nara pelan. Dirinya sudah dipenuhi dengan kabut asmara.
“Biarkan saja.” Jawab Alex acuh. Bibirnya masih menjelajah di bagian dada Nara. Membuat jejak-jejak kepemilikan di sana. Membuat sang pemilik semakin melayang.
“Berhenti dulu Lex. Bagaimana kalau dia pak Gibran? Bagaimana kalau ada hal yang penting?” Nara mencoba menghalangi bibir Alex yang terus menjamah tubuhnya. Dengan segera Alex menangkap tangan itu dan menguncinya di atas kepala.
“Jadi biarkan dia menunggu. Selain itu untuk saat ini tidak ada yang lebih penting bagiku selain membawamu terbang.” Ucap Alex acuh. Ia tetap melanjutkan aktivitasnya menikmati apa yang baru ia mulai. Ia mulai memainkan tangannya di dalam lubang kenikmatan miliknya. Nara menggelinjang. Ia menarik rambut Alex.
Alex tertawa di dalam hatinya. Siang ini istrinya itu kembali ia dapatkan. Dengan gerakan terlatih Alex segera menanggalkan pakaian Nara dan juga pakaiannya sendiri. Membuat dua pasang pakaian lengkap berceceran di lantai ruangan kantornya.
__ADS_1
Dalam sekejap saja, ruangan yang tadinya bersih dan rapi menjadi berantakan. Meja sudah bergeser enam puluh derajat. Des2ha4n, deru napas yang saling mengejar dan suara indah dari gesekan-gesekan kulit memenuhi seluruh ruangan.
**
Gibran berdiri di depan ruangan Alex. Ada klien penting dari Singapura yang ingin bertemu dengan Alex saat ini. Klien itu sedang menunggu di ruang khusus tamu.
Cukup lama Gibran berdiri diam di sana dengan ragu. Ia tahu betul jika Alex tidak akan suka jika waktunya dengan Nara diganggu bahkan hanya sekedar makan siang saja. Jadi ia agak ragu untuk mengetuk pintu.
Setelah mengumpulkan banyak keberaniannya, akhirnya Gibran mengetuk pintu ruangan Alex sebanyak tiga kali. Namun tidak ada jawaban apapun. Ruangan itu seperti tidak berpenghuni.
Karena penasaran, Gibran akhirnya menempelkan telinganya di pintu. Berharap mendengar sesuatu dari dalam ruangan yang menggunakan sistem kedap suara tingkat tinggi itu. Hasilnya nihil. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar.
Di dalam hati Gibran muncul keraguan apakah bosnya memang ada di dalam karena tidak ada sedikit pun suara yang terdengar. Jadi dia memutuskan untuk mengeceknya.
Dengan hati-hati ia meraih knop pintu dan memutarnya dengan pelan. Dengan perlahan pula ia mendorong pintu. Namun baru saja satu centi pintu itu terbuka, suara yang membuat wajahnya memanas. Ia memang jomblo. Tapi bukan berarti ia tidak tahu suara apa yang baru saja ia dengar dari dalam ruangan bosnya.
Gibran pun dengan segera menarik pintu dan menutupnya kembali tanpa ada yang menyadari. Sebagai hasilnya, jantungnya berdebar lebih kencang. Belum lagi keringat dingin yang tiba-tiba mengalir di seluruh tubuhnya yang terasa panas.
Kakinya terasa lunglai sekarang.
Ah! Bos kulkasnya itu kenapa tiba-tiba berubah menjadi pemanas ruangan? Kenapa bisa-bisanya melakukan ‘itu’ di kantor!
Membuat jiwa jomblo Gibran meronta!
Gibran dengan cepat menjauh dari pintu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berkeringat.
Ia harus segera menemui Klien dari Singapura itu untuk mengukur sedikit waktu untuk Alex menyelesaikan urusannya.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🤩