
Mohon maaf, jika ada yang tidak menyukai adegan yang kejam, silahkan di skip episode ini ya....
Flash Back on.....
Pagi itu, toko Bu Minah yang mulai menjual sayuran terlihat sangat ramai. Bu Minah telah mempekerjakan seorang tetangganya untuk membantunya melayani pembeli. Ia tak membiarkan Dian membantu karena takut jika calon ibu muda itu kelelahan.
Melihat pengawasan ibunya yang longgar, Dian memantapkan niatnya. Sudah lebih seminggu ia telah memikirkan rencananya. Rencana untuk membebaskan Nadia dari juragan Bondan dengan cara membunuh laki-laki itu.
Dian awalnya mengambil pisau dapur dan memasukkannya ke dalam tasnya. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar ibunya untuk mengambil beberapa uang yang akan ia gunakan untuk membayar kendaraan yang akan membawanya ke desa. Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Dian mengendap-ngendap keluar rumah.
Dengan ramainya toko bu Minah waktu itu, Dian dengan mudah lolos dari pengawasan ibunya. Akibat jarangnya ia keluar rumah, sangat sedikit tetangganya yang mengenalnya. Ini memudahkan Dian untuk pergi dengan cepat tanpa adanya kecurigaan dari warga sekitar.
Setelah keluar dari komplek perumahan, dengan mudah Dian menemukan taksi yang akan mengantarnya ke desa. Taksi yang ditumpangi Dian berhenti tak jauh dari desa.
Dian sudah mengatur agar tak ada orang yang melihatnya datang ke desa. Sama halnya dengan yang dilakukannya saat keluar dari rumah. Hal itu ia lakukan lagi saat menuju penggilingan beras tempat juragan Bondan biasanya berada pada saat pagi hingga sore hari.
Dian sampai di penggilingan saat siang hari. Kebanyakan anak buah juragan Bondan sedang istirahat. Hanya beberapa yang terlihat berjaga di sekitaran.
Memanfaatkan keadaan yang sepi, Dian masuk ke dalam kantor yang letaknya tidak jauh dari ruang penggilingan.
Juragan Bondan sedang tidur siang saat itu. Malam tadi ia tidur larut malam setela menghabiskan tenaganya untuk bermain dengan Nadia. Selama menjalani hukuman, Nadia tidak lagi mengonsumsi pil kontrasepsi. Dan besar harapan juragan Bondan agar Nadia hamil. Sehingga siang hari ini, ketika tidak ada lagi pekerjaan, ia memutuskan untuk tidur di sofa di ruangannya.
Tak disangka, dia terbangun akibat rasa sakit di lehernya. Sebuah pisau tajam berhasil menyayat lehernya. Dengan spontan juragan Bondan memukulkan tinjunya pada sang pelaku yang ia kenali.
“Apa yang kami lakukan Dian?” juragan Bondan segera menjauhkan dirinya dari jangkauan Dian. Tapi gadis itu tak menjawab sepatah kata pun. Ia begitu bringas menyerang dan menyerang hingga melukai beberapa bagian di lengan laki-laki yang diserangnya ketika menangkis pisau dengan lengan.
“Mati kau juragan busuk!” teriak Dian dengan terus mengarahkan pisau yang dibawanya pada juragan Bondan. Dengan banyaknya luka yang ia dapat, pergerakannya mulai melambat sehingga pisau yang dibawa Dian akhirnya menancap di perut juragan Bondan.
Seketika, juragan Bondan berteriak keras sebelum ambruk dan kehilangan keseimbangan. Dian mencabut pisau yang masih tertancap di perut juragan Bondan.
“Akh!!!”
Mengabaikan teriakan kesakitan juragan Bondan, Dian memandang pisau berlumuran darah yang dipegangnya. Seringaian muncul di bibir Dian.
“Apa kamu tahu apa yang akan aku lakukan dengan pisau ini juragan?”
__ADS_1
“Aa-apa yang ka-mu la-ku-kan?” juragan Bondan tersengal.
“Tidak banyak. Hanya memberi pelajaran kecil bagi perusak kehormatan para wanita.” Jawab dian santai.
Juragan Bondan meronta. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Dian. Dia berusaha menendang. Namun gerakannya membuat luka diperutnya terasa berdenyut.
“Hahahaha. Kamu tidak akan bisa menyelamatkan penjahat kecilmu juragan!”
Dian menindih kaki juragan Bondan menghentikan gerakan kaki pria itu.
“Apa yang akan kamu lakukan Dian?” juragan Bondan bergetar.
“Sedikit memodifikasi” Dian membuka resleting celana yang dipakai juragan itu. Kemudian dengan tangannya, Dian menarik ******** milik juragan Bondan. Membelainya sehingga membuat senjata itu berdiri tegak.
“Lihat juragan. Senjatamu menantang senjataku.” Dian menyeringai.
“Jangan lakukan itu Dian”
“Apa? Aku hanya akan bermain-main.” Dian menggores pusaka juragan Bondan.
Sekali lagi juragan Bondan sekali lagi berteriak. Entah karena tidak kuat menahan rasa sakit atau karena Darah yang keluar sangat banyak hingga menyebabkan laki- laki itu pingsan.
“Semua berakhir.” Lirihnya.
Flash Back Off.....
Nadia menatap tidak percaya pada wanita hamil yang sedang menceritakan apa yang ia lakukan hingga membuat seorang kehilangan nyawanya. Apalagi di saat Dian menceritakannya, tidak ada jejak keraguan maupun penyesalan yang terlihat. Yang terlihat hanyalah kepuasan.
Begitu juga dokter Wisnu yang juga datang bersama dengan Nathan. Kedua dokter muda itu saling berpandangan. Keduanya bergidik biru. Mereka juga tidak percaya jika Nadia mampu melakukan pembunuhan yang begitu keji dalam keadaan hamil besar.
Seorang polisi terus menginterogasi Dian. Mencatat apa yang diucapkan Dian pada komputer yang ada di depan polisi itu.
“Apa kamu melakukan semua ini dengan bantuan orang lain?”
“Tidak. Cukup saya yang akan memutus kejahatannya.”
__ADS_1
“Apa ada seseorang yang meminta atau memaksamu melakukannya?”
“Tidak ada. Semua ini adalah keinginan saya. Seharusnya sudah sejak dulu saya melakukannya sehingga tidak banyak lagi yang akan menjadi korbannya.”
“Lalu apa yang menjadi alasanmu melakukannya?”
“Karena dia memang pantas mendapatkannya. Banyak gadis yang kehilangan keperawanan karenanya. Salah satunya saya. Pak polisi tahu? Anak yang ada di dalam perut saya ini adalah anaknya. Semua orang menderita karenanya pak. Dia manusia paling biadap yang ada di dunia ini. Dia tidak pantas menikmati hidup dengan bahagia. Senyumnya itu sama sekali tidak pantas ia miliki. Satu-satunya hal yang pantas untuknya adalah bertemu dengan malaikat yang akan menyiksanya di neraka.” Kata Dian panjang lebar. Dari nada suaranya jelas ia sama sekali tidak menyesal. Bahkan puas setelah melakukan apa yang ia anggap benar.
“Tenang Dian. Semua sudah berakhir. Jangan meracuni hatimu dengan kebencian. Anakmu bisa mendengar apa yang kamu katakan.” Nadia menenangkan Dian dengan mengelus lengan Dian.
“Anak saya akan menjadi anak seperti nyonya Muda. Dia akan menjadi anak yang berani melawan kejahatan dan ketidak adilan. Anak saya akan melindungi anda Nyonya muda.”
“Dian, rawatlah anakmu dengan penuh kasih sayang. Limpahilah ia dengan kasih yang tulus.”
“Tentu saja nyonya muda.”
“Saudari Dian, apapun alasannya, menghilangkan nyawa seseorang itu tidak dibenarkan.”
“Tapi dia pantas mendapatkannya pak polisi. Meskipun bukan saya, nantinya juga akan ada yang akan menghukumnya akibat perbuatannya.”
“Seharusnya, jika saudari mengalami tindak kejahatan, serahkan pada pihak kepolisian untuk menyelesaikan segalanya.”
“Hukuman dari polisi saja tidak akan cukup pak polisi. Dosa manusia terkut*k itu sudah sangat banyak. Tidak akan bisa termaafkan sampai kapanpun.”
Polisi itu mendesah. Jika mendengar cerita dari Dian dan juga kesaksian dari dokter Nathan sebelumnya, polisi itu juga memahami dendam yang menumpuk di hati Dian. Kondisi mental yang tidak stabil tentu saja membawa pengaruh yang sangat besar atas tindakan yang dilakukan wanita muda itu.
Setelah pihak kepolisian merasa cukup untuk menginterogasi Dian, mereka membawa Dian masuk ke dalam ruangan khusus karena dalam hal ini, Dian sebagai tersangka sedang dalam kondisi mental yang terganggu.
*
*
*
Terima kasih sudah mampir 😍
__ADS_1
Pembaca budiman selalu memberikan jejak setelah membaca. 😊
Jadi, sebisa mungkin sempatkan diri memberi like 👍, vote, hadiah, atau komentar juga boleh. 😘